
Mobil Julian sudah memasuki komplek perumahan ku. Di dekat gema ada lebih dari empat orang yang berjaga.Belum lagi yang di depan kios. Jangan-jangan di dalam juga ada lagi?!
"Mas...apa kita butuh pengawal sebanyak itu? Masyaallah....rumah kita ini rumah sederhana lho mas. Kita juga bukan pejabat apalagi artis. Ini....? Kenapa yang jaga sebanyak ini??", kataku sambil mengguncang bahu mas Aziz.
"Sayang, ini kan demi keamanannya dan keselamatan anak dan keluarga kita di rumah selama kita nggak ada. Jadi wajar dong kalau kita membutuhkan mereka buat menjaga rumah ini."
Aku menghela nafas. Ku lihat Julian melirikku lewat kaca spion.
Demi bisa melihat mu kembali seperti sedia Dian, batin Julian.
Julian turun lalu membuka kan pintu untuk ku. Mas Aziz memapah ku , setelah itu Julian menurunkan kursi roda yang ada di bagasi.
Mas Aziz mendudukan ku kenal di kursi roda. Senyumku mengembang saat ku lihat Diaz berada di gendongan Imah keluar dari pintu ruang tamu.
Kulihat ekspresi Diaz begitu antusias melihat ku lagi. Bayi itu merindukan ku juga kan???
Tak terasa air mataku menetes. Imah menyerah kan Diaz di pangkuan ku. Diaz menangis sambil menelusup ke dadaku. Dia merindukan asi dari ku langsung. Tangis nya pecah begitu saja sambil memelukku.
Ku cium pipinya yang amat sangat aku rindukan selama beberapa hari ini tak ku sentuh. Ya Allah, Alhamdulillah....kami bisa berkumpul lagi.
"Mas Jul, terimakasih atas semua bantuannya. Dan.. kalo boleh, jangan kebanyakan pengawal ya. Besok cariin aja sekuriti untuk berjaga di sini. Jangan bodyguard sebanyak itu....!"
Julian pun mengangguk.
"Baik Bu, saya akan mengurangi jumlah mereka. Saya sisakan dua orang tidak apa-apa ya Bu. Sampai saya menemukan sekuriti yang tepat untuk berjaga di sini."
Aku mencari persetujuan dari mas Aziz. Mas Aziz mengiyakan dengan anggukan.
"Ya udah dua aja ya."
Julian tersenyum.
"Ya udah mas, kita masuk yuk. Diaz pengen di kelonin bunda."
"Mbak Dian sama aku aja mas, kali aja mas Aziz masih ada perlu sama mas Jul."
"Iya Mah. Ya Udah dek masuk aja duluan. Mas mau ngobrol sama Julian dan yang lain."
Aku dan Imah pun masuk ke dalam rumah. Imah mendorong kursi roda ku masuk ke kamar yang beberapa hari ku tinggalkan.
__ADS_1
"Ya Allah Mah...mbak senang banget bisa pulang lagi."
Imah memeluk ku dari samping. Tak terasa, ternyata belum sempat minum asi Diaz sudah terlelap.
"Mbak Di. Jangan sakit lagi ya. Imah sedih tahu....!", kata Imah sambil terus memeluk ku.
"Mbak juga pengen sehat terus Mah. Berada di samping kalian."
Ku usap lengan Imah yang melingkar di bahuku.
Imah mengambil Diaz ,lalu merebahkan nya di ranjang.
"Mbak, bisa jalan kan?", tanya Imah.
"Bisa lah Mah. Cuma mas Aziz yang kelewat lebay. Aku kuat kok jalan doang."
Aku berdiri lalu berjalan perlahan duduk di ranjang ku.
"Mbak, maap ya...imah nggak sempat nengokin mbak ke rumah sakit."
"Kenapa minta maaf sih Mah. Malah mbak yang ngerasa nggak enak. Kamu udah repot bantu jagain keponakan mu ini. Pasti capek kan?", kataku sambil mengusap kepala Diaz.
"Hem. Mungkin ya Mah."
"Ya wes, Imah ke depan lagi aja. Tadi mbak hayu di temenin teh Neneng. Sekarang mbak istirahat aja. Kalau ada perlu apa-apa, tolong panggil Imah atau teh neng aja ya."
"Iya Mah!".
Imah pun meninggalkan kamarku, dan aku juga merebahkan diri di samping putraku. Ku peluk Diaz yang terbuai mimpi. Rindu seorang ibu yang tidak bisa di gambarkan dengan suatu apa pun. Pokoknya....aku sangat merindukan putraku. Ku kecup keningnya berulang-ulang dan ku dekap dalam pelukan ku. Hingga akhirnya aku pun kembali tertidur.
.
.
.
"Julian!", kata Aziz.
"Iya Pak."
__ADS_1
"Mungkin yang Dian katakan benar. Jangan terlalu banyak yang berjaga di sini. Kesannya gimana gitu. Insyaallah di sini aman mas. Maaf ya bukan maksud saya nggak menghargai kamu ya."
"Saya paham kok pak Aziz."
"Dan...soal orang DWP yang berkhianat, kira-kira hukuman apa yang pantas ia dapatkan?"
"Kalau saya pribadi, saya akan memecatnya dan menjebloskan ke penjara. Begitu pula dengan om Ronald. Ini sudah kelewatan. Mereka sudah mempertaruhkan nyawa Bu Dian dan calon putra anda pak."
Aziz menghela nafasnya. Julian satu pemikiran. Tapi...belum tentu Dian akan setuju begitu saja. Dian terlalu baik dan lembek kepada orang lain.
"Tapi Jul, sepertinya kita juga harus berdiskusi dengan Dian. Kamu tahu sendiri istri ku seperti apa."
"Tentu saja pak Aziz."
"Hem...Jul!"
"Iya pak."
"Terimakasih sudah sangat memperhatikan keluarga saya. Saya apresiasi kejujuran mu, tapi...tolong ya. Bersikap lebih baik lah pada tunangan mu. Kamu memang berhak berubah entah karena siapa pun itu, termasuk karena istriku. Tapi...kamu tahu batasan mu kan?"
Julian mendongakan kepalanya. Apa dia sudah tahu?
"Saya paham pak. Sejauh ini saya hanya mengagumi kepribadian beliau dan anda juga pak. Tidak ada maksud apa pun. Sejak bertemu Bu Dian saya merasa lebih dihargai, bukan di takuti. Saya memang dingin, dan kaku menghadapi orang lain. Termasuk kepada Sharen. Sikap anda dan Bu Dian seolah menjadi contoh bagi saya. Seorang pemimpin itu tidak harus di takuti tapi mengayomi dan juga disegani tanpa harus dengan kekerasan yang berkedok 'tegas' katanya."
Aziz tersenyum sambil menepuk bahu Julian.
Maaf pak, saya nggak bermaksud berbohong. Tapi saja juga nggak bisa jujur juga kan pak???
"Ya sudah, kamu balik ke kantor saja Jul. Pasti banyak pekerjaan yang terbengkalai kan?"
"Sejauh ini masih aman pak. Saya hanya berusaha menutupi tentang kejadian yang Bu Dian alami. Anda tahu sendiri, seperti apa dunia bisnis. Ada saja orang yang berusaha mencari celah untuk menjatuhkan DWP. Maka dari itu, keadaan Bu Dian masih di rahasiakan pak. Tapi....tentu saja kalau om Ronald sudah tahu."
"Iya. Pasti dia akan mencoba cara lain ya Jul."
"Baiklah kalau begitu, saya permisi kembali ke kantor. Dan...dua anak buah saya tetap di sini dulu ya pak. Sampai semuanya kembali kondusif."
"Iya."
Julian pun meninggalkan rumah Aziz. Diikuti oleh enam anak buahnya yang memakai dua mobil dibelakang mobil Julian.
__ADS_1
Apa kah Bu Dian akan memenjarakan om Ronald? Bagaimana dengan Sharen? Aku bahkan sudah beberapa hari tak bertemu dengannya. Julian bermonolog sambil tetap fokus menyetir.