Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 126


__ADS_3

Imah baru saja pulang dari rumah Dadan. Minggu ini dia benar-benar sibuk dengan urusannya yang akan melangsungkan pernikahan nya.


"Mas...mbak....udah mau jam dua nih, makan siang dulu yuk?", Imah mengetuk pintu kamarku.


"Iya Mah!", aku dan mas Aziz pun beranjak dari kasur ku.


"Dek!"


"Nanti ya mas aku cerita nya. Biar lebih banyak waktu kita berdua. Kan nggak enak, kita cerita-cerita tapi anak mu di cuekin?"


Aku memainkan jari-jari diaz. Aziz hanya menatap dua orang yang sangat berarti dalam hidup nya. Dari kepulangan Stevan, Aziz memang berada di ruangan yang sama dengan istri nya. Tapi, mereka belum mengobrol tentang hal yang baru saja terjadi.


"Kita makan aja mas."


Aku meletakkan Diaz di strollernya. Dan mendorong menuju meja makan.


"Nanti mas nyusul." Lalu aziz pun pergi ke toilet terlebih dulu.


"Kita makan mbak, nasi Padang tok. Tadi Imah nggak sempat masak."


"Maaf ya Mah, gara-gara Mbak kamu jadi repot."


"Nggak mbak. Kenapa sih mbak bilang kaya gitu terus, emangnya Imah orang lain?"


Aku tersenyum mendengar Imah mulai ngoceh.


"Iya...iya...Imah, adik mbak yang paling cantik dan saliha."


"Nah, gitu dong. Kan enak di dengar nya."


"Gimana persiapan nya? Tadi dari rumah kang Dadan kan?"


"Insyaallah udah selesai semua mbak. Cuma...Imah belum kepikiran buat beli jajanan balasan hantaran mbak. Pesen di mana ya? Kalau tanya mama, pasti mama ngasihnya yang mahal-mahal."


"Kan mama sama mas mu yang tanggung jawab bayarin Imah. Kamu tenang aja!", mas Aziz kini turut duduk di meja makan.


"Yo jangan lah mas, kalian boleh bantu tapi untuk yang itu...biar Imah sendiri. Imah punya tabungan kok."


"Tabungan kamu, di simpen aja. Kesananya banyak kebutuhan kok. Meskipun kang Dadan banyak duitnya, tapi kamu juga harus punya pegangan sendiri." Aziz menasehati sambil mengunyah makanannya.


"Iya sih mas. Tapi ...wes lah gak popo. Besok kan Imah gajian lagi dari mas ku???", Imah menaikan kedua alisnya.


"Emangnya kamu masih mau kerja di sini? Bojo mu di kemana kan???",ledek Aziz.


"Mau lah. Aku kan mau nya deket sama mbak ku sama ponakan ku."


Imah mengunyel-unyel pipi ponakan nya itu. Si pemilik pipi pun malah kegirangan.


"Mah, bukannya mas nggak suka kamu di sini."


Imah menatap kakak sepupunya itu.


"Kamu, setelah jadi istri kan tanggung jawab suamimu. Ada baiknya segala sesuatunya di bicarakan dulu dengan suamimu. Kan kang Dadan juga punya dua warung. Misalkan...ini misalnya lho ya. Kamu kan bisa bantu-bantu kang Dadan ngurusin warungnya."

__ADS_1


Imah terlihat berpikir.


"Iya sih mas. Imah belum ngobrol soal itu ke A Dadan."


"Makanya, di obrolan dulu. Biar nantinya nggak ada salah paham."


"Kamu nyindir aku mas?", aku menanyakan hal itu tapi juga tetap melanjutkan makanku.


"Nyindir apa sih dek? Mas lagi bilangin Imah aja!", mas Aziz mengusap bahuku. Tapi ku tepis kan.


Aku segera bangkit dari kursi ku. Lalu mendorong stroller Diaz.


Imah tak tahu harus bicara apa. Sedangkan Aziz hanya mengusap kasar wajahnya.


Sudah hampir ashar, aku mengajak Diaz bermain lagi. Tapi sepertinya dia sangat ngantuk. Alhasil, Diaz tertidur dengan sendirinya.


Mas Aziz masuk ke kamar saat aku baru saja ingin beranjak ke toilet untuk mengambil wudhu.


"Dek!", mas Aziz meraih pinggang ku dari belakang.


"Maaf...mas nggak bermaksud menyindir mu sayang. Mana ada mas kepikiran kaya begitu."


Aku diam saja mendengar pembelaannya.


"Iya. Aku yang salah mas. Aku yang dari awal nggak jujur ke kamu! Aku pernah hampir gila mas! Aku malu! Aku tidak tahu apa kamu akan menerima masa laluku? Aku takut kamu meninggalkan ku. Seperti mas Fai , orang yang sangat ku percaya. Orang yang tahu segalanya seperti apa hidupku. Tapi dia mencampakkan ku?! Aku takut kamu malu memilik istri seperti aku!", aku mengatakan hal yang sebenarnya ingin ku katakan nanti malam pada suamiku.


Tapi ternyata aku sudah tidak tahan untuk tidak mengungkapkan nya sekarang.


Mas Aziz semakin erat memelukku.


Mas Aziz mengecup kepalaku berulang-ulang.


"Mas ,j ustru beruntung memiliki mu sayang. Kamu sudah sepenuh hati menerima semua kekurangan mas. Memberikan kesempatan kedua buat mas."


"Dan...mas itu bukan Fai ,sayang. Aku suami mu! Maafkan Fai juga, tanpa dia...kita juga tidak akan seperti sekarang ini."


Iya, benar mas. Jika mas Fai tak meninggalkan ku, mungkin kita belum tentu seperti sekarang.


"Dek, mas siap mendengar kan semua kisah mu. Masa lalumu."


Aku mengurai pelukannya.


"Aku mau sholat ashar dulu mas!"


Melangkah kan kaki ku menuju toilet.


"Kita jamaah dek!", mas Aziz meraih tanganku. Mau tidak mau aku pun setuju tanpa memberikan jawaban apa-apa.


Solat ashar berjamaah pun usai. Disaat yang bersamaan, Diaz pun terbangun.


"Sayang nya bunda udah bangun!", aku segera menggendong nya.


"Sayang...!", mas Aziz kembali memelukku.

__ADS_1


"Nanti kita bicara lagi. Mas ke depan ya, kasian Hayu dari pagi jaga kios sendiri."


"Iya'', jawabku singkat.


Aziz pun keluar dari kamarnya. Sedangkan aku , aku bersikap untuk memandikan Diaz karena hari sudah mulai sore.


"Hayu...maaf, saya baru sempat bantuin kamu."


"Nggak apa-apa mas. Saya bisa sendiri kok!"


Aziz pun duduk di belakang meja kasir. Sedangkan Hayu duduk di dekat etalase.


"Imahnya mana?"


"Barusan ngajak Faiz ke rumah Kang Dadan mas. Katanya ada urusan."


"Owh...ya sudah."


Mereka berdua sama-sama terdiam. Beberapa kali ada pelanggan yang membeli pulsa dan aksesoris ponsel. Sekedar menyapa atau memberi salam pada Aziz.


"Maaf mas....apa...tadi Daddy ku ke sini?", tanya Hayu ragu-ragu.


"Kamu tahu?", tanya Aziz balik. Hayu pun mengangguk.


"Ada perlu apa dia kemari mas?"


"Ada urusan dengan diandra."


"Dengan mbak Dian?", tanya hayu heran.


"Iya."


"Maaf mas, urusan apa?", tanya Hayu penasaran.


Mas Aziz mendesah sesaat.


"Saya tidak berhak menjawab nya. Mungkin lain waktu Dian yang akan menceritakan nya pada mu mbak!", jawab Aziz.


"Oh...baiklah!", jawab Hayu lesu.


"Kalau semua sudah kondusif, mungkin.... kamu dan Dian bisa bicara dengan om Stevan. Tapi tidak untuk waktu dekat ini. Kecuali... kalau mbak Hayu memang ingin bicara padanya."


"Nggak mas. Saya rasa, saya tidak ingin lagi bicara padanya."


Mata Hayu menerawang entah ke mana.


Aziz pun berpikir secara logis saja. Pantas, mereka berdua membenci om Stevan. Tapi... bagaimana juga...semua sudah terjadi. Mungkin, om Stevan memang terlambat menyadari. Semua butuh waktu...


Waktu untuk memaafkan dan di maafkan.


******


Maaf keun... setelah eps ini, bakal banyak episode flashback nggak apa-apa ya???

__ADS_1


Flashback Dian dan Fai tentunya 🤗 .


Terimakasih yang sudah membaca karya receh mamak ya, ditunggu kritik dan sarannya 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2