
Aku memilih meninggalkan mas Aziz di meja makan. Entah kenapa aku tak puas dengan jawab mas Aziz. Apa katanya tadi 'penasaran'?
Apa mas Aziz menyimpan rasa dengan mbak Hayu? Aku hanya berusaha mempercayai suamiku, tapi pernyataan nya tadi sungguh membuat logika ku bekerja. Ini bukan hanya tentang percaya atau tidak percaya dengan pasangan. Tapi ini naluri seorang wanita, seorang istri!
Aku masuk ke kios yang saat ini tengah ramai pembeli. Diaz dan Faiz tengah bermain di lantai beralaskan kasur lantai.
Aku menghampiri Diaz yang sedang tengkurap memainkan mainannya.
Setelah beberapa menit berlalu, kios kembali sepi. Imah dan hayu kembali duduk.
"Mbak Dian....!", sapa Imah.
"Ya", jawabku datar.
Aku tidak ingin Imah atau Hayu menjadi sasaran emosi ku. Mungkin lebih baik aku diam dan bermain dengan putra ku.
Imah menangkap ada yang tidak beres dengan kakak kesayangan nya itu.
Mbak Di tidak akan seperti ini jika tidak ada sesuatu, batin Imah.
"Ada masalah mbak Di?", tanya Hayu tiba-tiba. Sontak, mataku langsung tertuju pada wanita cantik itu.
Aku hanya berusaha untuk profesional, dia bekerja di sini. Untuk menafkahi anaknya. Dia juga tidak bersalah. Yang kemarin terjadi hanya lah ketidaksengajaan. Tapi jawaban mas Aziz tadi sungguh mengecewakan ku!
"Nggak. Cuma capek aja. Tadi dari kantor, langsung ke rumah mas Fai."
"Ke kantor mana mbak?", tanya Imah. Imah memang belum tahu menahu tentang DWP Group.
"Kantor mbak Mah. Besok mbak akan kembali ngantor. Om Kendra sudah meninggal, jadi mau tidak mau mbak harus mengambil alih perusahaan mbak lagi."
"Maksudnya?", tanya Imah.
"Ayah mbak meninggalkan perusahaan yang di urus oleh om Kendra selama ini. Berhubung om kendra sudah tidak ada, mbak yang akan mengurusnya sendiri."
"Masyaallah...mbak ku holang kaya dong???!",kata Imah.
Aku menunjukan senyuman sedikit di wajahku.
Berbeda dengan Hayu, dia seperti tidak terkejut.
"Kalau mbak ke kantor, ini kios gimana?", tanya Imah.
"Ya... kalau mba hayu masih mau kerja disini ya nggak apa-apa. Kita tetap buka mah!"
Hayu menatap ku heran.
"Kalau memang di perbolehkan, saya masih mau kerja di sini kok mbak", kata Hayu.
"Terima kasih", sahut ku singkat.
Tiba-tiba mas Aziz menghampiri ku.
"Sayang ...!", panggil Aziz padaku. Aku tak bergeming dengan panggilan nya.
"Kalian sedang bertengkar?", tanya Imah cemas.
"Tidak!", jawabku.
"Iya!", jawab mas Aziz.
Aku menatap wajah suamiku. Jawaban kami yang tak kompak tentu saja membuat Imah merasa benar-benar ada yang salah.
"Mas, mbak....kita bicara di dalam aja yuk!", ajak Imah sambil menarikku untuk berdiri.
Kami bertiga pun menuju meja makan. Setelah kami semua duduk, Imah buka suara.
__ADS_1
"Kalian kenapa?", tanya Imah.
Aku dan mas Aziz sama-sama terdiam.
"Kalian kan udah pada tua, kalau ada masalah tuh ya diomongin baik-baik."
"Mbak mu cemburu lagi Mah!", mas Aziz mengawali.
"Cemburu?", tanya Imah.
"Iya", sahut Aziz.
"Cemburu sama siapa?", tanya Imah.
"Jadi ceritanya tuh gini mah. Kemarin, waktu hayu nginep di sini. Mas nggak sengaja liat dia pake daster kamu, nggak pake hijab. Mas kan biasa liat dia pake hijab Mah. Ya udah, dari pada mas melihat yang bukan hak mas, mas langsung tancap gas dong sama mbak mu. Mas udah jujur kok Mah, bilang apa adanya ke mbak mu!"
"Hem! Berati yang salah siapa? Mbak Hayu gitu?", tanya Imah.
"Ya nggak Mah, mas tahu kok dia juga nggak nyangka mas ke kios tengah malam begitu. Kami emang bener-bener nggak sengaja Mah."
"Terus, kalau emang mbak Dian tahu Mas udah jujur soal itu, yang bikin mbak Dian marah itu apa?", tanya Imah lagi.
"Mas mu aja yang napsuan mah!", kataku ketus.
"Dek....!", mas Aziz merajuk.
"Bener begitu Mas?"
"Ya...nggak gitu juga Mah."
"Nggak gitu apa nya? Orang liat mbak hayu nggak pake hijab aja, mas mu bisa langsung kaya gitu. Ngajak mbak main. Giliran liat cewe-cewe seksi di kantor mbak, bilang nya nggak napsu."
Mas Aziz menunduk, jelas dia merasa bersalah dengan ucapannya tadi.
"Katanya cewe-cewe seksi kaya begitu udah biasa, kalau liat Hayu yabg biasa tertutup gitu mas mu penasaran. Apa namanya coba kaya gitu Mah? Nggak mungkin kalau mas mu itu nggak ada perasaan apa pun sama Hayu!"
"Lalu? Kata 'penasaran'' maknanya apa mas?", tanyaku lagi.
"Mas nggak tahu, dek. Percaya sama mas. Mas aja selama ini sama sekali nggak perhatiin dia dek."
Aku terdiam seolah-olah sudah kehabisan kata-kata untuk membuatnya mengaku jika dia memiliki sebuah rasa pada wanita cantik itu.
"Mas nggak ada rasa apa-apa, emang nya mas tau kalau Mbak Hayu nggak punya rasa juga ke mas ?", celetuk Imah.
"Maksudmu apa ngomong begitu Mah, jangan melebar ke mana-mana!"
"Mas, asal mas Aziz tahu. Imah sering mergokin mbak hayu liatin kamu. Curi-curi pandang sama kamu mas. Tapi Imah juga sering negur mbak Hayu, jangan coba-coba jadi duri diantara kalian!"
Aku menatap Imah dengan seksama. Apa benar yang Imah bilang? Tapi...masa iya mbak Hayu seperti itu? Rasanya tidak mungkin. Aku memang cemburu saat tahu seolah-olah Hayu lebih menggairahkan suamiku di bandingkan diriku. Tapi soal dia yang suka curi-curi pandang mas Aziz seperti nya tidak mungkin.
"Mah, jangan ngomporin mbak mu deh!"
"Siapa yang ngomporin sih mas. Imah bilang apa adanya!"
"Oke...oke...terus sekarang maunya gimana? Mas harus apa? Mecat Hayu? Begitu Dek, Mah?", tanya Aziz.
"Mas, aku nggak benci sama mbak Hayu. sama sekali nggak! Tapi, Imah juga tahu seperti perasaan mbak Di. Siapa yang tidak cemburu saat tahu suaminya tertarik pada perempuan lain?"
"Mas, nggak tertarik sama Hayu ,Imah!", Aziz mulai geregetan.
"Tapi kamu yang bilang kan mas kalau kamu cuma penasaran????!!", kata Imah lagi.
"Oke...oke...mas minta maaf. Mas salah. Oke...!!!", mas Aziz menakupkan kedua tangannya. Dua wanita yang di hadapan nya tidak akan bisa untuk di kalahkan.
Aku dan Imah sama-sama diam. Mas Aziz pun berdiri.
__ADS_1
"Hari ini juga, mas mau Hayu berhenti bekerja di sini!", kata mas Aziz sambil berdiri.
"Jangan mas!", aku meraih tangan nya.
"Kenapa? Mas nggak mau gara-gara dia masih di sini kita jadi bertengkar dek? Sumpah demi apa pun, ini jalan yang terbaik. Mas masih sanggup menafkahi mu kan?", kata Aziz.
"Jangan mas. Kasian Faiz!", kataku lirih.
"Mbak! Mbak Di harus tegas mbak. Jangan lembut gitu!", kata Imah mendukung mas nya.
"Mas, Imah! Kalian nggak mikirin perasaan nya? Apa jaminannya kalau prasangka kalian ke dia itu benar? Andaikan salah, bukannya itu jatuhnya fitnah?"
"Tapi mbak....!"
"Mah, mbak tahu. Kamu sayang sama mbak, sama mas mu. Tapi juga jangan menuduh orang lain yang tidak-tidak."
"Dek..."
"Aku minta maaf mas!"
"Kok jadi mbak Dian yang minta maaf sih?", Imah manyun.
"Imah, kalau Hayu berhenti bekerja dari sini gimana dengan Faiz?", tanyaku.
"Mbak, om Stevan kan kaya. Pasti om Stevan bisa memenuhi kebutuhan mereka", jawab Imah lagi.
"kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka Imah. Kamu tahu kan mas?", aku lontarkan pertanyaan ku pada suamiku. Dan kurasa mas Aziz paham dengan maksud ku.
"Iya, mas tahu!"
"Ya sudah, aku minta maaf. Sudah membuat keributan yang sebenarnya tidak harus terjadi. Dan kamu Imah, tolong ...demi menjaga perasaan ku, jangan menyakiti perasaan orang lain dengan ucapan dan tuduhan mu yang tidak mendasar."
"Imah nggak benci sama mbak Hayu , beneran nggak mbak."
"Iya mbak paham Imah. Tapi sudah lah, cukup seperti ini. Sekali lagi aku minta maaf, aku salah."
Mas Aziz merengkuh ku dalam pelukannya.
"Mas minta maaf. Mas akan lebih menjaga diri mas. Mas akan selalu bersama mu. Di kantor, di rumah."
"Aku nggak seposesif itu lah mas!"
"Bukan itu maksud mas, biarin kios itu tetap buka. Ada adikmu yang siap membantu kan?", lirik Aziz pada imah.
"Mas, Imah sudah punya kesibukan sendiri. Dia kan punya suami...!"
"Mbak Dian tenang aja. Nanti Imah bakal bicarakan sama A Dadan."
"So...sudah clear kan semua? Nggak ada drama cemburu lagi kan dek?"
"Bukan soal cemburu mas, tapi kata penasaran dari mulutmu itu bener-bener bikin aku mikir macam-macam."
"Mas minta maaf...maaf sekali dek!", mas Aziz masih memeluk ku.
"Ya udah, Imah keluar deh. Ayok Diaz ,orang tuamu sudah akur lagi."
Kini, aku dan mas Aziz hanya berdua di dapur.
"Dek, mas mohon. Percaya sama mas. Mas tidak akan mengulangi kesalahan seperti yang mas lakukan waktu itu. Cukup sekali itu. Mendapatkan kesempatan kedua dari mu adalah hal berharga bagi mas Dek!"
Aku pun menganggukkan kepala ku.
Semoga saja, kami selalu bisa melewati tiap masalah di rumah tangga kami ya Allah.
*****
__ADS_1
Plin plan ngga sih??? 🙈