Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 248


__ADS_3

Aziz dan Julian baru saja keluar dari kantor polisi untuk membuat laporan tentang kasus yang menimpa istrinya. Aziz melaporkan anak buahnya yang di DWP sekaligus om Ronald. Untuk meringkus pengkhianat Dian, tidak sulit. Dia bahkan pasrah saat dimintai keterangan yang berujung menjadikan dia tersangka dan menyeret nama Ronald sebagai si pemberi perintah.


Meskipun si pengkhianat sudah mencelakai sang istri, Aziz masih berbesar hati untuk memberi kompensasi terhadap keluarga nya. Minimal sampai istri si pengkhianat ini mendapatkan pekerjaan untuk menggantikan mencari nafkah.


Jahat? Bisa iya bisa tidak. Baik? Ada dua kemungkinan. Naluri sebagi seorang ayah sekaligus seorang anak yang Aziz pakai di sini. Pertama, istrinya masih muda dan masih bisa bekerja. Kedua, orang tua si pengkhianat sudah sepuh sedangkan anaknya masih usia sekolah. Tapi sayang nya ...si istri terlihat hidup sok mewah.


.


.


"Julian!"


"Iya pak?"


"Sharen tahu soal ini?"


"Sudah pak. Sharen tahu jika Daddy nya akan di panggil polisi."


Aziz mengangguk pelan. Julian yang menyetir mobil untuknya.


''Disatu sisi, saya ingin memberikan pelajaran buatbom Ronald, tapi di sisi lain ....kasian Sharen juga."


Julian tersenyum tipis.


"Sharen nggak apa-apa kok pak. Mungkin, biar Daddy nya sadar setelah ini."


"Heum. Oh iya, bagiamana? Kamu jadi ke Singapura? udah dapat sekretaris buat Dian?"


"Belum pak. Masih saya seleksi. Nanti kalau sudah jelas kandidat nya siapa saja, biar Bu Dian yang memilih sendiri. Intinya....mereka diterima di DWP, meskipun nanti tidak di posisi seperti yang mereka harapkan."


"Begitu ya. Dan soal kamu ke Singapura?"


"Nanti kalau Bu Dian sudah masuk saja nggak apa-apa pak."


"Ya ...kalau kamu mau sekarang-sekarang mah nggak apa-apa. Saya sementara di DWP."


"Saya nggak mau repotin bapak."


"Nggak lah. Lagi pula, nanti kalau ada butuh tanda tangan istri saya, berkas bisa saya bawa pulang. Biar di cek dan dipelajari dirumah. Kalau Dian sudah benar-benar pulih, baru saya ajak ke kantor."


Julian mengangguk paham.


"Pak....em..."


"Kenapa Jul?"


"Maaf...ini baru wacana, seandainya saya.... resign dari DWP bagaimana? Maaf pak, ini hanya seandainya saja kok."


"Em.... seandainya ya? Ya...kalau memang itu keputusan yang menurut mu baik, kenapa nggak?"


Julian mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Ada wacana mau resign setelah menikah?"


"Belum tahu sih pak. Papa saya minta saya ngurusin bisnis kami di Singapura. Karena kak Oliver sudah memiliki perusahaan sendiri."


"Heum....padahal kami sudah cocok sama kamu lho Jul. Tapi gimana pun itu hak kamu. Oh iya, kalau om Ronald di penjara, perusahaan om Ronald? Ah....iya. Kami harus kehilangan mu dan Sharen bersamaan ya?", Aziz mengusap pelipisnya dengan satu jarinya.


"Tidak dalam waktu dekat ini pak....!", kata Julian.


"Tapi tidak mungkin juga kan perusahaan om Ronald di biarkan begitu saja kalau ada Sharen yang berhak dan bertanggung jawa menggantikan Daddynya?"


"Iya pak."


Kini kedua nya terdiam. Julian fokus menatap jalan raya di balik kemudi. Sedangkan Aziz mengambil ponselnya.


Gambar Imah bagus juga, bisa nih di jadiin koleksi butik. Gumam Aziz.


"Langsung ke kantor Pak?", tanya Julian.


"Iya Jul."


.


.


Damar membawa Hayu dan Faiz ke ruangan dokter Lala. Perlakuan damar yang terlihat tak melepas genggaman tangannya dari sang istri membuat mata para pekerja rumah sakit yang mengenalnya merasa heran dan bertanya-tanya.


Siapa yang sama dokter damar? istrinya kah? anak kecil itu, anak nya juga? Kapan nikahnya punya anak Segede itu? Sebagian berpikir seperti itu.


Tok...tok...


Tanpa banyak bertanya, tentang status hubungan pasien nya dengan dokter damar, dokter Lala pun mulai memeriksa kesehatan Hayu.


"Dok, titip istri dan anak saya dulu ya. Saya ada urusan sebentar, nanti saya ke sini lagi", ucap damar.


"Iya dokter damar. Santai saja. Toh istri dan anak anda hanya ada di ruang dokter kandungan bukan di kandang macan", canda dokter Lala.


"Dokter Lala bisa saja!", kata Damar.


Sebelum damar keluar ruangan, tak lupa ia mencium puncak kepala sang istri begitu juga kepada anaknya. Perlakuan berlebihan damar membuat hayu malu-malu keong.


"Saya nggak tahu lho kalau Dokter damar yang dingin itu, bisa meleleh saat bersama istri dan anaknya", kata dokter Lala.


"Memang biasanya mas damar gimana?", tanya Hayu. Faiz sendiri sedang melihat-lihat ruangan dokter Lala.


"Hem... biasanya dia itu jarang tersenyum, apa lagi ngomong. Ya...paling kalau nanganin pasien dia ramah."


Konsultasi antara hayu dan dokter Lala masih berlanjut sampai dokter damar kembali ke ruang dokter Lala.


"Papa...!", Faiz berlari menghampiri damar dan langsung di gendong.


"Papa bilang nggak lama kan?", tanya damar kepada Faiz. Bocah kecil itu pun mengangguk.

__ADS_1


"Gimana dokter Lala? Istri saya sehat dan aman kan kalo untuk segera merencanakan program hamil?", cerocos Damar. Hayu mencubit pinggang suaminya itu.


"Aman dok. Insyaallah, semoga Faiz segera di kasih adik ya?", kata dokter Lala tulus.


Faiz pun senang mendengar nya.


"Memang...usia Faiz berapa? jarak kehamilan sudah sangat aman sepertinya?", tanya Dokter Lala.


"Hampir lima tahun dok."


Hayu tak ingin bercerita jika Faiz bukan anak kandungnya. Biarlah mereka-mereka berpikir jika janda beranak satu ini menikah dengan dokter tampan seperti Damar.


Dokter Lala hanya mengangguk.


"Kami baru menikah dok!", kata damar kepada dokter Lala. Wajah penasaran dokter Lala pun semakin terlihat jelas. Padahal sebenarnya dalam hati dokter Lala ingin bertanya banyak hal apalagi soal pernikahan yang damar lakukan.


"Baru menikah?", ulang Lala. Iya, setahu dokter Lala , Dokter damar masih single. Apalagi dia terkenal dingin, Mika saja yang notabene Dokter cantik saja tak di gubris. Tapi ternyata perempuan cantik dan anggun yang berada di hadapannya adalah istri sang dokter.


"Iya dokter Lala!", sahut Damar.


"Ayo pa, katanya mau pulang....!", ajak Faiz.


"Ah, iya kita pulang. Kalo gitu kami permisi ya dokter Lala!", pamit Damar.


"Makasih dok!", ucap Hayu.


"iya. Sama-sama Bu. Hati-hati dokter damar!", kata Dokter Lala.


Sepeninggal sepasang suami istri itu, dokter Lala jadi merenungkan nasibnya sendiri .


"Patah hati lokal ini mah!", kata Dokter Lala lesu.


.


.


.


"Sayang...kapan kita honeymoon sih?", tanya Faiz sambil memeluk mika dari belakang. Padahal mika sedang bercermin karena baru selesai mandi.


"Insyaallah Minggu depan sayang. Aku kan nggak enak bentar-bentar cuti."


"Ya udah kamu buka praktek aja di rumah. Jadi nggak terikat sama aturan rumah sakit."


"Gampang banget ya kalo ngomong!!!", Mika mencubit lengan suaminya.


"Gampang lah....!", kata Fai yang langsung nyosor istrinya.


"Mmmhhh....mas.... hobi banget deng nyosor kaya soang!", kata mika mendengus kesal.


"Tapi enak kan....?"

__ADS_1


"Au...ah...lap!"


Fai pun beranjak ke kamar mandi. Dia pun bersiap ke kamar mandi. Dari pada di tinggal istrinya ke rumah sakit, mending ke showroom aja.


__ADS_2