Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Pahlawan ku, Imah


__ADS_3

"Mas, kamu dari mana aja?", tanyaku.


Mas Azizku hanya memandang ku dengan tatapan entah apa itu.


Karena tak ada jawaban apa pun dari mulutnya, akhirnya ku hampiri suamiku setelah meletakan Diaz dalam box nya.


"Kamu dari mana mas, belanja mu lama....", tanganku mengusap lengannya tapi aroma parfum yang berbeda darinya membuatku penasaran.


"Mas....?", panggilku lagi.


"Ke...kenapa dek?", jawab Aziz tergagap.


"Kok wangi parfum kamu beda...kaya...", aku menggantung kalimat ku.


"Kaya gini maksudnya?"


Aziz mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi parfum dengan merk lumayan mahal.


"Itu...punya siapa mas?", tanyaku ragu.


"Punya mu lah dek, siapa lagi?"


"Ini kan...parfum mahal mas?"


"Memangnya kenapa? Buat istri mas sendiri kok."


"Maksud kamu apa ngasih aku parfum mas? Apa ku udah nggak bisa ngerawat diri? Bau pipisnya Diaz?"


"Ya Allah dek. Jangan ada pikiran kaya gitu kenapa sih?"


Aku membeku. Aku mencoba mencium ketiak ku. Meski aku sibuk merawat Diaz, tapi aku tetap memperhatikan badanku. Minimal pakai deodorant.


"Sayang...mas cuma pengen kasih hadiah buat kamu, memang salah ya?"


"Hadiah dalam rangka apa? Yang ada harusnya aku yang ngasih kamu hadiah. Bulan depan kan kamu ulang tahun mas!"


"Hehehe mas udah tua, nggak perlu hadiah aneh-aneh. Hadiah terbaik seumur hidup mas adalah memiliki kamu sama Diaz. Mungkin juga...adiknya Diaz yang akan datang."


"Gombal!", ku cubit perutnya yang kian membuncit.


"Mas, kenapa makin tebel aja sih?", ku usap perutnya .


"Biarin, biar cuma kamu yang jatuh cinta sama mas."


"Dihhh....apa hubungannya perut gendut mu sama aku yang jatuh cinta sama kamu mas?"


"Adalah...karena kamu perempuan satu-satunya yang bikin aku bahagia."


"Gombal!"


Aku beranjak meninggalkan nya.


"Mandi lah mas, gantiin Imah. Kasian dia dari tadi sendirian."


"Iya sayang."


"Oh iya mas...."


Aku berbalik badan menghampiri nya. Ku raih kedua pipinya, ingin sekali ku beri kecupan kecil di bibir seksinya. Tapi...dia melengos saat bibirku hampir menyentuhnya. Malu sekali rasanya ...


"Maaf sayang...mas panas dalam. Takutnya...nafas mas bau. Mas nggak enak sama kamu dek. Jangan salah sangka ya?"


Ku perhatikan bibirnya yang terlihat pecah-pecah memang. Tapi...ku rasa itu bukan panas dalam, tapi seperti bekas di gosok kasar.


Ayolah Diandra, positif thinking!


"Oh...ya udah. Maaf, aku ngga tahu mas. Ya udah aku bikinin minuman dingin deh buat kamu."


"Makasih sayang....", ucap Aziz.


Aziz kini berada di dalam kamar mandi. Ia kembali menggosok bibirnya dengan kasar. Video yang mempertontonkan adegan ciuman nya dengan lili membuat ia merasa jijik. Terlebih lagi, perlakuan Diandra. Aziz semakin tidak tega pada istrinya itu. Bau parfum lili yang tertinggal pada bajunya membuat ia memiliki ide untuk membeli parfum untuk Diandra agar istrinya tak menaruh curiga.


Bodoh...bodoh...kamu Aziz. Makinya pada diri sendiri. Dia tak menyangka jika Tati bisa sejahat ini, bekerja sama dengan Lili. Aziz tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan rumah tangga nya jika Dian kembali melihat adegan itu. Sudah di pasti kan, nasib rumah tangga nya akan hancur.


"Mas, ini es nya!", ku serahkan es jeruk untuk mas Aziz.

__ADS_1


"Makasih dek!", Aziz langsung meminumnya hingga tandas.


"Mas ke depan ya. Kamu istirahat saja. Kalau capek, nanti malam kita pesan aja buat makan, jadi kamu nggak perlu repot-repot masak."


"Iya mas!"


Mas Aziz pun meninggalkan ku lewat pintu dapur. Ku pandangi punggung nya yang kian menjauh. Firasat ku mengatakan, Aziz sedang menutupi sesuatu. Tapi apa ?


***


"Kamu istirahat aja dulu mah."


Ku suruh Imah beristirahat usai ku duduk di sebelah kursinya.


"kamu dari mana mas?"


Suara Imah seperti orang yang sedang marah.


"Dari mana? Dari dalam rumah lah!"


"Jangan bohong mas!"


"Kenapa sih Imah?"


"Apa yang sudah terjadi antara kamu sama mbak lili tadi!"


Mataku terbelalak. Darimana Imah tahu? Apa Bu Tati yang memberi tahunya? Atau... jangan-jangan Tati sudah memberikan video itu pada Diandra?


"Imah....!"


"Mas, aku nggak mau ya kalau sampai kamu menyakiti mbak Di lagi!"


"Imah, sumpah mah. Aku nggak sejelek itu."


"Lalu apa? Mas cuma anterin ibuk sampai halaman apartemen, terus kamu malah jalan sama lili. Imah nggak habis pikir ya mas. Di depan kami kamu pura-pura sok jual mahal kalau ngomongin Lili. Tapi di belakang kami, kamu masih ada main sama dia mas?!"


"Astagfirullah Imah. Nggak, nggak bener itu mah. Percaya sama mas."


"Lalu, yang bener gimana?", Imah melipat kedua tangannya di dada. Aku hanya sanggup menelan salivaku. Imah pasti akan membela Dian mati-matian dari pada membela ku yang kakaknya sendiri.


"Mas tadi anterin Bu Tati masuk ke apartemen. Ibumu bilang, dia mau nitip kasih rawon buat kamu. Mas ikut lah ke unit apartemennya. Yang mas inget, mas di kasih minum sama Bu Tati m Udah gitu mas nggak inget apa-apa lagi mah. Tau-tau mas udah ada di ranjang sama Lili. Tapi sumpah demi Allah mas ga sampai melakukan hal itu lagi mah!"


"Iya, yang mas inget habis mas minum. mas gak inget apa pun."


"Lalu?"


"Mas ketemu ibu kamu, dia nunjukin video lili sedang mencium mas. Mas nggak nyangka kalau Bu Tati bekerja sama dengan lili buat menjebak mas Imah. Percaya sama mas!"


"Baiklah Imah percaya."


"Tolong jangan beritahu Dian ya mah. Mas mohon!"


Kutakupkan kedua tanganku memohon pada Imah.


"Iya. Imah juga sudah menghapus video itu dari ponsel ibuk!"


"Hah?"


"Iya mas, aku juga nggak mau mbak Di sakit hati lagi. Kali ini aku masih mau membantu mu ya mas, masih mau memaafkan mu. Sekali lagi kamu berbuat begini. Aku udah nggak ikutan."


"Ini juga salah ibu mu Mah!"


"Iya, itu juga Imah sadar. Imah minta maaf!"


"Tapi , gimana kamu menhapusnya mah?"


Flash back on


"Lho, ibuk sendiri? Mas Aziz kok belum pulang?"


"Lagek karo mbak Lili."


"Lho kok iso?"


"Iyo jeh, ibuk di Kon lungo seko apartemen. Mulakno ibu mrene, ngeterke rawon kanggo Kowe mbi bojone Aziz."

__ADS_1


"Owh... maturnuwun buk!"


"Oh iya mah, ibuk ga iso kirim wa. Kuota ibu entek koyo'e."


"Yo ws ndi hp anyare, Imah isiin vocer ae."


"Kie hp ne. ibu arep numpang kamar mandi ndisek Yo mah. Kebelet!"


"Iya buk!"


Sebelum ku menekan kode vocer ,aku mengecek terlebih dahulu aplikasi wa. Terbayar ada yang akan ibu kirim tapi masih buffering


gara-gara kuota nya habis.


Sebelum ku teka kirim, kulihat terlebih dahulu ternyata video ciuman lili dengan mas Aziz. Aku langsung membekap mulutku sendiri.


Aku mencari file galeri foto. langsung ku hapus video itu. Begitu pula dengan draft pesan yang tadi gagal kirim.


Rentetan pesan masuk dari lili meminta videonya tadi di kirimkan. Untung saja aku tidak terlambat mengetahuinya. Telat sedikit saja, tamatlah riwayat mu mas Aziz!


"Sudah diisi mah?"


"Sudah buk!"


"Mana sini!"


Tati meraih ponsel dari tangan Imah. Mengutak-atik ponsel baru nya.


"Lho...mah...Iki...?"


"Opo buk?"


"Kamu...kamu buka-buka hp ibuk tah? Lancang kamu Mah!"


"Yang lancang tuh ibuk! Salah mas Aziz itu apa sama ibuk? Bukan nya ibu harusnya terima kasih sama mas Aziz, dia udah beliin ibuk hp baru. tapi ibu malah kerja sama Karo mbak lili buat jebak mas Aziz?"


"Kamu nggak usah ikut campur ya mah!"


"Kalau berurusan dengan keluarga Imah, tentu Imah ikut campur buk!"


"Kamu....!", Tati menggeram mengacungkan jari telunjuknya dihadapan Imah.


"Maaf ya buk, Imah tidak bisa membalas budi atas kebaikan ibuk selama ini. Imah tidak akan memaksa ibuk biar mau tinggal sama Imah lagi."


"Terserah. Terserah kamu mah!"


Usai bertengkar, dering ponsel Tati masih terus terdengar nyaring .


"Iya mbak lili?"


"....."


"Maaf mbak, ternyata kehapus! Maklum, saya gaptek sama ponsel baru saya mbak!"


Tati tidak mengatakan langsung jika Imah yang sudah menghapus nya. Kalau sampai tahu, sudah dipastikan Tati akan lebih di salah kan .


Setelah itu, Tati pergi meninggalkan kios ganao berpamitan.


Flash back off


"Begitu ceritanya mas!"


"Ya Allah Imah...aku...aku sangat berhutang budi sama kamu mah!"


Aziz meraih Imah dalam pelukannya. Aziz tergudu diatas bahu Imah.


"Sudah mas. Jangan begini. Nanti ada yang liat malah salah sangka lagi."


Aziz melepas pelukannya sambil mengusap air matanya.


"Cowok kok doyan nangis mas!", ledek Imah.


"Menangis terharu, mas bersyukur punya adik kaya kamu!"


"Ehem.... assalamualaikum!"

__ADS_1


Tiba-tiba Dadan sudah ada di depan etalase ditemani Ustad Ahmad. (Enaknya langsung panggil Fai aja kali ya?)


"Walaikum salam."


__ADS_2