
"Di...!", panggil Rifai. Aku dan mas Aziz menengok bersamaan melihat Fai menggandeng tangan Mika.
Mau apa mereka?
"Lho...kok kalian malah kesini? Kasian itu tamunya nyariin mentennya", kata ku.
"Suamiku kangen sama kamu kaya nya Di!", sindir Mika.
"Mulai ....!", kata Fai kepada Mika.
Ehem....
Deheman Aziz menghentikan debat kecil mereka.
"Ngapain kamu ke sini Fai .. Mika? Pengantin itu harusnya duduk manis di sana tuh ...di pelaminan. Malah nyamperin tamunya ke sini. Di kira lagi pertemuan bisnis", kata Aziz.
"Emang ada aturan nya begitu?", tanya Fai.
"Aturannya sih nggak ada. Cuma nggak etis aja!", sahut Aziz.
"Ya udah sih, toh orang tua kita juga nemuin tamu-tamu mereka", kata Fai ngeyel.
"Pssssttttt....wis....wis...udah ah! Ngapain ribut nggak penting gitu sih. Kamu juga Mika, ngapain nurutin suamimu di ajak ke sini!"
"Lho kok aku sih Di?"
"Ya kamu lah Mika, masa Imah? Kamu kan bisa bilangin ke suami mu. Di sana aja dulu sampe acara nya beres."
"Habisnya mas Fai celingukan nyariin kamu terus!", Mika melipat tangannya di dada.
"Nggak juga. Kamu jangan mancing-mancing dong Mika....!", kata Fai lirih.
"Udah, sekarang udah ketemu aku kan? Mau apa?"
"Tau nih Mas Fa'i!", kata Mika ketus.
"Sayang....!", kata Fai sambil mengusap lengan istri nya .
"Hah! Kalian ke sini berarti acara nya udah selesai kan? Kita pulang yuk mas!", aku menggamit pinggang suamiku.
Baru mau mangap, mas Aziz sudah keduluan oleh Fai.
"Kamu nggak mau ngucapin selamat gitu buat kami?", tanya Fai padaku .
Aku menaikan alisku.
"Kan waktu kalian nikahan aku udah ucapin?"
"Beda dong, ini kan resepsi nya!", sahut Fai.
Aku menghela nafas sebentar.
"Selamat ya mas Fai, mika.... semoga pernikahan kalian langgeng. Jadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Punya banyak anak yang Sholeh dan Sholeha."
"Aamiin....!", ucapan ku di aminkan oleh mas Aziz,mas Fai dan juga mika.
"Udah kan? Emang sebegitu pentingnya ya ucapan dan doa dari aku?Aku ini bukan ustazah lho!!!!"
"Hem... penting lah Di. Setidaknya suami ku sadar, kalau kamu udah mendoakan seperti itu artinya dia tuh udah punya pasangan. Nggak usah ngarepin apa lagi mikirin istri orang!"
Aku menatap suami ku. Mas Aziz pun tak berkomentar apapun. Aku tak menyangka Mika seberani itu. Tapi ...itu lebih baik, setidaknya Mika mengungkapkan isi hatinya selama ini.
"Ya...bagus lah kalo gitu mah!"
Kami pun terdiam.
"Kalian balik aja ke sana. Udah ketemu kami kan? Kami juga mau balik. Kasian Diaz."
"Ya udah kalo gitu. Eh....bentar, dari tadi nggak liat damar ? Kemana?"
Aziz menggaruk kepalanya.
"Damar pulang. Om Han yang meminta nya. Damar memperkenalkan Hayu sebagai calon istrinya. Dan...beliau marah karena tau status Hayu, apalagi Damar ngaku kalau pernah punya anak dari Hayu."
"Astagfirullah....!", kata itu terlontar kompak dari sepasang suami-istri yang baru itu.
__ADS_1
"Terus mbak hayu kemana?",Mika penasaran.
"Dibawa om stevan, mana ada orang tua Yang terima anaknya di hina. Tapi untungnya, om stevan mendukung Damar untuk menikahi Hayu."
Keduanya pun mengangguk.
"Udah ya, kami balik?", ijin Aziz.
"Iya. balik sana ke pelaminan!", pintaku.
"Iya, kami balik ke sana!", kata Mika.
"Em.... voucher bulan madu masih berlaku kan???", tanya Fai.
"Masih lah!", sahutku.
"Baiklah...kami akan segera menggunakannya kalau Mika sudah sembuh!", celetuk Fai.
"Kamu sakit Mika?", pandangan ku alihkan pada Mika.
"Enggak", mika menggeleng.
"Barusan mas Fai bilang nunggu kamu sembuh?", tanyaku.
"Siklus bulanan Dian....!", jawab Mika gemas .
"Owh....!", aku membulatkan bibirku.
"Puasa lah ...!", kata Mika sedikit lirih tapi cukup terdengar oleh ku.
"Hem....jadi pada puasa nih ceritanya?", tanyaku.
Kedua pria itu terdiam dan saling berpandangan.
"Ya gitu deh ....!", kata Mika.
Hahahahah aku dan mika kompak tertawa.
"Udah ah, nggak pulang-pulang kalau di lanjutin mah", kataku menghentikan tawa kami berdua.
"Jangan sungkan padaku Mika. Aku akan tetap berusaha menjaga jarak dengan suamimu, seperti janjiku kemarin", berbisik pada Mika di sela pelukan kami.
Usai melepas pelukan, kami pun melempar senyum. Aku tahu,kamu hanya berpura-pura tegar agar orang lain tak mengasihani dirimu Mika.
Aku dan mas Aziz mencari keberadaan Imah dan Dadan. Ternyata mereka sedang bersama Abah dan yang lainnya. Mau tak mau aku pun menghampiri mereka semua.
"Bah, umi, papa, Tante Selly?!", sapaku satu persatu.
Mereka berempat pun tersenyum. Lalu Tante Selly menghampiri ku.
"Kamu sudah sehat Ra? Julian cerita sama Tante kalau...."
"Sudah Tante. Diandra nggak apa-apa kok."
Tante Selly memeluk ku sebentar.
"Maaf ya, papa nggak jenguk kamu waktu kamu di rawat!", kata papa Umar.
"Iya pa. Nggak apa-apa. Toh sekarang papa liat kan kalau Dian baik-baik saja."
Anggukan dari papa Umar cukup mewakili kata iya darinya.
Sedangkan Abah yang sebelumnya tadi bertemu hanya melempar senyum. Berbeda dengan umi, dia memeluk ku tiba-tiba.
"Sehat terus ya Di!", umi mengusap puncak kepala ku. Entah kenapa yang ku lihat Umi seperti tertahan ingin mengatakan sesuatu padaku.
Aku mengangguk saja mendengar ucapan Umi.
Semua menyayangi mu Diandra, batin Mika.
"Kalau begitu, kami permisi pulang ya pa, Tante Selly, umi Abah...!", pamitku.
"Iya", jawab mereka semua.
"Hati-hati bawa mobilnya ya Ziz!", kata Papa Umar menepuk bahu mas Aziz.
__ADS_1
"Iya Om."
Kami berempat undur diri dari mereka. Mas Aziz mendorong kursi rodanya ku menuju lift.
Hanya butuh beberapa menit kami sudah sampai di loby.
"Sini mas, biar saya saja yang ambil mobil. Kalian tunggu di sini saja!", kata Dadan meminta kunci dari ku. Mas Aziz pun memberikan kunci mobil nya pada kang Dadan.
Aku, Imah dan mas Aziz menunggu kang Dadan mengambil mobil. Beberapa saat kemudian, mobil pun datang. Mas Aziz memapahku masuk ke dalam mobil, diikuti Imah setelah itu.Ku lihat mas Aziz melipat kursi rodaku lalu di simpan di bagasi. Mas Aziz pun kini beralih duduk di samping kang Dadan. Mobil kami pun meluncur ke rumah kami..
.
.
Beberapa saat sebelumnya....
"Dad!", pekik Lili. Dia terkejut saat mendapati Hayu tengah di gandeng suaminya, sedang kan anak kecil itu berada dalam gendongan nya.
"Liliana, kita pulang!", ajak Stevan.
"Tunggu Dad!", Lilian menarik Stevan.
Stevan pun melepaskan tangan Hayu lalu menurunkan Faiz.
"Kenapa Liliana? Aku tidak ingin berdebat di sini. Kita pulang!", kata Stevan berganti meraih tangan istrinya.
"Ayo stev, Faiz!", ajak Stevan.
"Dad! Dengerin aku!", Lili menghempas kan tangannya dari Stevan.
"Aku jelaskan di rumah Lili!", kata Stevan kembali meraih tangan istrinya. Mau tidak mau dia pun menurut padanya.
Di loby, Wawan si asisten Stevan sudah menunggu. Lalu membukakan pintu mobil untuk para majikannya.
"Aku duduk di samping nya dad?", pekik Lili.
Hayu dan Fai sudah terlebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Masuk Liliana!", titah Stevan. Lili hanya mampu mendengus kesal mendengar perintah Stevan. Stevan pun masuk kedalam mobil lalu duduk di depan bersama Wawan.
"Untuk apa dia ikut mobil kita Dad?", tanya Lili yang dari tadi belum mendapatkan jawaban dari rasa penasaran nya.
"Stevi dan Faiz akan tinggal bersama kita Liliana!", kata Stevan tegas.
"What? No, Dad!", pekik Lili.
"Aku tidak ingin penolakan!", kata Stevan. Hayu dan Faiz hanya berpelukan.
"Kenapa harus bersama kita Dad? Kalau Daddy mau memberikan hak Stevi, fasilitas yang terbaik untuk Stevi, silahkan Dad! Tapi kenapa harus bersama kita?"
"Lili! Aku tidak ingin di bantah! Dengarkan aku! Stevi akan bersama kita sampai dokter damar benar-benar memperistri Stevi!"
Lili pun paham sekarang. Jadi, hubungan Stevi dan dokter itu sedang bermasalah?
Lili melipat tangannya di dada,dan matanya fokus menatap jalanan kota yang tengah macet di jam makan siang ini.
"Dad ... kami bisa ke rumah kami saja? Aku tidak ingin kalian bertengkar!", kata Hayu.
"Daddy akan membiarkan kalian keluar drai rumah Daddy jika Damar benar-benar siap menikah dengan mu. Daddy yakin, damar pasti bisa melakukan nya. Pria itu yang di pegang omongannya dan kepercayaan itu mahal Nak. Daddy yakin, Damar akan memenuhi janjinya untuk mengesahkanmu. Daddy lihat dari awal bagaiman dia meyakinkan Daddy. Usahanya merebut perhatian mu. Dan daddy percaya, Damar akan berusaha agar meluluhkan hati orang tua nya."
"Tapi dad....!"
"Daddy tidak ingin Putri daddy di hina, Daddy ingin mereka menerima mu dengan lapang dada. Menerima masa lalu kalian."
Suasana di dalam mobil kini pun hening.
"Seperti apa pun masa lalu kalian, Stev ....Liliana....Daddy mohon, bersikap lah dewasa. Jangan ada pertengkaran apa lagi dendam di hati kalian."
Stevan melirik dua wanitanya dari spion. Hayu tak menunjukkan ekspresi apapun. Sedangkan lili, masih fokus menatap jalanan.
******
Segini dulu apdet nya ya gaes. Maafkeun kalau kurang seru atau tidak seperti yang kalian harapkan. Namanya ge masih belajar, othor amatir sih 😆.
Btw.....
__ADS_1
Menjelang bulan suci Ramadhan, mamak mau ucapin selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan nya ya. Maaf lahir batin 🙏🙏🙏