Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 255


__ADS_3

Dobel up ya gaes? happy reading! semoga puas 🙈🙈🤗🤗✌️✌️


******


Usai bukber dan tarawih bersama di kediaman Aziz, para sahabatnya langsung terbang ke Bali. Dengan harapan esok pagi bisa melihat matahari terbit di pulau Dewata itu.


Pagi hari, aku menyiapkan keperluan mas Aziz seperti biasanya. Dan....Diaz sudah pindah tangan bersama teh Neng tentunya. Fisik ku mulai membaik, jadi selama Diaz bersama teh neng, aku bisa mengerjakan pekerjaan lainnya. Aku tidak ingin semua bergantung pada teh Neng.


"Hari ini nggak lembur kan mas?", tanya ku sambil merapikan dasinya.


"Insyaallah nggak dek. Kenapa?", dia menowel daguku.


"Mas ...ih ....!", kataku karena dia menggelitik pinggang ku.


"Aku pasti akan selalu merindukanmu dek!", mas Aziz mengusap kepalaku lalu mengecup nya .


"Heum! Tiap hari ketemu, malem di kasih jatah masih aja ngegombal kangen!", kataku sambil mencebikkan bibirku.


"Karena istriku ini memang selalu bikin kangen!", kata Aziz dengan tatapan penuh cinta.


"Puasa ah mas ...jangan begini. Ntar kalau aku pengen gimana?", ledekku.


"Pengen apanya, masih libur panjang juga!", Mas Aziz memencet hidungku. Ku pandangi leher suamiku. Terdapat beberapa tanda cinta dari ku semalam. Hampir tiap malam mas Aziz meminta ku memuaskannya tanpa kami....ehem....ehem....


"Mas, pakai plester ya? Lehermu banyak bekas stempel dari ku!", kataku sambil mengusap lehernya yang tercetak merah keunguan di beberapa tempat. Tapi masih bisa dilihat oleh orang lain dengan leluasa.


"Ngapain di tutupin. Biarin aja semua tahu kalau mas ini....hanya milikmu!", katanya sambil melingkarkan tangannya di perutku.


"Heum....!!! Sabarlah sayang.....tak sampai sebulan lagi kamu buka puasanya!"


Aziz tersenyum tipis. Dia kembali mengecup keningku. Memelukku begitu erat.


"Oh ya sayang, mama Farah tadi telpon. Ya...ko saling maaf-maafan mas. Beliau juga bilang, nggak bisa lebaran bareng kita!"


"Iya, mama juga kemarin telpon mas kok!"


"Owh....ya udah kalau gitu. Udah mau jalan kan? Takut telat! Insyallah, aku juga akan masuk DWP lagi. Kalau kamu udah ijinin aku keluar?", aku meringis menunjukkan gigi putihku.


"Nanti saja hari Senin sekalian ya?", ia mengusap rambut ku.


"Baiklah.... terimakasih bos kuhhh!", candaku.


"Kamu bos yang sebenarnya!", colek mas Aziz di hidungku.


Aku mengantar mas Aziz ke depan setelah ku pakai jilbab ku.


"Dek....!"


"Heum?"


"Andai terjadi sesuatu padaku, kamu tahu siapa orang pertama yang harus kamu hubungi?"


Aku mengernyitkan alisku.


"Ngomong apa sih Ka...."


"Sssttt...kamu tahu kan siapa yang harus kamu beritahu Hem?", tanya nya lagi. Aku menggeleng pelan. Tapi mas Aziz malah tersenyum.

__ADS_1


"Ya udah, mas berangkat ya? Assalamualaikum!", dia mengulurkan tangannya padaku. Lalu ia mengecup keningku, lagi!


Setelah itu ia berjalan menghampiri Diaz yang berada tak jauh dari mobil. Menciumi Diaz berkali-kali seolah dia akan pergi lama sekali.


Setelah puas menciumi putranya, Aziz menjalankan mobil menuju DWP.


.


.


Aku baru saja masuk kedalam kamar ku karena dering ponsel ku berbunyi nyaring.


Nomor luar kota?


[Hallo Assalamualaikum?]


[Walaikumsalam. Dengan keluarga Nugroho?]


[Ya betul, saya Diandra Nugroho. Maaf, ini dari mana ya?]


[Kami dari Polsek Xxxx Surabaya Bu, ingin mengabarkan bahwa terjadi kebakaran yang menimpa ruko dan butik Nugroho. Dan dengan sangat menyesal....kami harus mengatakan jika keempat penghuni ruko serta seorang bayi meninggal di tempat kejadian]


[Innalilahi....mama!]


Aku menutup mulutku dengan tanganku. Ya Allah....kenapa bisa seperti ini. Aku harus bersiap untuk kesana. Mas Aziz harus tahu, pasti tadi polisi tidak bisa menghubungi nya, makanya mereka menelpon ku.


Aku bersiap sebentar sambil terus menghubungkan mas Aziz,tapi tak ada jawaban darinya.


Di lain tempat, sebelumnya.....


Jalanan tak terlalu macet, sampai ia menyadari. Di belakang serta samping kanan kirinya, ia di apit mobil.


"Siapa mereka? Apa mau mereka?", gumam Aziz. Beruntung lampu hijau menyala, Aziz buru-buru menginjak pedal gasnya. Sebentar lagi dia akan memasuki area gedung DWP. Sialnya, salah satu mobil itu menghalangi nya masuk sehingga Aziz melajukan mobilnya lagi. Satpam sempat berdiri melihat mobil bos nya, tapi dia kembali duduk saat ada mobil yang menghalangi bosnya masuk. Satpam itu pikir, bos nya punya acara lain selain di kantor DWP.


Aziz melajukan mobilnya lagi, dia harus mencari pintasan untuk berbelok. Tapi sial, tak ada tempat untuk nya berbelok. Sampai akhirnya dia berhenti. Begitu pula dengan mobil yang menguntit nya. Aziz memberanikan diri keluar dari mobilnya.


Orang-orang yang tinggi besar keluar dari mobil yang mengikuti nya sejak tadi.


Dengan penuh keberanian, Aziz berbicara lantang.


"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dari ku?"tanya Aziz sambil melipat kemeja nya. Jalanan tidak terlalu ramai tapi tidak juga terlalu sepi. Orang-orang itu memakai topeng untuk menutup wajah mereka. Awalnya, mereka ingin mensabotase kecelakaan aziz. Tapi sayangnya, Aziz malah berputar-putar di dekat kantor nya.


"Kami ingin nyawamu!", kata salah satu dari mereka.


"Siapa yang menyuruh kalian?", tanya Aziz lantang. Tangannya masih memegang ponsel. Dia mengirim pesan suara kepada seseorang. Andai kata Aziz mati konyol di sini, setidaknya dia bisa mengusut kasusnya.


"Banyak bacot Lo!", salah seorang dari mereka menyerang Aziz membabi buta. Aziz tak banyak melawan. Sampai ada sesuatu yang menusuk punggung nya. Dan dari arah depan, ia mendapat bogem mentah. Setelah jatuh tersungkur, para pelaku kejahatan itu bahkan masih sempat menginjak tubuh Aziz yang tak berdaya itu.


Kejadian itu menjadi tontonan, hanya saja tidak ada yang ingin terlibat di dalamnya. Hingga salah seorang warga, menghubungi polisi dan juga rumah sakit.


Para penjahat itu sudah kabur. Setelah para penjahat itu pergi. Warga berbondong-bondong membantu Aziz. Banyak nya darah di tubuh Aziz membuat mereka yang membantu merasa miris.


Apakah dia akan selamat???? Batin para penolong.


Darah mengucur deras di punggung Aziz. Wajahnya lebam kebiruan. Wajah tampannya saat ini sudah tak terlihat sama sekali.


Di sisi lain, si penerima pesan suara tengah menikmati keindahan laut pulau Bali.

__ADS_1


Dengan penasaran, dia membuka pesan suara dari sahabatnya itu. Matanya membulat seketika.


"Mas? kamu kenapa?", tanya Mika yang baru saja berjalan di pinggir pantai bersama Imah dan Hayu. Damar dan Dadan sedang memesan makanan untuk mereka berenam.


"Kita pulang ke jakarta sekarang", kata Fai sambil berdiri dari pasir pantai.


"Tapi ada apa mas?", Mika masih belum mendapatkan jawaban dari suaminya.


Fai memberikan ponselnya kepada istrinya. Mika menakupkan tangannya di mulut. Begitu pula yang lainnya.


Dadan dan damar menghampiri kehebohan di dekatnya.


"Ada apa?", tanya Damar.


"Ada yang menyerang Aziz! Kita harus secepatnya pulang ke Jakarta!"


"Ya Allah A, semoga mas Aziz nggak apa-apa!", Imah menangis tergugu.


"Mas Aziz pasti nggak apa-apa neng. Kita pulang sekarang!", Dadan menuntun Imah menuju penginapannya.


Mereka melakukan penerbangan satu j setelah reservasi.


.


.


Di rumah....


Aku tak bisa menghubungi suamiku. Bagaimana aku akan mengabari keadaan mama dan mbak imas? Aku sudah bersiap-siap untuk menyusul Mas Aziz ke kantor. Mungkin dia sedang ada pertemuan dengan klien. Mau menghubungi Julian pun tidak mungkin, dia kan sedang ke Singapura.


Batu saja ku langkahkan kaki mengambil kunci motor ku. Ponsel ku berdering. Ku harap mas Aziz yang menelpon ku. Ternyata bukan suara suamiku.


[Assalamualaikum mas?]


[Walaikumsalam. Selamat pagi nyonya?]


[Pagi, eh...ini ponsel suami saya? Anda siapa?]


Hatiku mulai tak terkendali. Di satu sisi aku masih kalut dengan kejadian naas yang menimpa mertua dan iparku. Kini aku di kejutkan oleh telpon dari seseorang yang tak ku kenal.


[Betul nyonya]


[Lalu, suami saya mana? kenapa ponsel suami saya ada pada anda?]


[Sebaiknya, anda menuju rumah sakit sejahtera nyonya. Suami anda berada di sini]


[Astagfirullah! Suami saya kenapa pak?]


[Anda lihat aja bu. Saya tidak bisa menjelaskan]


Setelah menutup panggilan, aku memasukan ponsel ku ke dalam tas. Aku mendengar ada yang menelpon ku. Tapi tak ku hiraukan. Aku fokus menuju rumah sakit.


Di lain tempat, Fai gamang merasa telponnya tak di respon Diandra.


****


Ada yang penasaran sama kelanjutan nya nggak????. 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2