
"Hei, gimana kalo kita nginep aja di sini!", kata Fai.
"Berasa kaya yang punya kawasan Lo!", Aziz mencebikkan bibirnya.
"Yey...ngapa bos? Mumpung momennya pas gitu!", sahut Fai lagi. Wajah Aziz melengos.
"Kanjeng ratu, boleh kan kami nginep di sini?", tanya Fai yang wajahnya mengarah padaku.
"Apa? Kanjeng ratu? Emang aku nyi Roro Jonggrang! Kemaren ibu negara, besok apa lagi???", jawabku kesal. Tapi justru mereka semua mentertawakan ku.
"Ya ya...nyonya Aziz Abisatya Nugroho, boleh kan kami semua nginep di sini?", tanya Fai lagi lebih sopan karena Mika baru saja mencubit pinggang nya .
"Tapi ...kalian kan tahu cuma ada dua kamar di sini?!", jawabku.
"Ya udah, kaum Adam tidur di sini aja!", kata Fai.
"Yakin Abi bisa tidur kalo ngga sama Uma?", tanya Mika.
Sontak semua menahan tawanya, termasuk Mika sendiri. Fai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ngga tahu Uma....", jawab nya lirih.
Akhirnya tawa kami pecah, dan akhirnya Diaz yang tadi tertidur pulas terbangun.
"Ssssttt....sayangnya bunda kaget ya?? Maaf ya Nak!", kataku menepuk bokong Diaz.
"Lo sih Fa! Ya udah kalo mau, Lo tidur di sini bareng kita. Biar kaum hawa di kamar", Damar menengahi.
"Ya, gue coba deh ntar!", sahut Fai.
Akhirnya jam sepuluh malam, aku dan yang lain bersiap tidur.
Imah tidur dengan Mika di kamar mama, sedang Hayu tidur di kamar ku bersama Diaz juga.
Di dalam kamar, Hayu seolah ingin curhat padaku. Tapi aku tak berani bertanya sampai ia membuka suara.
"Di....!", panggil Hayu lirih yang tidur di kasur lantai bersama aku dan Diaz. Dia bilang gak enak jika tidur di ranjang ku dan mas Aziz.
"Apa kamu ada masalah mba?", tanyaku.
Hayu terdiam beberapa saat, aku akui Hayu memang cantik. Wajah bleseteran nya memang sangat menarik siapa pun untuk menatapnya.
"Aku bahagia mendengar sahabat-sahabat ku hamil."
"Iya lah mba, aku pun sama!"
Ku dengar Hayu menghela nafas. Lalu ia mengusap perutnya.
"Aku pun hamil Di!", kata Hayu lirih. Aku yang tadinya berbaring langsung terbangun.
"Apa? benerannn mbak? Alhamdulillah ya Allah!", kataku girang tapi tidak dengan Hayu.
__ADS_1
Akhirnya aku bertanya lagi. Dan hayu ikut duduk bersandar dinding seperti ku.
"Lalu kenapa mba? Bukannya itu berita bahagia? Mas Damar tahu kan?", tanyaku.
Hayu menggeleng.
"Aku senang Di, bisa hamil lagi. Padahal selama sepuluh tahun aku bersama almarhum mas Royan , usaha apa pun sudah kami lakukan tapi tak membuahkan hasil. Padahal hasil pemeriksaan, kami baik-baik saja."
Aku menepuk bahu Hayu, lalu kusunggingkan senyum.
"Itu artinya mas Damar tokcer mba. Allah sudah punya rencana tersendiri untuk mu. Makanya, dia di hadirkan dalam rahim mu setelah kamu menikah dengan mas Damar bukan dengan almarhum mas Royan!"
Hayu tersenyum tipis.
"Aku merasa seperti menjadi pengkhianat Di."
"Pengkhianat apa sih mba?"
"Seolah-olah aku ini... melupakan kebersamaan ku dengan mas Royan yang sudah sepuluh tahun bersama ku, mengubah takdir ku."
"Tidak begitu mbak. Mungkin ini memang sudah jadi takdir nya seperti itu. Terus, kenapa kamu ngga bilang kalo kamu lagi hamil ke mas Damar?"
Ku dengar ia menghela nafas lagi.
"Tadi, sebelum ke sini aku dan mas Damar ke rumah Papa dan Mama."
Aku belum menanggapi ucapan Hayu.
"Ya Allah....", desisku. Padahal dulu, prof Handoko, papa nya mas Damar adalah dosen favorit ku. Aku tak menyangka beliau mempunyai sisi kerasa kepala seperti ini.
"Alasnya apa mba? Apa karena kamu sebelumnya sudah pernah menikah? Bukannya mereka sudah tahu kalau kalian pernah.....!"
"Salah satu nya itu Di....!"
"Memang apa salahnya menikah dengan janda? ", tanyaku. Tapi Hayu tak menjawabnya.
"Mbak, kenapa pemikiran mertuamu begitu kolot. Padahal mereka berdua orang berpendidikan semua lho?!", kata ku sedikit kesal.
"Mama memang tak merestui karena status ku sebelum nya Di. Tapi papa juga punya alasan lain?!"
"Apa soal... kedekatan nya dengan lili?", tanyaku. Aku mendengar ucapan om Stevan waktu itu.
"Ya ...itu pun salah satunya Di."
"Salah satu Mulu sih mbak, bener nya berapa?", aku mencoba mengurangi ketegangan Hayu. Dan benar saja, Hayu sedikit tersenyum.
"Papa Damar, berharap memiliki menantu kamu Di!", kata Hayu penuh penekan.
"Hah? Hahaha mana ada begitu mba. Ngawur! Kan prof Han tahu aku sudah menikah. Lagi pula, alasan itu tak masuk akal!"
"Bagimu mungkin tak masuk akal Di. Tapi tidak buat Papa", kata Hayu sendu.
__ADS_1
"Ya Allah mbak ,ini benar-benar salah!", kataku.
"Aku bukan perempuan yang baik seperti mu Di. Katanya Papa tahu masa-masa kuliah mu dulu. Seperti apa kamu bergaul, seperti apa kamu berteman dengan lawan jenis. Di bandingkan mendengar cerita kelam ku dan Mas Damar, tentu saja aku masih kalah jauh di bawahmu!"
"Astagfirullah mbak. istighfar! Mba, dengerin aku!", aku membenarkan posisi dudukku.
"Anggap aja ini sebuah ujian untuk pernikahan kalian. Hadapi dengan kepala dingin. Insya Allah semua ada jalan keluar kok. Dan soal ucapan Prof Han tentang aku, jangan terlalu di pikiran kan. Aku tak sesempurna yang beliau pikir. Sekarang fokus saja dengan bayi yang ada di rahimmu. Mas Damar harus tahu!"
"Tapi Di, kamu tahu status pernikahan kami?!", kata nya menatapku.
"Kenapa dengan status kalian? Kalian menikah sah kok, kenapa takut?"
"Kami belum melegalkan pernikahan kami Di "
"Ya udah, legalkan secepatnya!"
"Tapi kedua orang tua mas Damar kan ngga setuju Di."
"Ya Allah mba, biarkan saja mereka tak setuju. Yang penting kan tindakan kalian ngga salah. Siapa tahu nanti seiring berjalannya waktu setelah kalian menikah di KUA, mertuamu luluh. Apalagi mau punya cucu."
"Itu juga masalah nya Di."
"Masalah apa lagi mbak?", aku menjadi geregetan sendiri.
"Kalau nanti anak ku lahir perempuan, bagaimana pencatatan nya? Aku ngga mau nanti anakku di anggap lahir di luar nikah."
"Ya Allah mbak, kenapa pikiran mu sejauh itu sih????"
"Aku hanya memikirkan masa depannya nanti."
"Mbak, kalo anakmu dewasa nanti dia juga akan tahu lah. Kamu mikirnya kejauhan deh ah!"
Hayu terdiam.
"Jadi, aku harus bilang mas Damar soal kehamilan ku?", tanya padaku.
"Ya iya lah mbak. Masa bilang nya ke suamiku!", sahutku manyun. Tiba-tiba Hayu memelukku.
"Makasih... makasih Di, udah mau jadi sahabat dan saudara ku sekaligus! Makasih udah mau dengar curhatan ku."
"Iya mba. Sama-sama! Lain kali kalo ada apa-apa cerita ya. Jangan di pendam sendiri. Apa lagi kamu lagi hamil mbak, ngga boleh stres!"
"Iya Di."
"Ya udah, udah tengah malem. Tidur yuk!"
Hayu mengangguk lalu ikut merebahkan diri seperti ku.
******
Setelah ini insya Allah menuju Tamat ya.
__ADS_1
Makasih sebelumnya ya teman-teman yang sudah berkenan baca tulisan receh mamak ðŸ¤