Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Ide dari Aziz


__ADS_3

"Imah, kamu mau solat dulu gak apa-apa. Mas yang jaga."


"Imah lagi libur mas", tanpa menoleh ia mengutak-atik ponsel nya.


"Kamu lagi kenapa? Tumben diem?"


"Hem? Enggak mas."


"Kenapa? Bilang sama mas. Ada masalah sama Dadan? Sama Bu Tati?"


Imah menengok ke arahku.


"Kok mas tahu?"


"Kapan mas bilang kalau mas tahu?Mas kan tanya ada masalah sama Dadan atau Bu Tati?"


"Iya itu... dua-duanya."


Imah menyanggah dagunya dengan kedua tangannya diatas etalase.


"Bu Tati minta transfer lagi? Biar mas yang transfer." Aku bangkit dari dudukku.


"Nggak usah mas." Imah mencegahku .


"Terus?", aku kembali duduk di bangku samping nya .


"Ibu mau nyusul ke sini mas....", Imah menunduk.


"Hah?", aku terperanjat.


"Tapi Imah nggak ngasih alamat ini sih mas, Imah kasih alamat Mama mu. Hehhe....".


"Mas ga paham sama jalan pikiran mu deh Mah!"


"Iya....selama ini, Imah selalu tunduk sama ibu. Nggak pernah berani nolak ibu."


"Lalu sekarang? Kalau kamu kasih alamat Mama, terus dia datang ke sana apa nggak bakal ribut tuh mama sama ibu tirimu itu?"


"Tadi udah telpon mama, mama bilang oke. Imah sih nggak bilang itu rumah mama, bilang nya rumah mas Aziz. Kata mama, biar mama yang nanganin."


"ya udah kalau emang mama yang mau nanganin, kenapa kamu masih pikirin? Dia minta ongkos sama kamu?"


"Iya, tadi udah Imah transfer. Imah pake aplikasi ini." Imah menunjukan aplikasi hijau berlogo G.


"Keren kamu mah, bisa pakai begituan?", puji Aziz.


"Iya lah, Imah kan bergaul sama banyak orang tiap hari masa iya nggak pinter-pinter." Imah mulai membanggakan dirinya. Nah, ini baru Imah yang seperti biasanya.


" Bagus lah, ada kemajuan."

__ADS_1


"Iya dong, emang mas Aziz kemajuan nya ada diperut hahahaha......"


"Heh, ini nih tanda-tanda pria bahagia Imah."


Memang nya aku segendut itu ya? Dalam sehari, sudah ada dua orang yang mengataiku.


Saat sedang memikirkan perut ku, tiba-tiba ada pelanggan akan mengisi kuota.


"Woi ... bengong wae sih bos mah."


"Heheh iya kang, mau isi berapa nih?"


"Unlimited YouTube ", kata si pelanggan.


"Yang berapa?", tanya Aziz lagi.


"Berapa ya? Enam puluh lima mereun ya?", tanya si pelanggan.


"Ini kang....", Aziz memberikan nya pada orang di depannya.


"Makasih mas Aziz, oh iya....itu perut makin langsing aja. Saking langsing nya, makin maju ya mas. Sukses ya mas Aziz!", kata si pelanggan sambil memberikan uangnya.


Ini ketiga kalinya ia disebut gendut , sekali lagi ada yang ngatain gendut sudah dipastikan akan segera mendapatkan merchandise sebuah gelas pecah, batin Aziz.


Di samping ia duduk, seorang gadis menertawai nya yang manyun. Siapa lagi kalau bukaan imah? Dia merasa tak sanggup untuk tidak tertawa.


"Diem lho. Seneng banget ya liat mas mu diejek!"


"Nggak lucu Imah!", bentakku.


Tapi, ngomongin soal ulat bulu tadi, ia jadi teringat Dadan. Apa sebaiknya Imah dipancing, atau nunggu Dadan yang cerita?


Mungkin,kalau mantannya Dadan orang asing, aku bisa aja langsung cerita. Sayangnya, orang itu justru Feby. Cewek yang suka bikin Imah emosi gara-gara deketin aku, alasannya agar aku tak mengkhianati Dian lagi.


Meski benar, tapi...aku juga nggak akan dan nggak pernah ada niat buat mengulang kesalahan ku.


"Mah, kamu ada masalah sama kang Dadan?"


Tanya Aziz pada Imah yang sedang merapikan voucher.


"Nggak sih mas. Tapi...Imah lagi kesel."


"Kesel kenapa? Tadi pagi nggak mas ajak joging?"


Imah menggeleng sambil tetap fokus dengan pekerjaannya.


"A Dadan belum mau terbuka sama Imah, padahal dia bilang mau serius sama Imah."


"Terbuka yang gimana maksudnya?"

__ADS_1


"A dadan.....", Imah mengehentikan ucapannya ketika seseorang menghampiri Aziz dan Imah.


"Hai....", sapa Feby.


Aku dan Imah saling berpandangan. Kenapa ulet bulu harus ke sini lagi sih? Gumam Imah.


"Mau beli kuota atau beli apa mbak?", Imah berusaha ramah.


"Iya lah, masa mau beli beras. Nih, isiin!", titah bela sambil menyerahkan ponsel dan uang senilai dua ratus ribu.


Imah pun segera melakukan transaksi tersebut.


"Aziz, kapan-kapan kalau sempat kita reunian yuk",ajak Feby.


"Iya, insyaallah Feb", dan sorot mata tajam Imah seperti mengintimidasi ku.


Feby mengajak ku ngobrol. Aku sama sekali tak antusias dengan ceritanya.


Terlintas sebuah niat jahat, bagiamana kalau. mempertemukan Dadan dan Feby. Jadi, nggak susah-susah buat jelasin ke Imah.


Aizi meraih ponselnya lalu mengutak-utik sebentar. Ia mengirim pesan untuk dadan.


Feby tak beranjak dari duduknya sejak tadi. Aziz mukai gelisah. Bagiamana mau ngusir orang ini?


Suara motor kang dadan berhenti di depan kios. Setelah memarkirkan motornya, kang Dadan menghampiri ku.


"Ini mas, sotonya!", Dadan menyerahkan padaku.


"Mah, ambil mangkok. Sekalian. kasih ke Dian.," titah Aziz ke Imah. Tentu saja Imah tidak akan menolak.


"Makasih lho kang Dadan....!", kata Aziz sambil menyerahkan uang tiga puluh ribu.


"Udah nggak usah mas. Kan buat kalian , calon keluarga saya juga." Dadan menjatuhkan bobotnya dibangku sebelah Feby.


Feby mulai menyadari kehadiran Dadan disampingnya.


"Feby....?", kang Dadan terkejut. Melihat matan istrinya ada di kios tempat Imah bekerja.


Feby yang dari tadi ngoceh, langsung terdiam saat Dadan sudah duduk disampingnya. Disaat yang bersamaan, Imah datang membawa dua buah mangkok.


Merasa ada yang janggal, Imah memberanikan diri bertanya.


"Kalian kenapa pada diem semua?"


Imah turut duduk dihadapan Feby.


"Imah, ini Feby. Mantan istri Aa!", ucap Dadan ke Imah.


"Hah?", Imah dibuat terkejut.

__ADS_1


Selanjutnya gimana ya?????


__ADS_2