
Jam dua , Diaz terbangun. Semalaman memang dia tidak meminta asi ku. Aku meraih Diaz yang ada di box. Membaringkannya di antara aku dan mas Aziz.
Mas Aziz menyadari jika ada anak semata wayangnya ada di tengah ranjang kami. Dia agak memundurkan tubuhnya ke belakang agar Diaz sedikit lebih leluasa.
Dengan suaranya khas bangun tidur, mas Aziz menyapa kami.
"Sayangnya ayah udah pada bangun?", tanya mas Aziz dengan sedikit membuka matanya.
Diaz melepaskan hisapan nya, lalu berbalik menghadap ayahnya. Di raihnya wajah ayahnya yang sedang mengumpulkan nyawanya, dan... tenaganya. Aku cukup memperhatikan mereka berdua.
Suara Diaz yang menggemaskan membuat mas Aziz makin melebarkan matanya.
"Diaz...ini belum subuh Nak. Mau ngajak main???", tanya mas Aziz lagi. Aku menyandarkan diri di kepala ranjang.
"Sayang ....!", Diaz semakin membuat Aziz kewalahan. Celoteh bocah hampir enam bulan ini berhasil membuat ayah nya terbangun. Mereka berdua bercanda seolah-olah tidak ada aku disini.
Aku bersyukur, mas Aziz bisa berubah seperti sekarang. Andai kata saat itu aku benar-benar berpisah dengan nya, Diaz tidak akan mendapatkan kebahagiaan ini. Diaz akan bernasib sama seperti ku. Kekurangan kasih sayang.
Usai lelah bermain dengan ayahnya, Diaz menggulingkan badannya ke arahku. Menarik-narik bajuku, dia minta asi lagi.
"Diaz capek? Mau ***** lagi ya?", tanya Aziz.
Aku pun menyusui Diaz lagi. Diaz sepertinya pun sudah ingin tidur di box nya. Setelah ia merasa kenyang, ia pun menyelesaikan hisapannya. Ku letakkan kembali Diaz dalam boxnya. Aku bersiap membaringkan badanku lagi. Tapi tempat ku tidur terasa sempit. Ternyata, mas Aziz memakai bantal yang ku pakai.
"Geser atuh mas!"
"Sini, kamu pake tangan mas aja buat bantalan!", katanya sambil menepuk lengannya sendiri. Dari pada ribut, aku pun manut dengan titahnya.
"Udah, tidur aja dulu mas. Masih jam tiga lewat."
"Iya, tapi aku mau memeluk istri ku ini."
Aku baru mau memejamkan mataku lagi, tangan mas Aziz meraih pipiku. Membuatku menghadap ke ketek nya.
"Mas...ih...masa aku di ketekin sih!". Mas Aziz sedikit tertawa.
"Biar istrinya nurut sama suami, jadi kudu diketekin."
"Mana ada begitu!"
"Dek!"
"Heum? Aku mau tidur mas. Ngantuk!"
"Ya udah, tapi mas mau kita tidur nya begini."
"Iya. Aku pasrah aja lah. Ngantuk berat!"
"Pasti capek bekas semalam ya???", bisiknya nakal.
"Mas...!"
"Sekali lagi, sambil nunggu subuh!"
"Mas! Nggak ah....!"
Bukannya mundur, mas Aziz malah semakin beringas. Tidak seperti saat melakukan nya tadi sore.
Niat hati ingin tidur lagi, tapi malah rasa kantukku hilang gara-gara kembali berkeringat.
Mas Aziz lagi puber kedua kali ya? nggak ada capeknya sama sekali.
Aktivitas kami pun selesai sampai sebelum azan subuh berkumandang.
Hah!
Suara mas Aziz yang puas, berbaring di sebelahku.
"Makasih sayangku....!", kata mas Aziz.
"Iya!", aku pun mencoba beranjak dari ranjang. Tapi rasanya ugh....
"Kenapa?", mas Aziz mendekati ku.
__ADS_1
"Nyeri!", kataku ketus.
"Sekarang nyeri, tadi merem melek?", ledek Aziz.
"Tau ah!", aku berdiri berjalan pelan menuju kamar mandi.
Dari semalam mas Aziz benar-benar berhasil membuat ku mend*sah berkali-kali. Dia seperti bukan dirinya. Usai mandi wajib, aku pun melakukan solat subuh sendiri. Kalau mau jamaah,pasti bisa kelamaan nunggu mas Aziz yang mandi terlebih dulu.
Aku selesai solat, mas Aziz selesai mandi.
"Mau kemana?", tanya mas Aziz saat aku membuka pintu.
"Masaklah mas, nyuci juga!"
"Yakin? Nggak sakit tuh?", tanyanya.
Sebenarnya sakit, biasanya sih biasa saja. Tapi sekarang....???
"Nggak apa-apa. Nyuci nya juga pakai mesin."
"Ya udah kalau bisa mah. Mas mah sebenarnya pengen kamu di kamar aja dek."
"Kenapa?"
"Kan semalam mas bilang, mas mau bikin kamu di kamar seharian. Tapi... ternyata kamu tangguh, ya udah lah."
Aku menggeleng tak percaya dengan uacapan nya barusan.
Meninggalkan mas Aziz yang solat, aku menuju dapur yang ternyata Imah sudah ada di sana.
"Mah, pagi banget udah disini?"
"Semalam nggak bisa tidur!"
"Kenapa?"
Imah melirikku.
"Nggak apa-apa mbak!", sahut Imah nyengir.
"Udah mbak, tinggal bikin lauk. Masih jam setengah lima lah mbak. Ntar aja masak lauknya. Kita ngeteh aja yuk!"
"Ya udah, tapi mbak bikin kopi dulu buat mas mu!"
"Imah udah bikin, itu dimeja makan!"
"Owh...makasih adikku yang paling cantik."
"Sama-sama mbakku....!"
Aku pun mengambil sendok yang ada d meja dapur. Imah menatap ku intens.
Habis keramas nih?? Batin Imah.
"Mas Aziz mana? belum keluar?"
"Paling tadarus dulu mah!"
"Owh....!", kata Imah sambil memegang gelas nya .
"Kamu kenapa nggak bisa tidur?"
"Ya...nggak bisa tidur aja mbak!", jawab Imah gugup.
"Mikirin pernikahan kamu yang tinggal tiga hari lagi?"
"Mungkin....!", jawab Imah.
"Umumnya sih gitu Mah, tapi rileks aja lah Mah. Bismillah, semoga dilancarkan semuanya."
"Aamiin....!"
"Ya udah, apa dong yang bikin kamu nggak bisa tidur?"
__ADS_1
Imah malah cengengesan, sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Tak lama kemudian, mas Aziz pun keluar dari kamar.
"Tumben jam segini udah nongkrong di dapur mah?", tanya mas Aziz yang langsung duduk di sebelah ku.
"Ga iso tiru mas semalaman!"
"Kenapa?", tanya mas Aziz sambil meminumnya kopinya.
"Gara-gara kalian lah!"
Aku dan mas Aziz saling berpandangan. Iya....mungkin kalau pakai sound...bunyi nya...jreng...jreng....
"Gara-gara kita?", tanya kami berdua kompak.
"Heummm!", kata Imah.
"Emang kita ngapain kamu?", tanyaku yang tidak mengerti maksud Imah.
"Hah! Jadi.... semalam Imah tuh haus, galon Imah lupa belom diisi. Bangun tidur kan nggak mungkin dong angkat-angkat galon. Nyawanya belum kumpul. Eh, pas ambil air galon di situ...", Imah menunjuk galon yang memang ada di antara pintu kamar kami dan kamar mama.
"Kenapa?", tanya aziz.
"Imah denger...suara kalian yang ah.....!", kata Imah menutup wajahnya sendiri. Aku pun malu jika Imah sampai melanjutkan omongan nya.
"Suara apa?", pancing mas Aziz. Aku mencubit pahanya yang masih di lapisi sarung.
"Awww!", pekik mas Aziz.
"Suara kalian yang ah...Imah jadi takut kalau A Dadan....ah....!", lagi-lagi Imah menutup wajahnya.
"Astagfirullah Imah....!", kataku.
Berbeda dengan mas Aziz, dia punya ide yang bikin Imah di jamin makin malu.
"Imah... ngga usah bayangin deh...paling....Dadan bikin kamu nggak bisa jalan setelah malam pertama besok. Kaya kamu kan dek?", tanya mas Aziz padaku.
"Apaan sih mas!"
"Hah? nggak bisa jalan?", tanya Imah. Dia kelewat lugu apa gimana sih????
"Iya. Sakit banget kan ya dek?", mas Aziz malah bertanya padaku.
"Udah mas, jangan sampai Imah terkontaminasi sama omongan mesum mu. Udah Imah, kamu nggak usah bayangin yang enggak-enggak."
"Buktinya...mbak aja barusan jalannya begitu, padahal...mbak udah sering begituan?", kata Imah polos.
"Mending kamu balik ke kandang mu sana. Subuh-subuh ngomongin omongan unfaedah!"
"Kandang....di kira Imah Iki ayam....!"
"Balik nggak? balik nggak???", ancamku.
"Tapi Imah mau bantu mbak masak."
"Nggak usah, kamu makan aja ntar kalo udah matang."
"Tapi...semalam enak banget ya mbak... suaranya....!", ledek Imah lagi sambil berdiri.
"Imah....!", teriakku.
Si Imah pun berlari meninggalkan dapur.
Mas Aziz malah cengengesan.
"Kenapa kamu malah ketawa? Nggak malu sama adikmu?"
"Ngapa kudu malu, kenyataan nya kan semalam kita emang seru. Saking serunya, suara kita sampai kedengaran ke luar kamar. Untung aja Diaz nggak bangun ya???"
"Mas....!!!!!"
******
__ADS_1
Masih yang ringan-ringan dulu ya pemirsah 😁
setelah ini, bakal banyak seriusnya