Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 253


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul setengah sembilan. Tapi mas Aziz belum juga pulang. Ku lihat ponselku sesaat, sepertinya ada pesan masuk.


Benar saja! Ada pesan gambar dan video yang di kirimkan kepada ku oleh nomor yang tak ku kenal.


Gambar dimana mas Aziz tengah duduk berdua dengan perempuan cantik yang ku taksir usianya tak berbeda jauh dengan ku.


Setelah itu, ku buka video yang memperlihatkan mas Aziz menangkap perempuan itu yang hampir terjatuh. Ada perasaan tak rela sebenarnya,tapi...aku percaya pada mas Aziz. Dia tidak akan berbuat macam-macam lagi di belakang ku. Aku percaya padanya, dia setia padaku.


Kuletakkan kembali ponselku di atas meja. Aku sengaja menunggu mas Aziz di sini, jadi saat dia sampai ke rumah, aku tahu. Tapi aku juga tak membiarkan Diaz begitu saja. Aku masih bisa mengawasi Diaz yang tertidur dari tempatku duduk sekarang.


Ponsel ku kembali berbunyi. Kali ini bukan gambar dan video, melainkan chat oleh nomor yang sama.


[Tak perlu menunggu suami mu pulang! Tidurlah!] Begitu isi chatnya. Tapi lagi-lagi aku berusaha tenang. Aku tidak ingin gegabah mengambil tindakan. Belajar dari peristiwa kemarin-kemarin, aku tak mau lagi ada salah paham di antara kami. Jadi, kalau memungkinkan aku akan bertanya padanya nanti saat mas Aziz pulang.


Aku menyandarkan kepala ku di sandaran sofa. Baru saja ku pejamkan mataku, sebuah kecupan hangat menyentuh keningku.


"Mas?", ku buka mataku. Kulihat suamiku dengan wajah lelahnya terduduk di sampingku. Lalu ia melingkarkan tangannya ke perutku.


"Kamu capek ya mas?", kuusap pipinya karena kepalanya bersandar di bahuku.


"Heum!", jawabnya singkat. Dan kulihat ia memejamkan matanya.


"Maaf mas, harusnya....DWP itu tanggung jawab ku. Tapi malah kamu yang di repotkan begini!", kata ku lirih.


"Jangan bicara seperti itu sayang!", sahut mas Aziz sambil mengeratkan pelukannya.


"Kamu sudah makan?", tanyaku. Aku hanya ingin mendengar kejujuran darinya sebelum aku bertanya tentang foto nya dengan seorang perempuan cantik dan seksi itu.


"Sudah, tadi makan di restoran sama Dewi, perwakilan dari cv agung. Dewi itu partner kerja dan satu team waktu di pt gemilang. Ternyata Dewi pindah kerja di sana!", Aziz menjelaskan tanpa membuka matanya. Rasa penasaran ku mulai surut, dia menjelaskan tanpa ku tanya. Jadi , soal foto dan video itu aku tak ingin ambil pusing.


"Mandi deh mas, biar capeknya ilang."


Kuusap lengannya yang melingkar di perutku.


"Iya. Mas juga belum solat isya, sekalian tarawih sendiri deh. Nanti nemenin mas sahur kan?", tanya nya manja.


"Iya sayang!"


Cup! Ia mengecup pipiku sebentar dan setelah itu ia berlalu menuju kamar kami. Ku padamkan lampu ruang televisi, lalu aku pun ikut ke dalam kamar ku.


Aku merebahkan diriku di ranjang. Membaca-baca novel online kesayangan ku. Sejak sakit kemarin, aku sudah tak bergabung di komunitas ODoJ lagi. Ya...sesuai dengan peraturan, tiga kali tanpa kabar, aku akan left dari grup tersebut. Mau bagaimana lagi, sudah aturannya begitu dan sakitku waktu itu tidak hanya tiga hari, bahkan lebih dan memberikan kabar pada admin grup ku.


(Pengalaman mamak othor πŸ˜†)

__ADS_1


Mas Aziz keluar dengan memakai kaos dalam dan boxernya. Aku sudah menyiapkan baju koko dan sarung nya di dekat pintu kamar mandi. Mas Aziz mengulas senyum tipis.


Masyaallah....ganteng banget suamiku. Diantara lima tokoh cowok di sini, suamiku memang paling ganteng πŸ€—.


"Gitu banget liatin mas,dek?", tanya mas Aziz yang membuat ku tersentak karena terkejut.


"Heum? Em...iya. mas Aziz ku ganteng!", sahutku singkat. Mas Aziz memasang senyum tampan nya. Ingin sekali ku ciumi pipi chubby nya itu.


"Mas solat dulu ya?", pamit nya. Aku mengangguk pelan.


Mas Aziz sudah selesai dengan solat isya nya, sekarang dia memulai solat tarawih nya.


Aku berinisiatif untuk membuatkan teh hangat untuknya. Minimal membuat nya lebih rileks nanti.


Persediaan air panas ternyata habis. Jadi aku memasak air panas terlebih dulu. Lalu ku racik teh dan juga gula di dalam gelas besar. Setelah beberapa menit, air pun mendidih. Lalu ku tuangkan perlahan-lahan.


Saat sedang ku aduk, tiba-tiba tangan kekar melingkar di perutku.


"Sayang, udahan solat nya? Cepet banget?", tanyaku beruntun.


"Iya. Solat witir nya nanti aja habis tahajjud sebelum sahur!", jawabnya. Tapi bibirnya menelusup ke cerukan leher ku. Menggigit sedikit kulitku, dan ku yakini pasti ada jejak yang ia tinggalkan di sini.


"Mas ...!", panggil ku lirih.


"Mas, aku belum bersih mas....!", kataku lirih. Meskipun aku akui, aku pun merindukan sentuhan suamiku. Tapi apalah daya ku, masa nifas ku belum berakhir, bahkan masih lama.


Mendengar jawaban ku, mas Aziz mengendorkan pelukannya dan menghentikan aktivitas nya di leher tadi. Aku berbalik menghadapnya. Ku pandangi manik nya yang hitam itu. Rahangnya yang tegas, membuat siapapun mengakui ketampanan suamiku.


"Tapi ...aku akan memuaskan mu mas!", kataku sambil menakupkan kedua tanganku di pipinya. Wajah mas Aziz yang tadi di tekuk, kini berbinar cerah .


"Beneran ya???",tanya mas Aziz antusias. Tiba-tiba mas Aziz menggedong ku setelah itu menuju kamar kami.


Dan.... setelah itu....hanya mereka berdua yang tahu. Eling....eling....podo puasa toh? Ojo traveling, masih awan. Ngko bengi ae πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ€­πŸ€­πŸ€­.


.


.


.


Jam tiga pagi aku terbangun. Ternyata mas Aziz sedang mendirikan solat sunah nya. Diaz hanya terbangun sekali tadi malam saat aku menuntaskan janjiku pada mas Aziz.


Aku berjalan menuju dapur kami. Ku hangat kan masakan teh neng kemaren sore. Meskipun aku tak puasa, aku harus menemani mas suami bukan!?

__ADS_1


Saat sedang merapikan meja makan, lagi-lagi mas Aziz memelukku dari belakang. Aneh! Kenapa sejak dia pulang kerja kemarin, sikapnya berubah jadi manja begini?


"Sahur dulu mas?", titahku.


"Iya!", dia mengurai pelukannya dari ku. Ku lihat ia tak begitu semangat memakan nya.


"Kenapa mas? Nggak enak? Itu masakan teh neng lho?", kataku.


"Enak Dek. Tapi seenak apa pun masakan orang lain, masakan istriku tetap lebih enak. Dan....mas pasti akan sangat merindukan nya!", katanya lirih.


"Maaf ya mas, insya Allah besok aku bisa masak lagi buat kamu!", kuusap lengannya. Mas Aziz hanya tersenyum tipis.


Kamu kenapa sih mas? Batin ku.


Usai makan sahur, kami duduk bersama di depan televisi. Mas Aziz merengkuh ku dalam pelukannya. Iya, badanku memang kecil jika do sandingkan dengan suamiku. Tapi....biar kecil,selama ini aku kuat mengimbangi nya lho....🀭.


"Sayang, kamu janji ya sama mas. Apa pun yang terjadi, akan selalu sayang dan cinta sama mas."


Mas Aziz menciumi punggung tanganku.


"Iya lah mas!", jawabku singkat.


"Kalau terkait sesuatu padaku, dan itu membuat menangis, percayalah....itu yang terakhir. Mas tidak ingin liat kamu sedih lagi, menangis apalagi menyakiti mu!"


Aku melepas pelukannya.


"Kamu ngomong apa sih mas?", ku tatap wajah mas Aziz. Tapi dia hanya tersenyum tipis. Lagi, dia tersenyum, tapi senyuman nya.....


"Nggak apa-apa sayang, mas kan tidak bisa menjaga mu dua puluh empat jam."


"Tapi kenapa harus bicara seperti itu? Aku nggak suka!", kataku ketus.


"Maaf.....!", mas Aziz kembali memelukku erat. Entah, aku pun seolah tak ingin ia melepaskan pelukannya dari tubuhku.


*******


Tengkyu yang udah mau baca. Seperti yang mamak bilang kemarin, akan ada tokoh yang mamak bikin END di sini. Entah di lemparkan ke planet lain atau di matikan.


So.... pantengin terus tulisan receh mamak ya?


HaturunuhunπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Yok....yang mau mudik bareng mamak ke Sukabumi 🀭🀭🀭 cuss lah πŸ˜†

__ADS_1


__ADS_2