Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 120


__ADS_3

"Makasih Abah umi, udah ngijinin kami nginep disini!", kata mas Aziz berpamitan.


"Iya, sama-sama. Lain kali nginep lagi ya Dian. Umi seneng kalau rame gini."


"Insyaallah Mi!"


"Kami pamit ya Bah, umi!", mas Aziz mencium tangan kedua orang tua Fai. Aku pun mengikuti nya.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Aku dan mas Aziz keluar dari ruang tamu menuju garasi.


"Fai ngasih kunci mobil, mobil yang mana?", tanya Aziz bingung. Gimana nggak bingung? Bukan hanya lima mobil, ada sepuluh mobil berderet di garasi nya.


"Tinggal di pencet remot kuncinya aja mas, yang bunyi mana."


Solusi terbaik nya seperti itu.


Setelah di pencet, salah satu berbunyi.


"Yang itu dek?!" , mas Aziz menunjuk sebuah mobil yang lampunya menyala. Dasar sultan, ini mobil segini banyak, tapi hobi banget naik motor. Benar-benar mubadzir! Batin Aziz.


Aku menggendong Diaz ,mas Aziz membukakan pintu untuk ku.


"Mas, aku di belakang aja nggak apa-apa kan?", tanyaku.


"Oh, mau di belakang? Ya udah nggak apa-apa!"


Aku memilih di belakang agar aku bisa meluruskan kaki ku.


Setelah mas Aziz menutup pintu ku, tiba-tiba mas Fai masuk dan duduk disamping mas Aziz.


"Lho? Lo ngapain?"


"Anterin gue sekalian ke sekolah!"


"Mobil Lo banyak, tinggal pilih. Ngapain gue yang anterin?"


"Udah ah, buruan. Gue telat nih!"


"Hah! Dasar rese Lo!"


Meski ngedumel, mas Aziz tetap menjalankan mobilnya itu.


"Dian...!" panggil Fai.


"Kenapa mas?", tanyaku.


"Kamu...sudah baik-baik saja kan?", tanya Fai ragu. Sedangkan Aziz mencoba fokus menyetir. Dia berusaha memahami kekhawatiran Fai pada istri nya. Cemburu? Ya iya lah, tapi sebisa mungkin Aziz tahan. Gimana juga, berkat Fai , Aziz jadi tahu yang sebenarnya.


"Alhamdulillah mas. Maaf...soal semalam!", kata ku pelan.


"Soal?"


"Aku reflek membalas pelukan mu mas. Harusnya itu nggak boleh. Aku pasti sudah membuat suamiku cemburu!"


Fai menengok ke arah Aziz. Niat jahilnya pun muncul karena melihat perubahan mimik wajah Aziz.


"Aku malah seneng Di, bisa memeluk mu lagi. Kapan lagi coba kesempatan itu datang lagi. Benar nggak Ziz?", pancing Fai.


"Hem...!" hanya itu jawaban Aziz.


Tiba-tiba ponsel Fai berdering. Mika?


Ya ampun Mika, semalam aku lupa mengabari nya setelah sampai rumah.


[Assalamualaikum Mika?]

__ADS_1


[Walaikumsalam mas.]


[Maaf, semalam lupa ngabarin waktu aku sampe rumah]


[Nggak apa-apa mas. Oh ,iya. Mas Fai sibuk nggak?]


[Ini mau jalan ke sekolah]


[Owh...ya udah, hati-hati ya calon suamiku]


Fai menyungginggkan senyumnya.


"Ngapa Lo cengar-cengir gitu?", tanya Aziz.


[Itu kaya suara mas Aziz ya mas?]


[Iya, semaleman Abah minta mereka nginep]


[Owh gitu. Gini mas, kalau ada waktu...kita bisa ketemu nggak?]


[Kapan dan di mana?]


[Itu...papa tiriku meninggal. Kamu bisa nemenin aku?]


[Innalilahi wa innailaihi Raji'un. Kapan Mika?]


[Semalem, tapi baru sampe dari Singapura tadi pagi.]


[Oh, aku sebenarnya juga mau takziah sih. Tapi ya udah , kamu kasih tahu aja alamatnya]


[Rumahnya nggak begitu jauh kok dari rumah mas Aziz]


[Maksud nya]


[Rumah besar yang ada di perempatan Deket rumah mas Aziz mas ]


[Om Kendra maksudmu Mika?]


Fai menatap ke arah Aziz. Aziz yang dilihatin malah bingung.


[Iya. Kenal banget sih enggak, cuma pernah beberapa kali ketemu. Kamu udah disana?]


[Otw ke sana mas]


[Ya udah, sampe ketemu di sana ya!]


[Iya mas, assalamualaikum]


[Walaikumsalam.]


Obrolan dengan mika pun berakhir. Kini, Fai menelpon ke sekolah. Dia ijin lagi untuk tidak mengajar.


"Langsung ke rumah Lo aja Ziz. Gue nggak jadi ke sekolah!"


"Kenapa?"


"Dian...Aziz, ternyata istri om Kendra itu....mamanya Mika!"


"Hah? Tante Selly...mamanya mika mas?", aku tak kalah terkejutnya. Aku pikir,selama ini om Kendra dan Tante Selly tidak memiliki anak. Dunia begitu sempit.


"Gue emang tahu pengacara Kendra, tapi gue nggak kenal!"


"Ya sekarang mau kenalan juga gimana? Dia aja udah nggak ada!", sahut Fai .


"Jadi kita ketemu mika di sana?", tanyaku.


"Lo anterin aja gue ke sana. Lo bawa pulang Dian sama Diaz. Nggak baik, bawa anak kecil takziah. "


"Iya bos...iya! gue berasa jadi sopir pribadi Lo!"

__ADS_1


"Sekali-sekali Ziz!"


Tak terasa, perjalanan menuju rumah sudah hampir selesai. Mas Fai sudah turun terlebih dulu di depan rumah megah itu. Dari jauh sudah terlihat Mika yang melambaikan tangan nya pada Fai.


"Kita langsung pulang mas?", tanyaku.


"Iya, nitip Diaz dulu ke Mama."


"Oke!"


Karena memang rumah kami gak terlalu jauh, dalam hitungan beberapa menit mobil kami sudah sampai depan rumah. Eits, tepat nya mobil Fai yang kita pinjam.


Diaz ku letakkan di box.


"Mama sama Imah mau pergi kemana?"


"Lho sayang, kamu udah pulang?", tanya mama.


"Iya ma, barusan!"


"Kamu baik-baik saja kan Di?"


"Dian baik-baik aja kok Ma!"


"Mama sama Imah, sama Dadan maj fitting baju di butik mama yang di Sunter Di."


"Owh....!"


"Diaz mana? bobo ya?"


"iya ma, paling bentar lagi bangun."


"Kebetulan, mama ajak ke butik boleh ya Di? Tadi mama buka kulkas, stok asi masih kok!"


"Iya, tapi nunggu Diaz bangun ya ma. Dian sama mas Aziz juga mau takziah ke depan sana."


"Siap lah Di!"


tak lama setelah itu, terdengar tangisan Diaz.


"Tuh kan bangun, mama bawa ya!"


"Iya ma!"


Mama pun membawa Diaz, tak lupa tas susu dan pakaian ganti ku siapkan.


"Imah mana ma?"


"Di kios sama Dadan mungkin. Kamu istirahat saja dulu. Aziznya ke mana?"


"Ke kios juga kayanya Ma",.


"Ya udah, mama tinggal ya."


"Iya ma."


Sambil menunggu mas Aziz, aku merebahkan diriku di ranjang. Aku tidak percaya bahwa semalam traumaku kembali menghantui ku. Aki pikir, aku sudah benar-benar sembuh. Tapi ternyata, aku begini lagi.


Ya Allah....


Mas Aziz masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu kamar kami.


"Mama udah jalan?"


"Udah!", jawab mas Aziz singkat lalu duduk di samping ku.


"Mas...aku minta maaf!"


"Mas yang harusnya minta maaf, harusnya mas ngga perlu membentak mu seperti semalam."

__ADS_1


Aku bangun dari rebahanku, lalu memeluk tubuh suamiku.


__ADS_2