Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 159


__ADS_3

Berbagai pose sudah kami lakukan, dari pose formal sampe pose gokil. Dan sekarang, pose ini amat sangat menjadi beban bagiku.


Mas Aziz dan mas Fai mengapitku di antara keduanya.


"Pose apaan begini? Nggak ah, awas....!!!", bentakku.


"Sssttt....Di, kapan lagi bisa foto begini!", kata Fai.


"Foto sih foto, tapi tuh tangan di kondisikan dong! Lo gak menghargai keberadaan gue silahkan, tapi noh....bini Lo!", kata Aziz sewot.


"Mika sayang...nggak apa-apa ya??? Foto doang kok!", kata Fai kepada Mika dengan nada memohon.


Dih...sayang? Batinku.


"Oke mas!", kata Mika mengacungkan jempol nya.


Aku membelalakkan mataku! Pasangan macam apa begitu?


"Udah Ziz, nggak usah sewot. Bini gue aja ikhlas, masa Lo kagak!"


"Yang ikhlas kan bini Lo, bukan gue!"


Akhirnya, mau tidak mau pose bertiga ini pun kejepret oleh sang potograper. Bukan dengan adegan formal, tapi dengan adegan aku mendorong si mempelai pria atau bagian yang aku menolak di rangkul mas Fai. Entahlah, nanti sang potograper mengabadikan momen yang mana. Pokoknya mah pose-posenya nggak ada yang beres.


Wajah Fai sudah tak semuram tadi. Mungkin dia sudah nyaman dengan kondisi saat ini. Atau....mungkin dia terinspirasi melihat ku yang tampak biasa saja di depan nya? Biasa saja????Hahahah GR so hard!


"Mas, Mika juga ijin dong foto sama kak Damar!", pinta Mika.


"What???", kataku, Aziz dan damar.


"Boleh dong mika sayang!",ujar Fai.


Aku, Aziz dan damar hanya menggeleng pelan.


"Lihatlah Dam, betapa cocoknya mereka!",bisik Aziz pada damar.


"Iya, udah jodohnya begitu", Damar menimpali. Iya, mereka memang pasangan yah cocok, batinku.


"Ayok kak damar, kita foto bertiga!", teriak Mika.


Fai mendekat Mika ,akan mengambil gaya berfoto.


"Mas, kamu mau ngapain?", tanya Mika.


"Lho, katanya mau foto bertiga?", tanya Fai.


"Iya, foto bertiga mas. Tapi bukan sama kamu!", Mika menowel pipi sang suami. Fai pun terbengong-bengong.


"Kalo bukan sama aku, terus sama siapa Mika?", tanya Fai heran.


"Mika, mbak Hayu sama Kak damar!", sahut Mika santai.


"Owh...bilang dari tadi kek!", Fai pun santai menimpali ucapan istrinya. Sedangkan Hayu justru menggeleng kan kepalanya.


"Jangan Mika!", kata Hayu. Damar malah cengar-cengir.


"Ayolah mbak! Kali aja setelah ini kalian yang berada di posisi seperti aku dan mas Fai. Bener nggak gaes???", Mika meminta kami semuanya untuk setuju dengan apa yang baru saja ia katakan. Dan....kami pun kompak mengiyakan.


Dengan langkah gontai, Hayu pun menuruti kemauan Mika. Posisi berfoto nya memang tak sekocak Aziz, Dian dan Fai. Hayu terlihat kaku, meskipun posisi Mika ada di antara keduanya, nyatanya.


Usai berfoto ria, saatnya mereka semua menikmati makanan yang sudah dia sediakan. Aku mengambil Diaz dari mas Aziz.


"Kamu makan aja dulu mas!",pintaku.

__ADS_1


"Kita makan sama-sama aja ya dek?"


"Nggak usah mas. kamu aja dulu!"


"Ya udah, kalau kamu nggak makan mas juga nggak mau lah!"


"Oke...oke...!"


"Sepiring berdua ya Dek?"


"Boleh deh!", sahutku singkat. Diaz sedang menyusu saat terdengar keributan di luar sana.


"Maaf tuan, nona ini memaksa masuk padahal saya sudah memintanya untuk menunggu!", kata seorang sekuriti.


"Iya tidak apa pak, terimakasih", kata Umar.


Mata Lili mengarah ke segala penjuru.


"Maaf nona , anda mencari siapa? dan ada kepentingan apa anda kemari. Terus terang saya tidak mengenali anda?", tanya Umar sopan


"Saya hanya ingin menyusul suami saya kemari. Salah?", tanya lili sambil meletakkan kaca mata hitam nya.


"Suami? Siapa?," tanya Umar lagi.


"Tuan Winata. Stevanus Winata."


Apa? Yang benar saja Stevan memperistri gadis seusia putri nya? Batin Umar.


"Katakan tuan, di mana suamiku?",tanya Lili.


Stevan yang baru saja keluar dari toilet pin terkejut mendapati sang istri sudah ada di rumah ini. Mana pakaian nya tidak sesuai dengan tema pernikahan ini. Dress hitam bertali mungil, ia pakai untuk membalut tubuh tubuhnya. Dengan cepat ia melepaskan jas nya, lalu ia pakaikan pada lili.


"Apa yang kamu lakukan disini Lili?", tanya Stevan lirih.


"Daddy!", lili langsung memeluk sang suami.


"Apa aku salah kalau ingin ikut bersama suamiku?", tanya Lili manja. Mereka berdua menjadi tontonan diantara para tamu.


"Ya udah lah bang, biarkan saja istri mu ikut. Tidak ada larangan membawa istri bukan?", tanya Umar.


Mau tidak mau, Stevan pun menggandeng sang istri untuk bergabung dengan yang lain di dalam.


"Dad, siapa yang menikah sih!", tanya lili.


"Kamu lihat saja sendiri. Percuma ku berikut tahu ,kamu nggak bakal kenal juga!", kata Stevan ketus.


"Makanya, Daddy kenalin aku ke dia dong.....!", ucapan Lili tiba-tiba menggantung.


"Stop Dad!", Lili dan Stevan berhenti melangkah.


"Kenapa?"


"Ustad kw yang nikah Dad? Mmmmaksuduuku...Fai dad?", tanya Lili.


"Iya. Fai menikah dengan Mika, putri nya Umar."


Lili menatap tak percaya. Fai menikah? Bukan apa-apa, tapi...kok bisa begitu cepat Fai memutuskan untuk menikah? Padahal lili tahu, saat itu jelas-jelaa Fai mengatakan bahwa dia masih mencintai Dian.


"Apakah Diandra juga ada di sini Dad?", tanya Lili lagi.


"Iya. Dia kemari bersama Stevia juga!"


"Via ikut ke sini juga Dad???"

__ADS_1


"Iya. Via bagian dari mereka. Mereka bersahabat baik."


"Aku nggak percaya Dad!", kata Lili melepaskan gandengan tangan suaminya.


"Lili... kamu mau apa?", tanya Stevan. Lili menjauh dari nya menuju pengantin yang sedang makan bersama dengan teman-teman nya.


"Hai! Ustadz Kw!" sapa Lili. Sontak, Fai mengalihkan pandangannya ke arah yang baru saja memanggil nya.


Tidak hanya Fai, Aziz , Diandra dan yang lain pun melihat ke arah suara tadi.


"Lili?", gumam Fai.


"Hai! Selamat menempuh hidup baru ya ustadz Kw!", kata lili santai.


"Bagaimana kamu bisa ke sini ?", tanya Aziz.


"Owh...sayang....!!! Tentu saja aku ikut dengan suami ku lah!", jawab Lili dengan nada manjanya.


Suami?


Aku memilih diam, dibandingkan dengan menanggapi ocehan Lili. Pun sama halnya dengan Hayu, dia masih fokus menyuapi Faiz. Sedangkan Imah, hanya memandang kesal kepada ulat bulu itu.


Stevan menarik lili agar ia tidak membuat kekacauan di sini.


"Kita pulang!", ajak Stevan .


"Tunggu Dad!"


"jangan buat masalah di sini Lili!"


Jadi, mereka sudah menikah? batinku.


"Sebentar Dad! Aku hanya ingin mengingatkan kepada tiga perempuan itu." Lili menunjuk ku, Mika dan Imah.


"Apa lagi Lili?"


"Kalian dengar ya! Kalian harus berhati-hati dengan perempuan licik itu!" jari lili mengarah ke Hayu. Hayu pun mendongakan wajahnya.


"Kalian tahu, seperti apa aku saat mengejar Aziz dulu? Aku berterus-terang di hadapan kalian semua bukan?"


Kami tak menjawab pertanyaan Lili.


"Tapi hati-hati lah dengan perempuan yang sok alim dan sudah merasa hijrah itu! Dia lemah lembut, tapi menusuk dari belakang!", ucap lili lantang.


"Lili!", bentak Stevan.


"Kenapa Dad? kamu mau membela anak mu yang sama sekali tak menganggap mu Hah??!"


"Jaga bicaramu! Kita pulang!", Stevan menarik tangan sang istri.


"Terutama kamu Dian! Kamu yang paling berkesempatan untuk dia hancurkan!"


"Berhenti menuduh mbak Hayu seperti itu Mbak Lili!", aku bangkit dari kursi ku.


"Kenapa Di? Kamu belum mengenal dia sepenuhnya!"


"Setidaknya dia tidak melakukan hal menjijikkan seperti yang kamu lakukan mbak!", kataku pelan namun penuh penekanan.


Mas Aziz meraih bahuku. Aziz takut jika nanti masalah rumah tangganya melebar ke mana-mana.


"Heh! Lihat saja nanti! Kamu pasti akan menyesal Dian!", ancam Lili.


Stevan dengan kasar mengangkat tubuh istrinya agar secepatnya keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Mbak Hayu, maafin ucapan Lili!", kata Aziz.


Hayu hanya mengangguk. Damar yang dari tadi hanya bisa menatap iba pada sang pujaan hati, tak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2