
"Pak Stevan ngapain mas?", tanya Imah.
"Biasalah. Biarin aja, dia urusin sendiri urusan nya sama Hayu!"
"Owh...mbak Dian nya mana?", imah masih menggedong diaz.
"Di kamar."
"Imah anterin Diaz ke kamar ya mas. Aa tunggu sini dulu ya. Kayanya juga Farhan sama Faiz ke kios."
"Iya."
Aziz pun kembali duduk di sofa, di susul oleh Dadan.
"Maaf mas, sepertinya mas Aziz lagi mikirin sesuatu?", tanya Dadan.
"Iya kang Dadan! Pusing saya. Kenapa semua jadi ruwet begini!"
"Sabar mas.....!", Dadan hanya menepuk bahu calon kakak iparnya itu.
Sebenarnya aziz pengen curhat ke Dadan, orang yang sama sekali tidak terlibat dan tidak ada hubungannya dengan semua ini. Tapi, waktunya mungkin tidak tepat. Dadan harus menyiapkan pernikahannya empat hari lagi. Aziz tidak ingin menambah beban pikiran Dadan yang sebentar lagi jadi anggota keluarga nya.
"Gimana persiapan nya kang? Sudah siap semua?"
"Insyaallah siap mas. Tinggal nunggu hari H nya aja!"
"Kira-kira apa yang bisa ku bantu kang?"
"Mas ...mas mau jadi wali nikah nya Imah saja itu sudah bantuan yang sangat luar biasa buat saya mas!"
"Lebay deh kang Dadan mah!"
"Ya atuh biarin, kita kan mau jadi keluarga."
"Iya kang. Ngomong-ngomong.... beneran kalian cuma mau ijab qobul aja di rumah, nggak mau bikin pesta resepsi mungkin? "
Dadan menggelengkan kepalanya.
"Nggak kang, Imah nggak mau. Yang penting sah aja di mata agama dan negara. Imah bilang, yang penting orang mah tahu kalau kami sudah menikah. Dari pada uang nya buat kesenangan sehari, kita kan bisa pakai buat yang lain. Saya kan bukan sultan kaya mas Fai hehehehh."
"Bisa aja kang Dadan. Tapi ini momen seumur hidup sekali lho kang, emang nggak pengen di abadikan?"
"Iya sih... Tapi ya gimana. Imah maunya sederhana aja."
"Warung Padang kali kang sederhana!"
"Hahahah iya mas."
Di sisi lain, saat Imah membawa Diaz ke kamar....
"Mbak, boleh Imah masuk?"
"Masuk mah!"
Imah pun membawa Diaz dan meletakkannya di box. Lalu Imah pun menghampiri ku.
"Mbak....mbak baik-baik aja kan?"
__ADS_1
Imah memelukku. Aku tahu, Imah cemas dengan keadaan ku semalam.
"Mbak baik-baik aja kok mah. Mama mana?"
"Mama pergi lagi ke butik yang lain mbak! Tadi pulang dulu kok."
"Owh... Gimana fitting bajunya?"
"Alhamdulillah lancar kok mbak.Mbak....?!"
"Heum?"
Imah kembali memelukku.
"Mbak jangan kaya semalam lagi ya. Imah takut liat mbak kaya gitu. Pokok nya, Imah mau kalau mbak Dian ada masalah... cerita ke Imah. Jangan di simpen sendiri. Ya mbak ya?"
Aku menarik nafas perlahan.
"Iya, maaf ya!", aku mengusap lembut lengannya .
"Mbak, mbak Dian harus sibuk bantuin acara pernikahan Imah ya. Jangan memikirkan yang lain-lain. Plis! Kali ini, Imah butuh bantuan mbak!"
"insyaallah Mah, apa sih yang enggak buat adik kesayangan mbak ini!"
"Mbak janji, kalau mbak tidak akan memikirkan hal berat lagi seperti kemarin?"
Justru sekarang tambah banyak yang mbak pikirkan Imah! Tapi, aku juga tidak boleh egois.
"Enggak Mah, mbak nggak mau mikirin macem-macem lagi kok!"
"Mbak... mbak Dian nggak sendirian. Ada kami yang sayang sama mbak."
Aku akan memikirkan nanti apakah aku butuh ke psikiater lagi. Aku hanya ingin memastikan aku sudah sembuh dari traumaku.
"ya udah, Imah balik ke depan ya. A Dadan masih nungguin."
"Iya mah. Makasih, udah bantu jagain Diaz!"
"Sama-sama mbak, diaz kan keponakan Imah."
Imah pun keluar dari kamar ku.
"Mas ...!", sapa Imah .
"Dian tidur Mah?"
"Belum mas. Masih istirahat."
"Owh ...!"
"Mas, boleh Imah usul?"kkjmm
"Apa?"
"Gimana kalau mbak Dian di bawa ke dokter mas."
"Imah, mbak mu nggak sakit!", wajah Aziz memerah.
__ADS_1
"Bukan gitu mas. Imah cemas kalau mbak Dian kaya semalam mas."
"Iya mas paham kok Mah!"
"Mas, saya ijin bawa Imah ke rumah ya mas. Biar Imah priksa apa masih ada yang diperlukan mumpung masih ada waktu", ujar Dadan berpamitan.
"Iya. Maaf, mas malah tidak bantu apa-apa!"
"Jangan bicara gitu lah mas."
Kedua calon pengantin itu pun pulang ke rumah Dadan. Menyiapkan segala sesuatu untuk hari H nya yang tinggal empat hari lagi.
"Mah....!"
"Kenapa A?"
"Gimana kondisi mbak Di?"
"Tadi Imah liat baik-baik aja sih A. Nggak tahu juga yang sebenarnya gimana."
"AA jadi nggak tega kalau inget mbak Di kaya semalam."
"Sama A, tapi Imah juga kasian sama mas Aziz."
"Atuh kenapa?"
"Ya...mbak Dian malah peluk-peluk Mas Fa'i, padahal ada suaminya."
"Namanya juga reflek Mah....!"
"Tapi... kenapa mas Fai tahu semua tentang mbak Di. Sedang mas Aziz yang suaminya saja ngga tahu kalau mbak Di pernah bermasalah."
"Mah...kita nggak tahu alasan mbak Di menyembunyikan itu dari mas Aziz. Soal mas Fai lebih tahu, karena mereka kan emang dekat jauh sebelum mas Aziz dan mbak di saling kenal."
"Kasian mbak Dian mas....Imah nggak nyangka aja, mbak Dian ku yang cantik, sabar dan periang pernah mengalami hal yang membuat dia trauma begitu. Untung nya yah, saat badai rumah tangga mereka terjadi mbak Dian bisa melalui nya. Imah nggak bayangin, seperti apa mbak Di waktu itu. Beruntung nya mas Aziz memliki mba Dian."
Dadan mendengar dengan seksama ocehan calon istrinya itu.
"Tadi kamu bilang badai rumah tangga? Maksudnya?"
Imah menarik nafasnya perlahan.
"AA tahu Lili kan? Si ulet bulu saingan nya alm mba Feby?"
"Iya...kenapa?"
"Dulu...waktu mas Aziz masih sekantor sama lili, mas Aziz pernah di jebak sama lili."
"Di jebak gimana?", tanya Dadan bingung.
"Jadi...waktu mereka bekerja di luar kota, lili menjebak mas Aziz sampai mereka melakukan hal begituan lah. Terus lili videoin. Setelah itu, menunjukkan video itu ke mbak Dian dan mengaku jika lili hamil sama mas Aziz. Beruntungnya mas ku dapat kesempatan kedua dari mbak Dian ."
"Astagfirullah....!"
"Bukan maksud membukakan aib keluarga ku y A, tapi kan aa juga sebentar lagi jadi anggota keluarga kami."
"Iya mah. Tapi cukup sampai di kamu aja, jangan sampai orang lain ada yang mendengar nya."
__ADS_1
Dadan dan Imah kembali memeriksa apa saja yang besok akan dibutuhkan.
Tidak semua hal terlihat seindah di permukaan, siapa pun akan iri melihat kemesraan Dian dan Aziz, tapi nyatanya....mereka bahkan sudah melewati masa sulit itu. Diandra, kamu memang wanita yang luar biasa. Bisa berlapang dada menerima semuanya. Batin Dadan sambil terus membantu Imah.