Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Mengusir ulet bulu


__ADS_3

"Ayo anak pintar, minta maaf dulu sama mama Feby!", pinta Imah pada calon anak tiri dari kekasihnya. Ah...belibet banget nyebut nya kan.


Farhan menatap Imah sebentar, dengan anggukan kecil dari Imah akhirnya Farhan mengulurkan tangan mungilnya kepada Feby.


"Maafiin Farhan tente....!"


Feby tak bergeming.


"Sayang, panggil mama bukan Tante nak!", pinta Imah.


"Tapi Farhan maunya panggil Tante kak Imah. Farhan nggak mau punya mama, maunya punya ibu kak Imah!"


Sontak lirikan tajam dari Feby pun seolah mengintimidasi Imah.


Dadan dan Aziz pun berpandangan.


"Ambil saja anak sialan ini. Gara-gara dia hancur masa depan gue. Gue nggak peduli dia mau gimana!"


Imah, Dadan dan Aziz menatap tak percaya. Bukannya tadi dia sempat mengusap kepala anaknya?


"Astagfirullah mbak, jangan bicara begitu. Dia itu darah daging mu lho. Sembilan bulan diperutmu berbagi segala hal denganmu. Kalau kamu memang tak mau merawat Farhan , setidaknya jangan mengucapkan kata tak pantas begitu." Imah memeluk Farhan yang terlihat shock.


"Halah...bocah udik, Lo nggak usah cari muka deh sama Dadan. Ambil aja sono. Gue nggak peduli sama Farhan apalagi Dadan."


"Jaga bicara mu Feby. Kamu bisa menghina saya sepuas mu, tapi jangan pernah menyakiti Farhan."Dadan terlihat sangat marah.


"Sabar kang!", Aziz mencoba menenangkan.


"Daripada kamu bikin ribut disini, lebih baik kamu pergi. Jangan pernah injakan kaki mu yang terhormat itu di daerah sini."


"Siapa Lo hah larang-larang gue! Terserah gue mau ke sini mau nggak. Gue kesini juga niatnya cuma mau ketemu Aziz. Bukan Lo apalagi Lo bocah udik!", Feby menunjuk wajah Dadan lalu beralih ke Imah.


"Feby, pergilah." Aziz masih mengingat kan nya dengan pelan.


"Aziz, gue bakal tetep sering kesini. Bertahun-tahun gue nyari Lo, gue cinta sama Lo."


"Astagfirullah..... kamu emang keterlaluan sekali Feby!", Aziz mulai tak bisa menahan emosinya.


"Ada apa mas?", tiba-tiba Diandra muncul.


"Kamu disini dek, Diaz sama siapa?", tanya Aziz.


"Sama mama. Tadi mama langsung masuk, soalnya mama liat kios lagi rame katanya."


"Hai ,Di!", sapa Feby tanpa rasa canggung.


"Hai mbak!", balas Dian.


"Eh, ada si ganteng Farhan. Kamu kenapa sayang, kok peluk-oeluk kak Imah begitu? Imah, Farhan kenapa? Kok mukanya kaya ketakutan gitu?"


"Iiitu mbak....", Imah bingung mau jawab apa.


"Imah, Farhan diajak masuk deh. Tadi mama bawa kue coklat. Pasti Farhan suka, boleh kan kang Dadan?", aku minta ijin kepada ayah nya Farhan.


"Boleh mbak Di. Tapi... sebenarnya...saya mau pulang ke warung. Tadi ada pesan kalau warung ramai."


"Ya udah biarin aja atuh Farhan disini, kalau minta pulang nanti bisa diantar sama mas Aziz." Aziz pun mengangguk.


Farhan dan Imah bergandengan tangan menuju rumah induk.


"Udah... berunding nya?", tanya Feby lagi sambil mendudukan bokongnya lagi.


Dadan akhirnya pamit pulang.

__ADS_1


"Diandra, bagaimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah baik mbak."


"Mas, kamu ditunggu mama tuh. Biar aku disini sebentar. nanti kalau ramai, aku panggil kok."


"Tapi dek, kamu kan belum pulih sayang!", Aziz mengusap bahu istrinya.


"Tenang saja mas. Aku juga cuma duduk kok."


"Ehemm..."Feby berdehem.


Aziz dan Dian saling memandang penuh pengertian.


"Ya sudah, mas ke dalam dulu. Nanti panggil ya kalau kamu repot!"


"Siap sayang....!", Aziz pun melenggang ke rumahnya.


"Oh iya, sepertinya mbak Feby tadi sudah mengisi kuota deh ya? Ada yang mau dibeli lagi, kok masih disini?", tanyaku memulai percakapan.


"Tadi nya mau liat kamu sama Diaz tapi Aziz bilang kamu istirahat."


"Owh, ini saya disini. Alhamdulillah masih diberi kesehatan. Mbak Feby ada perlu sama saya?"


"Hem, nggak juga sih. pengen liat Aziz doang", ucapnya santai.


Apa katanya, mau liat suami ku doang? Apa dia mengigau?


"Liat mas Aziz? Memang mas Aziz kenapa dilihatin?"


"Ya...pengen lihat aja masa nggak boleh. Asal kamu tahu ya Di. Dari dulu gue cari tau keberadaan Aziz. Gue cinta mati sama suamimu itu."


"Astagfirullah...hilang cintanya tinggal matinya dong mbak?", wajahku kubuat seserius mungkin.


"Lho...saya nggak ngomong gitu lho mbak. Mbak Feby kan bilang cinta mati sama suami saya, ya saya bilang kalau cinta nya hilang berarti tinggal matinya dong! Memang ada yang salah sama ucapan saya?"


"Lo...Lo...sama aja kaya adik ipar gila lo itu!"


"Hah? Imah? Imah itu 'cuma adik sepupu' suami saya lho mbak Feby...."


"Whatever lah...gue ga peduli Lo mau ngomong apa. Yang jelas sampai sekarang, gue masih cinta sama Aziz. Titik!"


Aduh, bener kata si Imah. Feby itu emang ulet bulu. Gatel. Maunya nempel Mulu. Harus punya strategi nih buat jauhin dia sama Aziz. Sekalipun Aziz bilang nggak mau lagi-lagi bikin ulah, apalagi sama seorang Feby yang katanya punya kerabat pemilik rumah sakit itu.


"Terus...maunya mbak Feby gimana ,coba kasih tahu saya."


"Ya...Lo ngijinin lah gue sama Aziz."


"Saya ngijinin kok, nih buktinya. Dari tadi mbak ngobrol kan sama dia?"


"Iya....tap....", ucapan Feby terhenti.


"Mbak Di, bagi vocer Telkoms** yang dua puluh lima giga mba!"


"Eh, iya mas." Aku menyerah kan vocer yang diminta. Lalu orang itu pun menyerahkan uangnya.


"Harga masih kaya biasa kan mbak Di?"


"Masih dong mas. Nanti kalau ada perubahan pasti diinformasikan disitu!", aku menunjuk daftar harga di dekat rolling door.


"Siap mbak Di. Makasih ya....!"


"Sama-sama mas...."

__ADS_1


Si pembeli pun berlalu.


"Mbak Feby masih mau disini?", tanyaku.


"Lo ngusir gue?", bentak Feby.


"Oooopppsss santai mbak. Jangan salah sangka. Saya perhatikan mbak udah lama lho disini. Memangnya nggak bosen?"


"Terserah gue lah !"


"Oh...ya sudah kalau masih mau disini mah nggak apa-apa."


Aku pun berniat untuk pura-pura akan menutup kios ku. Menumpuk kursi plastik yang ada di dekatku.


"Lho...kok dirapikan?", tanya Feby.


"Iya mbak. Kan ada mama mertua saya. Kasian atuh kalau di anggurin."


"Ya udah, kenapa Lo nggak nawarin gue masuk terus ngobrol sama Tante Farah?"


"Hahah...mbak Feby lucu banget sih. Mama mertua saya mau ngobrol urusan keluarga kami. Masa ngajak situ, mbak Feby lucu deh."


Wajah Feby memerah.


"Maap mbak, bisa berdiri? Kursinya mau saya masukin, takut ada yang ambil. Suami aja kalau meleng dikit bisa dibawa orang, apalagi kursi. Kalau bukan kita yang jagain, siapa lagi. Benar kan mbak?",aku pun sudah berhasil mengambil kursi yang tadi Feby duduki.


"Sialan Lo Di. Liat aja ya, Aziz pasti bertekuk lutut sama gue."


"Aduh mbak...Dian jadi takut....", wajahku ku buat seperti orang yang takut beneran.


Feby pun menjauh dari kios. Akhirnya ulet bulu itu pergi juga. Astagfirullah....kenapa sih jadi ikutan Imah mulu.


Aku pun menutup rolling door. Sementara tutup dulu,buka lagi bada ashar saja.


Aku pun menuju rumah induk kembali. Melewati pintu samping seperti yang lain. Karena kami memang jarang lewat pintu depan.


"Lho, dek kamu ke sini? Kios ga ada yang jaga."


Mas Aziz duduk disebelah mama yang sedang memangku cucunya.


"Kios ditutup sementara mas. lagian kan ada mama juga mas, nggak enak lah ditinggal Mulu."


" Itu...si ulet bulu pergi mbak?" ,tanya Imah yang sedang duduk bersama Farhan.


"Udah, tadi aku suruh pulang."


"Gimana cara ngusir dia pulang mbak?", Imah penasaran.


"Ulet bulu apa?", tanya mama.


"Itu ma, fans fanatiknya Mas Aziz."


"Iya dek."


"Oohh...", mulut mama membulat.


"Mama belum dibikinin minum ya, sebentar Dian ambilin!"


"Nggak usah Di, ini ada air mineral. Kalau mama mau nanti bikin sendiri aja."


"Iya mah..."


Kami pun mengobrol banyak hal tentang perkembangan Diaz. Sepertinya Diaz memang membawa perubahan pada sikap mama padaku. Alhamdulillah.

__ADS_1


__ADS_2