
Kami bertiga terdiam. Aku dengan pikiran ku sendiri. Begitu pun dengan yang lain. Aku cuma bertanya dengan diriku sendiri. Kenapa semua terungkap setelah bertahun-tahun. Andai kata om Kendra masih ada, mungkin rahasia-rahasia ini tidak akan pernah kami tahu.
Semua yang terjadi, seperti kepingan puzzle. Setelah menemukan salah satunya, sisanya akan saling berhubungan. Dan sekarang? Sekarang semuanya sudah berubah.
Mas Aziz yang sudah menjadikan hidupku lebih berarti, dia yang membuatku bisa melupakan masa lalu ku dengan mas Fai. Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Tiga tahun bersama tidak mungkin bisa terlupakan begitu saja. Apalagi, aku dan mas Fai jarang bertengkar. Dia selalu bersikap lembut padaku. Berusaha memelihara kestabilan emosiku. Dia tidak ingin aku kembali gila seperti saat pertama kali kami bertemu.
Mas Fai tak sepenuhnya salah, iya...dia memang bersalah. Tapi dia hanya ingin berbakti kepada orang tuanya. Dan itu perbuatan yang baik. Andai...andai saja dia bisa mengatakannya saat itu, mungkin aku bisa memberikan pendapat ku untuk hubungan kami. Sayang nya, dia memilih bungkam. Memilih jalannya sendiri. Meninggalkan aku tanpa kepastian. Bahkan menyakiti ku lebih dari sekedar bentakan.
Sekarang, semua sudah terungkap. Semua saling mengetahui. Lalu apa? Tidak akan ada yang berubah setelah ini. Hanya saja....mungkin ...ada perasaan lega dalam hati kami.
Aku dengan kehidupan ku bersama mas Aziz. Dan ... kehidupan ku dengan mas Fai hanyalah masa lalu. Menghapus memori tentang aku dan Fai mungkin tidak akan bisa. Tapi, membuat memori baru tentang aku dan suamiku adalah hal yang terbaik yang akan ku lakukan.
Aku bukan Abg, aku sudah berumur. Bahkan usia ku sudah masuk ke kepala tiga. Apa masih pantas aku memikirkan soal mantan? Semua hanya masa lalu. Dan masa lalu akan tetap seperti itu. Aku bukan ibuku dan om Stevan. Aku tetap aku. Aku adalah ibu dari Diaz Abisatya Nugroho. Aku adalah ibu yang menyayangi anakku.
Meskipun jujur, dalam hati ku yang paling dalam masih menyisakan kepingan rasa di hatiku. Sedikit, hanya sedikit. Sisanya...aku hanya mencintai suamiku.
Ah, aku mengusap wajahku sendiri dan bersandar di sofa.
"Dek ..!", mas Aziz mengusap bahuku.
"Semua sudah terjadi kan? Apa lagi yang di permasalahkan?", tanyaku kepada dua pria tampan di hadapanku.
"Di....mas minta maaf! Andai saja waktu itu mas cerita ke kamu, mungkin...tidak akan ada kesalahpahaman di antara kita."
"Tidak ada yang perlu di sesali mas. Toh, aku dan mas Aziz sudah bahagia. Kamu lihat kan mas?", tanya ku.
"Iya. Mas tahu, kalian bahagia Di."
Aziz terlihat diam saja. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Kenyataannya yang terjadi memang hanya masa lalu.
"Ya sudah, kalau memang sudah tidak ada lagi yang perlu di bahas....!", ucapan ku terpotong.
"Fai, apa pernah Lo berpikir seandainya kalian benar-benar melakukan itu...Dian....hamil? Kamu bisa menjamin nya?", tanya Aziz tiba-tiba.
"Mas....!", aku mencubit lengan nya .Tapi sepertinya tidak dia hiraukan.
"Aku nggak seperti itu mas!"
"Iya mas tahu dek. Mas kan bilang seandainya."
Fai menatap mata sahabat nya itu.
"Ya...gue nggak tahu. Setidaknya saat itu otak gue berpikir, kalau ..kalau...kami sampai bisa berbuat seperti itu...itu artinya...kami ada keterikatan. Dian tidak akan mungkin ninggalin gue karena gue yang udah mengambil mahkota nya."
Aziz berdecih. Dia tidak puas dengan jawaban Fai. Dia pun memperbaiki posisi duduknya.
"Andaikan Dian tidak hamil, Lo berdua udah ngelakuin itu semua lalu Abah tetap nggak menyetujui nya, gimana? Apa Lo mikir masa depan dia?", tanya Aziz pelan.
"Iya gue tau...makanya...gue nggak lanjutin itu Ziz. Gue pikir karena gue nggak sampai gituin Dian, gue bisa pergi dari kehidupan Dian dengan lebih mudah Ziz. Tapi kenyataannya... sampe sekarang gue aja belum bisa sepenuhnya lupain bini Lo!!!"
"Please! Mas Aziz, mas Fai. Aku nggak mau mendengarkan perdebatan yang tidak masuk akal ini."
"Di, tapi asal kamu tahu...gue gak nyangka kita bisa bertemu kalian lagi dengan....dengan...kondisi kita seperti ini Di....!"
"Stoppppp!!! Mas, kita sudah tua mas. Harusnya kita bisa lebih dewasa menyikapi semua ini. Kenapa malah makin melebar ke mana-mana? Aku mohon... berhenti membicarakan masa lalu kita. Ini terakhir kalinya, obrolan tidak penting ini terjadi."
Aziz dan Fai sama-sama diam.
__ADS_1
"Sebenarnya, apa tujuan mu ke sini mas?", tanyaku ke Fai.
"Astagfirullah! Sampe lupa kan gue", kata Fai mengusap wajahnya.
Aku dan mas Aziz saling berpandangan.
"Lo udah ganggu istirahat siang gue!", ketus Aziz. Tapi..aku rasa...mas Aziz sudah 'move on' dari bahasan soal masa lalu kami.
"Iya maaf....!", kata Fai.
"Kenapa mas?", tanyaku lagi.
"Lusa...gue sama Mika mau nikah! Pernikahan kami di percepat."
"Alhamdulillah!", kataku bersamaan dengan mas Aziz.
"Kalian kompak banget Njirrr!"
"Kok di percepat? Bukannya udah di urus ya awal bulan depan?", tanyaku .
"Lusa cuma ijab qobul aja Di. Resepsi nya tetap awal bulan!"
"Ada sesuatu yang membuat nya di percepat?", tanyaku memicingkan mataku.
Fai terlihat salah tingkah. Mengusap tengkuknya dengan perlahan.
"Jangan bilang Lo udah ngapa-ngapain Mika ya?", tanya Aziz.
"Hah? enggak... beneran nggak...cuma...?!"
"Cuma? Hah! Gue tahu! Pasti Lo nyosor duluan kan sama Mika? makanya Lo di suruh buru-buru halalin mika?", tebak Aziz.
"Ngaku Lo? ", bentak Aziz.
"Lo kata soang, nyosor. Bukan gue, tapi mika duluan!", kata Fai tanpa sadar.
Aku dan mas Aziz kompak melongo bersama. Nggak mungkin kali Mika begitu.
"Hah! Nggak mungkin mika begitu mas! Kamu yang hobinya colong start!", celetuk ku.
Tapi ternyata...omonganku berbalik sendiri padaku.
"Tapi kamu aja mau di colongin Di!", ucap Fai nggak mau kalah.
"Katanya ngga mau bahas masa lalu, tapi kalian masih aja ngomong kaya gitu!", mas Aziz manyun.
"Maaf mas, bukan gitu. Aku cuma...nggak percaya aja. Masa mika gitu...!"
"Ini nggak seperti yang kalian bayangkan deh!", Fai mulai ikutan manyun.
Flashback on...
Aku dan Mika menuruni tangga. Langkah kaki kami terhenti saat mendengar obrolan papa dan Abah lewat telepon.
"Pak haji, anak kita benar-benar harus secepatnya di sah kan. Saya tidak mau mereka berzinah pak Haji!", ucap papa.
Aku dan mika sama-sama menutup mulut kami. Berzinah? Berciuman saja tadi nggak jadi gara-gara kedatangan papa.
__ADS_1
Kami tidak tahu apa jawaban Abah dari seberang sana. Sampai akhirnya kami dengar papa mengatakannya.
"Lusa? Oke! Kita nikahkan mereka lusa."
Aku dan mika saling berpandangan. Karena semua seperti mimpi. Begitu cepat. Dengan ragu-ragu, aku pun berpamitan kepada papa.
Papa menepuk bahuku.
"Setelah kalian menikah, lakukan saja yang hampir kalian lakukan tadi. Semakin cepat, semakin baik!"
Sesampainya di rumah. Abah sudah menatap ku dengan pandangan membunuh.
"Fai!", panggil Abah. Dengan ragu-ragu aku pun menghampiri Abah .
"Surat-surat dan dokumen buat pernikahan kalian, sudah Abah siapkan. Besok orang Abah yang akan mengurusnya."
Aku menelan salivaku. Kenapa jadi begini sih? Tahu gini, mending terusin aja sekalian tadi. Oopsss!!!!
"Terserah Abah aja!", kataku pelan.
"Bikin malu Abah aja sih kamu Fai. Kalau emang udah ngebet, bilang sama kami. Nggak usah sembunyi-sembunyi begitu. Kamu udah tua Fai!", kata Abah geleng-geleng kepala lalu meninggalkan ku.
Flashback off
"Jadi...? Intinya kenapa mas????", tanyaku.
"Gue hampir aja ciuman sama mika, tapi papa tiba-tiba Dateng. Ya...ya.... itulah sebabnya! Padahal kita belum sampe nyentuh sama sekali!", kata Fai.
Aku dan mas Aziz berusaha menahan tawa, tapi nggak bisa.
"Hahahahah!", tawa ku dan mas Aziz berderai.
"Terus, kenapa Lo bilang mika yang nyosor Lo duluan tadi? Kalian kan Nggak jadi!"
"Iya.. nggak jadi di sini!", Fai menunjuk mulutnya.
"Tapi di sini!", Fai mengusap pipinya. Lagi dan lagi ,aku dan mas Aziz tertawa. Untuk sejenak, kami melupakan yang terjadi tadi.
"Ya udah, Lo terima kenyataan. Mika calon pendamping lo. Jadi, Lo nggak usah lagi bayangin bini gue!", Aziz menepuk bahu Fai.
"Iya... takdir gue mungkin!"
"Tapi mas, lusa kan kita mau ke kantor...?!",kataku pelan.
"Oh iya ya dek!"
"Kantor? Kantor DWP group Di?", tanya Fai.
"Iya mas."
"Alhamdulillah. Akhirnya....!", Fai turut senang.
"Batalin aja deh Ziz, Di. kalian ke nikahan gue aja. Kan Dian yang punya tuh kantor, bilang aja sama anak buah mu. Ya Di?", kata Fai memelas.
"Ya udah, insyaallah mas."
*****
__ADS_1
Akhirnya, tidak ada drama lagi kan??? Kan enak kalau adem ayem begini.