Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 275


__ADS_3

Empat hari lagi lebaran. Hari ini aku akan benar-benar sibuk. Selain dengan DWP, aku juga harus mengurus butik yang beberapa lalu di tinggal 'kepengurusannya' oleh mas Aziz.


Usai makan sahur, aku menyiapkan semuanya kebutuhan mas Aziz dan juga Diaz. Aku sudah menghubungi mas Jul agar menjemput ku jam tujuh.


"Mas, aku usahakan pulang secepatnya ya ?", kataku sambil menyuapi obat untuk mas Aziz.


"Kasian kamu dek. Kamu pasti bakal kecapekan!"


"Belum juga di jalani mas, masa mau putus asa sih!", kataku sambil mengelap bekas minum di sudut bibir suamiku.


"Nanti kamu hubungi Revan ya dek! Coba tanya dia bagaimana kontrol mas besok!"


Aku menghela nafas panjang. Berat sekali jika aku harus berhubungan dengan Revan lagi. Dia sudah berubah, benar-benar bukan Revan yang ku kenal saat kami remaja dulu. Kenapa dia begitu terobsesi padaku? Apa lebihku? Bahkan status nya yang dokter spesialis penyakit dalam saja bisa membuat kaum hawa menghampirinya kan?


"Insyaallah ya mas!", aku bangkit dari ranjangku karena kursi rodanya mas Aziz ada di depan ranjang.


"Dek! Mas tahu, kamu enggan berhubungan dengan Revan. Tapi..mas hanya ingin memastikan, apakah dia benar-benar akan mendengar ucapan mu, atau kita akan mencari dokter lain."


"Iya mas, aku paham!"


Tok....tok...


"Masuk Teh!", pintaku.


Teh neng pun masuk sambil menggendong Diaz, dan Diaz pun merengek minta ikut padaku.


"Da...nda....!", rengek Diaz.


"Kenapa sayang?", aku meraih Diaz dalam gendongan ku.


"Cup...cup sayangnya bunda....!", ku peluk anak ku tersayang ini. Mas Aziz turut mengusap paha Diaz.


"Maaf mbak, Mr. Julian sudah ada di depan."


"Oh, gitu. Ya udah, saya mau siap-siap sebentar. Suruh tunggu saya sebentar ya teh!"


Teh neng pun mengangguk, lalu keluar kamar.


"Sini Nak, sama ayah dulu. Bunda mau ke kantor, mau ganti baju dulu ya!", bujuk Mas Aziz kepada Diaz. Dan beruntung nya,putra kami sangat pengertian.


Aku pun memakai pakaian ku. Tidak lagi gamis yang menjuntai, tapi setelan tunik berwarna navy dan celana bahan. Mas Aziz yang meminta Teh Rani mengirimnya ke rumah setelah aku dan mas ngobrol jika aku akan kembali ke kantor.


Sebenarnya aku masih punya pakaian kantoran yang dulu, hanya saja badanku sedikit berisi sejak melahirkan Diaz. Lagi pula, mas Aziz udah nggak mengijinkan ku memakai kemeja dan blazer lagi.


Aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Lalu duduk di depan meja rias, memoles tipis wajahku dengan pelembap pon*s lalu ku bubuhi bedak tipis. Tak lupa lipbalm, agar bibir ku tak pecah-pecah.


Aku sudah terbiasa memakai merk ini, jadi....mau aku punya uang banyak atau tidak aku tetap menggunakan merek yang sama. Karena yang mahal belum tentu cocok untuk kulit kita kan? Kalau ada yang murah dan bagus, kenapa harus pilih yang mahal?


Bukan sedang promosi merk dagang lho....


"Bunda cantik ya Yaz!", kata mas Aziz menggodaku.


"Nda...tik!", sahut Diaz yang sebentar lagi berusia satu tahun. Ucapannya belum begitu banyak dimengerti hanya saja dia sudah paham dengan lawan bicaranya.


"Pinter amat sih ayah sama Diaz godain bunda!", ku cubit pipi mas Aziz dan juga pipi Diaz bersamaan. Keduanya terkekeh geli.


"Kita keluar yuk, om Jul udah kelamaan nungguin bunda!", aku pun mendorong kursi roda mas Aziz sedang Diaz duduk di pangkuan ayahnya.

__ADS_1


"Pagi mas Jul, maaf nunggu agak lama ya?"


"Pagi juga Bu, pak Aziz! Nggak apa Bu, ini masih pagi kok!"


"Mas Jul, titip istri saya ya? Tolong temani dia ke mana saja. Apalagi jika meeting di luar!"


"Baik pak, saya akan berusaha mengawasi dan menjaga keselamatan Bu Dian!"


"Ya ampun mas....nggak segitunya juga kali!"


"Mas hanya nggak ingin kejadian waktu itu terulang dek! Mas nggak bisa liat kamu kaya gitu!"


"Astagfirullah, mas. insyaallah aku baik-baik saja. Jangan mikirin yang jelek-jelek ,mikir yang baik aja bias Allah juga ngasih kenyataan yang baik!"


Mas Aziz tersenyum dan mengusap lenganku.


"Nda....!", Diaz kembali merengek.


"Sayang, bunda kerja dulu sebentar ya. Nanti, bunda pulang kita main sama-sama lagi ya. Diaz sama ayah, sama Amih neng ya?"


Teh neng yang memintanya di panggil Amih oleh Diaz.


Diaz pun menuruti apa kataku.


"Aku berangkat ya mas!", ku sodorkan tanganku untuk mencium tangan mas Aziz. Tak lupa ku daratkan kecupan di kening nya. Begitu pula dengan Diaz,aku memperlakukan hal yang sama.


"Assalamualaikum!", kataku memberikan salam.


"Walaikumsalam", sahut mas Aziz dan teh neng.


Julian berjalan terlebih dulu membukakan pintu belakang untuk ku. Sedang mas Tino dan mas Agus membukakan pintu gerbang untuk kami.


"Makasih mas Jul!"


Usai aku duduk, Julian memasukkan tas laptop dan juga beberapa berkas di samping ku.


Beberapa saat kemudian, Julian pun berada di balik kemudi. Mobil kami melesat sedang karena hari belum terlalu siang jadi jalanan tak begitu macet.


"Mas Jul, kira-kira di kantor lama nggak? Soalnya saya juga mau ke butik."


"Ada beberapa pertemuan penting Bu, di tambah lagi sebentar lagi kita akan libur panjang selama idul Fitri bu!"


"Ah...iya, itu juga yang saya pikirkan dengan butik mas Aziz!"


"Tapi soal gaji dan bonus tahunan sudah selesai kok Bu, anda hanya tinggal mengecek dan menandatangani nya. Manajer keuangan saat ini kan memang belum ada setelah anda menurunkan jabatan pak Samsul?!"


"Hah! iya ya! Kenapa saya bisa segini erornya. Berati selama pak Sam di copot, mas Jul juga yang menangani nya?", tanyaku.


Julian mengangguk tipis. Aduh, nih orang kerjaan nya merangkap apa aja sih? Gajinya mesti nambah ini mah....


Berbeda dengan jalan pikiran nyonya bos, Julian merasa iri dengan kemesraan kedua bos nya. Meskipun suaminya tengah terpuruk dan dengan keadaannya yang lumpuh,tapi Diandra tetap saja begitu peduli padanya.


"Mas Jul, kita ada jadwal meeting jam berapa?"


"Jam sembilan Bu, dengan PT Xxxx di restoran Xyz!"


"Hah! Puasa-puasa kok meeting di restoran ya?", kataku sambil tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Apa kita konfirmasi untuk pindah tempat saja Bu? Saya pikir mungkin memang kurang etis jika kita meeting di sana melihat situasi sekarang?"


"Udah mas Jul, ngga apa-apa. Toh yang puasa kan saya, mungkin mereka tidak melaksanakan nya jadi jangan membebankan hal ini ke mereka."


"Baiklah jika ini mau anda Bu!"


"Iya mas Jul. Oh iya, kita lewat RS sejahtera kan, bisa mampir sebentar?"


"Apa ada obat yang harus di ambil, biar saya saja yang mengambil nya!"


"Nggak mas Jul, saya mau ketemu Dokter Revan."


"Apa ini ada hubungannya dengan kesehatan pak Aziz?"


"Iya, begitu lah Mas Jul. Jadi, kemarin Mika menghubungi Revan. Minta jadwal kontrol mas Aziz di undur karena tepat di hari lebaran. Sebenarnya nggak apa-apa sih, tapi kesannya gimana gitu mas. Emang sih, Revan nggak merayakan lebaran tapi minimal ...mas Jul tahu lah maksud saya!"


"Iya Bu, saya paham. Kalau dokter Mika sudah menghubungi Revan, kenapa anda harus menemuinya?"


Aku menghela nafa lagi dan lagi.


"Jadi, Revan tuh ketus sama Mika. Revan bilang yang istri nya Aziz kan aku, tapi kenapa mika yang menghubungi nya bukan aku sendiri."


"Modusnya Revan saja itu Bu!", kata Julian.


"Apa? Modus?", ku angkat salah satu alisku .


"Iya, dia hanya modus ingin bertemu anda. Dia memang keras kepala dan juga susah di atur!"


"Mas Jul kenal baik dengan Revan?", tanyaku.


"Revan adik tiri saya Bu, mamanya Revan menikah dengan Daddy saya sepuluh tahun yang lalu. Tapi... Revan sempat ikut papa kandung nya setelah Revan kecelakaan waktu itu. Dan...saya juga tidak menyangka jika....anda adalah perempuan yang Revan kejar selama ini."


"Kenapa semuanya seperti alur novel ya mas Jul, saling berhubungan satu dengan yang lain."


Julian sedikit menyunggingkan senyumnya.


"Anggap saja begitu Bu!"


"Hehehe saya pikir mas Jul tak bisa bercanda hahahah ternyata bisa meringis juga!", kataku sambil tertawa.


"Anda bisa saja Bu!", kata Julian. Lalu mobil kami pun masuk ke area parkir RS sejahtera.


"Saya temani ya Bu?"


"Nggak usah Mas Jul, tunggu aja di sini. Saya bisa sendiri kok!"


"Tapi... bagaimana kalau Revan.....!"


"Positif thinking saja mas Jul!"


Akhirnya Julian pun mengalah. Aku pun melangkah santai ke bagian informasi untuk mencari tahu ruangan Revan.


*****


🤷🤷 ada yang lelah dan bosan???


Insyallah pengen segera di tamatkan ✌️✌️✌️

__ADS_1


makasih yang udah berkenan bacanya ya 😎


__ADS_2