Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Meminta persetujuan Diandra


__ADS_3

"Dek, mas temenin imah beli tiket dulu ya?", pamit mas Aziz padaku.


"Iya mas. Kalian hati-hati ya. Ini kan musim ujan, pakai mobil aja mas. Takut pas dijalan kehujanan."


"Iya Dek. Ya udah, mas jalan dulu ya!", mas Aziz mengecup keningku.


"Iya."


Diaz sedang tidur siang. Sebentar lagi Diaz memasuki masa pemberian MPASI. Aku sudah mempersiapkan dari jauh-jauh hari. Makanan pertama yang akan ku berikan pada Diaz nanti. Ah, sudah nggak sabar rasanya pengen nyiapin bayi kecil ku.


Mumpung Diaz masih bobok cakep, lebih baik aku menyetrika pakaian ku. Jadi, nanti pas Diaz bangun aku bisa menemani mbak Hayu di kios.


Aku mengangkat jemuran di belakang. Dan satu per pakaian kami yang memang tidak terlalu banyak sudah selesai di setrika. Sekarang....giliran pakaian mas Fai.


Ah...ayolah Dian. Ikhlas dong! Akhirnya aku kembali melanjutkan pekerjaan yang sebenarnya tidak aku sukai ini.


Setelah semua kurasa sudah selesai, mataku kembali tertuju pada sapu tangan itu.


Apa lebih baik aku membuangnya saja ya? Jadul banget sih masih pake beginian. Kaya jaman emak babeh aja masih pake sapu tangan alay kaya gini. Aku jadi tersenyum sendiri.


Tapi, kalau aku buang...nanti mas Fai nyariin lagi. Ya udah deh, aku masuk kan kembali ke dalam ransel mas Fai.


Setelah semua selesai, aku mendengar Diaz menangis. Buru-buru aku menghampiri bayi kecil ku.


"Sayangnya bunda bangun ya....maaf sayang bunda di belakang. Cup...cup...sekarang kan bunda sama Diaz...!", aku menggendongnya dan menghujani dengan ciuman.


Tangis Diaz pun reda. Sekarang ia sedang menyusu.


"Haus banget ya Nak?", tanyaku. Meskipun Diaz belum bisa menjawabnya, tapi hisapan yang kuat menandakan ia benar-benar haus atau lapar. Entah lah!


Setelah puas, Diaz melepaskan dengan sendirinya. Tertawa riang dengan lesung Pipit di pipi sebelah kirinya saja. Aduh, nggemesin banget sih kamu sayang.


"Kita ke depan ya nak!"


Tangan dan kaki Diaz bergerak aktif. Lusa adalah jadwal Diaz imunisasi. Semoga mas Aziz sempat mengantarkan kami.


"Tante Hayu....!", sapa ku saat masuk ke dalam kios.


"Eh, anak ganteng bangun bobo ya?", tanya hayu sambil menowel pipi Diaz. Tangan Diaz bergerak-gerak minta di gendong Hayu.


"Mau ikut Tante?", tawar hayu pada Diaz. Diaz semakin tertawa lebar dan gerakan nya semakin cepat.


"Iya Tante....Diaz mau ikut....!", aku yang menjawabnya.


Diaz pun langsung berpindah tangan. Seperti nya Diaz merasa nyaman di gendongan Hayu.


"Lho mbak, Faiz mana?", tanyaku.


"Itu mbak, tadi ikut Imah sama mas Aziz beli tiket. Katanya pengen naik mobil heheh. Maaf ya mbak!", kata Hayu.


"Ya nggak apa lah mbak. Kenapa harus minta maaf sih mbak Hayu."


"Oh iya mbak, boleh saya ajak Dias ke sana? Nggak tahu kenapa saya lagi pengen rujak nih!", kata Hayu.


"Aku jadi curiga lho mbak Hayu hahahaha!", candaku.


"Iya mbak. Kalau lagi dateng tamu bulanan tuh pengen yang seger-seger gitu deh mbak!"


"Ya udah sana, tapi hati-hati ya!"


"Siap mbak. Cuma di situ kok. Paling beda tiga rumah dari sini."


"Di warung nya Mak Nur kan?"


"Iya mbak. Mbak Dian mau nitip?"


"Em...boleh deh, kalau aku nitip karedok aja deh mbak."


Mbak hayu pun keluar membawa Diaz. Warung Mak Nur memang tak jauh. Bahkan saat aku keluar kios, warungnya pun terlihat.


Aku berjongkok mengambil pulpen yang jatuh.


"Assalamualaikum Di!", sapa seseorang. Siapa lagi kalau bukan si jomblo akut! Aku hafal betul seperti apa suaranya.


"Walaikumsalam."


Aku pun duduk lagi di bangku.


"Sendiri aja? Diaz mana?", tanya Fai basa-basi. Dia pasti baru pulang mengajar. Tapi aku tak mendengar suara motor nya .


"Aku pakai taksi Di. Tanganku belum bisa buat mengendarai motor."


"Aku nggak tanya kok mas!"


"Tapi aku tahu, kami sedang memikirkan nya."


Aku memutar bola mataku malas.

__ADS_1


"Ada perlu apa mas? Mas Aziz lagi keluar."


"Oh...kemana?"


"Beli tiket bis buat Imah, mau mudik."


"Imah mau mudik?"


"Iya. Mau siapin berkas buat pernikahannya."


"Owh...!"


"Oh iya, tuperware ku mana?", tanyaku.


"Oh iya."


Fai membuka tasnya.


"Makasih ya...masakan kamu emang enak!", puji Fai sambil mengembalikan kotak makan ku.


"Kok berat?", tanyaku.


"Iya. Tadi aku beli kue gemblong. Kamu masih suka kan?", tanya Fai.


"Dulu iya, sekarang nggak."


"Bohong amat sih!", ledekknya.


"Ya udah, terima kasih!"


"Sama-sama, oh iya. Aku mau ambil ranselku."


"Iya, nanti aku ambil dulu sebentar!"


Aku pun meninggalkan kios untuk mengambil ransel mas Fai.


"Ini mas!"


"Iya, makasih Di."


Fai pun membuka ranselnya bermaksud untuk memasukan tas kerjanya agar lebih ringkas membawanya.


Tapi matanya tertuju pada pakaiannya yang sudah rapi dan wangi. Dan tentu saja, sapu tangan pemberian Diandra.


"Di, ini...sudah di cuci?"


Fai tersenyum kecil.


"Aziz nyuci? Ya nggak mungkin lah Dian...!"


"Iya ,bukan mas Aziz. tapi mesin yang udah mencucinya."


Ribet amat sih nih orang, timbang cucian doang. Makasih kek apa kek.


"Makasih ya!"


"Hem!"


"Sudah rapi begini, pasti tanganmu yang mengerjakannya."


"Iya."


"Kamu...lihat sapu tangan itu lagi?"


"Ya. Heran aku mas, barang usang kaya gitu masih kamu simpan? Niatnya tadi mau ku buang, tapi...takut kamu nyariin."


"Siapa bilang ini barang usang. Ini benda berharga dalam hidupku."


"Lebay bin alay!", kataku.


"Aku tidak bisa memiliki si pembuatnya, tapi paling tidak aku masih menyimpan barang buatannya."


"Cukup mas, nggak usah main drama. Aku capek!"


"Drama apa? Aku memang masih memiliki rasa yang sama terhadap mu Dian."


"Astagfirullah mas...mas...! Aku sudah sering bilang, jangan pernah ngomong kaya begitu lagi ke aku."


"Tapi aku kan nggak bisa bohongi perasaan ku sendiri Di."


"Tidak perlu bohong mas. Kamu tinggal membuka hatimu untuk orang lain. Mika! Iya, dokter Mika. Dia cocok bersama kamu mas!"


"Kamu setuju kalau aku dengan mika?"


"Kenapa tidak? Sah-sah saja kan, kalian kan sama-sama masih sendiri."


"Kamu merasa biasa saja kalau aku dengan Mika?"

__ADS_1


"Ya...ya...biasa aja lah. Memang kenapa? Aku tidak punya hak untuk melarang kan? Justru aku akan mendukung mu mas. Mika gadis yang cantik, baik, dokter pula."


"Tapi, belum ada cinta di antara kami?"


"Mika gadis yang menarik mas, aku rasa...kamu nggak butuh waktu lama untuk bisa jatuh cinta sama Mika."


"Baiklah. Kalau kami setuju, aku akan segera melamar Mika!", seru Fai.


"Lho, kok minta persetujuan dari aku? Mas, kalau mau mah minta restu dulu sama orang tuamu orang tua Mika. Kenapa malah ke aku?"


"Iya karena sampe sekarang aku masih menaruh hati padamu."


"Jangan pernah ngomong kaya gitu lagi lho mas. Aku udah berdamai dengan keadaan dan masa lalu kita. Aku mau, kita berteman. Itu saja. Jangan pernah bahas apa pun tentang kenangan dan masa lalu kita."


"Insyaallah. Tapi aku ngga janji. Aku akan melamar Mika secepatnya."


"Alhamdulillah."


"Kamu nggak ada sedih-sedihnya sih Dian?"


"Lho kok sedih, aku malah seneng. Jadi, gelar jomblo akut akan segera berganti."


"Kamu tahu, Mika itu agresif sekali."


Aku tertarik saat mas Fai mulai menceritakan tentang Mika.


"Agresif gimana?"


"Iya, dia memintaku untuk segera melamarnya. Dia pengen pacaran setelah menikah katanya heheheh!"


"Oh ya...bagus dong. Itu artinya, dia juga sebentar lagi bisa ngasih hatinya ke kamu mas!"


"Tapi nggak seperti itu kenyataan nya Di."


"Terus?"


"Kesepakatan kami diawal. Kami senasib. Aku masih menyimpan rasa buat kamu, yang jelas-jelas sudah menjadi istri dari sahabat ku. Sedangkan Mika...dia sudah putus asa mengejar damar."


Hayu mendengar percakapan antara aku dan Fai di dekat tembok.


"Mika...suka dokter damar?"


"Iya. Tapi ya ...begitu lah. Damar kan cuek. Mika pikir, pasti ada seseorang yang sudah menempati ruang di hati damar. Makanya, tidak ada seorang perempuan pun yang bisa menaklukkan dokter dingin itu."


"Kaya sinetron ya mas? Eh, bukan....kaya cerita di dalam novel yang sering aku baca mas!", kataku.


"Aku sedang serius Di, apa kamu ketularan Imah?"


"Oke. Aku dengerin kok."


"Udah nggak mood ah ceritanya."


"Dih, ngambek. Bodo ah, mau cerita apa nggak!"


"Eh, iya...iya...!"


Aduh, mbak hayu lama amat ya? Batinku.


"Aku sama mika akan sama-sama berjuang, agar kami bisa saling jatuh... cinta. Setelah menikah. Iya, setelah menikah!"


"Bagus dong mas!", kataku semangat.


'Kamu benar-benar sudah nggak punya rasa buat aku Dian....', batin Fai.


"Assalamualaikum!", hayu datang.


"Walaikumsalam."


"Maaf mbak, ngantri."


"Iya, tapi Diaz ngga rewel kan?"


"Nggak kok mbak!"


"Ya udah, mbak hayu makan aja dulu. Sini Diaz nya!"


"Iya mbak."


Lalu hayu menaruh bungkusan di depan ku.


"Itu apa Di?", tanya mas Fai.


"Karedok."


"Kebetulan, aku laper. Buat aku aja ya!", tanpa menunggu persetujuan ku, karedok ku di embat mas Fai.


"Ya Allah mas Fai.....!!!!!", teriakku. Tapi dia tetap saja memakan makanan ku.

__ADS_1


__ADS_2