
Tak terasa mobil kami sudah sampai saja di rumah. Dua orang pengawal membukakan pintu mobil kami.
"Makasih pak!", kata kang Dadan. Pengawal pun menganggukkan kepalanya.
Kami berempat menuruni mobil. Dengan sigap mas Aziz membantuku turun.
.
.
Setelah kami sama-sama duduk di ruang tamu....
"Mah, mas lihat kamu sama Dadan lagi nggak seperti biasanya. Ada apa?", tanya Aziz.
"Em...maaf, aku ke Diaz dulu ya?!", pamitku. Mas mengiyakan.
Imah yang di tanya hanya diam saja. Dadan yang salah tingkah.
"Dan??", Dadan melirik istrinya sebentar.
Aziz menghela nafasnya.
"Ya udah, maaf kalau mas ikut campur. Mas ke dalam aja ya!", Aziz hendak berdiri.
"Ini mas ...!", kata Dadan. Aziz pun urung berdiri.
"Benar ada sesuatu yang membuat kalian begini?", tanya Aziz lagi. Dadan pun mengangguk.
"Gini mas... beberapa waktu lalu, Imah denger kalau Mak komplain katanya Imah sibuk ngurusin keluarga kalian terus. Nggak sempat ngurusin Mak. Lha wong tiap hari juga Imah udah kerjain semua kewajiban Imah kok. Tambah lagi yang bikin Imah sakit hati. Namanya hamil kan rahasia Tuhan. Masa Imah baru nikah sebulan lebih di tuntut harus hamil", akhirnya Imah mengeluarkan unek-uneknya.
Dadan meremas kedua tangannya yang di letakan di atas paha nya. Terdengar hembusan nafas Aziz lalu mengusap wajahnya.
"Imah, sebenarnya Mak pun nggak sepenuhnya salah. Benar kata Mak. Kamu kan udah punya kehidupan sendiri, tapi masih aja mas gerecokin keluarga kamu."
"Maksudnya Imah udah nggak boleh gitu bantu mas di kios? Bantu jagain Diaz?"
"Ssst.... Jangan salah sangka dulu Imah. Mas belum selesai!"
Imah duduk terdiam di hadapan kakaknya itu.
"Mah, bukan nya mas nggak suka di bantu sama kamu. Maaf... maafin mas yang selalu bikin kamu repot. Apa-apa Imah. Dikit-dikit minta tolong sama Imah."
"Mas suka kok di bantu sama kamu. Tapi ada baiknya juga kalau kamu memang menjaga Mak di rumah. Beliau udah sepuh lho Mah. Masa kamu nggak kasian sama ibu yang sudah melahirkan suamimu?"
__ADS_1
Imah menunduk tak berani menatap wajah kakaknya.
"Soal hamil, punya anak. Itu memang rahasia yang kuasa. Kalian tahu, berapa lama kami menantikan kehadiran Diaz? Dan...kalian tahu apa yang sudah mbakmu lewati selama penantian itu?"
Imah dan Dadan menggeleng.
"Mamah selalu menuntut anak dari Dian. Meminta nya berhenti bekerja. Sampai memaksa ku untuk poligami."
Imah menutup mulutnya. Dadan pun tak beda terkejut nya.
"Kalian tahu siapa yang mau mama jodoh kan dengan mas waktu itu?"
Kedua nya menggeleng.
"Lili!", kata Aziz.
"Hah? Kok bisa?", tanya Dadan dan Imah bersamaan.
"Iya. mama belum tahu lili yang sebenarnya. sampe akhirnya lili menunjukan video itu. Tapi...mama bukannya seneng, justru mama marah banget sama mas. Di saat yang sama, mas di hadapkan dengan kenyataan jika Dian dan Lili hamil."
"Dian menuntut pisah dari mas. Tapi setelah di selidiki, ternyata Lili hamil bukan dengan mas. Tapi itu juga nggak merubah sakit hati Dian. Susah payah mas meluluhkan hati dan meminta maaf sama Dian. Sudah tertekan karena perbuatan mama di tambah lagi kehadiran Lili."
"Mas cerita begini, biar kalian tahu. Anak itu rejeki dari Allah. Dia yang bisa bikin Imah secepatnya hamil atau kapan pun. Jangan memaksa hal yang bukan ranah kita. Rejeki itu sudah Allah atur."
"Tapi Imah masih mau di sini. Imah mau bantu jagain kios dan juga Diaz, keponakan Imah sendiri. Mas kan udah bantu Imah urusin butik Imah, peninggalan mama Isamaya. Apa salah nya sih kalau Imah gantian bantu di kios mas ?", cerocos Imah.
Kedua pria itu mengusap pelipisnya.
"Sekarang kalian pulang! Bicara dari hati ke hati bareng Mak. Usia pernikahan kalian masih hitungan hari, jangan membuat masalah kecil menjadi besar. Selesai kan! Kamu mah, ungkap mau mu seperti apa. Dan kamu Dadan, bersikaplah adil. Jadilah penengah. Biarkan istri dan Mak mu mengungkapkan semua sampai dapat titik temunya."
Setelah beberapa saat, sepasang suami istri itu pun berpamitan pulang.
.
.
"Papa nggak nyangka kamu pernah berbuat seperti itu Damar!Bikin malu aja!", kata Handoko yang sudah duduk di sofa rumah nya. Dadanya naik turun karena menahan emosi terhadap putranya.
"Pa, Damar tahu damar salah. Makanya damar mau memperbaiki semuanya Pa."
"Apa kehidupan mu sebebas itu? Bagaimana bisa kamu memiliki anak di diluar nikah? Dan...itu....siapa orang tuanya? Kenapa dia juga berperilaku seperti itu?"
"Ma, Pa. Stevi itu perempuan yang baik. Damar yang sudah merusak nya. Stevi meminta pertanggung jawaban dari Damar, tapi waktu itu Damar belum siap sama sekali. Apa lagi Papa memindahkan damar ke kampus lain. Damar... meminta Stevi menggugurkan kandungan nya."
__ADS_1
"Apa??", pekik mamanya. Sepasang suami istri itu terkejut setengah mati. Tak menyangka jika anak mereka bisa bertindak seperti itu.
"Ma, Damar yang sudah merusak Stevi. Ijinkan damar memperbaiki kesalahan damar di masa lalu ya."
"Tapi dia janda, punya anak satu kan?", tanya Mama.
"Ma, Stevi memang janda. Suami nya meninggal beberapa bulan yang lalu. Mereka menikah sudah sepuluh tahun, tapi belum di karuniai putra. Dan anak kecil tadi, Faiz. Anak itu anak adopsi nya Stevi. Faiz itu yatim piatu , Stevi dan suaminya sepakat untuk merawat Faiz."
"Andai kata dulu Damar tak meminta Stevi menggugurkan janinnya, cucu kalian sudah besar ma....pa..."
"Kenapa kamu nggak bilang dari dulu? Kenapa harus di gugurkan? Kaya orang nggak beragama saja kamu Dan!", papa damar masih meninggikan suaranya.
"Maaf Pa, Damar akuin damar salah!", Damar bersimpuh di depan kaki papanya.
Sedangkan Handoko masih tak bergeming.
"Pa, tolong....restui Damar dan Stevi Pa...Ma...!" kata Damar memelas.
"Papa nggak tahu gimana perjuangan Damar untuk mendapatkan maaf dari Stevi Pa. Karena... Damar terlalu menyakiti hati Stevi."
Handoko masih tak ingin menjawab. Berbeda lagi dengan istrinya.
"Mama nggak setuju. Kamu itu masih single, dokter spesialis pula. Masa nikah sama janda beranak satu? oke lah itu anak adopsi, tapi ...mama nggak mau ya rekan kantor mama atau papa mengolok-olok status menantu mama yang janda. Mama nggak mau!"
"Astagfirullah Ma...mama kan juga perempuan Ma. Tega sekali mama bicara seperti itu!", kata Damar. Bukannya mendengar ucapan anaknya, mama Damar justru meninggalkan damar dan papanya di sofa.
"Pa...Damar cinta sama Stevi. Tolong...ijinkan Damar sama Stevi Pa. Sebagai sesama laki-laki papa ingin kan kalau Damar jadi pria yang bertanggung jawab?", Damar memegang kedua tangan papanya.
"Papa khawatir dengan papa nya stevi?"
"Papa memang tidak mengenal Stevanus Winata secara dekat, tapi papa tau bagaimana dia."
"Pa...om stevan itu orang baik pa. Damar tahu itu. Pertama kali Damar mengatakan kalau Stevi pernah hamil gara-gara Damar, om stevan marah. Tapi semakin ke sini, Damar tahu kalau dia seperti itu karena menyayangi putrinya."
"Pa, papa akan mengerti kehidupan mereka seperti apa saat Damar dan stevi menikah. Damar butuh restu papa!"
Damar masih bersimpuh di hadapan papanya.
"Untuk saat ini, papa masih tetap belum bisa merestui mu menikahi janda itu!", Handoko pun bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Damar .
Damar pun terduduk lemas. Ini sudah seperti dugaan nya dari awal. Pasti akan sulit meluluhkan hati kedua orang tuanya.
Ya Allah...bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimanapun bisa aku mengkhianati kepercayaan yang Om stevan berikan padaku????
__ADS_1
Damar mengusap kasar wajahnya, lalu masuk ke dalam kamarnya.