Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 220


__ADS_3

Mika keluar dari ruangan ku setelah memaksaku untuk meminum obat sesuai jadwal. Setelah memastikan aku meminumnya, Mika berpamitan untuk keluar agar aku bisa beristirahat lagi.


Terkadang kita hanya butuh teman untuk mencurahkan beban di hati kita tanpa mengharapkan solusi si pendengar. Pun dengan Mika. Mika memilihku untuk menampung apa yang ada dipikiran nya. Apakah dia datang ke orang yang tepat? Aku pikir begitu. Dia datang kepadaku. Orang yang menjadi sumber dari kekacauan hatinya.


Mungkin, Mika ingin agar aku bisa merasakan seperti apa jika berada di posisi nya. Tapi...tidak ada yang tahu bagaimana posisi sebenarnya selain si 'penderita' itu sendiri bukan?


Lebih baik aku kembali istirahat, agar aku bisa segera pulih dan pulang menemui putra kesayangan ku, Diaz!


.


.


.


Aziz bertemu dengan mika setelah keluar dari ruangan Dian.


"Lho....Mika, ku pikir kamu sudah cuti?", sapa Aziz.


"Eh, iya mas. Belum, aku cuti besok saja."


"Mau jadi pengantin kok malah masih kerja. Istirahat lah Mika, pasti capek."


Mika mengulas senyum nya.


"Boleh kita ngobrol mas?",tanya Mika.


"Hem? Boleh sih? Dimana?"


"Kamu nggak sibuk kan mas? Aku takut kamu terganggu."


"Sibuk apa? Aku kan masih fokus dengan kesehatan Dian."


Mika pun mengangguk.


"Tadi Dian baru minum obat, makanya aku keluar mas."


"Udah minum obat ya? Pasti langsung tidur."


"Obatnya kan memang bikin ngantuk."


"Iya sih Ka, biar Dian cepat sembuh. Kasian Diaz."


"Iya mas. Eh...kita duduk di sana saja mas!", Mika menunjuk bangku di ruang tunggu yang berbeda lorong dengan deretan ruang VVIP.


"Baiklah!"


"Mas, aku hanya di sini. Kalian jaga di depan kamar Diandra saja ya!", titah Aziz kepada kedua pengawalnya.


"Baik pak!"


Dua pengawal itu pun kembali ke depan ruangan Dian.


Sekarang, Mika dan Aziz sudah duduk berdampingan hanya berjarak satu bangku.


"Apa yang pengen kamu obrolin Mika?"


"Soal kemarin mas."


"Soal ruang rawat Dian?"


Mika mengangguk.

__ADS_1


"Sebenarnya, bukan hanya itu sih mas."


Aziz menghela nafasnya.


"Aku tahu bukan kamu yang memilih ruangan itu buat Dian. Tapi suami mu."


Mika menunduk.


"Ini memang salahku Mika!", kata Aziz sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Maksud mu apa mas?"


"Aku sendiri yang sudah membuka akses antara suami mu dan istriku!"


Mika menunduk.


"Aku pikir, kita bisa bersahabat dengan baik. Tidak melulu melibatkan perasaan lagi. Sayangnya...kita punya kuasa apa coba untuk menahan perasaan seseorang?"


Aziz menatap mika yang masih menunduk.


"Aku berniat membatalkan resepsi pernikahan kami mas."


Aziz tersenyum tipis.


"Kamu pikir, itu jalan terbaik?"


"Awalnya kupikir iya mas. Tapi... setelah mendengar ucapan Dian, aku jadi berpikir."


Mika menjeda beberapa saat ucapan nya.


"Aku sudah berjanji di hadapan Allah, aku menerima semua kekurangan dan kelebihan suamiku. Dari Dian, aku belajar mas. Belajar memaafkan dan meminta maaf. Belajar memberi kesempatan dan belajar menghargai diri sendiri."


Saat ini justru Aziz yang terdiam.


Aziz menggenggam tangan nya sendiri.


"Setelah bertahun-tahun aku dan Fai tak bertemu, lalu kami dipertemukan kembali dengan situasi ini. Kami sempat bertengkar di awal-awal pertemanan kami kembali. Ada rasa cemas di dalam dada. Takut jika Dian akan kembali berpaling pada suamimu. Tapi....aku sadar, dianku tidak akan membuat kesalahan seperti ku. Dian tahu batasan nya. Hanya saja.... sebagai seorang lelaki, aku masih sering merasakan cemburu padanya."


"Hem...jadi... intinya di sini adalah perasaan cemburu mas?", tanya Mika sinis.


"Dari awal, kalian memang harus berjuang untuk mendapatkan hati kalian masingmasing. Meyakinkan perasaan kalian. Dan....di titik ini ,apa harus secepatnya kalian simpulkan perasaan kalian? Bahkan waktu setahun dua tahun bahkan bertahun-tahun tak cukup untuk memahami pasangan masing-masing jika kedua-duanya menjadi api?"


Mika nampak berpikir saat ini.


"Mika, pernikahan itu ibarat perjalanan. Ada saat nya kita akan berhenti , lalu meneruskan kembali. Tapi jika jarak sudah terlalu jauh, apa mungkin kita akan berbalik lagi?"


"Mika, jangan pernah sia-sia kan kesempatan yang Allah berikan Mika."


"Iya mas!"


"Ya udah, aku kembali ke ruangan Dian. Pulang lah! Lanjutkan rencana kalian. Insyaallah, kami bisa datang ke acara penting mu itu."


"Iya mas."


Aziz meninggalkan Mika di bangku tunggu, tak lama kemudian Mika pun meninggalkan tempat itu.


.


.


.

__ADS_1


Julian baru saja sampai ke kantor DWP. Wajahnya yang beberapa hari yang lalu sedikit menghangat, kini kembali dingin. Sikapnya sudah kembali seperti sebelum-sebelumnya.


"Jul, kamu kemana aja sih? Aku telpon nggak pernah kamu angkat, aku chat nggak pernah kamu gubris lagi. Jangan kan di balas, di baca pun enggak!", kata Sharen yang mengikuti Julian masuk ke dalam ruangan nya.


"Aku sibuk!", kata Julian. Dia meraih gagang telepon untuk memanggil seseorang.


[Saya sudah di ruangan!]


Julian kembali meletakkan gagang telepon itu.


"Julian! Ada aku di sini! Kamu ngga anggap keberadaan ku lagi?", Sharen mulai emosi.


"Aku sibuk ren, tolong keluar!"


"Julian! Semakin hari kenapa sikap mu semakin dingin saja padaku hah???"


"Aku bilang keluar Sharen!!!!"


Tok....tok....


"Masuk!", titah Julian.


Seorang laki-laki berseragam masuk ke ruangan Julian.


"Ada hal yang penting yang harus ku bicara kan dengan nya. Keluarlah Sharen!"


Mau tak mau, Sharen pun keluar dengan menghentakkan kakinya.


Setelah memastikan Sharen menutup pintu, Julian mulai bertanya dengan orang berseragam itu.


"Bagiamana?"


"Ada sosok yang mencurigakan mister! Tapi... sepertinya sudah terkoordinir dengan baik. Dia tak bekerja sendiri."


"Maksud mu , ada pengkhianat di sini?"


"Saya rasa begitu mister!"


Pria berseragam itu menyala kan laptop dan mulai membuka tiap file yang menunjukkan video keseluruhan kegiatan di DWP selama Diandra berada di DWP.


"Saya sudah memilih beberapa file, yang menurut saya patut di curigai."


Orang itu mengKlik satu persatu video yang di pilih nya .


"Ini ya?", tanya Julian sambil menunjuk salah satu video pilihan pria berseragam itu.


"Betul mister. Ada beberapa scene dimana dia mengamati Bu Dian, pak Aziz, pak Fai dan juga anda mister."


Julian mengelus-elus dagunya.


Suruhan siapa orang ini???? Batin Julian.


"Coba?! Kamu buka dari awal orang ini masuk ke kantor. Entah itu dari parkiran atau lobi atau pintu masuk manapun!"


"Siap mister!"


Orang itu kembali mencari-cari file di dalam laptop itu. Karena terlalu lama menunggu, Julian akhirnya pun tertidur.


Waktunya banyak tersita untuk mengurusi bos dan perusahaan nya.


Dia masih belum menemukan tersangka di balik peristiwa ini. Meskipun...dia sudah mengantongi beberapa nama orang-orang yang dia curigai.

__ADS_1


Karena, bisa saja orang dekat justru dialah yang berpotensi mencelakai keluarga Bu Dian bukan???


__ADS_2