Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Lima puluh juta


__ADS_3

"Kak, Farhan mau pulang!", rengek Farhan pada Imah disela-sela obrolan kami.


"oke, kak Imah antar ya?", Farhan pun mengangguk.


"Biar mas aja yang antar Mah, percuma kamu nganterin kalau ujungnya jalan kaki. Kasian Farhan, lumayan kan jalan dari sini ke warung Dadan."


"Emm...Farhan mau pulang sama om Aziz?"


"Mau kak, dari pada jalan kaki. Farhan capek, apalagi bentar lagi jadwal ngaji Farhan."


"Kamu ngaji dimana Han?", tanyaku nimbrung.


"Dirumah, tante Di. Ayah memanggil guru ngaji khusus buat Farhan."


Aku hanya manggut-manggut. Dadan, dia berhasil mendidik Farhan meskipun bukan darah dagingnya sendiri.


"Ya udah, salim dulu sama kak Imah, Tante Di, sama Oma Farah!",pinta Aziz.


Farhan pun menyalami tiga perempuan beda usia itu.


"Tante Di, boleh Farhan cium dek Diaz?"


"Boleh dong!"


Cup...kecupan mesra dari seorang anak bernama Farhan. Mengusap dan membelai pipi Diaz.


"Diaz beruntung ya Tan, punya bunda punya ayah punya Oma punya kak Imah."


Farhan menunduk sedih.


"Sayang kok ngomongnya begitu?"


"Farhan kan punya ayah Dadan dan emak yang sangaaaaatttt sayang sama Farhan." Aku berusaha menenangkan.


"Tapi, Farhan bahkan dibuang sama mama Farhan sendiri. Farhan bukan anak yang diharapkan."


Kami kaum dewasa tertegun mendengar ucapan Farhan yang baru berusia tujuh tahun itu.


"Mama Farhan mungkin belum menyadari nak. Kalau ternyata...Farhan ini anak yang pintar yang Sholeh dan penurut."


"Apa... setelah Farhan pintar dan penurut, mama Feby akan baik sama Farhan?", anak tampan itu bertanya padaku.


"Doakan saja sayang!", kuusap puncak kepalanya.


"Tapi, Farhan mau Kak Imah yang jadi ibunya Farhan. Bukan Mama Feby."


Rencana mengantarkan pulang pun tertunda. Kini Aziz kembali duduk di sofa sebelah ku.


"Nanti, kalau sudah saatnya tiba ...kak Imah pasti mau kok jadi ibunya Farhan. Bukan begitu Imah?"


Imah hanya menyunggingkan senyum manis nya.


"Tapi kapan Tante?"


"Nanti, biar om Aziz yang tanya sama ayah Dadan. Kapan mau jadiin Kak Imah ibunya Farhan", Aziz menyahuti begitu.


"Benar om?"


"Tentu saja bocah ganteng....Ayok, katanya mau ngaji?"

__ADS_1


"Hehehe iya om. Ya udah, Farhan pulang dulu ya. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Sepeninggal Aziz dan Farhan, mama yang dari tadi diam saja melihat adegan demi adegan didepan nya pun terpancing untuk bertanya.


"Kamu yakin mah mau menikah sama Dadan yang sudah punya anak satu itu?"


"Insyaallah Ma!", sahut Imah mantap.


"Mama sih setuju saja. Seperti nya, Dadan laki-laki yang baik. Tapi...apa kamu yakin Mah. Dia sudah punya anak dari istri sebelumnya, apa nantinya akan...."


"Farhan bukan anak kandung A Dadan ma."


"Benarkah?", mama memperbaiki posisi duduknya.


"Iya ma. Mama tau siapa mantan istri A Dadan?"


"Siapa?"


"Mbak Feby, si ulet bulu yang hobi banget deketin mas Aziz. Mama pernah ketemu kok waktu mbak Di melahirkan."


"Masa sih?"


"Iya ma."


Lalu Imah menceritakan segala sesuatunya. Mama Farah hanya mendengar denga seksama.


Aku rasa, mama benar-benar sudah berubah.


"Apa pun keputusan kamu, mama setuju saja mah.Yang penting kamu bahagia."


"Kalau menurut kamu Dadan gimana Di?"


"Baik kok ma. Kayanya dia juga orang yang sabar. Apalagi mengahadapi Imah ini."


"Ah...mbak Di suka gitu deh....!"


Kami tergelak, sampai-sampai membangunkan Diaz yang sedang ada dalam pangkuan ku


****""


"Makasihi om Aziz, sudah anterin Farhan."


"Sama-sama sayang. Ya udah, om balik ya?"


"Iya om. Dah om Aziz?"


Aziz pun melambaikan tangannya.


Diruang tamu tempat Dadan tinggal yang tak lain bersebelahan dengan warungnya, ada dua orang berbeda jenis sedang saling membentak.


"Lo balikin duit gue yang pernah gue kasih ke Lo gara-gara Lo nggak bawa Farhan jauh ke luar kota."


"Memangnya berapa yang kamu kasih Feb?"


"Bukankan mami udah ngasih Lo lima puluh juta? Dan gue minta sekarang Lo balikin duit itu."


"Baik, aku akan mengembalikan uang itu!"

__ADS_1


Dadan mengambil ponsel nya yang ada diatas nakas.


"Berapa nomor rekening mu?"


Dadan bersisa untuk menekan angka dilayar ponselnya.


"Cih.. nggak usah berlagak kaya lah. Berapa sih omset warung kaya begini?"


"Kamu kan minta saya mengembalikan uang itu, buruan mana nomor rekening kamu?"


"Sombong banget kamu Dan!", Feby melipat tangannya di dada.


"Ayah ...!", panggil Farhan yang tiba-tiba muncul dari pintu tengah.


"Farhan, kapan datang nak?", Dadan mengusap puncak kepala Farhan.


"Jangan transefer uang itu buat perempuan jahat ini yah. Lebih baik, uang itu ayah pakai buat menikah sama Kak Imah!", ucap Farhan tiba-tiba.


Mata Dadan terbelalak, dia nggak habis pikir darimana seorang Farhan kecil mendapatkan ide seperti itu.


"Lihat Dan, ini hasil didikan mu? Bocah udik itu pasti sudah memberikan pengaruh buruk pada Farhan."


"Jangan menghina kak Imah, anda tidak jauh lebih baik dari kak Imah! Farhan sampai malu mengakui Tante sebagai mama kandung Farhan."


"Kamu pikir, aku mau mengakui kamu hah?",hardik Feby pada Farhan.


"Feby!!!", teriak Dadan.


"Berikan nomor rekening mu, dan segera lah pulang dari sini. Dan jangan pernah menginjakkan kaki di sini!", Dadan begitu emosi.


Bukannya memberikan nomor rekening nya, justru Feby melemparkan beberapa lembar uang berwarna merah ke depan Dadan.


"Ambil ini, kalian lebih membutuhkan dari pada gue!"


Feby pun keluar rumah Dadan dengan penuh emosi.


"Farhan....!", bisik Dadan sambil memeluk nya.


"Farhan mau mandi yah, sebentay lagi ustadz Ahmad kesini."


"Oh iya, jadwal ngaji ya nak?"


"Iya yah!"


Farhan meninggalkan Dadan dari ruang tamu.


Feby, dia benar-benar sudah gila. Tadi saja menggebu-gebu minta uang itu, tapi secepat kilat ia berubah pikiran. Apakah dia mengidap bipolar? Atau karena dia memang sudah kehilangan kewarasan nya.


Astagfirullah.....Dadan hanya mengelus dadanya.


Ditempat lain,


Feby memukul-mukul kemudi mobilnya.


"Argggg .....!", dia merasa sangat emosi.


Feby tak menyangka, Dadan bisa semapan sekarang dan dekat dengan Imah. Lalu, Farhan bahkan tak menginginkan dirinya.


Semakin sulit dia mendekati Aziz jika lingkungan Aziz masih disekitar Dadan dan anaknya.

__ADS_1


"Sial...!!!", umpatnya.


__ADS_2