Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 152


__ADS_3

Aku bermaksud mengajak mas Aziz dan Diaz pulang. Ini sudah lewat dari jam satu siang. Bahkan kami sudah melewatkan makan siang kami. Aku melangkah kan kaki menuju kamar Fai. Tapi langkah ku terhenti saat aku mendengar obrolan mereka. Lalu ku putuskan untuk mendengar obrolan mereka di dekat pintu.


"Gue yakin, abis Lo sama Mika begituan. Lo bakalan lupa sama bini gue!"


"Masa? Apa jaminannya coba?"


"Almarhumah mertua Lo coba, udah punya Dian aja masih aja tuh nyantol sama mantannya."


Aku terbengong-bengong dengan ucapan Fai. Dia tuh....!!!!


"Nggak usah bawa-bawa almarhum lah Fai. Anggap aja itu pelajaran. Yang namanya mantan, ya tetap lah mantan. Nah, yang sekarang adalah masa depan. Kaca spion aja kecil di bandingkan kaca depan, sama aja kan fungsinya. Spion cuma buat liat ke belakang sesekali. Sisanya ke depan."


"Plagiator Lo!", kata Fai.


"Eh, yang penting kan maknanya. Terserah siapa yang pertama kali bilang kaya gitu, intinya kan nasehat nya bener!"


"Iya...iya..."


"Eh, gue balik dulu deh!", kata Aziz sambil mengangkat Diaz dari kasur.


"Nggak makan siang dulu?"


"Nggak usah. Istri cantik gue udah masak rendang telor. Sayang kalau nggak di makan."


"Ngapa nggak Lo bawain buat gue!???"


"Dih ...clamitan amat sih Lo. Besok, Lo minta sama Mika suruh masakin apa aja yang Lo mau."


"Emang Mika bisa masak? Gue aja calon lakinya nggak tahu."


"Kalau nggak bisa masak, ya udah tinggal beli. gitu aja repot. Duit Lo berdua juga banyak ini!"


"Kalau Mika nggak bis masak, ya udah gue minta aja sama Dian!"


"Gue sambit lo!"


Aku pun berdiri di depan pintu saat mereka bersiap keluar kamar.


"Lho, dek. Kamu disini?", tanya Aziz sambil menyerahkan Dian padaku.


"Iya. Kita pulang yuk mas!"


"Mas emang mau ngajak kamu pulang kok dek!"


Kami bertiga menuruni tangga menuju ruang tamu. Disana sudah ada Abah dan umi yang sudah menunggu di sofa.


"Abah udah pulang?", tanya Fai.


"Udahlah. Liat kan?", jawab Abah.


"Ishhh.... menyebalkan!", Fai mencebikkan mulutnya.


"Dekorasi di rumah Umar udah beres semua. Pokoknya udah siap. Tinggal kamu aja yang harus menyiapkan mental mu!", nasehat Abah.


"Iya bah...iya...!", jawab Fai.


"Kalau begitu, kami pamit ya Bah, umi....!", aku menghampiri mereka untuk berpamitan menyalami tangan kedua orang tua tersebut.


"Padahal Abah main-main sama Diaz loh. Tapi malah keburu pulang."


"Besok kan kita ketemu lagi bah."


"Oh iya ..iya ..!", kata Abah.


"Oh iya mas Fai, besok kita langsung ke rumah mika aja kan?"


"Nggak. Kalian dari sini aja bareng aku."

__ADS_1


"Naik bus lagi?", tanya ku.


"Nggak. Besok yang ikut nggak banyak kok. Iya kan bah?"


"Iya. cuma keluarga dekat aja Dian."


"Gimana mas?", aku bertanya pendapat ku pada mas Aziz.


"Ya udah, demi persahabatan!", kata Aziz.


Singkat cerita aku dan mas Aziz pun pulang menuju rumah kami.


*****


"Assalamualaikum!", sapa kami saat memasuki pintu samping kios.


"Walaikumsalam!", jawab Imah dan hayu.


.


"Iiihhh... tayangnya Tante dari mana cih? Tante Imah yang cantik kangen banget tahu!", Imah langsung mengambil Diaz dari gendongan ku.


"Pengantin baru kok di sini?", tanya Aziz.


"Emang aku udah nggak boleh apa ketemu sama Diaz ku???"


"Boleh Mah, ya udah. silahkan kangen-kangenan. Mbak mah bebersih dulu sebentar."


Aku dan mas Aziz menuju rumah induk. Sedangkan Diaz diajak main sama Imah. Faiz nya tertidur pulas di deretan dagangan kios.


"Dek... makan dulu boleh ya?"


"Ya silahkan! Tapi makan sendiri nggak apa-apa kan? Aku mau bebersih dulu."


"Iya, tapi ntar temenin ya??"


Aku menuju kamar kami, sedang mas Aziz menuju bak cuci piring untuk mencuci tangannya.


Setelah lima menit berlalu, aku pun keluar kamar. Mas Aziz masih menunggu ku di meja makan.


"Kirain...wis maem mas!"


"Kan mas minta di temenin kamu. Mumpung kamu belum sibuk, kalau udah sibuk di kantor kita belum tentu bisa makan bareng!"


"Siapa bilang? Kita kan pulang pergi bareng ke kantor nya!"


"Hah?"


"Iya lah. Kamu kan pendamping dan penasehat aku. Julian boleh jadi orang kepercayaan ku, tapi kamu mas... suamiku...menjadi partner ku. Partner di rumah iya, di kantor iya. Kamu kan imamku mas!"


"Dek....!", mas Aziz menggenggam erat tangan ku.


"Mas, ayolah mas. Bantu aku! Kalau bukan sama kamu, aku harus minta sama siapa?"


"Tapi sayang....!"


"No tapi-tapian. Kalau kamu nggak mau bantuin aku, ya udah aku kasih aja ke orang lain."


"Ih...kamu senengnya ngancam sekarang ya!"


"Huum dong!"


"Mas cuma malu aja. Masa mas numpang hidup sama kamu?"


"Numpang hidup apa sih? "


"Ya iya lah dek. Mas kan kerja ke kamu."

__ADS_1


"Siapa bilang begitu?"


"Kita bos nya! Kamu yang harus nafkahin aku. Dari penjualan pulsa di kios, aku masih minta hakku lho!", aku mengerucutkan bibirku.


"Dari butik juga dek! Semua buat kamu. Apa yang ku miliki itu milikmu!"


"Ahhhh....so sweet!!!"


"Tapi maaf, mungkin...nilainya tak seberapa di bandingkan dengan profit Perusahaan mu!"


"Perusahaan kita mas."


"Ya...itu lah!"


"Jadi maksudnya kamu minder mas?"


"Bisa di bilang begitu. Eh, tapi...apa kios kita tetap buka?"


"Buka lah mas. Kan uangnya nanti buat aku hahahahah!"


"Ishhh...kamu mah dek!", mas Aziz mencubit hidung ku.


"Mas, kita udah jalan sejauh ini. Orang-orang yang butuh dan berlangganan ke kita kasian dong kalau kita tutup. Nasib Hayu juga gimana? Apa mau ngajak dia bergabung gitu di perusahaan kita?"


"Janganlah. Om Stevan juga punya perusahaan besar kok. Lebih ngga enak lagi ngajak hayu di kantor kita, bapaknya aja bos besar!"


"Iya sih!", jawabku singkat.


"Oh iya mas. Dari tadi ciwi-ciwi seksi pada liatin kamu lho. Kamu nggak liat, itu bodi aduhai! Kamu nggak berna*su melihat begitu-begitu?"


"Ah, boro-boro Na*su dek. Ilfil mah iya!"


"Masa sih? Kemarin liat Hayu sampe nyosor-nyosor ke aku. Emang mbak Hayu begitu menggairahkan ya mas?", aku mancing-mancing.


"Ya nggak lah sayang. Kamu doang yang selalu bikin mas pengen."


"Boong!"


"Iya lah dek. Kemarin mas udah bilang kan alasannya."


"Tadi cewe-cewe nya pada pake baju ke buka semua lho. Boong banget nggak ngiler!"


"sumpah nggak ngiler sama sekali. Mereka emang udah terbiasa terbuka gitu dek. jadi ya...nggak penasaran lah!"


Aku langsung berdiri di depan meja makan.


"Jadi, kamu mau bilang kalau mbak hayu bikin penasaran gitu mas???!!"


"Bu...bukkan gitu dek!", jawab Aziz sambil terbata-bata.


"Bukan apanya? kamu bilang bikin penasaran kan?"


"Ayolah sayang...kamu paham maksudnya!", mas Aziz berusaha membujukku. Dia memelukku dari belakang.


"Awas ih....!", aku berusaha melepas pelukannya.


"Iya mas lepas, tapi jangan marah dong!", rayu mas Aziz lagi sambil berusaha mencium pipiku .


"Dibilang awas mas! Mulutmu bau amis telor!", kataku sambil melepaskan pelukannya.


Aziz pun melepaskan pelukannya.


"Maaf...maaf....!", kata Aziz sambil meraih gelas yang ada di meja makan.


"Udah ah, aku mau ke depan!", ku hentakan kaki ku meninggalkan mas Aziz. Nanti juga dia bereaksi sendiri bekas makannya.


Perempuan emang gitu ya! Udah mancing-mancing, giliran di sahut pancingan nya eh...malah marah. Dia yang bahas , dia yang kesal! Dimana-mana perempuan selalu benar dan tidak mau di salahkan, batin Aziz.

__ADS_1


Termasuk mamak othor dan kalian-kalian juga kan????


__ADS_2