Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 222


__ADS_3

Julian mengucek matanya sesaat setelah pria berseragam itu berdiri dari hadapannya.


"Eh... sorry. Saya lelah sekali sampai ketiduran."


"Nggak apa-apa mister Julian. Saya tahu, anda pasti lelah sekali", kata pria itu.


"Bagaimana? Ada yang sudah kamu temukan?"


"Sudah mister. Lihat ini!", pria itu menunjukkan video si pelaku memarkirkan sepeda motor nya. Usai melepaskan helem, dia langsung memakai masker.


Di video yang lain, pria itu masuk ke divisi pemasaran.


"Siapa ketua divisi itu?", tanya Julian.


"Saya akan secepatnya mencari tahu mister!", kata si pria.


"Tunggu! Itu nanti saja! Kita lihat apa yang dia lakukan di ruangan itu!"


Video di ruang anak-anak divisi pemasaran menunjukkan kegiatan perkantoran pada umumnya.


"Tidak terjadi apa pun?", tanya Julian sambil melipat tangannya.


"Kita cari video lain?", tanya pria itu.


"Hem!"


Tangan pria itu begitu cekatan mencari-cari video yang berpotensi dan mengarah ke pria misterius itu.


"Lihat mister! Dia yang sudah merekam video antara Bu Dian dan pak Rifai?!"


Julian menganggukan kepalanya.


"Bawa pria itu kemari!", titah Julian.


"Siap mister!", kata pria berseragam itu.


Pria itu pun berdiri hendak meninggalkan ruangan Julian.


"Tunggu!",Julian menahan pria itu sebentar.


Diambilnya sebuah amplop, lalu di serahkan nya amplop itu pada si pria.


"Ambillah! Anggap saja bonus dari pekerjaan mu yang sangat bagus dan memusingkan ini! Dan... satu lagi! Aku percaya padamu. Jadi, apa yang kita lakukan tadi hanya aku dan kamu yang tahu?!"


"Siap mister! Saya paham. Saya bukan pengkhianat!", kata pria itu. Julian pun tersenyum. Meski dia begitu meyakinkan, tetap saja Julian memasang kecurigaan tanpa kecuali.


.


.


.


"Imah, sejak kapan rumah aziz memakai jasa pengawal?", tanya Stevan. Hayu sedan sibuk dengan konsumennya.


"Em...baru tadi pagi om."


"Dalam rangka apa?"


"Jadi, saat ini mbak Di d rawat di rumah sakit om."


"Dian sakit Mah?", tanya Stevan terperanjat.


"Iya om. Dari cerita mas Julian, sepertinya ada orang yang mau mencelakai mbak Di."


Stevan terdiam. Mencelakai dian?


"Mencelakai yang bagaimana? Dian kecelakaan?", tanya Stevan penasaran.


"Imah kurang tahu gimana tepat nya om. Tapi mas Aziz bilang, mbak Di pendarahan. Dan... setelah di cek, ternyata ada zat kimia yang berbahaya bagi kandungan Mbak Di. Nggak tahu lah om, om bisa tanya sendiri sama mas Aziz atau mas Julian."


"Dimana dian di rawat?"


"RS persada om!"

__ADS_1


Stevan pun mengangguk.


"Saya mau kesana!"


"Iya om. Kalau Imah sama mbak Hayu di minta jangan ke mana-mana katanya."


"Apa perlu Daddy kerahkan anak buah Daddy untuk membantu anak buah Julian menjaga kalian?", tanya Stevan.


"Nggak usah Dad! Kami aman kok. Lihatlah, orang-orang Julian banyak."


" ya sudah, kalau ada apa-apa tolong hubungi Daddy."


"Iya Dad!"


Stevan pun berdiri dari bangkunya.


"Dad ...bagaiman aku menghubungi mu, aku saja tidak tahu nomor mana yang akan aku hubungi?"


Stevan tersenyum. Itu yang Daddy mau Stev!


"Ini, nomor ponsel Daddy!", Stevan menunjukkan ponselnya ke arah Hayu. Hayu pun scan barcode di aplikasi hijau itu.


"Makasih Dad!"


"Daddy yang makasih, kamu memang putri Daddy yang baik!"


Hayu tersenyum manis.


"Daddy mau menjenguk Dian ke rumah sakit!", kata Stevan.


"Iya Dad! Salam buat Dian. Sampai kan maaf ku yang nggak bisa menjenguknya. Bukan nggak mau, tapi Julian yang melarang nya demi keselamatan kami semua. Yang berhubungan dengan keluarga Dian."


"Tindakan yang ambil Julian memang benar. segala kemungkinan itu ada."


"Iya Dad!", kata Hayu .


Untuk kesekian kalinya, Stevan memeluk putrinya yang selam bertahun-tahun ini jauh darinya.


Dengan di dampingi Wawan, sang asisten, Stevan menuju RS persada untuk menemui Dian.


"Em...saya harus memulainya dari mana?"


"Kamu cek, siapa-siapa saja yang bekerja sama dengan DWP. Cari tahu, barangkali ada diantara mereka yang bisa menjadi tersangka."


"Baik bos!'', sahut Wawan.


Wawan juga akan mengerahkan anak buahnya untuk melaksanakan tugas dari bos besar nya .


Tiga puluh menit kemudian, Stevan sampai ke rumah sakit.


"Kamu tunggu saja di sini wan. Aku mau jenguk Dian dulu!" titah Stevan.


"Siap bos!", kata Wawan.


Stevan melangkahkan kakinya menuju kamar Dian .


Ada penjagaan ketat juga di sini? Berarti Julian tak main-main!Batin Stevan.


"Selamat siang Tuan!", sapa seorang pengawal.


"Saya ingin menemui Dian!" kata Stevan.


"Maaf tuan, saya hanya mengijinkan orang yang sudah di beri ijin masuk oleh mister Julian."


"Hubungi julian, katakan Stevan yang ingin menemui Dian!"


Pengawal itu pun menghubungi Julian. Setelah beberapa saat, pengawal itu mengijinkan Stevan menjenguk Dian.


Stevan mengetuk pintu sesaat, setelah ada sahutan dia pun masuk ke dalam ruangan itu.


"Om Stevan!", sapa Dian dan Aziz.


"Halo Ziz, Di!"

__ADS_1


Aku dan mas Aziz mengangguk kecil.


"Bagiamana keadaan mu Di?", tanya Stevan.


"Alhamdulillah om. Sudah membaik."


"Om tahu dari mana Dian di sini?",tanya Aziz .


"Om dari rumah mu, menemui Stevi. Dan dia mengatakan keadaan Dian."


"Om bertemu mbak Hayu?", tanyaku.


Dia mengangguk.


"Makasih Di. Kamu Sudah banyak berjasa dalam hidup om dan Stevi. Stevi pasti bisa perlahan memaafkan om juga karena kamu."


"Stevi sudah memaafkan om? Alhamdulillah, Dian ikut senang om?!"


"Iya Di. Sebagai gantinya, om akan membatu Julian mencari tahu siapa orang yang ingin mencelakai kamu."


"Terima kasih sebelumnya om!", kataku.


"Memang apa yang sebenarnya terjadi?", tanya Stevan.


Aku menceritakan semuanya yang Julian katakan padaku.


Om Stevan tampak mengerti.


Aziz tiba-tiba meminta ijin untuk mengangkat telpon nya. Dia tidak enak mengangkatnya di depan om Stevan yang sedang serius mengobrol.


[Ya Jul?!]


[Bisakah pak Aziz ke kantor sebentar?]


Aziz menengok ke arah istrinya.


[ Kenapa Jul? Ada yang penting?]


[Iya pak. Saya sudah menemukan pelaku perekam video itu. Tidak hanya di kantor pak, tapi juga di hotel. Dia orang yang sama. Dan saat ini, dia sedang berada di ruang yang aman sampai anda sendiri yang mengintrogasinya.''


[Baiklah. Saya ke sana sebentar. Saya ijin ke Dian dulu ya?]


[Siap pak Aziz]


Aziz pun menghampiri ku yang sedang mengobrol dengan om Stevan.


"Om..Dian...mas ke kantor sebentar. Ada urusan penting. Kamu nggak apa-apa kan mas tinggal?"


"Nggak apa-apa mas. Tapi kamu di temani mereka ya?"


"Nggak usah lah dek."


"Begini saja Ziz, kamu di temani dua orang pengawal mu itu. Nanti om panggil orang om untuk membantu mengamankan Dian di sini."


"Tapi om....!"


"Demi keselamatan kamu juga kan?", tanya Stevan.


"Baiklah om."


Akhirnya Aziz di temani dua pengawalnya.


Berasa jadi tokoh di dalam novel yang Dian suka baca! Mendadak jadi CEO, di kawal, pakai supir. Hah! Apakah hidup kami sebercanda ini???Aziz menggelengkan kepalanya sambil sedikit tersenyum.


"Mas, habis dari kantor antar saya pulang sebentar ya. Saya ingin menemui anak saya dulu."


"Siap pak!", kata mereka berdua.


Stevan meninggalkan ruangan ku setelah memastikan anak buahnya menemani pengawal ku.


******


Siapa dalang nya? Tokoh baru atau....salah satu tokoh yang pernah nongol di episode sebelumnya?????

__ADS_1


Silahkan di tunggu kelanjutannya. Oke????


✌️✌️✌️✌️✌️🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2