
"Mas, lain kali nggak usah ladenin ibu-ibu yang julid kaya gitu. Aku udah biasa kok denger omongan sindiran yang nggak kalah pedes sama cabe", tegur hayu pada suaminya.
"Mas gatel aja gitu pengen bungkam mulut mereka", damar membela diri.
"Kita kan harus bisa beradaptasi sama lingkungan tempat kita tinggal mas. Nggak usah cari masalah....", kata Hayu berusaha menenangkan. Sedangkan Faiz sudah sibuk dengan mainannya yang dari kemarin ia tinggal.
"Maaf sebelumnya sayang, bukan aku nggak mau beradaptasi dengan lingkungan sini. Tapi.... sepertinya tempat ini nggak cocok buat kita", kata damar dengan sedikit takut. Hayu menatap suaminya dengan tanda tanya.
"Jangan salah sangka sayang. Maksud mas, andai kata mas ada tugas mendadak terus buru-buru, mas harus lari dulu ke depan karena mobil kita di depan. nggak ada maksud buat nyunggung kamu sayang....!", damar mengusap lengan istrinya yang berbalut gamis itu.
Bukannya marah, Hayu justru tersenyum.
"Untuk sementara mas, sampai kita benar-benar menikah secara negara. Kita pindah ke apartemen mu!"
"Benar?", tanya Damar memastikan.
"Iya mas."
"Baik lah, hari ini juga mas akan mendaftarkan pernikahan kita!", kata Damar sambil berdiri.
"Mas, sabar dong! Dengerin dulu!", damar pun kembali duduk.
"Kita harus memiliki restu dari mama dan papa!", kata Hayu pelan.
"Sayang, dengerin mas. Dengan atau tanpa restu mereka, kamu sudah jadi istriku!", kata Damar tegas.
"Mas ....!", panggil Hayu karena damar sudah bangkit dari sofa.
"Aku ke rumah sakit sekarang!", katanya sambil mengulurkan tangannya untuk di cium. Lalu meninggalkan istrinya yang masih di sofa.
"Faiz ,papa berangkat kerja dulu ya."
Faiz pun menyalami damar.
"Hati-hati papa!", kata Faiz.
"Iya sayang. Assalamualaikum!", pamit Damar tanpa melirik istrinya. Hah! Baru sehari saja udah di uji urusan kaya gini! Batin Damar.
"Walaikumsalam."
Hayu dan Faiz menjawab bersamaan.
Damar keluar dari rumah kontrakan hayu. Sesekali ia berpapasan dengan tetangga hayu, damar hanya melempar senyum tipis.
Ada sekitar lima menit ia berjalan menuju mobil nya yang terparkir di jalan depan.
Baru saja mau masuk mobil, bahu nya di tepuk seseorang. Damar pun menoleh.
"Papa??!", damar tercengang melihat keberadaan papanya.
"Apa peringatan papa tidak cukup kamu pahami?", tanya Papa damar.
"Maaf Pa, tapi Damar mencintai Stevia. Stevi istri sah damar!"
Plakkk....
sebuah tamparan mendarat di rahang kokoh sang dokter tampan. Damar hanya mengusap bekas tamparan papanya. Ada sedikit percikan darah di sudut bibirnya. Bisa dibayangkan betapa kencang tamparan papanya itu.
"Kamu benar-benar melangkahi papa!"
"Cukup pa. Selama ini, damar sudah lelah menuruti semua keinginan papa. Jadi tolong, untuk kali ini jangan campuri urusan Damar lagi."
"Dasar anak kurang ajar!", Handoko hampir kembali menampar Damar. Tapi tangan seseorang menghalangi nya melakukan itu.
__ADS_1
"Daddy!", kata Damar. Handoko yang tidak terima pun menoleh padanya. Dengan kasar, Handoko menghentakan tangannya dari cengkeraman Stevan.
"jangan ganggu kebahagiaan anak dan menantuku!", kata Stevan dingin.
"Dia anakku. Aku yang berhak menentukan masa depannya! Anakku bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari anakmu!", tukas Handoko.
Stevan tersenyum sinis.
"Jauh lebih baik? Heum...tentu saja. Damar dokter muda, hebat dan tampan. Tapi sayang nya, dia sudah terlanjur jatuh hati pada putriku."
Damar pun tersenyum mendengar pembelaan dari mertuanya.
"Saya tahu, alasan yang sebenarnya profesor Handoko yang terhormat!", kata Stevan sinis. Handoko pun menatap Stevan dengan pandangan membunuh.
"Tidak ada alasan apa pun. Aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku. Bukan menikah dengan seorang janda, apalagi anakmu!"
Lagi-lagi, Stevan hanya tersenyum.
"Apa sudah saatnya putra tampan mu ini tahu profesor?", tanya Stevan. Handoko pun terkesiap. Dadanya naik turun menahan emosinya.
Stevan pun berjalan mendekat Damar, lalu menepuk bahu menantunya itu.
"Resmikan pernikahan kalian nak!"
"Dad....?", tanya Damar ragu.
"Papa mu hanya malu kalau dia berbesanan dengan Mommy mu Dam?!"
"Mommy? Maksudnya....Lili?" tanya Damar. Stevan tersenyum tipis.
"Apa hubungan nya mommy dengan papa damar dad?",tanya Damar penasaran.
"Tanya saja sama profesor yang terhormat itu!",Stevan menunjuk Handoko dengan dagunya.
Sedangkan Handoko diam tak berkutik.
Stevan tersenyum jahat.
"Jangankan papamu Dam, mama mu pun tak kalah dari papa mu!"
"Apa dad????", Damar terkejut.
"Daddy hanya ingin bilang ke kamu dam. Bukan maksud Daddy mengajari mu untuk tidak menghormati orang tuamu. Tapi... dengan atau tanpa restu mereka,kamu tetap bisa menikahi putri kesayangan Daddy!"
Damar mencerna ucapan Daddy nya itu.
"Maaf Pa, damar tahu damar sudah mengecewakan papa. Tapi untuk kali ini, damar ingin menentukan masa depan damar sendiri!"
Tanpa berpamitan, Handoko pun pergi.
"Kalau kamu mau dinas, silahkan! Daddy mau menemui Stevi sebentar!"
"Iya Dad. Damar berangkat ke rumah sakit sekarang!", pamit Damar. Sedang kan Stevan di temani asisten nya ke rumah kontrakan hayu.
.
.
Penangkapan Ronald sudah di lakukan, bahkan di depan Aziz dan Julian . Ronald terlihat sangat marah pada keduanya. Meski ia tak melawan saat polisi meringkus nya.
Saat di depan Aziz, Ronald meminta berhenti menyeret nya.
"Dasar menantu sialan! Tidak tahu diri!", umpat Ronald kepada Julian. Meskipun dia belum benar-benar jadi menantunya.
__ADS_1
"Dan kamu!Berani sekali kamu melawanku!kamu akan menerima akibatnya setelah melakukan ini padaku Ziz. Dan Dian....Diandra akan mendapatkan lebih dari yang aku rasakan saat ini! Dia yang bertanggung jawab atas semuanya. Aku tidak akan main-main, lihat saja perlahan-lahan kamu akan merasakan seperti apa kehilangan!Camkan itu?!", ancam Ronald.
Aziz cukup terkejut dengan ancaman Ronald. Tapi apa dia masih harus cemas, sedang kan Ronald saja sudah masuk bui?
Julian mengajak Aziz kembali ke kantor nya.
"Masih ada meeting lagi dengan perwakilan CV Agung pak. Bagaimana?", tanya Julian memecah keheningan di dalam mobil.
"Iya. Atur saja Jul. Terus terang, aku jadi kepikiran dengan istri ku mendengar ancaman om Ronald."
Julian paham seperti apa yang bos nya pikirkan. Mertua nya itu memang nekat dan tidak pernah main-main dalam melakukan semua hal.
"Berpikir positif saja pak. Tidak akan terjadi apapun dengan Bu Dian."
"Semoga saja Jul!", kata Aziz sambil mengusap pelipisnya.
"Oh iya, sudah terpikir memberi hadiah apa untuk Bu Dian?"
"Belum Jul. Aku sampai bingung memberi hadiah apa."
"Kenapa anda tidak membelikan barang atau sesuatu yang Bu Dian suka, misal tas atau perhiasan mungkin?"
Aziz tersenyum tipis.
"Istriku bukan penyuka barang-barang mewah. Kamu tahu, tas yang biasa dia pakai? Hanya lima ratus ribu. Itu pun aku yang memaksanya untuk membeli. Dia selalu bilang, beli sewajarnya saja. Yang penting fungsi nya, bukan harganya."
"Perhiasan dari mama ku saja tak pernah ia pakai. Hanya cincin pernikahan kami yang selalu berada di jari manisnya. Itu pun sempat ia lepaskan saat ....mencoba menggugat cerai dari ku!", kata Aziz pelan.
"Cerai???", tanya Julian terkejut.
"Ya. Karena sebuah kesalahan, Dian hampir meninggalkan ku. Beruntung nya aku, mendapatkan kesempatan kedua darinya."
Julian tidak berani bertanya tentang kesalahan yang di maksud, yang penting ia mendengar saja apa yang bos nya ingin ceritakan.
Keduanya masih terdiam setelah membahas kata 'cerai' tadi.
"Em...pak, gimana kalau makan malam romantis?", tanya Julian tiba-tiba.
"Makan malam?"
"Iya, makan malam romantis di resto setelah itu anda menginap di hotel mungkin!", kata Julian bersemangat.
"Kamu tak mengenal istriku Jul!"
Julian mengernyitkan keningnya. Apa yang dia gak ngerti?
"Dian lebih memilih makan nasi kuning bersama keluarga nya saja di bandingkan makan malam romantis begitu!", Aziz mengusap pelipisnya lagi.
Bos cewek emang aneh! Batin Julian.
"Ya sudah, buat acara di rumah saja. Syukuran kecil-kecilan bersama keluarga anda pak."
Aziz tersenyum tipis.
"Iya jul. Ide yang tepat mungkin seperti itu. Hanya saja, kamu bisa kan memberikan menu terbaik untuk acara Dian?"
"Tentu saja pak. Dengan senang hati saya melakukan nya untuk anda!", kata Julian semangat.
"Makasih Jul!", Aziz menepuk lengan Aspri istrinya itu.
*****
Waktu itu...pernah ada yang bilang, tokohnya terlalu banyak. Mamak aja suka lupa 😆. Jadi, satu per satu mau mamak pangkas ya....entah itu di oper ke planet lain atau di matikan saja tokohnya ðŸ¤
__ADS_1
So.... tengkyu ya yang masih berkenan baca tulisan mamak ini 😜👌🥰🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa ya????