
"Hai,Fai!", sapa Aziz.
"Ya,Ziz! Sorry ganggu !"
"Nggak, lagian itu Diaz emang waktunya minum asi. Paling sebentar lagi juga tidur."
"Ooh...", tumben ramah nih orang, batin Fai.
"Dian bilang, kamu ada perlu soal pernikahan Imah dan Dadan?"
"Eh...iya. Tadi Dadan minta tolong sama aku, dia bilang gimana kalau pernikahannya di laksanakan dua atau tiga Minggu lagi? Dadan sedang ke Bogor, bertemu keluarga besarnya."
"Ya...aku sih nurut aja! Mau dilaksanakan dimana? Di sini? Di gedung atau dimana? terserah kalian saja!"
"Dadan bilang sih, kalau Dadan dan Imah mau pernikahan yang sederhana saja. Cukup ijab kabul dan kehadiran kerabat dekat. Mungkin...sewa gedung serbaguna wilayah RW sini mungkin?"
"Kalau emang udah ada kesepakatan begitu ya, aku mah ikut aja!",kata Aziz pasrah.
"Iya, mereka berdua yang menginginkannya dan mau menjalani nya!"
"Tapi, bener Imah sudah setuju? Terus terang, Imah nggak pernah cerita apa-apa!"
"Dari cerita Dadan sih begitu Ziz!"
"Oke, coba nanti aku ngobrol sama Imah",sahut Aziz. Dan di waktu yang bersamaan, aku keluar dari kamar setelah menidurkan Diaz.
"Dek...!", panggil mas Aziz. Aku yang tadinya ingin keluar, jadi berbelok mengahampiri mas Aziz.
"Iya mas, kenapa?"
"Diaz udah tidur?"
"Udah, kenapa?"
"Bisa minta tolong?"
"Tolong? Tolong apa ya mas?"
"Buatin minum buat kita! Kamu mau kopi atau yang lain Fai?", Aziz menawari Fai.
Ini orang kenapa ya? Tumben, gumamku yang pasti tidak terdengar oleh mereka.
"Hah? Apa aja!", Fai pun seperti nya terkejut dengan perubahan sikap mas Aziz.
"Ya udah dek, bikinin es jeruk aja deh. Kayanya seger cuaca begini!"
"Iya mas!", jawabku patuh.
Aku pun membuat dua gelas es jeruk yang segar. Pikiran ku masih heran dengan perubahan-perubahan sikap mas Aziz. Biasanya, dia bakal marah atau minimal uring-uringan kalau berhadapan dengan Fai. Tapi, tidak untuk kali ini. Dia terlihat tenang, ramah dan...sikapnya manis sekali.
Setelah siap, kuantarkan minuman itu di atas meja.
"Silahkan mas...mas...Fai!"
"Makasih sayang!", ucap mas Aziz.
"Mama Di!", kata Fai ragu.
__ADS_1
Aku ingin beranjak meninggalkan mereka berdua.
"Kemana dek?", tanya mas Aziz sambil meraih tanganku.
"Mmmau ke depan mas, nemenin Imah!"
"Sini aja, kita ngobrol bareng!"
Hah? Yang bener aja sih mas? Aku hanya mampu membatin setelah mas Aziz benar-benar telah mendudukan ku disebelah nya.
Hadeeeh! Aku harus duduk di antara lelaki masa depan ku dan lelaki masa laluku. Mas Aziz ku kenapa sih?
"Aku... ngapain ikut duduk disini mas?"
"Nemenin mas lah!"
"Bbbuatt apa? Kalian kan sama-sama cowok, nggak usah ditemeni juga nggak apa-apa toh?"
Mas Aziz tersenyum sumringah. Berbeda dengan Fai yang terlihat aneh menatap Aziz. Aku rasa, Fai sepemikiran dengan ku melihat tingkah mas Aziz.
"Oh iya Fai, apa kamu benar-benar masih menyimpan rasa buat istriku?", Aziz to the poin dihadapan Fai.
Ayolah, jangan bertengkar lagi. Aku pikir mas Aziz sudah lempeng. Nggka tahunya, masih sama aja!
"Katakan Fai!", kata mas Aziz pelan.
"Iya , Ziz! Terus terang aku belum bisa melupakan Diandra!"
Mas Aziz menarik nafas panjang, tak lupa ku lingkarkan tanganku di lengannya. Aku hanya antisipasi dengan keadaan yang tidak terduga.
"Iya , aku tahu! Toh, aku tidak terobsesi memiliki Dian kan? Aku sadar batasanku!"
"Alhamdulillah, kalau kamu ngerti Fai!"
"Tapi, kenapa kamu bisa... mengkhianati Dian?", Fai bertanya ragu-ragu.
"Aku nggak pernah mengkhianati istriku, kesalahan ku memang sangat besar. Tapi, Dian tahu. Aku tak bermaksud menyakiti nya!"
"Benarkah? lalu wanita yang bernama Lili itu?"
"Dia menjebak ku Fai, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan nya!"
"Kenapa dia masih terus mengejar mu?"
"Ya...aku nggak tahu. Yang jelas, aku hanya mau istri ku."
"Kamu udah nggak cemburu lagi padaku Ziz?"
"Cemburu? Tentu saja aku cemburu. Suami mana yang rela istrinya di cintai laki-laki lain?"
"Kenapa sikap mu berubah? Perasaan, kemarin-kemarin kamu masih ketus padaku?"
Mas Aziz meraih tanganku di genggamanya.
"Iya, aku yang lebay!", jawab Aziz.
Akhirnya kamu mengakui kelebayanmu mas!
__ADS_1
"Harusnya, aku nggak perlu meragukan istriku. Apalagi, tentang perasaan nya ke kamu Fai. Harusnya aku bersyukur, Dian lah pasangan ku.
Dian mau memaafkan ku, membuka lembaran baru dalam kehidupan rumah tangga kami yang saat itu hampir saja runtuh! Tapi, karena cinta nya padaku, aku sadar. Apa pantas aku meragukan kesetiaan nya padaku meskipun...ada kamu, masa lalunya?"
Mas Aziz, kamu salah minum obat apa ya? Atau jangan-jangan kepalamu kejedot ya? Kok omonganmu kaya orang bener aja sih mas?
"Iya Ziz, kamu beruntung. Aku hanya menjaga jodoh mu selama tiga tahun!", kata Fai sambil tersenyum.
"Ya... terimakasih!",jawab mas Aziz singkat.
Dua sahabat ini seperti kembali ke jaman penjajahan dulu, apakah mereka akan bersahabat lagi? Yang benar saja? Masa aku harus sering bertemu dengannya? Meskipun aku tak punya perasaan apa pun pada mas Fai, tetap saja aku canggung kalau dekat dengannya. Tiga tahun pacaran dengannya, membuatku hafal betul seperti apa Mas Fa'i.
"Kalian...kembali berteman?", tanyaku tahu.
Mas Aziz dan mas Fai saling berpandangan dan saling melempar senyum.
"Tidak ada larangan buat berteman bukan dek?", tanya mas Aziz padaku.
Aku tersenyum cengok!
"Ya...ya... silahkan!"
Benarkah mereka kembali bersahabat? Ya Allah ya Rabb....sabarkan hatiku!
*****
Di kios....
"Heh! Nggak adil banget sih, Fai boleh nemunin Aziz, masa gue nggak?", kata lili ketus.
"Ya mana saya tahu!"
"Pokoknya, aku mau nunggu Aziz disini sampai dia keluar!"
"Terserah lah!", sahut Imah santai.
Mata dan tangan nya lebih tertarik menari-nari diatas keyboard ponsel nya dari pada menanggapi Lili.
[Iya, mas Fai lagi ngobrol sama mas Aziz ,A!]
[ Oh...semoga mereka nggak gontok-gontokan ya Mah!]
[Insyaallah nggak A, kan ada mbak Di, pawangnya (Emosi tertawa guling-guling)]
"[ Kamu tu ya! Jangan suka meledek mereka ya]
[ Iya A. Btw masih lama di Bogor?]
[Nggak, nanti sore pulang. Kenapa? kangen ya?]
[ iya Imah kangen A!]
[Nanti malam AA ke situ!]
[Siap A!]
Obrolan mereka pun terhenti, sedangkan Lili masih asyik duduk menunggu Aziz.
__ADS_1