Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Kiriman mama


__ADS_3

Sudah berapa bulan aku tak berkomunikasi dengan mama mertua. Seperti nya mama sengaja menjauh dariku. Atau, itu cuma perasaan ku saja?


Tapi, seharusnya dia bahagia bukan melihat rumah tangga anak dan menantunya baik-baik saja?


Bukankah dulu dia yang pernah menawari ku untuk tinggal bersamanya? Bukankan dia juga sangat menginginkan cucu dari kami?


Kadang, aku ingin bertanya pada mas Aziz. Bagaimana keadaan mama. Tapi sejauh ini, mas Aziz juga tak pernah mau membahasnya. Keberadaan beliau saja aku tak tahu. Durhaka kali ya menantu model aku, yang tak peduli dengan mama mertua nya yang sudah mulai menua.


"Dek, mas mau ke Roxy bentar. Ada janji sama koh Han." pamit suamiku sambil merapikan kaos berkerah nya yang berwarna Misty. Dia memang nampak gagah memakai baju seperti itu.


"Iya mas."


"Kamu hati-hati ya dirumah, jangan kecapekan!"


"Iya mas. Udah tenang aja. Kamu juga hati-hati di jalan. Jangan ngebut."


"Ya sudah, mas kedepan nemuin Imah dulu ya."


Mas Aziz pun berlalu. Ku lihat ia masuk ke kios nya. Berbicara dengan Imah yang sendang membereskan dagangan nya. Lalu dia pun pergi mengendarai roda empat nya.


"Imah, kamu udah sarapan?" tanyaku.


"Belum mba. Belum pengen." sahut nya dengan tetap menggerakkan tangannya.


Sudah 2 Minggu Imah kerja di konter. Selama itu pula dia menunjukan sikap nya yang baik.


"Imah, boleh saya tanya sesuatu?"


"Boleh lah mbak. Tanya'o!"


"Selama kami kerja disini, belum ada yang kamu keluhkan?" tanyaku hati-hati.


"Ngeluh apa toh mbak. Peyan Karo mas Aziz tuh baik tenan Leh. Saya makan tinggal makan, tidur tunggal tidur ga mikir bayar kosan dan lain-lain. Iku wae wis Alhamdulillah tenan mbak"


Kuperhatikan jilbab Paris nya sudah mulai lusuh.


"Kamu betah disini? Jam kerja nya kan disini lama Mah."


"Betah lah mbak. Saben hari liat mas-mas ganteng kok Yo. Jam kerja lama piye. Jam 7 pagi sampe jam 10 malem. Tapi saya nyantai mbak. Ga kudu lari rono Rene."


Aku tersenyum mendengarnya. Aku memang belum memberi tahu gaji bulanan nya. Aku ingin tahu, seberapa bagus kinerjanya. Tapi ,tiap hari aku memberi nya uang 50ribu. Itu antisipasi, jika masakan ku tak sesuai selera nya. Jadi, kalau dia pegang uang bisa buat jajan.


"Em...Imah, saya punya baju sama jilbab yang udah kecil tuh lama ga saya pakai. Kira-kira kamu mau nggak? Maaf ya....bukan maksud saya...."


"Mau mbak....mau.....", jawabnya semangat. Dasar Imah, kelakuan nya seperti anak kecil saja. Tapi sejak ada dia, harus diakui kalau konter semakin ramai. Bukan hanya karena promosi nya tapi juga pelayanan Imah yang ramah.


"Saya ambil dulu ya di rumah. Nanti saya bawa kesini."


"Siap Bu bos!"


Aku memilih warna yang sesuai dengan warna kulitnya Imah. Dia yang hitam manis, tak kuberikan warna yang cerah. Nanti akan terlihat kontras nya. Ku ambil warna-warna pastel.


Setelah kurasa cukup, aku bawa ke kios.


"Imah, ini bajunya. Kalau kamu mau, silahkan ambil semua atau kamu mau pilih pun gapapa."


"Wah... Alhamdulillah.... bagus-bagus banget. Mau lah mbak."


Senyum Imah mengembang.

__ADS_1


"Oh iya mbak. Boleh saya ijin keluar nggak? Sebentar saja." kata Imah memelas.


"Mau kemana?". Sebenarnya aku juga mengijinkannya, tapi hanya ingin tahu dia ada kepentingan apa.


"Anu mbak. Mau transfer ibu saya dikampung."


"Lho, emang kamu punya uang?kan belum pernah gajian?"


"Kan mba ngasih saya yang tiap hari. Saya kumpulin buat ibu saya Bu."


"Kamu mau transfer berapa?"


"Ada 700 sih mba, tapi mau saya transfer 500 aja kali ya mbak. Saya kan juga harus setok pembalut, bedak, sabun sama yang lain."


"Ngga usah keluar. Mana sini nomor rekening nya, saya transfer via m-banking."


"Hem? Apaan mbak? nggak usah, nggak mba. Saya ga mau ngarepotin mba. Nanti mba capek. Mending saya aja yang pergi."


"Imah, saya ga kemana-mana. Say transfer dari hp saya doank. Masa gitu aja kami nggak tau."


"Ohh...itu maksudnya, yang kirim pake hp."


"Iya Imah. Sudah mana sini nomornya."


"Saya ambil dulu di kamar ya mba."


Tak lama kemudian, dia pun datang memberi sederet nomor rekeningnya.


Ku tekan nominal yang dia minta. Setelah berhasil, ku kirimkan hasilnya ke nomor Imah.


"Sudah ya mah. Kamu tinggal kasih tau kalau kami sudah transfer."


"Alhamdulillah. Makasih mbak. Ini uangnya. Sekali lagi makasih."


"Sudah Imah telpon nya?"


"Sudah mbak. Makasih."


Lalu kuberikan lagi uang 500 ribu itu.


"Lho kok dibalikin toh mbak?" tanya nya heran.


"Iya. Itu kamu pegang aja. Nah, besok kalo waktunya gajian saya potong 500 ribu gimana ?"


"Oh...iya mbak...saya setuju."


Kami mulai bercerita bayak hal, termasuk kisahnya yang pernah bekerja di rumah makan. Dia bukan jadi pelayan, melainkan tukang cuci di belakang. Maka wajar kalau imah kurang bersosialisasi seperti yang lain.


"Imah, saya istirahat di kamar ya. Kalau kira-kira kamu kewalahan, telpon saya aja ya."


"Siap mbak. Insyaallah saya amanah mbak."


Aku tersenyum mendengar celoteh nya. Mas Aziz belum selesai menyelidiki asal usul Imah.


Aku istirahat sebentar, meski aku coba untuk tidur tetap tak bisa. Ada rasa tak tega saat Imah berada sendiri di depan sana. Bukan tidak percaya , tapi sepertinya Imah itu terlalu lugu takut mudah di bohongi orang lain.


Firasat ku benar. Rupanya dia tengah menghadapi customer yang cukup rese.


"Mba.... jelas-jelas pulsanya ngga masuk. Ngotot minta bayar!" ucap ibu-ibu.

__ADS_1


"Tapi pulsa nya sudah masuk ibu, saya kan ngisi ke nomer yang ibu kasih." kata Imah kekeh.


"Ada apa Imah?" tanyaku.


"Ini mbak. Ibunya ngisi pulsa, kan sudah saya isi sesuai sama nomor yang dia kasih mbak. Eh... ngotot ga mau bayar."


"Tapi buktinya ga masuk mba." suara si ibu tak kalah ngotot.


"Maaf Bu, coba saya pinjam hp ibu." pintaku. Lalu ia memberikan nya padaku.


Aku coba menekan nomor yang ibu berikan pada Imah, ada nada tersambung tapi bukan di hp ibu itu.


"Bu, nomor yang ibu berikan bener isinya hp ini?" tanyaku.


"Ya...ya bener lah mba masa say bohong."kata si ibu agak gugup.


"Tapi tadi saya misscall tersambung Bu, tapi bukan hp ibu yang berdering." jelasku. Si ibu terlihat gugup sekali.


"Saya akan mengembalikan hp ibu, setelah ibu membayar belanjaan ibu. Bagaimana?" tanyaku sambil memasukan hp si ibu ke sakuku.


"Ya udah ya udah. Nih." dia menyodorkan selembar uang warna merah.


"Udah sini balikin hp saya. " Kuserahkan lagi hp si ibu.


"Nyesel saya belanja disini. Huh!", katanya mendengus sambil pergi menghentakkan kakinya.


"yeye....peyan sing salah kok Yo malah nyeneni wong liyo. Ediyyan." umpat Imah.


"Udah Imah, ga boleh ngumpat begitu. Jangan kasar lah. Orang malang ga ada yang kaya kamu lho." ledekku.


"Aku arek Malang lho mbak." katanya dengan penuh percaya diri.


Aku menggeleng kan kepalaku. Lalu duduk di kasir. Menghitung pendapatan hari ini. Alhamdulillah.


Ada seorang kurir mengantarkan paket berhenti di kios ku.


"Siang mba. Antar paket untuk pak Aziz?" tanya mas kurir.


"Benar mas." sahut Imah. Lalu dia tanda tangani bukti penerimaan barang.


"Dari siapa mah?", tanyaku.


"Emm...ga ada mbak." kata Imah sambil memutar-mutar dus. Imah menyerahkannya padaku.


Tak lama kemudian mas Aziz pulang. Dia membuka sendiri pintu gerbangnya. Setelah itu masuk ke kios.


"Kenapa dek?" tanya nya.


"Ada paket buat kamu. Tapi ga ada pengirim nya."


"Coba mas buka." Mas Aziz membuka dus itu.


Setelah dibuka, isinya susu untuk ibu hamil, madu, minyak zaitun dan berbagai cemilan. Didalamnya ada sepucuk surat bertulis kan 'Maaf ya mama belum bisa ke situ. Tapi , perhatian mama duluan gapapa ya. Mau beli perlengkapan bayi sekarang2 kan pamali. Salam buat Dian ya. By. Mama'


Aku dan mas Aziz mengucap 'oh' bersamaan.


Dan Imah hanya memandangi kami dengan penasaran.


"Isine opo toh mbak? Seko sopo?" tanya nya .

__ADS_1


"Kepo...", jawabku dan mas Aziz kompak.


Dan...Imah hanya ngedumel dengan bahasa nya yang kami tak tahu. Imah...Imah....


__ADS_2