Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 195


__ADS_3

Di perjalanan kantor


"Dek...!"


"Heum?"


"Nggak jadi."


"Lha...kok gitu? Kenapa mas?"


"Nggak apa-apa."


"Boong."


"Heheh iya nggak apa-apa sih."


"Pasti kamu mau ngomong sesuatu deh. Apa?"


"Kamu nggak malu pake mobil ini ? Apalagi kalau ketemu sama klien kamu di mana gitu?"


"Ish.... memang Kenapa? Mobil kita juga bagus kok mas."


Aziz memandang ke arah jalan.


"Tapi mas beliin kamu mobil murahan begini?"


"What? Murah??? Yang bener aja segini murah mas??? Mahal tahu!"


"Ih .. gemes banget sih sama istriku ini. Uang kamu kan banyak dek. Masa mobil begini kamu bilang mahal."


"Ya emang mahal. Toh, ini masih amat sangat layak di pakai nya."


"Tapi...kalah mewah di bandingkan dengan para manajer kamu, bahkan asisten mu dek."


"Ya biarin lah. Kita syukuri apa yang kita miliki sekarang mas. Kita beli kan seusai fungsi bukan gengsi."


Mas Aziz mengusap kepalaku.


"Aku nggak maksud pelit mas. Tapi...kita kan juga harus bisa bedakan. Mana yang kebutuhan mendesak mana yang nggak."


"Iya mas paham kok dek. Buktinya, kamu ngasih gaji buat teh neng nggak mikir-mikir dulu. Kamu nggak cari tahu berapa gaji awal seorang baby sitter?"


"Teh neng kan bukan dari yayasan mas. Wajar lah kalau aku ngasih segitu. Apalagi katanya anaknya udah kelas tiga sma. Udah mau lulus kan? kali aja, teh neng bisa nabung buat Kuliah anaknya. Terus....kang Ujang kerja, buat makan mereka sehari-hari.


"Istriku baik banget sih....mikir nya sampe ke sana-sana. Makin cinta deh....!"


"Iya dong, istri siapa dulu!??"


"Istri nya Mamas Aziz dong!"


Kami berdua kompak tertawa. Aku juga heran. Kami sering sekali bertengkar. Kadang sampe ada drama air mata lah, emosi meluap-luap lah. Dan... ini lah dinamika dalam berkeluarga.


Kami mungkin sedikit beruntung. Pertengkaran kami yang sering terjadi, pemicu nya bukan karena tentang ekonomi.


Sedangkan di luar sana? Banyak yang bertengkar karena kurangnya uang dapur, karena berbagai macam hal yang tidak banyak kita tahu.


Yang pasti, semua hubungan akan ada pasang surutnya. Termasuk hubungan kami juga kan?


Setelah beberapa menit, kami pun sampai di parkiran mobil.

__ADS_1


Pak Budi menyambut kedatangan kami di sana.


"Pagi pak Budi?", sapa kami berdua.


"Pagi...pak....Bu....!", pak budi sedikit menunduk kepalanya.


"Aihhhh....pak Budi, biasa aja manggil nya kaya kemaren ah."


"Tapi....?!"


"Panggil kaya kemarin aja. Pak Budi kan udah saya anggap bapak saya sendiri."


pak Budi yang mendengarnya jadi merasa terharu.


"Saya bawa kotak makan mbak di, saya ambil dulu?"


"Nanti saja pak Budi. Pak Budi antar aja ke ruangan saya ya."


"Ke ruangan mba Dian?"


"Iya Pak. Kenapa?"


"Saya belum pernah naik ke lantai itu. Tugas saya kan di parkiran." Pak Budi tersenyum.


"Lima belas tahun kerja di sini, belom pernah naik?"


Pak Budi menggeleng.


"Pokok nya nanti anterin ya pak. Di tunggu!"


Aku pun meninggalkan pak Budi, dan menggandeng tangan mas Aziz.


"Ra....!", sapa Stevan.


Aku menghela nafasku. Dan mas Aziz mengeratkan genggaman tangannya padaku. Iya, di sebelah om Stevan ada lili. Perut nya kini terlihat membuncit. Meskipun belum terlalu besar.


Stevan menghampiri ku. Dan tentu saja, sang istri pun turut menggelendot manja padanya.


"Ada apa om , pagi sekali menemui saya? Ada yang urgent?"


Lili menatap ku jengah. Dulu, aku cemas saat lili memandang suamiku dengan tatapan penuh cinta dan nafsu. Bagaimana tidak? Lili tahu seperti apa kehebatan suamiku di ranjang. Tapi kali ini, aku lihat dia biasa saja menatap mas Aziz. Apa karena om Stevan?


Astagfirullah....! Desisku.


"Om ingin bicara dengan mu. Bisa?"


"Soal?"


"Bisakah kita bicara di tempat lain?"


Aku menengok ke arah mas Aziz. Mas Aziz pun mengangguk kan kepalanya.


"Kita ke ruangan saya saja om."


Kami berempat menuju ruangan ku di lantai atas.


Kenapa sih si Dian makin cantik? Makin anggun? Apalagi ternyata dia adalah CEO di perusahaan besar begini. Pantas saja Aziz sama sekali tak menggubris ku? Hah! Tapi setidaknya, aku mendapat pengakuan. Menjadi istri seorang Stevan Winata yang sudah tua ini. Tapi... andaikata nih aki-aki mati duluan. Aku akan kembali mengejar Aziz. Batin Lili.


Belum tobat juga ternyata Bu?????

__ADS_1


Kami berempat masuki ruangan ku.


"Silahkan om...mbak Lili!"


Kedua orang itu pun duduk di sofa. Sedangkan mas Aziz memilih duduk di kursi kebesaran ku. Tak ingin bergabung dengan kami. Karena dia tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain. Terlebih ada lili, yang pernah menjadi pengacau dalam keluarga nya.


Aziz memilih mengecek pekerjaan istrinya di belakang meja.


"Ada apa om?"


Stevan menghela nafasnya dalam-dalam.


"Om minta bantuan mu Ra?!"


Aku mengernyitkan alisku.


"Bantuan? Bantuan apa?"


"Om, ingin sekali bertemu Stevi."


"Bukan kah om dan mas Damar pernah menemui mbak hayu di rumahnya?"


"Iya. Maksud om. Bisakah Rara mengajak Stevi makan malam bersama kami?"


Hah? Bersamaan kami? Maksud nya om Stevan dan lili?


"Kenapa nggak om aja yang bilang langsung?"


"Apa kamu yakin dia mau?"


"Memangnya om yakin kalau mbak hayu mau jika aku yang membujuknya?"


"Kalian dekat. Pasti Stevi mau mendengarkan mu!"


Aku menyadarkan punggung ku. Lalu mengusap pelipisku. Bagiamana ini?


"Tolong Ra???"


"Alasan apa yang tepat ku katakan ke mbak Hayu om?"


"kamu sudah memaafkan om kan Ra?"


Aku menatap sekilas wajah tuanya. Apa aku sudah memaafkan om Stevan?


"Entahlah om."


"Dari tutur katamu, om tahu kamu sudah mulai membuka hati mu buat om. Om tahu, kesalahan om sudah amat sangat membuat kalian menderita selama bertahun-tahun. Tolong....ijinkan om untuk menebus kesalahan om Ra!"


Aku menarik nafas dalam-dalam lagi, dan lagi.


"Aku....aku tidak tahu om. Mungkin...iya aku bisa memaafkan om. Tapi...aku nggak yakin dengan mbak Hayu!"


Stevan berlutut di hadapan ku.


"Daddy!" pekik lili. Mas Aziz pun tak kalah terkejutnya, dan berdiri di belakang mejanya.


"Om minta maaf Diandra...maaf...!Om sudah tidak sanggup menahan rasa bersalah om pada kalian."


Ya Allah.... bagaimana ini?????

__ADS_1


__ADS_2