Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 259


__ADS_3

Revan memperhatikan Aziz dengan seksama. Pria yang tergolek lemah itu terlihat rupawan meski wajah nya babak belur. Pantas saja jika Dian bersanding dengan mu, gumam Revan.


"Bangunlah! Kalau kamu tak ingin aku merebut Diandra dari mu!",bisik Revan di telinga Aziz.


Revan pun memeriksa tubuh Aziz. Selain tusukan di punggung nya, ternyata cedera kaki Aziz cukup parah. Syarafnya juga sudah rusak, kemungkinan untuk bisa berjalan normal sangat kecil.


Revan kembali berbisik.


"Apa anda masih pantas mendampingi Diandra dengan kondisi seperti ini?", suaranya terdengar sangat lirih.


Tapi ternyata ucapan nya memberikan respon pada Aziz. Telunjuk nya mulai bergerak. Seorang perawat yang kebetulan menghampirinya Revan dan Aziz melihat pergerakan jari Aziz.


"Alhamdulillah dok, jari pasien merespon!", kata perawat.


"Iya. Saya akan memberitahu kepada keluarga nya", jawab Revan.


"Sus, besok pagi siapkan ruangan untuk pasien. Nanti suster tanya, kemana pasien akan di pindah kan. Barangkali...mau di ruang VVIP!"


"Siap dok!", kata perawat itu.


Revan pun keluar menemui Damar dan kawan-kawan.


.


.


.


"Mama ...mbak Imas, kalian mau kemana?", tanya Aziz.


"Kami harus pergi Ziz!", kata Imas.


"Pergi kemana? Kemarin bilang ngga bisa ikut lebaran sama kami, memang kalian mau kemana?", tanya Aziz lagi.


"Kami harus pergi jauh Ziz!", jawab mama.


"Tapi kemana ma?", rengek Aziz.


"Ketempat di mana kita akan bertemu papa lagi!", sahut mama.


"Aku ikut Ma....!", Aziz meraih tangan mama Farah.


"Ayolah.....!", mama dan Imas menggandeng Aziz. Di kejauhan, papa melambaikan tangannya nya.


"Papa! Ma, kita berkumpul seperti dulu?", tanya Aziz.


"Iya. Jika kamu mau!", jawab mama.


Ketiganya melangkah ke tempat yang penuh dengan cahaya.


"Mas ...tunggu mas ...jangan pergi!", pekik seseorang yang suara nya sangat aziz kenal.


"Diandra!", pekik Aziz. Dilihatnya belahan jiwanya menggedong putra mereka.


"Jangan pergi mas!", Diandra menangis memohon agar Aziz tak mengikuti mama dan mbak Imas.


"Dek, mas harus pergi!", kata Aziz.


"Nggak mas! Kamu sudah janji sama aku mas. Kamu tanya sama aku, aku ingin hadiah apa dari mu. Aku nggak ingin apa-apa mas. Aku mau kamu kembali padaku. Kamu janji nggak akan ninggalin aku mas! Penuhi janji kamu mas, aku mohon!", Dian dan Diaz menangis sambil berlutut.


Aziz merasa galau dengan situasinya. Sebenarnya di mana ini?


"Mas...kamu dengar aku kan mas? Hati kita saling bertaut. Kamu dengar kan permintaan ku ini?", tanya Dian.

__ADS_1


"Diandra....Diandra...aku harus pergi?!"


"Jangan mas! Ku mohon!", Dian masih berlutut memohon agar Aziz tak melangkah ke arah cahaya itu.


Lalu Aziz melihat seorang pria menghampiri istrinya.


"Bangunlah! Kalau kamu tak ingin aku merebut diandra darimu!"


Siap pria itu? Berani-beraninya dia ingin mengambil Diandra ku!


"Kamu siapa? Diandra istriku!",pekik Aziz. Tapi pria itu tak menjawab apapun. Aziz merasa tersiksa melihat istrinya menangis meraung seperti itu. Tapi....papa, mama dan mba Imas mengajak nya menjauh.


Dibelakang Dian, ada Fai dan Mika.


"Mas Aziz, kembali lah. Apa jadinya pernikahan ku nanti jika kamu pergi dari Diandra mas?", Mika bersedih menatap Aziz.


"Kembali lah Ziz! Aku memang mencintai istri mu, tapi aku tak berhak atas dirinya. Kamu satu-satunya yang pantas melindungi Dian Ziz, bukan aku. Kembali lah, demi Diandra dan Diaz!"


Aziz menatap kedua orang tua dan kakaknya. Meminta persetujuan dari mereka.


"Kembali lah Nak, Dian dan Diaz masih membutuhkan mu!", ucap papa.


"Tapi Aziz rindu, bisa berkumpul dengan kalian."


"Belum saatnya kita berkumpul nak!", papa menepuk bahu sang putra.


"Kembali lah Nak, lihatlah betapa Dian mengharapkan mu kembali. Jangan kecewakan dian lagi."


Aziz pun berbalik arah. Menghampiri istri dan anaknya yang masih bersimpuh.


"Diandra ku....!", bisik Aziz. Ia menggerakkan jemarinya.


.


.


Banyak warga sekitar yang membantu proses pemakaman mama Farah dan yang lain. Imah tak henti-hentinya menangisi keluarga nya. Hanya mas Aziz yang tersisa. Itupun....entah bagaimana keadaannya. Imah hanya fokus mengurus segala sesuatunya di rumah.


Hayu membantu Teh Neng mengurus Diaz. Bayi tampan itu seperti merasakan kehilangan. Dia mencari-cari keberadaan bunda dan ayahnya. Berkali-kali di bujuk untuk meminum asi dari botol, Diaz selalu saja menolak. Diaz tertidur dengan sendirinya saat dia memang kelelahan menangis.


Imah teringat, Diandra tak membawa apa pun saat ke rumah sakit. Imah pun berinisiatif menyiapkan pakaian dan makanan untuk Diandra.


"Kang Ujang....!", panggil Imah.


"Naon mbak Imah?", sahut Ujang yang duduk tak jauh dari nya.


"Tolong anterin baju sama makanan buat mbak Dian ya?"


"Iya mbak!"


Kang Ujang pun meluncur ke rumah sakit.


.


.


.


Jam tiga pagi, damar membangunkan ku. Menawari ku makan sahur. Meskipun aku tak berpuasa, aku tetap tak makan siang. Aku hanya tidak solat saja.


"Makan lah yang banyak, kamu juga butuh energi Di!", kata Damar.


"Makasih mas Damar."

__ADS_1


Kami makan berdua dalam diam. Selang berapa lama, damar menerima telepon dari Hayu.


[Assalamualaikum umi?]


[Walaikumsalam, papa udah sahur?]


[Udah Mi, ini baru selesai makan sahur bareng Dian.]


[Memang nya Dian puasa?]


[Nggak sih, tapi kan dia juga nggak mau makan siang atau sarapan. Ya udah, papa ajak sahur aja sekalian]


[Em...gitu]


[Gimana semalam? Diaz masih rewel?]


[Diaz bobo jam satu pagi.]


Aku mendengar obrolan mereka karena loud speaker nya damar nyalakan.


[Maaf merepotkan mu mba Hayu]


Aku nimbrung obrolan suami istri itu.


[ jangan bicara seperti itu Di. Sudah kewajiban kita untuk saling membantu]


[Nanti ku kirim video Diaz lagi ya Di]


[Makasih mbak Hayu]


[Sama-sama Di.]


[Ya udah ya Mi, papa mau ke mushola dulu]


[Iya pa. Nanti pagi, umi bawain baju ganti]


[Iya Mi. assalamualaikum]


[walaikumsalam]


Damar menyimpan ponselku di dalam saku kemeja nya.


"Aku tinggal ke musholla nggak apa-apa kan Di?"


"Nggak apa-apa mas."


"Ya udah, aku ke mushola dulu ya?!"


"Iya mas!", sahut ku singkat.


Baru saja aku membereskan sisa makan sahurku. Revan duduk di samping ku.


Ngapain dia sepagi ini sudah ada di sini?


"Nanti, aziz sudah bisa pindah ke ruang rawat inap", Revan membuka obrolan.


"Alhamdulillah!", aku tersenyum dan tentu saja bersyukur atas perkembangan kondisi mas Aziz.


Kamu masih tetap cantik Di, meski sudah bertahun-tahun tak pernah ku lihat, batin Revan.


"Jadi, setelah ini aku bisa menjenguknya?", tanyaku riang.


"Ya!", sahut Revan singkat. Tapi matanya tak beralih dari bibir tipis Dian yang tak memakai lipstik sama sekali. Bibir merah alami membuat Revan ingin sekali menyentuh nya. Dulu, saat ia masih berpacaran dengan Dian, jangan kan menyentuh bibirnya bergandengan tangan pun tidak. Makanya, dia memilih untuk melampiaskan kepada teman kampusnya yang lain.

__ADS_1


..........


Maafkan kehaluan mamak yang hqq ya 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2