
Aziz masih berusaha menghubungi Julian. Tapi tetap saja nomor itu tak bisa di hubungi. Akhirnya ia mengirim kan video itu kepada Julian setelah gagal menghubungi nya puluhan kali. Takut lupa pula ia mengirim kan chat emosinya pada Julian.
[KAMU DIMANA JULIAN? BAGAIMANA BISA KAMU MEMBIARKAN ISTRIKU MASUK KE KAMAR HOTEL DENGAN SEORANG PRIA ASING???!!!!]
[AKU SUDAH BILANG, SELAMA AKU TAK MENDAMPINGI DIAN, KAMU JAGA DIA BAIK -BAIK! KAMU KE MANA B*****T ]
Kalimat kasar pun ia kirimkan pada Julian. Emosinya sudah tak terbendung lagi. Bagiamana mungkin seorang Aspri yang sudah ia berikan tugas untuk menjaga istrinya malah membiarkan istrinya pergi bersama seorang pria, asing pula!
Nafas Aziz memburu. Saat ini mobilnya sudah berada di depan pintu gerbang rumahnya. Usai membayar taksi. Ia langsung menuju ke rumah. Hayu sempat melihat sebentar dan menganggukkan kepalanya pada Aziz.
Perasaan yang masih gamang, membuat Aziz melampiaskan emosinya pada tembok rumah nya.
Dian! Apa yang sudah kamu lakukan!!??? Apa mungkin kamu mengkhianati ku Di? Tapi... untuk apa kamu masuk ke kamar hotel dek? Kenapa????!!!
Aziz langsung masuk ke kamar nya. Meraih handuk lalu berdiri di bawah kucuran air shower.
Matanya terpejam. Air dingin itu sedikit mendinginkan kepalanya, tapi tidak dengan hatinya.
Ayo Ziz, percaya lah. Diandra tidak seperti itu. Istrimu wanita yang shalihah. Dia tahu adab dalam bergaul. Tidak mungkin dia berkhianat hanya demi perusahaan.
Perang batin masih terus mengusik hatinya. Badannya luruh, sampai terduduk sambil bersandar di bawah kucuran air.
Bayangan dosa saat ia tak sengaja mengkhianati Dian kini terlintas kembali di otak dan di kelopak matanya.
Apa kamu ingin membalas kesalahan ku dek??? Tapi kenapa harus seperti ini dek? Kenapa? Apa yang kamu lakukan di dalam kamar hotel itu dengan pria asing? Apa...apa pria itu melakukan hal....hal....yang....Arghhhhh!!!!!
Aziz menangis di bawah kucuran air itu.
Ya Allah.....
*****
Julian memeriksa ponselnya. Dari tadi ia sama sekali tak mendengar notifikasi dari ponselnya yang selama ini jarang sekali tenang.
"Ah...pantes aja, baterei nya habis!", gumam Julia.
Tangannya memeriksa dashboard, mencari keberadaan charger nya. Tapi ternyata benda yang sedang ia butuhkan saat ini tidak ada.
Bagiamana jika ada panggilan penting atau hal penting lainnya jika ponselnya mati???
"Cari apa mas Jul?"
"Em...ponsel saya habis baterai bu."
"Owh ...nggak bawa charger?"
"Iya, saya lupa meletakan nya di mana."
"Nanti ambil saja di kios, minta sama mbak Hayu. Aku takut, nanti ada yang ga bisa hubungi kamu lagi."
"Iya Bu!"
Kami kembali terdiam.
"Bu Dian....!"
"Hem?"
"Anda sehat kan? Baik-baik saja bukan?"
"Aku baik-baik saja mas Jul."
"Tapi wajah anda pucat sekali?"
__ADS_1
"Masa sih?"
Julian hanya mengangguk.
"Tadi abis solat ashar nggak pake make up lagi kali mas, jadi pucat. Toh...kita langsung pulang inih, nggak ke kantor lagi. Jadi buat apa pake make up. Saya terbiasa polosan begini Mas Jul. Lebih percaya diri."
Julian sedikit tersenyum.
Ya Bu, anda memang sudah cantik dari sananya. Pakai atau tanpa makeup pun aura kecantikan mu tak pudar.
Tuhan....apa aku benar-benar sudah jatuh hati pada bos ku ini?
Tapi...ini tak boleh terjadi, kami harus profesional Julian. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Jika kamu memang mencintai nya, kamu cukup menjaganya, melindungi dari apa pun. Julian berkata dalam hati.
"Anda menemui dokter?"
"Hah? Iya...! Aku kan sudah bilang, di RS persada kan ada dokter Mika."
"Tapi maaf Bu, tadi saya lihat anda masuk ke ruangan dokter Lala. Bukan dokter Mika!"
"Kamu mengikuti ku?", tanyaku pada nya.
"Iya Bu. Maaf! Saya hanya mencemaskan anda."
"Tapi kamu berlebihan Julian!", kataku sedikit meninggikan intonasi suara ku.
Julian mendesah, menghela nafasnya.
"Maafkan saya bu. Saya hanya menjalankan tugas, saya harus memastikan keselamatan anda. Apalagi, tadi saya menyadari ada yang mengikuti kita Bu. Sekali lagi maafkan saya."
"Ya udah lah....!", jawabku singkat. Aku menatap keluar jendela.
"Dan....saya melihat dokter Mika sedang menangani pasien di UGD. Jad....saya inisiatif mengikuti anda. Maafkan saya bu."
Ah... jadi Julian melihat Mika yang sedang sibuk menangani pasien?
"Apa anda sakit?"
Aku menengok ke arah nya.
"Anda terlihat pucat bu. Bahkan dari tadi, anda sering beberapa kali hampir terjatuh?"
"Di bilang sakit...ah...nggak mas, cuma pusing biasa aja." Lagi, aku memalingkan wajah ku ke luar.
"Mungkin anda kelelahan ya Bu. Aktivitas di perusahaan sudah menyita waktu anda. Belum lagi di rumah, anda harus mengurus putera anda."
"Iya Jul. Tapi ...ini sudah kewajiban ku Mas Jul."
"Sepertinya anda istirahat saja dulu untuk beberapa hari. Biar urusan kantor saya yang menangani. Saya akan menghubungi anda jika mendesak saja."
Kamu baik banget sih Jul? Batinku.
"Aku memang akan istirahat dalam beberapa hari kedepan!", kataku lirih. Tapi Julian masih mampu menangkap ucapan ku yang sangat lirih tadi.
"Maaf Bu, saya rasa ada hal yang serius dengan Anda. Anda sedang tidak baik-baik saja Bu?!", kata Julian dengan suaranya yang terdengar khawatir.
"Mas Julian tak perlu secemas itu. Tenang saja. Aku kuat kok. Kamu tahu itu!", jawabku sambil tersenyum.
Aku yakin, dia hanya sedang menutupi sesuatu dariku. Tapi...apa hakku coba???Batin Julian.
"Mas Jul, mobil parkir di depan kios saja. Nanti minta charger sama Mbak Hayu ya."
Julian pun mengangguk patuh.
__ADS_1
Mobil Julian berhenti tepat di depan kios. Hayu menyambut ku dengan senyuman ramahnya.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
"Udah pulang, di antar Julian?", tanya Hayu.
"Iya mbak Hayu. Tadi ada meeting, jadi sekalian anterin pulang deh."
"Owh....!", hayu mengangguk.
"Mas Jul, minta charger sama Mbak Hayu aja ya. Saya langsung masuk!", kataku.
Julian mengiyakan dengan anggukan, lalu menyerahkan tas laptop ku.
"Harganya berapa stev?", tanya Julian.
Hayu baru akan menjawab, aku sudah lebih dulu menyahut nya.
"Berapa argo yang harus aku bayar padamu mas Jul, karena sudah mengantarkan ku pulang?"
Julian pun menatap ku. Kalimat semacam itu sudah sering Julian dengar dariku. Julian pun paham, dia menyunggingkan senyuman nya. Aku pun masuk ke dalam rumah, meninggalkan dua sahabat lama itu.
"Maaf Bu....!", kata Julian pelan.
Hayu pun meminta Julian mencoba nya terlebih dulu. Julian pun duduk sambil mencoba mengecas ponsel nya yang mati total kehabisan baterai. Bisa-bisanya ia lupa mengisi baterai tadi malam. Sambil menunggu ponselnya sedikit terisi, Julian mengajak Hayu mengobrol.
"Stev...?!"
"Ya?", sahut Hayu singkat. Hayu tidak bisa memaksa orang lain untuk memanggil nya Hayu lagi.
"Aku dengar....kamu sedang dekat dengan dokter Damar?", tanya Julian ragu.
Hayu pun tersenyum.
"Apa diandra benar-benar sudah membuatmu berubah Jul?", Hayu balik bertanya.
"Apa maksudnya?", tanya Julian tak mengerti.
"Aku tahu kamu dari dulu. Kamu makhluk paling irit bicara Jul. Apalagi sampai ingin tahu urusan pribadi orang lain. Aku rasa Dian membawa perubahan positif untuk mu?"
Stevi mengulas senyum cantiknya.
Julian pun enggan menjawab ucapan Hayu .
"Aku nggak bisa bayangin kalau kamu....dulu melamar Sharen. Gimana ngomong nya?"
Julian menatap perempuan yang pernah mengisi hatinya saat remaja dulu itu dengan tatapan datar nya.
"Kami kan di jodohkan! Kamu tahu itu Stev!", jawab Julian dengan wajah tanpa eskpresi nya.
"Iya. Om Ronald bilang begitu sih....!"
Sambil berbincang-bincang mengenang masa lalu, Julian menyala kan ponsel nya. Dan disaat yang bersamaan Hayu melayani pembeli.
Mata Julian melotot, melihat puluhan panggilan dari Aziz. Dia lebih terkejut lagi dengan video yang Aziz kirimkan. Apalagi, chat yang Aziz tulis dengan huruf kapital.
Astaga! video apa ini? Ini fitnah! Pasti ada yang ingin mengusik kedua bosnya.
Julian langsung menghubungi ponsel Aziz. Tapi dari tadi Aziz tak mengangkat nya.
Apa pak Aziz masih di Surabaya????Batin Julian.
__ADS_1
******
Ayo Julian, katakan pada Aziz. Video itu tak seperti yang Aziz pikirkan!!!!!