Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 225


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Stevan ke kantor.......


Stevan dan Wawan berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Tanpa sengaja, Stevan melihat Damar yang sedang berjalan ke arahnya. Dengan sebuah map berada di tangannya yang sedang ia baca, sesekali ia membenarkan kaca mata nya.


Kebetulan sekali, aku ingin bicara dengan nya! Batin Stevan.


"Wan, kamu ke mobil dulu deh. Nanti aku nyusul. Masih ada urusan dengan dokter itu!", tunjuk Stevan.


"Baik Bos!", Wawan pun meninggalkan bosnya.


Damar terlalu fokus dengan map nya, sampai dia tidak melihat ke sekeliling nya.


"Sibuk Dokter damar?", sapa Stevan setelah Damar berada di dekatnya. Damar mendongak karena merasa di panggil namanya.


"Om...!", sapa Damar dengan ramah. Tampak lesung pipi nya menghiasi wajahnya itu.


Hem...ini calon menantuku? Batin Stevan.


Damar menyalami Stevan.


"Om dari mana?"


"Jenguk Dian Dam!"


"owh...iya om."


"Kamu sibuk?"


"Iya beginilah om. Ada data pasien yang harus saya pelajari sebelum melakukan tindakan operasi."


"kenapa sambil jalan, tidak kah lebih baik di dalam ruangan mu?", tanya Stevan.


Damar tersenyum.


"Sebenarnya ini bukan pasien yang biasa saya tangani om, tapi dokter yang biasa menangani pasien ini mendadak ada urusan ke luar negeri Om. Jadi saya yang menggantikan beliau."


"Bisa begitu?"


Damar mengangguk.


"Om pikir, menantu om ini sedang memiliki waktu senggang. Ternyata sibuk sekali!", sindir Stevan.


Apa katanya, menantu? Batin Damar.


Terlihat wajah damar yang memerah.


"Katanya sudah nikah siri....???!!!", sindir Stevan lagi.


Kali ini damar benar-benar mati kutu. Dia bingung menjawabnya apa.


"Om...itu....?"


"Lanjutkan saja pekerjaan mu. Nanti kalau sudah santai, hubungi om saja. Banyak yang harus kita bicarakan!", Stevan menepuk bahu damar sambil berlalu meninggalkan damar.


Mimpi apa aku semalam??? Kok Om Stevan bahas soal nikah siri? Apa jangan-jangan.....


"Dokter damar!", panggil seorang suster.


"Ya?"

__ADS_1


"Anda di panggil ke ruang direktur!", kata Si suster.


"Iya. Saya ke sana sekarang. Dan tolong, bawakan ini ke meja saya. Terimakasih!", kata damar.


"Iya dok!", suster itu pun menerima map itu dari Damar.


.


.


.


.


Stevan sudah sampai di kantor. Anak buah Wawan bergerak lebih cepat dari dugaannya.


Ada hal yang Wawan garis bawahi, orang itu kecewa karena Dian dan Julian menolak melanjutkan kerjasamanya dan mungkin ada dendam pribadi kepada salah satunya.


"Bos! Saya sudah mengantongi satu nama!", kata Wawan sambil tetap fokus menyetir.


"Secepat ini? Siapa???", tanya Stevan .


"Kakak ipar anda!"


"Bang Ronald?", tanya Stevan.


Wawan mengangguk.


"Dari pantauan anak buah saya, Diandra dan Julian menolak melanjutkan kerjasamanya karena di rasa terlalu merugikan DWP bos!"


Stevan mengusap pelipisnya.


"Hem. Bisa jadi Wan?! Kamu memang hebat! Tidak sia-sia aku percaya kan semuanya pada mu Wan!", kata Stevan .


"Pengabdian saya terhadap anda tidak sebanding dengan apa yang sudah anda berikan kepada keluarga saya!", kata Wawan.


Stevan hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kita ke kantor Bang Ronald?!" pinta Stevan.


"Siap bos!", kata Wawan tegas.


Mobil pun melesat menuju perusahaan Ronald.


Stevan datang ke ruangan Ronald tanpa permisi terlebih dulu.


Ronald yang sedang sibuk dengan berkasnya di meja mau tak mau menatap wajah sang adik ipar.


"Sebenarnya apa tujuan mu melakukan ini bang?", kata Stevan sambil duduk di hadapan Ronald.


"Melakukan apa ?",tanyanya sambil menyandarkan punggungnya.


"Berhentilah berpura-pura!"


Ronald tersenyum sinis sembari menatap adik ipar nya.


"Kenapa? Aku tidak merugikan mu bukan??!"


"Bang! Berhenti lah mengusik keluarga diandra. Dia tidak bersalah disini. Kalau Abang ingin membalas dendam, harusnya padaku. Bukan pada anak itu yang tak tahu apa-apa!"

__ADS_1


"Kau pikir, aku melepaskan mu karena apa? Karena aku masih punya hati. Aku tidak ingin keponakan kesayangan ku harus kehilangan orang tuanya lagi. Cukup mami nya saja yang mati konyol gara-gara Daddy nya yang brengsek seperti mu?!"


"Bang...! Diandra tak tahu apa-apa!"


"Dia memang tidak terlibat langsung dengan peristiwa dulu. Tapi ibunya yang ja*ang itu sudah mati terlebih dulu sebelum aku membalaskan dendam adiku. Bertahun-tahun aku mencari keberadaan bocah itu.Tapi Kendra selalu melindungi anak itu. Sampai tak terendus oleh siapapun,termasuk kamu!"


"Bang! kalau memang ingin menghukum, hukum saja aku!"


"Kau tahu? Selain karena Dian adalah anak dari wanita yang sudah merebut kebahagiaan adikku satu-satunya, dia juga sudah merebut kebahagiaan putri ku juga!"


"Dian tak ada beda nya dengan mutiara bukan? Merusak hubungan orang lain. Dan...aku tahu, bagaimana hubungan Dian dengan mantan kekasihnya itu. Kisah cinta yang belum selesai, seperti ibunya dengan mu!", kata Ronald sambil menuding wajah Stevan.


"Itu bukan urusan kita bang", kata Stevan melunak.


"Memang bukan! Tapi aku ingin semua orang tahu jika Dian tak jauh lebih baik dari ibunya! Dan satu lagi, kali ini kebahagiaan putriku pun jadi taruhannya!"


"Apa hubungan Dian dengan kebahagiaan Sharen bang?"


"Kau tahu, apa yang sudah Julian lakukan pada putri ku? Sejak kehadiran Diandra, sikap Julian semakin dingin terhadap Sharen. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut kebahagiaan putri ku!"


"Bang, Abang hanya salah paham di sini. Tidak mungkin Dian ada affair dengan Julian!"


"Mungkin Dian tidak, tapi Julian? Bahkan demi bocah itu, Julian sampai tak menghiraukan putriku, tunangannya sendiri!"


"Dengarkan aku bang! Julian hanya bersikap profesional dalam menjalankan pekerjaannya."


"professional itu tak pakai perasaan! Tapi dia melibatkan perasaan nya. Bahkan semua tahu perubahan sikap dan tindakan nya selama ada Dian di DWP. Semua berubah hanya karena bocah itu?!"


Stevan tak tahu harus berbuat apa lagi.


"Semua bukti sudah mengarah padamu bang. Julian yang memberi tahu ku. Jadi, apa selanjutnya yang akan Abang lakukan? Bicarakan ini baik-baik pada keluarga Dian. Terutama suaminya. Karena ulahmu, dia kehilangan calon janin nya dan hampir saja menghancurkan rumah tangga nya bang?!"


"Cuih...tak Sudi! Coba saja, kalau dia berani melawan ku. Tidak hanya calon janin nya yang celaka. Tapi semua anggota keluarga nya. Tak terkecuali yang ada di Surabaya!", kata Ronald sambil meninggalkan ruangan nya.


Lagi-lagi Stevan mengusap pelipisnya.


Kakak iparnya sungguh keras kepala! Dia tidak akan main-main dengan ucapannya.


Mau tak mau, Stevan juga harus bicara dengan Julian atau pun Sharen.


Jangan sampai, Dian dan keluarga nya menjadi korban balas dendam kakak iparnya yang masih mendendam karena kesalahan di masa lalu.


Ponsel di saku jas Stevan bergetar.


[Om, saya ada waktu senggang. Bisa kita bertemu?]


Chat dari Damar.


[Ya. kita bertemu di kafe Xxxx jam tujuh malam]


Balas Stevan.


[Oke Om]


Stevan pun keluar dari ruangan kakak iparnya itu .


*****


Weitssss.... ternyata belum selesai bro meskipun sudah tahu pelaku sebenarnya!

__ADS_1


Ada apa lagi setelah ini?????


__ADS_2