
_Tati_
Urusan ku dengan keluarga mas Setiawan sudah selesai cukup sampai disini. Sekarang aku bebas. Tidak perlu lagi memikirkan hutang-hutang almarhum setiawan. Aku menyesal tak melakukannya dari dulu. Sebenci apa pun aku pada Maya, aku tetap menyayangi Imah seperti anakku sendiri. Meskipun aku tahu, aku kasar. Aku bukan ibu yang baik bagi Imah. Bayangan ibu tiri kejam sudah sangat melekat pada diri ku.
Terakhir saat ku minta uang pada Imah, justru membuat ku terkejut. Tuhan mempertemukan Imah dengan keluarga kandungnya. Bahkan aku tak pernah menyangka sedikit pun. Imah bisa bekerja pada saudara sepupunya sendiri yang sama sekali bel pernah ia temui.
Ini jalan Tuhan. Aku memang tak membenci Imah, tapi dendam ku pada keluarga kandung Imah tak akan pernah luntur. Ku pastikan mereka menderita setelah ini.
"Aduh, aku harus ke mana?", batinku. Aku berjalan menjauh dari rumah Aziz. Bingung, kemana langkah ku setelah ini. Tidak mungkin aku kembali ke Malang. Biarkan saja para rentenir itu berurusan dengan Imah atau Farah. Aku sudah lelah dengan kebodohan ku. Lelah dengan cinta butaku pada mas Setiawan.
Aku menyebarang jalan tanpa menengok kanan kiri. Tiba-tiba saja mobil mewah menabrak ku. Untung saja aku masih bisa menghindar. Kalau tidak, sia-sia saja aku datang ke mari untuk mengantar nyawa.
Aku hanya jatuh terduduk di tepi jalan. Mobil yang tadi menabrak ku menepi tak jauh dari aku duduk. Seorang perempuan cantik datang menghampiri ku. Wajahnya yang cantik tampak panik.
"Mbak...maaf...saya tidak sengaja!"
Dia membangunkan ku dari posisi dudukku. Apa aku masih terlihat muda sampai aku di panggil mbak?
"Nggak apa-apa mbak, saya yang salah. Nggak lihat keadaan pas nyeberang."
"Ada yang sakit? Apa perlu ke dokter? Atau mau saya antar pulang?"
"Nggak apa-apa mbak. Saya baik-baik saja."
"Yakin?"
Aku mengangguk saja.
"Ya sudah, mari saya antar? Alamat nya dimana?"
"Saya baru datang dari Malang mbak, lagi cari kerja."
"Mbak..mbak...ini Jakarta, memang bisa datang ke Jakarta terus dapet kerjaan? ini bukan sinetron mbak....!"
"Iya saya tahu mbak. Semalam saya juga sudah menginap di rumah kerabat almarhum suami. Tapi, pagi ini saya memutuskan untuk pergi."
"Owh...baiklah. Mungkin saya bisa sedikit membantu, kalau mbak mau silahkan bekerja jadi art di apartemen saya, gimana?"
"Hah? Beneran mbak? Ini... nggak kaya yang di adegan sinetron-sinetron itu kan mbak?"
"Adegan apa? Btw, kenalin. Nama ku Liliana Puspita. Panggil saja Lili. Sepertinya usia kita tidak terlalu jauh?"
"Saya...Hartati mbak, panggil saja Tati."
"Okey...Tati, mau bekerja di apartemen saya?"
"Mau mbak. Terimakasih sekali!"
"Eits...tapi...saya gaji kamu tergantung kinerja kamu ya?"
"Iya mbak Lili. Saya pasti bekerja sebaik mungkin!"
__ADS_1
"Ya sudah, ayo ikut saya balik ke apartemen!"
Aku pun mengikuti Lili masuk ke dalam mobil mewahnya. Perempuan ini cantik banget, kelihatannya orang kaya bener. Kok diam mau ngaja kerja aku, padahal dia aja nggak kenal gimana aku. Dia nggak takut kalau aku jahat padanya?
Mobil yang ku tumpahkan melaju cepat. Saat sedang berkendara, tiba-tiba ponsel Lili berdering.
"Halo om...?"
"......"
"Di mana?"
"......"
"Malam kan om? Ya udah, nanti Lili beres-beres dulu ya."
"....."
"Bye...emmmuach....!"
Panggilan pun di akhiri. Aku hanya menebak dalam batinku, apa perempuan ini cewe nggak bener? Ah...masa bodo, yang penting aku kerja.
"Mbak Tati dari Malang? Desa apa? "
"Sumber Rejo mbak!"
"Hemmm... kayanya saya sering denger, yang deket terminal bukan?"
"Saya sering ke sana kalau ada tugas kantor."
Oh...dia orang kantoran?
"Kamu dengar pembicaraan saya barusan? Terserah kamu mau anggap apa, yang jelas saya melakukannya dengan sadar diri."
"Maaf mbak!"
"Nggak masalah."
Mobil memasuki gedung bertingkat tinggi. Kalau aku tinggal disini, jika gempa Tiba-tiba datang gimana? Apa bisa turun tangganya?
"Silahkan masuk mbak Tati!"
Aku pun membuntuti perempuan bernama Lili.
Ruangannya tak terlalu luas. Hanya saja fasilitas nya lengkap.
"Ini kamar kamu, kamar saya yang itu!"
"Baik mbak!"
"Oh iya, tolong di bersihin ya. Nanti kalau om kesayangan saya datang, mbak Tati diam saja di kamar. Oke?"
__ADS_1
"Hah? Iya mbak!"
"Ya sudah silahkan mbak istirahat dulu, nanti kalau sudah tinggal beres-beres. Saya harus kembali ke kantor."
"Baik mbak!"
"Oh iya, kemarikan KTP kamu!"
Aku pun menyerahkan pada nya. Lalu dia memotretnya. Setelah itu, dia mengembalikan KTP ku.
"Ini kartu akses untuk keluar masuk rumah. Nanti kalau saya chat kamu, ruangan ini harus rapi dan bersih. Bisa kan mbak Tati?"
"Bisa mbak!"
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu."
Dia pun meninggalkan ku di rumah sebagus ini. Apa dia tidak cemas jika aku mengambil barang-barangnya?
Terlepas apa pun profesi nya, aku tidak peduli yang penting aku bekerja!
******
"Ibuk kemana ya mbak? Masa iya balik lagi ke malang?",tanya Imah padaku.
"Bu Tati punya kerabat di Jakarta?"
"Enggak ada mbak!"
"Coba kamu telpon!"
Imah mencoba menghubungi Tati, tapi tak ada jawaban.
"Nggak di angkat mbak!"
"Ya sudah, mungkin bisa di telpon lagi nanti."
"Imah cemas mbak. Kasian ibuk!"
Aku mengusap bahunya.
"Iya sabar. Mungkin Bu Tati masih emosi. Tunggu saja sampai emosi nya mereda."
"Iya mbak!"
"Ya udah, mending kamu makan deh. Udah siang!"
"Iya mbak!"
Imah berlalu meninggalkan ku menuju meja makan.
Imah...Imah...kasian kamu mah..
__ADS_1