
Aziz berkutat dengan laporan keuangan dari anak buah nya di Serpong. Lebih tepatnya, anak buah nya yang bekerja di butik mama nya Imah.
Di tengah kesibukannya, mama Farah menelponnya.
[Assalamu'alaikum Ma....]
[Walaikumsalam. Sibuk Ziz?]
Suara mama Farah terdengar begitu lirih.
[Nggak sih mah. Di kantor Dian, tapi Aziz lagi liat laporan keuangan Serpong]
[Apa mama mengganggu?]
[Nggak ma. Ada apa? Oh iya, bagaimana keadaan Mbak Imas dan bayinya? sehat kan?]
[Bayinya sehat Ziz, tapi....]
[ Tapi kenapa ma?]
Bukannya menjawab, mama Farah malah menangis. Sontak, aziz pun menjadi gusar.
[ ada apa ma? Mbak Imas kenapa?]
[Imas koma Ziz]
Mama kembali menumpahkan air matanya.
[Inalillahi. Koma ma? Nggak mungkin ma, semalam Aziz masih menelpon mbak Imas. Dia nggak kenapa-kenapa!]
Mama terdengar menangis tersedu-sedu.
[Ma...!]
[Rasyid Ziz.... Rasyid menjatuhkan talak sama mbak mu]
[Astagfirullah!]
Aziz terduduk kembali di kursinya.
[Kenapa bisa begitu Ma?]
[Mbak mu begitu mencintai Rasyid Ziz. Sedangkan Rasyid, dia merasa kecewa karena tidak bisa memiliki butik kamu. Dan....Imas mendekati pengakuannya , Imas jadi shock dan.....dan....]
Mama Farah tak melanjutkan ucapannya. Dian hanya bisa menangis di seberang sana.
[Kurang ajar si Rasyid. Berani-beraninya dia menyakiti kakak ku!]
[Jika...jika...kita tak menyerahkan kepemilikan butik, dia akan menceraikan Imas, membawa Aqeela , keponakanmu!]
[Ya Allah....]
Aziz mengusap kasar wajahnya.
[Mama bingung Ziz...mama bingung!]
[Mama yang tenang ya ma. Aziz akan memikirkan semuanya. Jaga mbak Imas dan Aqeela baik-baik!]
[Iya Ziz]
[Sekarang mama istirahat. Nanti aziz akan menghubungi mama lagi.]
[Iya Ziz, assalamualaikum]
[Walaikumsalam Ma]
Aziz meremas kasar rambutnya, tertunduk dengan berat ke bawah meja.
__ADS_1
Arghhhh!!!! Teriak Aziz.
"Ada apa mas????!"
Aku menghampiri mas Aziz yang terlihat frustasi. Dia mendongak menatap ku.
''Maaf...maaf mas berteriak di depan mu!"
"Nggak apa-apa mas. Aku sudah sembuh!"
Aku memeluk mas Aziz yang sedang kalut.
Aku pun mendudukkan diriku di hadapan mas Aziz. Dia masih terlihat sangat kacau.
"Minum lah mas...!", ku sodorkan air putih untuk mas Aziz agar sedikit meredam emosinya.
Aku membiarkan dia tenang lebih dulu sebelum aku banyak bertanya.
"Bisa minta tolong dek?"
"Apa?"
"Mas sedang bingung! Mbak Imas koma dek! Dan lebih parahnya Mas Rasyid...dia... menjatuhkan talak nya ke mba Imas."
"Innalilahi....!", aku menakupkan kedua tanganku di mulut.
"Kamu tahu kenapa dek?"
Aku menggeleng pelan.
" Dia mengancam, akan membawa Aqeela juga jika dia bercerai. Dia akan membatalkan perceraian nya jika....kita menyerah kan kepemilikan butik padanya!"
"Ya Allah mas Rasyid....! Kenapa dia bisa begitu sih mas? Hanya demi harta, anak dan istrinya di korban kan?"
Mas Aziz terlihat frustasi. Aku tahu apa yang ada dalam pikirannya. Mbak Imas adalah kakak satu-satunya. Dia berkewajiban melindungi saudara perempuan nya. Tapi di sisi lain, dia juga tidak akan memberikan butik secara cuma-cuma kepada orang yang jelas-jelas tidak mumpuni di bidang nya.
"Mas....boleh aku bicara?"
Aziz mengangguk pelan.
"Andaikata kamu memberi kan butik kita, apa mas Rasyid bisa menjamin jika rumah tangganya dengan mbak Imas akan kembali membaik?"
Mas Aziz menatap ku.
Dian benar, apa bisa Rasyid menjaga keutuhan rumah tangga nya? Sedangkan...yang baru saja terjadi, dia menalak mbak Imas yang jelas-jelas baru saja melahirkan anak untuk nya.
"Kamu benar dek!",jawab Aziz lesu.
"Apa kita butuh bantuan orang lain mas?"
"Maksudnya...Imah atau Dadan mungkin? Butik itu juga milik Imah bukan?"
Aziz terdiam. Imah memang harus di libatkan. Tapi.... sepertinya Imah tidak akan paham . Dia pasti akan mengikuti naluri nya sebagai seorang saudara perempuan yang tidak rela saudaranya di sakiti.
"Jangan dek ,Imah jangan tahu!"
''Kenapa mas? Imah berhak tahu!"
"Kamu tahu Imah seperti apa Dek. Dia pasti akan langsung memberikan nya pada mas Rasyid begitu saja. Karena dia pasti lebih memilih menjaga keutuhan rumah tangga kakaknya di bandingkan dengan harta dan hak nya."
Mas Aziz ada benarnya juga. Tapi aku harus minta pendapat dan ide dari siapa? Mama saja di Surabaya, pasti bingung juga. Masa iya mau melibatkan orang luar?!
"Rifai!", kata Aziz lantang.
"Mas Fai? Tapi..mas...Mas Fa'i orang luar. Apa...apa kita pantas melibatkan nya dengan urusan genting begini?"
"Dek, Fai bukan orang lain. Dia juga keluarga kita dek. Tolong.... turun kan gengsi mu sementara dek. Karena mas yakin, Fai pasti memiliki banyak ide."
__ADS_1
"Apa...soal kang Ujang itu ....juga ide dari Ama Fai?!"
"Iya!"
Ya Allah, kenapa aku harus selalu melibatkan laki-laki itu???!!!
"dek, tolong telpon Fai. Minta dia kemari. Mas mau ke toilet!"
"kenapa nggak kamu aja yang telpon mas? Di ponsel ku nggak ada mamanya."
"Kamu telpon pake ponsel mas Dek. Dan...satu lagi, simpan nomor Fai. Barangkali sewaktu-waktu kamu membutuhkannya!"
"Ngapain sih mas....!"
AziZ meninggalkan ku di ruangan ini. Aku ragu-ragu apakah aku akan menghubungi Fai?
Ditengah kebingungan ku, justru ponsel mas Aziz berdering. Mantan ku menghubungi mas Aziz.
Dengan ragu-ragu, aku mengangkat telpon dari Fai.
[Assalamualaikum mas...]
[Walaikumsalam, Di? Aziz mana? Kok kamu yang angkat telpon ku?]
[ Mas Aziz ada di toilet mas. Kenapa?]
[Pengen ngobrol aja sih!]
[Owh...ya udah, ke kantor aja.]
[Ngapain ke kantor Di?]
[Kami sedang nggak sibuk kok mas, main aja ke sini]
[Di....]
[Ya mas....?]
[Apa kamu sedang panik? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?
Aku menghela nafas, dan kembali melanjutkan obrolan ku dengan Fai lewat telpon.
[ Kemari mas, kami sedang butuh bantuan mu!]
[Bantuan apa Di? Aziz baik-baik saja kan?]
[Mas Aziz baik mas]
[ Terus kenapa ? Kalian butuh bantuan apa Di?]
[Biar mas Aziz yang menceritakan nya sendiri mas.]
[Oke...oke...aku ke sana. Tapi...]
[Tapi kenapa?]
[aku pinjam motor Vario mu. Dadan baru saja menurunkan ku di rumahmu. Kami dari showroom. Dadan baru saja membeli mobil untuk Imah.]
[Oh ya? Alhamdulillah kalau begitu, lain kali aku nebeng deh.]
[iya. Nggak mau kalah sama abangnya.]
[Memang nya kamu nggak bawa kendaraan? kenapa kang Dadan malah anterin kamu ke rumah?"
[Mobil ku dibawa Mika ke rumah sakit. Dan kebetulan, damar memintaku menemaninya untuk bertemu Hayu. Tapi kalau Aziz lebih membutuhkan bantuan ku]
"Ya udah, terserah kamu deh mas. Nanti kalau memang butuh, minta aja kuncinya ke Imah!
__ADS_1
"Oke👌