
"Om Stevan?"
"Bisa kita bicara Diandra?", tanya Stevan.
"Kita? Om mau bicara sama saya? Bukan mau menemui Hayu?"
"Untuk sekarang, om ingin bicara dengan mu."
Aku meminta persetujuan dari suamiku. Dan mas Aziz pun mengijinkan.
"Mari om, kita bicara di dalam saja!", ajak Aziz.
Om Stevan pun mengikuti kami di belakang.
"Silahkan duduk Om!" mas Aziz mempersilahkan Stevan duduk.
"terimakasih."
"Sebentar om, saya buatkan minum dulu."
Om Stevan hanya mengangguk, aku pun beranjak ke dapur.
"Apa kamu sudah lama menikah dengan Rara? Maksud saya Diandra?"
"Hampir enam tahun om."
"Owh....!"
"Silahkan om!", aku mempersilahkan om Stevan untuk meminum minuman yang ku suguhkan.
Dia pun meminumnya.
"Apa saya mengganggu waktu kalian?"
Aku dan mas Aziz menggeleng. Terdengar suara hembusan nafas yang kasar dari om Stevan.
"Maaf Ra, apa...kamu sudah benar-benar sembuh dari.... trauma mu?"
Om Stevan tau tentang trauma ku? Aku bahkan tak mengenalnya?
"Sembuh???pertanyaan macam apa itu om, istri saya baik-baik saja!", mas Aziz merengkuh bahuku. Aku yakin, mas Aziz hanya takut aku seperti kemarin lagi.
"Jangan salah paham Ziz. Saya hanya ingin tahu. Selama bertahun-tahun saya mencari informasi dari Kendra, tapi dia tidak memberi tahu saya tentang keadaan kamu Ra. Terakhir saya hanya mendengar bahwa...kamu mengalami trauma dan perlu penanganan khusus."
"Memangnya kenapa om nyari saya?"
__ADS_1
"Maafkan om. Semua penderitaan kamu, mungkin juga ...om lah yang andil besar di sini."
"Maksud om?", aku mulai penasaran.
"Dulu... sebelum dirham menikah dengan Mutia, saya lebih dulu menjalani hubungan dengan Mutia. Sayangnya, hubungan kami di tentang oleh kedua orang tua kami masing-masing. Karena kami memang memeluk agama yang berbeda. Akhirnya...orang tua Mutia menjodohkan Mutia dengan Dirham, sahabat ku sendiri. Pun sama dengan ku. Orang tua ku pun menjodohkan Ku dengan gadis pilihannya. Dari pernikahan inilah , saya memiliki Stevi. Dan....dari sini pula, penderitaan kalian di mulai!"
Jadi, ibu itu mantan pacar nya om Stevan? Batin Ku.
"Dua tahun setelah menikah, Mutia melahirkan mu. Itu pun karena sebuah ketidaksengajaan. Dirham hanya ingin melakukan haknya. Tapi tidak dengan Mutia. Dia merasa, saat ia hamil kamu, adalah kesalahan terbesar nya. Awalnya... saya ikhlas. Selain karena saya dan Dirham berteman baik, saya juga sudah memiliki putri. Tapi ternyata, perasaan saya dan Mutia tidak berubah. Kami masih saling berhubungan di belakang pasangan kami. Cinta buta kami merenggut kebahagiaan orang lain, termasuk kamu dan Stevi."
Om Stevan menarik nafas dalam-dalam.
Jujur, dadaku merasa bergemuruh dengan penjelasannya. Tapi aku masih ingin mendengar penjelasannya.
"Suatu hari, ayah mu memergoki pertemuan om dan Mutia. Dirham marah besar. Dari situ lah masalah-masalah muncul. Bertahun-tahun kami menyembunyikan hubungan om dan Mutia, ibumu. Dirham pikir, kami sudah tidak saling berhubungan lagi. Dirham kekeh ingin mempertahankan pernikahan nya, demi kamu. Tapi ibumu bersikeras, ingin berpisah dari ayahmu. Kendra bilang, di hari naas itu...kedua orang tuamu bertengkar hebat, sampai akhirnya...mereka menghembuskan nafas terakhirnya bersama-sama."
Om Stevan menunduk!
"Om turut menghadiri acara pemakaman kedua orang tua mu. Tapi saat om pulang...Stevi sudah histeris, mamanya ditemukan meninggal di kamar nya. Iya, om hanya berusaha membuat mamanya Stevi meninggalkan om. Om tidak pernah bisa mencintai istri om. Tapi, mama nya Stevi justru semakin dalam mencintai om , Ra. Di hari yang berdekatan, om kehilangan sahabat, kekasih, dan istri sekaligus. Beberapa hari setelah itu, Stevi meninggalkan rumah. Stevi tidak mau menemui om sama sekali, om hanya bisa memantaunya dari jauh. Kehidupan nya yang bebas, membuat om tidak bisa lagi mengekang nya. Dia...dia hanya meniru apa yang om lakukan. Om pun mencari tahu tentang mu, Kendra bilang...kamu sempat mengalami trauma karena...kedua orang tua mu meninggal di hadapan mu. Om merasa bersalah pada dua orang anak sekaligus. Kamu dan Stevi. Om sadar...om salah Ra! Dan...dan...mungkin, kesalahan om tidak akan pernah bisa kalian maafkan!"
Astagfirullah....
Kemarin, aku masih bisa menasehati Hayu untuk berusaha memaafkan om Stevan. Tapi hari ini, aku sendiri pun merasa kan hal yang sama. Mendadak aku jadi membencinya. Iya! Aku dan Stevi pantas membenci laki-laki ini. Tapi...
"Ra... minta maaf!"
"Benar kata Hayu, memangnya dengan memaafkan...orang tua ku dan mama Hayu hidup lagi Om?", tanyaku dengan suara bergetar.
"Tidak Ra. Om tahu itu!", Stevan menakupkan kedua tangannya di wajah.
Mas Aziz memelukku dengan erat. Aku tahu, mas Aziz hanya ingin menguatkan ku. Meskipun dia sendiri pasti tak kalah terkejutnya dengan ku.
"Ra...om tahu, om tidak pantas mendapatkan maaf dari kalian. Tapi...tolong beri tahu om, bagaimana om harus menebus kesalahan om Ra!!"
"Maaf om, saya permisi!", aku pun meninggalkan mas Aziz dan om Stevan di ruang tamu. Aku memilih untuk menenangkan diri di kamar ku.
Mas Aziz masih duduk di sofa. Dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Tidak sopan rasanya jika harus mengusir om Stevan.
"Ziz!"
Aziz pun mendongak menatap Stevan.
"Om tahu. Pertemanan antara kamu ,Fai dan Mika dan juga Stevi. Om hanya berharapa, apa yang sudah om alami...jangan sampai terulang."
"Insyaallah tidak om. Karena kami tidak seperti anda!"
__ADS_1
"Semoga saja begitu."
"Maaf, bukan saya nggak sopan ya om. Bukan maksud saya mengusir anda, jika Anda sudah tidak berkepentingan... bisakah anda keluar drai rumah kami?"
Lagi-lagi Stevan menarik nafasnya.
"Iya. Om akan pulang. Tapi... boleh om tanya sedikit tentang Stevi?"
"Om bisa bertanya langsung padanya om!"
"Bukan. Om hanya ingin tahu, siapa laki-laki yang saat itu bersama Stevi?"
"Dokter Damar. Dia bekerja di rumah sakit Persada."
"Baiklah. Terimakasih! Mungkin om akan bertanya langsung padanya."
Stevan pun mengundurkan diri sambil menyalami Aziz.
Dari luar terdengar kegaduhan. Iya, kegaduhan dua bocah tampan yang berlari ke ruang tamu.
"Assalamualaikum om Aziz....!", teriak Farhan dan Fai .
"Walaikumsalam. Udah pulang!"
"Iya om....!", sahut mereka kompak.
Stevan memandang dua bocah tampan itu. Matanya fokus menatap Faiz.
"Dia....putra Stevi Ziz?", tanya Stevan. Faiz pun menoleh ke Stevan.
"Iya. Faiz memang anaknya Hayu om. Meskipun bukan anak kandung, tapi mereka saling menyayangi."
Bukan anak kandung Stevi? Apa Stevi menikah dengan duda? Batin Stevan.
Tak lama mama dan Imah masuk membawa Diaz, di belakang nya kang Dadan pun menyusul. Mereka hanya melempar senyum kepada Stevan.
Dengan masih memiliki rasa penasaran tinggi, Stevan pun meninggalkan rumah itu. Tapi setidaknya dia merasa sedikit lega, bisa meminta maaf pada diandra.
******
Maaf ya guys. Cerita nya muter-muter ya? Tapi insyaallah kok, nggak jauh-jauh temanya tentang 'kepercayaan', bukan kepercayaan tentang keimanan lho ya....?!
Di tunggu kritik dan sarannya. Biar ke depan bisa berkarya lebih baik lagi.
Salam dari mamak2 beranak dua 🤗✌️
__ADS_1