
"Om...bangun. Jangan bersujud seperti ini!", aku meminta Stevan bangun dari hadapan ku.
"Daddy, ngapain merendahkan dirimu di depan Dian. Dia akan semakin besar kepala karena Daddy memohon seperti itu!", bentak lili pada Stevan.
"Diamlah Lili! Kau tak tahu apa pun?!"
Lili dibuat bungkam hanya dengan satu kalimat dari suaminya.
"Istrimu benar om. Bangunlah!"
Meskipun pelan, Stevan pun bangkit.
"Om...aku tidak bisa janji apakah aku bisa mempertemukan kalian. Tapi.... beberapa hari lagi acara resepsi fai dan Mika. Mungkin, setelah acara itu selesai kita bisa mengajak Hayu bicara."
Ekspresi wajah Stevan yang tadi sempat muram, kini berangsur cerah.
"Makasih Ra!", tiba-tiba om Stevan memeluk ku.
"Bukan mahram Om!", teriak Aziz.
Stevan pun melepaskan pelukannya dari ku.
"Maaf...om hanya terlalu senang. Maafkan om Ziz. Tolong jangan salah sangka. Rara sudah seperti anak om sendiri."
"Halah...cari kesempatan! Kenapa nggak meluk istrimu saja om Stevan??!"
"Udah mas....!" aku meminta mas Aziz diam. Aku tahu, om Stevan spontan memelukku karena ia bahagia aku akan mempertemukan Hayu dengannya. Bukan semata-mata karena napsu.
"Kalau begitu, om pulang ya Ra. Ziz. Dan...tolong, maafkan Lili jika selama ini mengusik kehidupan kalian!", ucap Stevan.
"Daddy apa-apaan sih? !??", lili merajuk. Persis sekali seperti seorang anak yang merajuk pada ayahnya.
Sekarang hanya ada aku dan mas Aziz di ruangan ini. Aku memijat pelipisku yang terasa pening.
"Sayang....!", mas Aziz mengusap lenganku.
"Apa aku sudah memaafkan om Stevan ya mas? Lagi pula, apa alasan ku untuk tidak memaafkan nya? Toh...semua sudah terjadi. Sudah takdir nya seperti ini."
Aku menyandarkan kepala ku ke punggung sofa. Tapi mas Aziz meraih ku dalam pelukannya.
"Aku tahu, istri sangat baik. Bahkan terlalu baik. Kamu sangat mudah memaafkan orang lain."
"Aku tak sebaik itu mas.....!", aku menenggelamkan kepalaku di dadanya.
"Bersiap lah, sebentar lagi kita ada pertemuan dengan pihak PT Xxxx di atas."
"Ah ...iya mas. Bahkan aku belum menyiapkan bahan nya. Jangankan menyiapkan, mempelajarinya saja belum."
Aku bangkit menuju meja kerja ku. Lalu ku buka file yang akan ku gunakan untuk pertemuan dengan perwakilan PT Xxxx tersebut.
Mataku mulai meneliti tiap dokumen itu.
"Mas...kamu sudah menyiapkan nya untukku?", tanyaku sambil mendongakkan kepala ku padanya yang berada di samping ku.
"Tentu saja sayang, hanya itu yang bisa mas lakukan untuk mu."
Spontan aku memeluk tubuh atletisnya itu.
"Kamu selalu mengerti aku mas!"
Aziz tersenyum lalu mengusap kepalaku.
"Karena kamu sangat berharga buat mas."
Di sela-sela pelukan kami, pintu ruangan pun di ketuk.
Tok....tok....
"Masuk!"
Julian pun masuk ke dalam ruangan ku.
"Permisi Bu, pak. Pertemukan akan segera di mulai!"
"Iya, kamu akan ke sana", kataku.
__ADS_1
"Bukan kami, tapi kamu dan Julian."
"Mas....???!"
"Mas di sini, ada yang harus mas kerjakan juga."
"Lalu presentasi nya?"
Mas Aziz menyunggingkan senyumnya.
"Dengan membaca sekilas saja, kamu bisa memahami nya. Kamu kan pandai sekali bicara dek, nggak sulit kan hanya sekedar presentasi?"
"Mas....!!!", aku mencubit pinggang nya.
"Sakit dek! Malu sama Julian tuh! Udah sana, mas nggak kemana-mana. Tadi ada laporan dari Bogor. Mas mau ngecek aja kok!"
"Ya udah, janji. Jangan ke mana-mana!"
"Iya sayang. Semoga sukses presentasi nya ya bos!!!"
"Siap tuan bos!", kataku sambil nyengir.
Julian pun hanya mampu membatin ,betapa romantisnya pasangan ini.
"Silahkan Bu....!".
Seperti biasa, Julian mempersilahkan aku terlebih dulu.
Kami berdua berjalan beriringan menuju lift. Sesekali bertemu dengan karyawan yang lain dan bertegur sapa.
"Mas Jul!"
"Iya Bu,?"
Kami hanya berdua di dalam lift, karena ininloft khusus untuk petinggi DWP.
"Bagaimana persiapan nya? Apa kamu juga sudah siap untuk membantu ku seandainya aku mengalami kesulitan?"
"Saya siap membantu anda Bu!"
Setelah pintu lift terbuka, ternyata pihak dari PT xxx sama-sama keluar dari lift sebelah.
Kami pun memulai rapat kami.
.
.
.
.
"Kalian yakin akan pindah ke rumah Selly?", tanya papa Umar.
"Iya pa. Mika seneng aja pa. Kan deket sama Dian ,Imah dan Stevi", jawab Mika riang.
"Dan kamu setuju Fai?", tanya papa padaku.
"Asal mika senang pa. Andai saja mika mau, Fai bisa membeli kan rumah buat Mika."
Papa Umar tersenyum. Iya, tentu saja menantu nya itu bisa membeli kan rumah untuk putrinya.
"Ya sudah, terserah kalian saja. Yang penting, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi papa."
"Tentu saja papa ku sayang!", mika memeluk papa umar.
"Jadi, kapan kalian pindah?"
"Pagi ini pa. Kebetulan mika ada praktek sore nanti. Jadi, kami akan pindah pagi ini."
"Harus pagi ini?", tanya papa.
"Iya lah papa ku sayang. Kami pengen, setelah resepsi kami langsung pulang ke rumah kami sendiri."
"Bilang aja pengantin baru nggak mau di ganggu!", kata papa sambil meminum kopi nya.
__ADS_1
"Itu papa tahu....!"
Kami bertiga pun sarapan bersama.
.
.
.
.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam. Ustadzah Syifa???", tanya Hayu yang terkejut di datangi tamu sepagi ini.
"Sibuk ya mbak Hayu?", tanya ustadzah Syifa, istri dari ustadz Zaki.
"Nggak Ustadzah! Mari masuk!"
Dua orang perempuan berbeda usia pun masuk ke ruang tamu sederhana milik Hayu.
"Ada apa ya ustadzah ke mari? Apa akan mengajak Faiz ke acara lomba lagi?"
Syifa menggeleng pelan dan tersenyum.
"Mbak Hayu...apa saya boleh menanyakan sesuatu yang sifatnya pribadi?"tanya Syifa.
"Tentu Ustadzah, Kenapa?"
"Apa....setelah kepergian almarhum Royan, mbak Hayu sudah dekat dengan seorang laki-laki? Maksudmu berniat menikah lagi?"
"Astagfirullah...maaf Bu ustadzah sebelum saya jawab, boleh tahu kenapa ustadzah Syifa bertanya seperti itu?"
Ustadzah Syifa menarik nafas nya perlahan. sepertinya ia sedang mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya agar kuat menyampai kan sesuatu pada hayu.
"Kalau belum...saya di minta suami saya, untuk.... untuk....mengkhitbah mbak Hayu!", kata Ustadzah Syifa sambil menitikkan air mata.
"Astagfirullah, Allahuakbar.....!", hayu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Mbak Hayu, suami saya menyukai mbak hayu. Saya hanya tidak ingin ada kesalahpahaman ke depannya. Maka dari itu, saya memberanikan diri untuk bertanya langsung pada mbak Hayu."
Hayu membeku. Jadi, kebaikan ustadz Zaki selama ini?????
Hayu pun mengucap bismillah sebelum memberi keputusan.
"Maaf ustadzah Syifa. Saya memang belum memiliki pengganti mas Royan. Tapi...nggak pernah sedikitpun di benak saya, untuk....untuk menyakiti hati perempuan lain."
Syifa menatap hayu dengan pandangan sendu.
"Maksud saya , saya tidak ingin menjadi perusak rumah tangga anda ustadzah. Ilmu saya masih dangkal. Saya mengimani poligami. Tapi saya tidak ingin menjalankan nya. Maaf, saya tidak bisa jika harus jadi istri ustadz Zaki. Apalagi... ustadzah Syifa masih sehat dan tidak ada alasan untuk Ustadz Zaki berpoligami, apalagi dengan saya. Saya nggak mau menikah semata-mata karena nafsu saja ustadzah. Anda tau saya kan????"
Mata Ustadzah Syifa berkaca-kaca, lalu memeluk Hayu sambil tergugu.
"Tolong... sampai kan maaf saya kepada ustadz Zaki. Saya tidak bisa menerima pinangan beliau."
"Terimakasih mbak Hayu... terimakasih!"
Syifa semakin erat memeluk Hayu.
Bagiamana bisa seperti ini?
Aku yakin, ustadz Zaki tidak akan tinggal diam. Apalagi, dia sudah terlalu baik padaku selama ini.
Aku harus apa ya Allah???
Damar?!! Apa...aku perlu bantuan Damar???!
Apa....aku harus membuka hatiku untuk Damar? Daripada aku harus menyakiti Ustadzah Syifa yang selama ini baik padaku....????
*****
Boleh nggak sih, ngasih angin segar buat Damar?
Dikitttttt..... doang kok. Boleh ya????
__ADS_1
Eits...tapi...Damar nggak ada perjuangan nya dong???? 🤔