
Ada yang nungguin nggak sih apdeta-an mamak???
Lagi sibuk di dunia nyata, jadi ga sempet lirik dunia halu 😜😜ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤.
Btw....happy reading semua, semoga bisa di nikmati. Dan...mamak masih berharap krisan dari kalian2 semua 🥰.
***
"Dari mana kamu Van?", tanya papa Revan.
"Bukber sama Diandra!", jawab Revan sambil berlalu ke kamar. Padahal di ruang tamu itu ada tamu, rekan bisnis papanya.
"Revan, kemari!", panggil papanya lagi. Mau tak mau Revan kembali berbalik ke arah papa dan tamunya. Disaat yang bersamaan, seorang gadis keluar dari toilet. Tanpa melirik sedikitpun, ternyata mereka berjalan beriringan menuju ke ruang tamu.
"Duduk!", titah papanya.
Revan pun menuruti perintah papa nya. Dia menatap sekilas ke tamu papanya itu. Dan detik berikutnya, seorang gadis duduk di sebelah teman papanya. Mungkin gadis itu anaknya.
"Van, kamu masih ingat om ?", tanya tamu itu. Revan pun mendongak menatap seksama pria setengah baya itu.
"Om Mattew?", tanya Revan. Pria itu tersenyum.
"Syukurlah kalo masih ingat, dan kamu juga harusnya ingat dong sama anak gadis om ini?", tanyanya. Revan beralih menatap gadis itu. Tapi Revan tak berkomentar apa-apa.
"Van, kamu sudah dewasa. Papa dan Om Mattew bermaksud menjodohkan kamu dan putrinya!", kata papa. Gadis itu dan Revan sama-sama terkejut.
"Iya, kami ingin kalian secepatnya menikah!", kata Mattew.
"Nggak!", sahut Revan dan gadis itu.
Kedua pria dewasa itu tersenyum tipis.
"Gimana Indra? Seperti dugaan kita sebelum nya bukan?", kata Mattew.
"Iya. mereka dari dulu memang kompak!", kata papa Revan.
Revan dan gadis itu sama-sama bingung.
"Van, Minggu ini kamu dan Velly akan segera bertunangan dan setelah itu secepatnya menikah!", kata Papa Revan.
"Menikah???", lagi-lagi Velly dan Revan kompak.
"Iya Vel, Van. Kalian sudah dewasa. Apa salahnya menikah, lagi pula kalian sudah mengenal sejak kecil."
"Tunggu om, saya nggak ngerti. Gimana mungkin saya menikahi dengan gadis yang saya tidak kenal bahkan tidak saya cintai sama sekali!", kata Revan penuh penekanan.
"Ga kenal gimana sih Van? Kamu lupa? Gadis kecil ini yang suka kamu usilin lho waktu kita sama-sama di Jogja!", kata Indra.
"Di Jogja?",Revan kembali bertanya.
"Iya Van. Masa kamu lupa?"
Revan mengingat-ingat kenangan ia saat masih kecil dulu.
"Velly yang cengeng itu Pa? Yang hobinya ngupil dan suka ngelap ingusnya pake bajuku???", tanya Revan lagi.
Velly yang merasa di sebut seperti itu merasa tak terima.
"Mana ada aku begitu!", sahut Velly bersungut-sungut.
Hahahahahaha, Revan, Indra dan Mattew tertawa bersama.
"Yang bener aja Pa. Masa Revan harus menikahi bocah ini????"
"Aku bukan bocah ya mas! Aku udah kerja, meskipun jadi SPG dan admin di showroom dan showroom ku termasuk showroom besar di kota ini. Aku juga udah lulus kuliah tahun lalu. Aku kuliah dengan uang sendiri, meski papa mampu membiayai ku!", kata Velly bangga.
"Velly!", papa nya mengusap bahu Velly.
"Lagian pa, mas Revan enak aja bilang aku bocah!", kata Velly manyun. Revan malah tersenyum.
"Iya...iya ..bagi ku, kamu tetep bocah kecil!", kata Revan.
"Jadi, bisa dong kami melanjutkan perjodohan kalian????", tanya Indra.
"Nggak!!!!?", sahut Revan dan Velly kompak.
"Oh...kompak lagi Matt. Ngga usah tunangan, besok langsung pemberkatan! Kita siapkan sendiri saja!", kata Indra.
"Oke ,Ndra. Aku setuju!"
"Papa!", teriak Velly dan Revan kepada papa nya masing-masing.
"Teriakan kalian adalah jawaban jika kalian setuju!"
Dia pria setengah baya itu tersenyum kompak.
.
.
__ADS_1
"Julian menikah besok sore. Mama mu meminta mu ke sana!"
"Revan malas pa. Biarin lah. Toh Revan sering ketemu Julian."
Indra menghela nafas.
"Ya sudah , pokoknya lusa kamu dan Velly menikah. Papa dan Om Matt sudah mengurus semuanya."
"Papa pikir menikah itu permainan ainan? Kenapa papa memutuskan sendiri? Aku yang menjalani nya Pa!"
"Tapi papa selalu tahu yang terbaik. Dan Rara bukan lah yang terbaik buat kamu."
Indra pun meninggalkan anak semata wayangnya itu.
.
.
.
Suara takbir menggema di pagi hari ini. Aku sudah bangun sebelum subuh untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Aku membangun kan mas Aziz untuk solat subuh, setelah aku sendiri sudah melaksanakan kewajiban ku.
"Bangun mas, mandi. Solat subuh dulu!", ku guncang pelan bahunya.
"Masih ngantuk sayang!", katanya manja.
"Aku juga ngantuk mas. Tapi nanti abis solat Ied kita kan bisa istirahat lagi!"
"Iya...iya...!", terpaksa ia pun bangkit. Ku siapkan kursi rodanya. Sebelum turun ke kursi roda ku bantu ia membuka pakaiannya. Baru setelah itu dia duduk di kursi roda nya.
"Mau aku mandiin?", tawarku.
"Nggak lah. Nanti beda ceritanya."
"Beda gimana, mandi ya mandi aja lah mas."
"Nanti mas malah kepengin yang kaya semakin lagi."
"Iiih...nih otak mesum amat sih!", ku dorong kursi roda nya ke kamar mandi. Mas Aziz malah cengengesan.
Usai mengantar mas Aziz, aku menyiapkan pakaian untuk nya di atas ranjang. Begitu pula pakaian Diaz.
Aku kembali ke meja makan untuk menyiapkan sarapan kami.
Mendekati pukul setengah enam, Diaz pun bangun. Mas Aziz juga sudah selesai solat subuh.
"Nda...da...!", kata Diaz.
"Iya. Mandi sama bunda. Yuk?!!!", ajak ku pelan sambil menuntunnya belajar berjalan meski dia sudah mulai pintar. Tapi kondisi nya saat ini baru bangun tidur. Diaz memang senang sekali jika bermain air, apalagi air hangat di waktu pagi begini.
Butuh lebih dari sepuluh menit untuk sukses mengajak Diaz keluar dari kamar mandi. Itu pun penuh dengan drama, karena Diaz masih ingin bermain air.
Tapi aku paksa Diaz keluar dari kamar mandi untuk segera berpakaian.
Tangis Diaz belum reda meski aku sudah selesai memakai kan pakaian untuk nya.
"Sini sama ayah Nak!" kata Mas Aziz. Tangis Diaz pun mereda saat berada di pangkuan ayah nya.
"Diaz pinter, dengerin ayah ya. Diaz harus nurut sama bunda. Kan kasian bunda kalo Diaz nangis Mulu kaya gini."
Entah Diaz mengerti atau tidak, yang penting Aziz berusaha memberi pengertian pada bayi yang sebentar lagi berusia satu tahun itu.
"Kita keluar yuk, biar bunda mandi dulu!", kata Aziz. Diaz pun mengangguk senang.
Aziz memasang otomatis di kursi roda nya, jadi ia masih bisa fokus memangku Diaz.
Benar saja, Diaz lebih tenang sekarang. Dua lelaki tampan beda usia itu berada di dekat meja makan. Aziz menyesap kopinya, sedang Diaz meraih susu di dalam botol yang memang sudah di siapkan Diandra.
"Eh, udah pada sarapan aja? bunda nggak di ajak?", tanyaku sambil duduk di kursi meja makan.
"Bunda lama , ya Yaz!", kata Aziz. Diaz merajuk ingin ikut dengan ku.
"Sini nak!", ajakku.
Sekarang aku menyuapi nasi yang agak lembek untuk Diaz ,tak lupa ku beri kuah opor dan juga irisan ayam. Yang mau lebaran kan ngga cuma orang tua? bayi juga dong hehehehe...
Pukul enam, kami bersiap menuju masjid komplek. Diaz memilih duduk di pangkuan mas Aziz untuk menuju ke masjid. Usai mengunci pintu, kami bertiga pun berjalan menelusuri jalan depan rumah. Kami saling bertegur sapa dengan para tetangga. Bahkan kami jalan bersama-sama. Suasana nya begitu syahdu, apalagi sudah dua tahun tidak ada solat ied di komplek ini, makanya tahun ini terlihat begitu ramai. Warga pun antusias melaksanakan solat sunah setahun sekali ini.
Solat Ied dan halal Bihalal dengan warga komplek ini selesai di adakan. Aku dan mas Aziz kembali ke rumah.
Kami membuka pintu gerbang kami, karena biasanya anak-anak kecil di sini akan mengantri untuk mendapatkan angpau dari kami. Aku dan mas Aziz sudah menyiapkan amplop untuk anak-anak itu.
Alhamdulillah, Allah sudah melimpah kan rejeki yang jauh lebih banyak tahun ini. Maka kami pun mengisi amplop itu dengan nominal yang sedikit lebih banyak dari tahun lalu.
Aku meminta mas Aziz dan Diaz menunggu di halaman. Lalu aku pun mengambil amplop yang sudah ku siapkan.
Benar saja, anak-anak banyak yang datang menghampiri kami. Diaz merasa senang melihat banyak anak-anak di depannya.
__ADS_1
Mas Aziz memberikan amplop itu satu persatu, tak lupa ia berharap kepada mereka semua.
"Om minta doanya ya sama kalian semua, doakan om sehat lagi", kata Aziz.
"Aamiin!", sahut anak-anak itu.
Aziz dan Dian percaya, doa anak-anak yang belum memiliki dosa ini insyaallah akan diijabah Gusti Allah.
Tak lama kemudian, tetangga yang kurang mampu pun datang kepada kami. Mungkin santunan yang kami beri tidak seberapa, tapi bagi mereka cukup besar.
Acara santunan dan halal bihalal pun selesai. Aku dan mas Aziz masuk ke dalam rumah untuk sarapan.
"Kita ke rumah sakit jam berapa dek?"
"Jam sebelas mas. Kamu kalau mau istirahat juga masih lumayan lho."
"Gampang lah ntar."
Aku menurunkan Diaz di lantai mainannya. Dia sibuk dengan mainan di tempat bermain nya itu .
"Mas, aku panasin mobil dulu ya!", kata ku.
"Ya!", sahut Aziz.
Aku pun memanaskan mesin mobil terlebih dahulu agar nanti kami berangkat, semua sudah siap.
Di rasa cukup lumayan lama , aku pun bermaksud kembali ke dalam rumah. Tapi baru saja menutup pintu mobil, suara dalam ku dengar di belakang ku.
"Assalamualaikum!", sapa Fai.
"Walaikumsalam. Lho, mas ? Kok kamu ke sini?", tanyaku heran.
"Iya. Minal aidzin wal Faidzin ya Di??", Fai mengulurkan tangannya. Tapi aku sedikit ragu jadi ku tangkupkan saja kedua tanganku.
Fai pun menarik kembali tangannya.
"Minal aidzin juga mas!"
Mendadak kami seperti orang asing .
"Ehem...maaf, kok kamu ke sini mas? Nggak ke rumah Abah atau papa?"
"Abah umi dan papa ke solo tadi malam, kyai Ali meninggal."
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un."
"Aku mau ikut, tapi kalau aku ikut kasian mika. Dan mika juga hari ini jaga di posko."
"Iya mas, ya udah masuk aja yuk!", aku mempersilahkan Fai masuk. Dia pun mengikuti ku di belakang. Kami langsung masuk ke ruang makan.
"Lho , ada Fai?", tanya Aziz. Fai pun menghampiri sahabatnya itu, lalu berpelukan.
"Minal aidzin ya bro. Maaf, selama ini gue sering bikin salah sama Lo!"
"Gue juga minta maaf Fa!", Aziz membalas pelukan sahabatnya itu.
"Ya udah, sarapan dulu ya!", aku membuatkan ketupat opor untuk mas Aziz dan Fai.
"Heum, masih enak aja nih ketupat opor mu Di?", puji Fai.
"Nggak usah mulai deh Fa. Nggak usah nostalgia, sok-sokan inget rasa masakan istri ku. Kita baru maaf-maafan tadi lho!", kata Aziz.
Aku menanggapi ucapan nya dengan tersenyum.
"Ya ampun Ziz, gue cuma muji masakan Dian. Gue jujur kok ini emang enak banget, kenapa Lo marah sih? Masa gue suruh bilang ini nggak enak? Yang ada gue di damprat sama kanjeng ratu. Lebih takut gue!", kata Fai sambil menyuap makanan ke mulutnya.
"Udah makan aja , nggak usah debat."
Kami bertiga pun makan. Diaz masih asik dengan mainannya. Aziz bertanya kenapa Fai ada disini, lalu ia pun menceritakan seperti yang Fai ceritakan pada ku tadi di depan.
"Hem...Fai! Boleh gue ngerepotin Lo ga?"
"Apaan sih? Bilang aja, kenapa?"
"Gue minta tolong, Lo temenin kita ke rumah sakit. Gue mau kontrol."
"Boleh. Tapi pake mobil Lo ya? Gue ke sini pake motor!"
"Alhamdulillah, makasih ya!"
"Sama-sama bro! Lo kan saudara gue!"
Kami pun kembali berbincang sampai akhirnya jam menunjukkan pukul sebelas.
"Kita berangkat!", ajak Fai.
******
Segini dulu ya????
__ADS_1
Makasih 🤗🤗🤗🤗