
"Lho mah, anak siapa ini?", tanya mas Aziz saat Imah membawa Faiz ke dalam. Mas Aziz baru saja selesai makan. Sedangkan Diaz meminta di gendong ayahnya.
"Sini...sini anak ayah!"
Diaz pun langsung nemplok pada ayahnya.
"Ini Faiz mas, di depan ada yang mau melamar kerja disini. Nah, ini anaknya!"
"Owh...", ucap mas Aziz.
"Imah mau ajak Faiz makan, boleh kan?"
"Iya boleh lah! Faiz makan sama Tante Imah ya?", kata Aziz.
"Om...siapa? Ayahnya dek Diaz ya?"
"Iya nak."
Faiz pun mengangguk kan kepalanya. Aziz bermaksud meninggalkan dapur.
"Om...tunggu!", Faiz buru-buru menghampiri Aziz.
"Kenapa nak?"
"Terimakasih, sudah ijinin Faiz makan disini. Sebenarnya Faiz nggak enak om. Faiz kaya lagi minta-minta ,padahal ...umi selalu melarang Faiz minta-minta. Tapi, Faiz lapar."
Faiz menunduk. Aziz menatap Imah, sedang Imah hanya mengangkat bahunya tanda dia juga tidak mengerti.
"Sini, Faiz duduk dulu. Tante Imah ambilin makanan nya ya?!", ucap Imah.
Aziz pun mengurungkan niatnya untuk ke depan.
"Memangnya Faiz tadi pagi nggak sarapan?"
"Sarapan om, teh anget sama gorengan. Kalau umi, puasa. Umi sering puasa om, biar irit. Jadi Faiz bisa tetep makan."
Ya Allah, batin Aziz.
"Ayah Faiz?"
"Sudah meninggal om!"
Aziz terdiam.
"Ya sudah, Faiz makan yang banyak ya. Oh iya mah, kayanya di kulkas juga sudah ada ayam ungkep ya? Nanti gorengin aja ya. Biar bisa Faiz bawa pulang. Buat buka puasa uminya dan baut Faiz makan malam."
"Jangan om, nanti umi marah!", kata Faiz takut-takut.
"Nggak, tenang aja. Umi nggak akan marah. Om ketemu bundanya Diaz dulu ya Faiz. Sekarang Faiz makan yang banyak ya!"
"Iya Om!"
Faiz mulai memakan makanannya di meja. Imah melihat ada air mata di sudut mata anak kecil di depan nya itu.
Imah duduk di depan Faiz.
"Faiz ,makan yang benar. Masa sambil nangis?"
"Tante, hari ini Faiz beruntung sekali ya. Bertemu orang-orang baik kaya kalian?"
Imah mengernyitkan dahinya.
"Umur kamu berapa Faiz?"
"Mau lima tahun Tante!"
"Bentar lagi sekolah dong?", Imah berusaha menutupi rasa terharunya.
"Insyaallah, kata umi begitu!"
"Ya udah, lanjutin makan. Tante Imah temenin ya!''
__ADS_1
"Iya Tante!"
*****
"Dek...!", sapa Aziz padaku.
"Iya mas! Oh iya mas, ini namanya mbak Hayu. Dia mau lamar kerja disini, gimana mas?"
"Iya...kalau kami setuju, mas setuju aja dek!"
"Lho, kok aku sih mas?", tanyaku.
"Karena kamu bos nya mas kan?", canda mas Aziz.
Aziz hanya takut, takut menghadapi hal-hal yang tidak dia inginkan. Melihat status Hayu. Mendengar cerita Faiz. Ah... pokoknya begitu lah...
"Jadi, besok mbak sudah bisa kerja di sini mbak!"
"Alhamdulillah, makasih mbak Dian!", Mbak Hayu bersimpuh di depanku.
"Ya Allah mbak, jangan seperti ini."
"Maaf mbak, saya terlalu senang!", mbak Hayu mengusap air matanya.
Imah dan Faiz pun masuk ke dalam kios.
"Umi, om aziz kasih lauk buat buka puasa umi sama buat makan malam Faiz."
"Ya Allah nak...!"
"Udah nggak apa-apa mbak Hayu, yang penting Faiz suka masakan istri saya!"
Mas Aziz merangkul bahuku, tumben. Nih orang kenapa ya?
"Maaf, maaf merepotkan kalian."
"Nggak apa-apa mbak. Kami senang bisa membantu kalian."
"Mbak Hayu, ini ambilah. Buat hari ini, segini dulu ya. Lebih baik, sekarang mbak hayu istirahat dulu. Kan lagi puasa. Besok jam setengah delapan, mbak Hayu bisa langsung kesini."
"Jangan mbak, ini... terlalu banyak. Anak saya sudah di beri makanan, bahkan bekal untuk di bawa pulang. Ini berlebihan mbak!",Hayu berusaha menolak.
"Saya marah lho kalau mbak hayu menolaknya!", kataku.
"Tapi mbak...!"
"Udah ambil saja mbak. Buat beli takjil nanti sore!", kataku.
"Iya Umi, Faiz juga pengen jajan di warung nya Mpok Siti."
Dengan malu-malu Hayu mengambil uang itu.
"Sekali lagi terimakasih mbak, mas... mbak Imah!"
"Sama-sama."
"Faiz ,kita pulang nak!", ajak Hayu.
"Kami pamit, assalamu'alaikum!"
"Walaikumsalam."
Setelah Hayu dan Faiz pulang, kios kembali ramai. Mas Aziz memberikan Diaz padaku. Lalu dia membantu Imah melayani pembeli.
Untuk beberapa saat , aku hanya duduk di belakang kasir untuk menerima uang dan memberi kembalian. Setelah itu, kios sepi kembali.
"Dek, kamu terima dia gitu aja?"
"Kan tadi aku nanya kamu mas!"
"Iya, tadi di dalam Faiz sempet cerita sedikit. Makanya mas bilang, terserah kamu. Karena kamu kan perempuan, lebih peka."
__ADS_1
"Tapi, kayanya mas kurang sreg deh?"
"Bukan gitu dek, statusnya dia kan....?"
"Janda? Emang kalau janda kenapa? Imah juga janda, nggak apa-apa kan ya mah?"
"Hooh!", sahut Imah sambil ngemil kacang.
" Tapi, kan Imah adik mas sendiri."
"Dulu waktu belum tahu kalau Imah adikmu, kamu juga nggak apa-apa mas?"
"Dek, mas cuma nggak mau ada hal-hal yang nggak di inginkan!"
"Maksud kamu mas?"
"Ya...dia kan statusnya sendiri Dek, apa kata orang nanti kalau menilai mas yang...."
"Sudah kuduga. Insyaallah mbak Hayu perempuan baik-baik."
"Tahu dari mana? Kan kamu baru kenal. Apa karena tampilannya ?"
"Ya nggak juga sih mas. Kita harus berpikir positif aj lah."
"Kamu jadi orang kelewat baik sih dek, belum juga berapa kenal."
"Mas, tadi dia cerita. Dia udah nikah sepuluh tahun tapi belum punya-punya anak sampai dia mengadopsi Faiz. Almarhum suaminya kerja di SMA xx, santunan nya hanya tinggal dua bulan lagi. Jadi mau nggak mau dia harus kerja kan. Kasian dong mas...!"
"Di SMA xx?"
"Iya mas!"
"Itu kan sekolah milik abahnya Fai ,dek!"
"Masa?"
"Iya betul!"
"Owh...tapi kebijakan nya baik kok mas. Dalam waktu enam bulan, mbak Hayu masih di kasih santunan. Ya...anggap aja pensiunan non PNS gitu. Berati tuh sekolah bagus kan?"
(Dalam kenyataannya, jangankan santunan, gaji guru honorer iku Piro???? Maap ππππIni cuma novel yak pemirsah. Sekali lagi maap, bukan maksud menyinggung siapa pun)
"Iya...bisa di bilang begitu. Coba, ntar mas tanya sama Fai."
"Tanya apa?"
"Ya tanya soal kebijakan sekolahnya lah dek. Fai kan juga tenaga pengajar di sana!"
"Owh...ya...ya... terserah kamu aja mas."
"Kamu aja Diaz istirahat di kamar saja sana. Mas tahu, kamu capek."
"Iya mas, aku juga mau sholat dulu."
Aku pun mengajak Diaz kedalam rumah. Seperti yang ku duga dari awal, mas Aziz pasti takut kalau mbak Hayu tipe perempuan yang bisa saja menggoda suami orang. Tapi aku yakin, hayu orang yang baik. Wanita shalihah, yang pasti bisa menjaga harga dirinya dengan baik.
******
"Umi, Tante Dian, Oma Aziz, Tante Imah. Baik semakin ya Mi?", kata Faiz riang.
"Iya Nak, Alhamdulillah. Kita dipertemukan dengan orang-orang baik seperti mereka."
"Jadi, besok umi kerja di sana?"
"Iya, dan umi akan buatkan sarapan yang enak buat Faiz!"
"Benar umi?", tanya Faiz antusias.
"Iya sayang. Eh, kita kan belum solat. Solat dulu yuk!" ajak Hayu.
"Ayok...!", sahut Faiz semangat.
__ADS_1
Alhamdulillah ya Allah, hamba dipertemukan dengan orang baik seperti mereka, semoga engkau senantiasa menjaga mereka ya Allah, batin Hayu.