Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 267


__ADS_3

Mas Aziz diam saja selama pulang dari pemakaman. Aku memakluminya. Dia pasti sangat terpukul. Semua cobaan bertubi -tubi menghampiri nya .Sebagi istri, aku hanya berusaha mendampinginya semampuku. Bagaimana pun, mas Aziz sangat kehilangan mereka,terutama mama Farah .


Meski dulu hubungan kami kurang harmonis, tapi di saat-saat terakhirnya justru kami bak ibu dan anak kandung. bukan antara mantu dan mertua.


Mas Aziz sudah puas menangis di atas pusara mama Farah. Sehingga di mobil, dia hanya duduk bersandar di jok belakang. Kang Dadan yang duduk di belakang kemudi pun sesekali memandanginya lewat spion. Tak ada obrolan apa pun hingga mobil kami masuk ke halaman rumah yang di jaga mas Agus dan mas Tino.


"Mas....udah sampe!", kataku mengguncang pelan bahunya.


"Hem...ah....iya!", sahut mas Aziz. Dia terkesiap dengan panggilan ku meskipun ku panggil pelan.


Aku membuka mobil, kang Dadan mengambilkan kursi roda nya yang ada di bagasi.


Perlahan aku menurunkan mas Aziz, tanpa bantuan kang Dadan. Meskipun kang Dadan mencoba membantuku. Tapi aku melarangnya.Aku hanya berusaha dan menunjukkan bahwa aku mampu membantu mas Aziz tanpa bantuan siapa pun.


Dan Alhamdulillah, meskipun sulit. Aku berhasil mendudukan mas Aziz ke kursi roda.


"Alhamdulillah!", kataku lega saat mas Aziz siap di kursi nya. Ku hapus peluh yang menetes di dahiku.


"Dek...jangan memaksakan diri! Mas berat, kenapa kamu menolak bantuan Dadan?", tanya mas Aziz iba padaku.


"Ya harus di paksa atuh?! Karena aku yakin kalau aku mampu mas!"


Ku dorong kursi roda mas Aziz. Sedang kang Dadan membawa barang kami menuju rumah.


Di depan pintu, Diaz sudah antusias dengan kedatangan kami. Batita itu tampak riang melihat kehadiran kami. Badannya tak bisa diam saat teh neng menurunkan nya dari gendongan. Dia berusaha berlari menghampiri kami meski teh neng yang harus tergopoh-gopoh mengikuti nya dari belakang karena Diaz memang belum bisa berjalan di usianya yang ke sepuluh bulan.


"Da...da...ya....ya...!", pekik Diaz di selingi tawanya yang khas. Aku pun berjongkok mengambil Diaz ke dalam gendongan ku.


"Uch....uch...ada yang kangen sama bunda sama ayah ya????", tanyaku pada Diaz. Anak itu justru memutar badannya dan berontak dari gendongan ku. Dia meminta turun dan di pangku mas Aziz. Tentu saja mas Aziz menyambut nya dengan riang.


Aziz tampak terharu melihat putranya yang memintanya duduk di pangkuan nya. Diaz di cium berulang -ulang. Mungkin itu ekspresi antara ayah dan anak yang saling merindukan.


"Kita masuk aja ya sayang!", kataku. Teh neng yang kelewat terharu tak bisa berucap apa pun. Diaz yang selama ini ia rawat, tak seceria ini biasanya. Mungkin anak sekecil itu pun paham artinya merindu....🤭


"Teh, Diaz saya bawa ke kamar ya!", kataku pada teh neng. Aku ingin quality time bersama anak dan suamiku.


"Sok atuh mbak. Teteh udah siapin makan , siapa tahu nanti mas Aziz atau mbak Dian mau makan siang. Nggak pada puasa toh?", tanya teteh.


"Iya teh. Makasih sebelumnya ya!"


Teh neng meninggalkan kami lalu pergi menuju ke taman belakang tempat menjemur pakaian.


"Kita ke kamar ya sayang?!", ku dorong kursi roda yang berisi ayah dan anak itu.


Ceklek.....


Kamar kami rapi dan bersih. Entah Imah entah teteh yang yang membereskan nya .

__ADS_1


"Alhamdulillah, bisa pulang ke kamar ini lagi!", Aziz tersenyum tipis.


"Iya, Alhamdulillah ya mas. Kita bisa berkumpul bersama lagi."


Aku mengambil Diaz dari pangkuan mas Aziz lalu meletakan di tempat tidurnya. Lalu aku memindahkan mas Aziz ke ranjang kami yang memang di buat tak terlalu tinggi.


Saat ini, kami bertiga berada di ranjang yang sama. Diaz langsung meraih resleting gamisku.


"Mau nen ya Diaz ya?", tanyaku menggoda.


Tapi diaz yang sudah tak sabaran justru merajuk. Karena tak tega, aku pun langsung menyusuinya. Ku letakkan Diaz di antara aku dan mas Aziz.


Mas Aziz yang bersandar di headboard ranjang pun tersenyum memandang kami. Diusapnya kepalaku dan Diaz bergantian. Entah apa yang di pikirkan. Ku lihat air matanya menetes di pipi mas Aziz.


Diaz mulai terlelap sambil menghisap aslinya. Aku pun memandang suami ku.


"Kenapa sayang, kok nangis?" kuusap pipinya dengan lembut. Masih ada sisa lebam di pipinya.


"Mas bersyukur, masih memiliki kalian!", katanya penuh haru.


"Mas...kami juga beruntung memilikimu mas. Lain kali, jika ada apa pun tolong jangan menyimpan nya sendiri. Ada aku tempat berbagi, ya?"


Aziz mengangguk.


"Apa mas egois jika meminta mu tetap bersama ku dek?", tanya mas Aziz dengan mata berkaca-kaca.


Aku pun bangkit dari posisi ku sebelum nya, lalu turun dari ranjang. Aku duduk di atas nakas sebelah mas Aziz.


Kutakupkan kedua tanganku di pipinya.


"Selama Allah merestui kita, insyaallah aku akan selalu bersama mu mas. Mendampingi mu sampai kita menua bersama nanti dengan anak cucu kita!"


Mata mas Aziz berkaca-kaca. Lalu ia meraih ku dalam pelukannya. Kuusap punggung bidangnya yang selalu ke rindukan. Sesekali ku cium bahunya.


"Makasih dek....makasih!"


"Iya mas."


Mas Aziz melerai pelukan kami.


"Udah sore, aku siapin mandi ya mas. Ambil bangku di belakang. Biar bisa buat duduk pas kamu mandi."


Mas Aziz mengangguk.


Lalu aku pun menuju ke belakang untuk mengambil bangku kayu yang biasa ku gunakan untuk duduk di dapur.


Aku terkejut saat masuk ke kamar,tapi kaki mas Aziz sudah terayun di ranjang.

__ADS_1


"Mas!", pekikku. Mas Aziz hanya mendongak.


"Sabar atuh mas, kenapa nggak nunggu aku?", tanyaku pelan.


"Aku baru bisa memindahkan kaki ku aja dek. Belum bisa pindah ke kursi roda."


"Sabar sayang. Pelan aja, kamu pasti bisa sembuh!", ku mencoba menenangkan nya. Dia hanya mengangguk.


"Sebentar mas, aku taroh kursi nya dulu ya!"


"Iya dek!"


Aku menyiapkan air hangat untuk mandi mas Aziz. Setelah semua dirasa cukup, aku kembali ke mas Aziz. Ki lihat ia sudah membuka kaosnya. Yang tersisa tinggal celana pendek selutut.


"Mau di buka di sini? Nggak di kamar mandi?"


"Kamar mandi aja deh dek!"


Aku pun memandikan mas Aziz dengan telaten. Setelah mas Aziz kembali rapi dengan pakaian nya, giliran aku yang bersiap mandi.


*****


Fai sedang menunggu istrinya di loby rumah sakit.


"Mas!", tepuk Mika.


"Ya sayang!"


"Kok nggak kaget sih?"


"Ah...kaget!", dengan ekspresi menyebalkan.


"Nggak lucu?!", kata Mika mencebikkan bibirnya.


"Iiih...gemes kalo kaya gini? Ngga inget puasa mah.....euhhhg!!!" Fai mencubit pipi istrinya.


"Ya udah, ntar malem aja!", ledek Mika.


"Ciye...ada yang kangen?", tanya Fai sambil merangkul bahu istrinya sembako berjalan menuju parkiran.


"Kangen lah, kan dari kemaren sibuk Mulu!"


"Iya...maaf...tapi berhubung kita udah nggak sibuk, kita buka puasa di rumah ya. Sekalian buka yang lain!", kata Fai membukakan pintu mobil untuk Mika.


"Buka apa aja boleh!", sahut Mika.


Hahahahah

__ADS_1


Ke-dua nya menertawakan hal garing yang sebenarnya tak jelas-jelas penting untuk di bahas.


__ADS_2