Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 180


__ADS_3

"Mbak Di, kita masuk aja lah. Kalau disini terus kita nggak tahu informasi apapun mbak!", seru Dadan.


"Iya sih kang, tapi...kan di dalam ada mas Aziz sama Fai kang."


"Udah terlanjur di sini mbak, mau nunggu apa? Biarin atuh mas Aziz tau."


Aku terdiam sebentar.


"Kang, tunggu bentar lagi. Aku mau tahu, ngapain mas Rasyid disitu!"


Dadan menghela nafasnya.


"Ya udah atuh!", kata Dadan pasrah. Menurut saja sama kakak ipar, meskipun usianya jauh lebih muda darinya.


Sementara di dalam butik...


"Sebenarnya tujuan anda apa ya mbak?", tanya Fai pada Sonia.


Sonia tersenyum girang di tanya oleh orang setampan Fai.


"Aku cuma mau dekat aja sih sama Aziz ganteng. Serius! Pertama kali liat dia aja uuuhh....pengen ku simpan di kamar!", kata Sonia hiperbol.


Fai tersenyum kecil. Malang bener nasib Lo jadi orang ganteng Ziz. Dikejar-kejar sama ulet bulu. Feby udah almarhum, Lili...udah jadi Mak tiri nya Stevi, nah...ini???? Telor ulet bulu baru mau menetas. Kasian amat yak....


"Kamu nggak kenal sama mbak ini?", tanya Fai kepada si Ob.


Jawaban nya sama, dia tetap menggeleng.


"Sumpah mas, saya nggak kena sama mbak ini."


"Lalu, siapa yang menyuruh mu?", tanya Aziz lagi.


Si ob menggeleng lagi.


"Masih nggak mau mengaku juga?"


Sonia tersenyum menang melihat si ob yang masih bungkam.


"Baiklah, kalau nggak mau mengakui nya. Siap-siap saja lah buat ngrasain yang namanya....em...apa itu? Koma! Oh, iya koma."


Si ob menegang seketika. Mau melawan pun di rasa percuma. Selain kalah fisik, si ob juga sendirian.


"Kamu kirim rekaman itu ke pria misterius itu kan? Sekarang telpon dia!"


Si ob dan Sonia melotot seketika.


"Pria siapa mas?", tanya si ob.


"Siapa ya?", tanya Fai balik.


"Sudah lah, lebih baik aku pergi. Tujuanku ke sini kan buat ketemu Aziz ganteng. Malah disuguhi OB begini. Kecuali....kalo mas ganteng ini mau gantiin mas Aziz nggak apa-apa!", kata Sonia genit.


Na*is. Nauzubillahimindzalik. Batin Fai.


"Kamu mau keluar? Mau menemui pria itu?", tanya Fai. Sonia menatap mata Fai.


"Pria? Pria siapa?Aku ke sini sendiri!", jawab Sonia santai.


"Oh.... sendiri?", tanya Aziz tiba-tiba.


Sonia pun mengarahkan pandangan pada pria tampan yang sejak kemarin mengganggu otaknya.


"Tentu saja aku sendiri mas Aziz. Awalnya...aku ke sini cuma mau kerja sama dan sekedar bikin baju lah. Tapi ternyata...ada malaikat tampan di sini."


Cihhh.... cewe gila! batin Aziz.

__ADS_1


Udah ketahuan, masih aja ngeles.


Beruntung nya, mama memasang banyak cctv di luar butik. Jadi, alangkah mudahnya mendeteksi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti sekarang ini.


"Hubungi pria itu !", titah Aziz pada si ob.


Si ob hanya bisa menggeleng.


"Atau kamu yang mau menghubungi pria itu? Bukankah dia sudah tidak sabar menunggu berita apa dari mu saat ini? Dia sedang mondar-mandir di ujung sana!", kata Aziz.


Sonia sempat terkesiap sebentar.


"Kalian bicara apa sebenarnya? Apa begini cara kalian melayani pelanggan hah?", tanya Sonia. Dia pura-pura tidak tahu dengan masalah yang terjadi.


"Ah...iya...aku lupa Ziz. Mungkin dia perlu di beritahu soal rekaman video itu!", uajr Fai.


Sonia pura-pura bingung.


"Rekaman apa?", tanya nya lagi.


"Dia masih mengulur waktu Ziz! Coba, sampai mana dia bisa berkelit. Cctv sudah siap semua kan? Tinggal menunggu AKP Bambang dan pasukan nya dari Polsek kan?", gertak Fai.


Si ob mulai ketakutan. Dia menyadari, dia sudah berkhianat pada bos nya. Tapi dia tidak menyangka jika hal itu membawa nya ke masalah yang serumit ini.


"Saya...saya... tidak mau di penjara mas!", ujar Si ob takut-takut. Fai pun menepuk bahu si ob.


"Telpon dia sekarang! Katakan jika tugas mu dan Sonia ...sudah selesai!", kata Fai. Si ob menatap Fai cemas.


"Lakukan!", bentak Fai dengan suara yang menggelar! Semua yang ada di ruang itu terkejut mendengar kemarahan sahabat bos nya itu.


"Baik...mas!", ucap si ob. Sonia hanya menatap tak percaya jika si ob yang dari tadi bungkam, langsung luluh hanya dengan gertakan Fai.


Si ob menelpon Rasyid. Rasyid yang berada di luar area butik, ragu-ragu untuk mengangkat telpon dari si ob itu.


Dia membiarkan ponselnya berdering begitu saja. Si ob terlihat panik. Berbeda dengan Sonia, dia tersenyum sinis.


Tiba-tiba ada pesan masuk dari Rasyid di ponsel Sonia. Sonia yang tak siap, tiba-tiba melepaskan ponsel dari tangannya karena hentakan tangan Fai.


"Hei! Tidak sopan! Berikan ponsel ku?!", teriak Sonia.


[Bagaimana? Kenapa kalian tidak memberi informasi apa pun?]


Fai tersenyum, lalu menyerahkan ponsel itu pada Sonia.


"Bos mu sedang menunggu kabar kalian!", kata Fai melipat tangannya di dada.


Sonia membeku. Mau menghindari di rasa percuma, mau menyerah sudah dipastikan pria itu pasti tidak akan tinggal diam.


Rasyi yang sedang menunggu kabar anak buah nya pun duduk bersandar di kap mobil.


Aku dengan santainya menghampiri mas Rasyid.


"Mas...?", tegur ku. Sedangkan Rasyid justru terkejut mendapati aku yang sudah ada dibelakang nya .


"Di...Dian!? Kamu di sini?", tanya Rasyid gagap.


"Justru Dian yang harusnya tanya, kok mas Rasyid di sini? Kenapa nggak parkir aja di dalam? Mau ke dalam kan?", aku menunggu apa yang akan dia katakan saat ini.


"Ah ...mas hanya ingin mampir tapi sudah lah, toh di sana tidak ada mama!"


"Kan mama emang di rumah mu yang di Surabaya kan mas?", tanyaku.


"Iya, makanya untuk apa aku masuk!"


"Terus ngapain di sini dari tadi?," cercaku lagi.

__ADS_1


Ponsel Rasyid kembali berdering. Tapi Rasyid membiarkan nya saja sampai dering itu berhenti dengan sendirinya.


"Kok nggak diangkat mas? Kali aja penting lho?!"


"nggak penting. Biarin aja lah!", kata Rasyid.


"Mas ke Jakarta ada urusan apa?" tanyaku.


"Apa urusanmu Di?", Rasyid mulai emosi .


"Dian cuma tanya mas. Kenapa marah?"


"Kita masuk aja yuk mas. Oh iya lupa, kenalin. Ini kang Dadan, suaminya Imah. "


Dadan mengulurkan tangannya, dan Rasyid pun menyambut nya.


Susah sekali membujuk Rasyid masuk ke butik. Tiba-tiba saja Fai sudah ada di samping ku.


"Dian...Dadan, kalian ngapain aja? Ayo masuk!", aku terkejut tiba-tiba Fai berada di dekat kami.


"Mas Fai....!?"


"Lho...ini mobil mama Farah kan? Siapa yang bawa ke sini?", tanya Fai pura-pura.


Aku mencium gelagat usil mas Fai. Aku tahu, dia pasti sedang berakting. Orang lain bisa tertipu, tapi tidak dengan ku mas Fai.


"Ini...mas Rasyid, suami nya mbak Imas Mas!", jelasku. Rasyid jadi kikuk sendiri. Fai mengulurkan tangannya pada Rasyid. Dia pun menyambut uluran tangan Fai.


"Kita masuk!", Fai merangkul bahu Rasyid tanpa persetujuan darinya.


Benar kan dugaan ku, mas Fai memang sedang berakting!


*****


Duh... Rasyid, gampang banget sih Lo ke Gep. Habis sudah riwayat Lo kalau berhubungan dengan dua sahabat gesrek nya!


*****


[Ziz, gue ke rumah ya.]


Begitu chat dari damar .


[Serah Lo. Lagian Lo ke rmh juga tujuan utamanya bukan gue]


Balas Aziz.


[Tau aja Lo, namanya juga usaha. Gue otw.]


[Tapi gue lagi di butik nyokap ]


[Oh...ya udah, gue ke situ]


Obrolan via aplikasi hijau pun selesai. Damar menuju butik Tante Farah yang memang tak jauh dari tempat tinggal Damar.


Berhadapan dengan dua sahabat gesrek aja ngeselin, gimana di tambah Damar?


Apa Rasyid mau mengakui apa yang sudah terjadi?????


****


Mamak lagi mumet bin puyeng . Maaf ya kalau ceritanya mbulet 🙄😣😓


Besok-besok di usahakan nulis yang baik dan menarik deh ya, Insyaallah.


Mamak Masih kudu banyak belajar 🙏🙏🙏🙏✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2