Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 169


__ADS_3

Mobil kami mulai memasuki parkiran. Mas Aziz mengambil kartu parkir. Selang beberapa detik kemudian, Julian menelpon ku.


[Selamat pagi Bu Dian.]


[Pagi mas Jul!]


Meski sudah terbiasa dengan panggilan itu, tapi tetap saja terdengar menggelikan bagi Julian.


[Maaf Bu, Bu Dian sudah sampai mana?]


[Saya baru mau parkir mobil mas!]


[Oh, siap Bu. Saya segera ke loby]


[Nggak usah berlebihan Mas Jul]


[Tidak berlebihan Bu Dian, ini memang kewajiban saya]


[Iya...iya... baiklah. Terima kasih sebelumnya.]


Panggilan kami pun selesai. Mas Aziz juga sudah selesai memarkirkan mobil kami. Dia membukakan pintu untuk ku dan Diaz. Setelah itu, beralih membawa Diaz dalam gendongan nya.


"Diaz sama aku aja lah mas!"


"Jangan dong dek, kan nanti kamu mau ngomong di depan orang banyak. Masa iya sih sambil gendong anak?"


"Tapi mas... aku kan juga mau kamu nemenin aku?!"


"Sayang, mas sama Diaz tunggu di luar ruangan. Yang penting mas kan nemenin kamu. Ada Julian juga kan yang dampingi kamu? Percaya sama mas, kamu itu pintar! Kamu pasti bisa!", mas Aziz menyemangati ku.


Cup...cup...aku kecup kedua lelaki hebatku, suami dan putraku. Mereka lah yang menguatkan ku.


Mas Aziz mengusap kepala ku dengan penuh kasih sayang. Sedang Diaz, dia bersorak senang melihat ayah dan bundanya menemani bocah bayi itu.


"Lho...mbak Dian?", sapa pak Budi.


"Eh, pak Budi!"


"Mbak Dian sama Mas Aziz mau ketemu Mr. Julian lagi?", tanya pak Budi.


"Iya pak Budi!", jawabku.


"Owh...tapi kayanya hari ini akan ada pertemuan besar di kantor ini deh mbak Di, mas Aziz!"


"Oh ya?", tanyaku lagi.


"Iya mbak. Saya habis cuti tiga hari, istri saya masuk rumah sakit. Jadi, saya kurang apdet informasi tentang kantor ini mbak."


Aku lebih tertarik dengan istri pak Budi yang masuk rumah sakit.


"Istri pak Budi sakit apa?"


"Darah tinggi mbak, biasalah udah umur hehehhe!", jawab pak Budi santai.


"Terus sekarang keadaan nya gimana?"


"Sudah di rumah mba. Tiga hari di rumah sakit saja biayanya udah banyak."


"Emang nggak ada keringanan biaya pak Budi?", tanya mas Aziz.


"Ada sih mas. Tapi kan buat mondar mandir ke sana dan lain-lain juga biayanya banyak."


"Dari perusahaan, ada kompensasi?"


Pak Budi menggeleng.


"Nggak apa-apa lah mbak, insyaallah masih bisa di atasi lah mbak mas. Nggak harus mengandalkan kantor terus mbak. Kasbon saya sudah banyak!", pak Budi tersenyum kecut.


"Begitu? Nggak ada jaminan kesehatan pak?", tanya ku lagi. Aku ingin menggali informasi tentang jaminan kesehatan karyawan ku.

__ADS_1


"Jaminannya kan buat karyawan mbak, bukan buat keluarga karyawannya."


Aku pun terdiam.


"Pak Budi berapa lama kerja di sini ya?", tanyaku lagi.


"Berapa lama ya? Ada kali tujuh belas tahun mah!", jawabnya.


"Selama itu? Pak Budi belum pernah pindah?", tanyaku lagi.


"Nggak lah mbak. Lagi pula, almarhum pak Dirham baik banget sama keluarga saya. Jadi, saya cuma bisa balas Budi dengan loyal bekerja di sini. Alhamdulillah berapa pun yang saya dapet dari sini. Memang nggak bikin saya kaya, tapi setidaknya saya bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya!"


"Ya Allah pak....!", aku mengusap lengan pak Budi.


Ponsel ku kembali berdering.


Julian???


[Halo mas Jul!]


[Ibu dimana?]


[Astagfirullah lupa mas, saya lagi keasyikan ngobrol sama pak Budi di parkiran. Maaf...maaf...apa acaranya sudah akan di mulai?]


[Belum sih Bu, lima belas menit lagi. Barangkali ibu mau istirahat dulu]


[Oh...kirain mah udah telat saya nya]


[Tidak Bu. Tapi maaf, Bu Dian sedang ngobrol dengan siapa?]


[Pak Budi mas Jul, sekuriti yang di parkiran. Kami udah lama kenal.]


Pak Budi tersenyum mendengar perkataan ku.


[Ya udah mas Jul, kami masuk deh! Pak Budi juga harus kerja lagi kan!]


Bu Dian ngobrol bareng sekuriti? Yang benar saja, mereka seakrab apa sih? Gumam Julian.


"Maaf pak Budi, mas Jul udah nungguin nih. Sampe ketemu ntar lagi ya?"


"Iya mbak Dian."


Aku mengambil beberapa lembar uang di tas kecil ku, lalu ku berikan pada pak Budi.


"Apa ini mbak? Nggak usah!"


"Ambil pak, buat beli makanan yang bergizi, istri pak Budi kan baru pulang dari rumah sakit. Jangan di kasih makanan instan ya. Banyakin buah sama sayur!"


"Jangan mbak Di. Ini berlebihan?", pak Budi menolak nya.


"Kalau pak Budi menolak, Dian marah lho pak!", ancam ku. Mas Aziz hanya tersenyum melihat kami berdua.


"Tapi mbak Di...!"


"Udah pak Budi, terima saja ya!", ujar mas Aziz.


"Alhamdulillah ya Allah, kebetulan sekali saya harus Nebus obat di apotek nanti sore!", pak Budi menitikkan air matanya.


"Terimakasih mba Dian, mas Aziz!" kata pak Budi sambil menyalami mereka.


"Loyalitas pak Budi di kantor ini ,tidak sebanding dengan uang yang kami berikan barusan pak Budi!", kataku.


Pak Budi masih terharu. Dia tidak paham dengan apa yang sedang terjadi. Yang dia tahu, saat ini ia memiliki uang untuk membeli obat istrinya.


"Kami menemui mas Jul dulu ya pak."


"Sekali lagi terimakasih mbak Dian, mas Aziz!", pak Jul menyalami kami.


"Sama-sama pak Budi. Ya udah, kami ke dalam dulu ya. Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Walaikumsalam."


Alhamdulillah ya Allah, hari ini aku dipertemukan dengan orang baik seperti mereka.


Mas Aziz merangkul bahuku.


"Istriku, selain cantik tapi dia juga baik. Tidak hanya wajah nya yah cantik, tapi hatinya juga! Mas merasa jadi pria paling beruntung!"


"Nggak usah ngegombal mas! Nanti sampai rumah, aku minta di ganti uang yang tadi!", aku memanyunkan bibirku.


"Iya, mas ganti berkali-kali lipat. Tapi nggak usah dimanyunin juga bibirnya, jadi pengen gigit!"


"Ih...mas ...kamu mah mesum banget sih?", aku mencubit pinggang nya.


Tak terasa, kami sudah sampai di loby. Mas Julian dan beberapa orang sudah berada di dalam sana menunggu kedatangan kami.


"Maaf ya, kalau kalian lama menunggu kami."


"Tidak apa-apa Bu"


"Langsung ke ruang rapat atau mau ke ruangan ku dulu mas Jul?"


"Masih ada waktu sepuluh menit untuk istirahat Bu Dian. Anda bisa ke ruangan dulu."


"Gimana mas?", tanyaku pada mas Aziz.


"Terserah kamu Dek. Mas mah ikut aja!"


"Mas Jul, kira-kira berapa lama ya rapatnya?"


"Tergantung Bu Dian!", sahut Julian.


"Owh....!"


"Ya udah deh, keruangan kita aja dulu ya mas!"


"Iya."


Mereka pun mengikuti kami di belakang. Terdengar bisik-bisik yang membuat aku merasa risih sendiri. Benar-benar kurang beradab sekali mereka. Siapa sih yang menerima mereka bekerja di sini?


"Mas Jul, siapa kepala HRD kita?"


"Bu Tania , Bu dian!", jawab Julian.


"Oh."


*Enak banget tuh lakinya, numpang hidup sama Bu bos!


Halah tuh cowok, modal tampang doang. ganteng doang mana cukup buat hidupin anak orang. mana anak orang kaya lagi.


Ganteng ya suaminya Bu bos, mau dong di jadiin bumi ke duanya.


Jadi laki, ngandelin duit bini? Nggak ada harga dirinya amat ya? gue juga mau kali timbang modal selangkanan doang*!


...Meskipun terdengar lirih,tapi aku masih bisa mendengar kan omongan mereka. Aku tidak perduli mereka menjelekkan aku, tapi aku nggak terima mereka menghina suamiku. Mereka tidak tahu apa-apa tentang ku, tapi mereka bisa menilai tanpa mencari tahu terlebih dulu....


"Oh iya mas Jul, nanti usai rapat saya sama mas Aziz mau ke butik kami. Mas Aziz mau mengecek pembukuan beberapa butiknya. Oh iya, kalian...kalian....", aku menghentikan ucapan ku memandang merek satu persatu yang tadi mengghibah suamiku.


"Kalau kalian ada waktu, kalian bisa datang ke butik suami saya. Nugroho Butik, di Sunter. Itu kantor pusat nya. Jika ada yang mau ke Bogor, Serpong atau Surabaya juga boleh!"


Mata mereka-mereka yang melotot membuat ku tertawa geli. Enak saja mereka mau menghina suamiku.


Setelah itu, mereka terdiam. Mas Aziz tampak nya tak tahu dengan maksud ku mengatakan kalimat itu. Tapi, Julian tampak tersenyum melihat tingkah ku tadi.


*****


Ayok...ini belum seberapa, dunia bisnis pasti lebih dari ini kan???? 🤗🤗🤗🤗


Mamak sedang mencoba ikutan Crazy up, mohon doa dan dukungannya ya. mkasih 🙏🙏🙏✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2