Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 219


__ADS_3

Julian sudah sampai ke rumah sakit Persada. Di depan kamar rawat bos nya , empat orang anak buahnya berjaga-jaga dengan ketat.


"Aman kan ?", tanya Julian.


"Aman mister!", jawab salah seorang dari mereka.


"Kalian berempat berjaga bersama atau bergantian?"


"Kami bergantian Mister."


"Bagus kalau begitu! Aku hanya tidak ingin ada yang lengah hanya karena kalian kurang istirahat."


Keempat anak buah Julian pun mengangguk.


Julian mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah.


"Salah satu dari kalian, beli lah sarapan. Setelah itu, makanlah bergantian."


Pengawal itu pun menerima uang dari Julian. Salah satu dari mereka meninggalkan Julian.


Julian baru saja ingin mengetuk pintu ruangan bos nya, tapi panggilan dari damar membuatnya menghentikan niatnya.


"Julian!", panggil Damar.


"Iya dok, kenapa?"


"Hasil penelitian dari lab sudah keluar", kata Damar.


"Hasilnya bagaimana dok?"


"Seperti dugaan mu. Ada orang yang sengaja memasukkan bahan kimia itu, di tambah lagi minuman itu mengandung obat untuk meluruhkan kandungan."


"Peluruh kandungan? Kok bisa? Berarti... orang itu benar-benar mengawasi Bu Dian ya Dok!"


"Ya, kurasa begitu."


"Saya akan memperketat pengamanan untuk melindungi keluarga pak Aziz dan Bu Dian."


"Lalu....Diaz , anak mereka di rumah? Apakah aman!!?"


"Saya sudah menempatkan anak buah saya untuk berjaga di sana. Seperti di depan ruang Bu Dian."


"Alhamdulillah. Terima kasih ya Julian." Damar menepuk bahu Aspri Diandra.


"Sudah kewajiban saya Dok!", Julian mengulas senyum.


"Apa yang kamu bawa?"


"Ini, pakaian ganti pak Aziz dan Bu dian. Tadi saya memintanya dari Imah."


"Owh..."


"Kang Dadan juga di sana untuk sementara sampai kita tahu siapa otak di balik semua kejadian ini."


"Ya , benar Jul."


"Saya akan mengecek semua cctv di kantor, di hotel dan di rumah sakit ini. Saya hanya ingin memastikan, apakah orang yang kemarin itu adalah si perekam video."


"Ide yang bagus Jul! Aku akan membantu sebisa ku!", kata Damar.


"Siap dok. Saya pasti akan membutuhkan bantuan anda."


"Baiklah, kalau begitu saya masih ada kerjaan lagi. Silahkan kalau mau bertemu Aziz dan Dian."


"Iya dok!"


Damar pun meninggalkan Julian dan anak buahnya.


Tok....tok...


Julian masuk ke dalam ruangan ku.

__ADS_1


"Pagi pak, Bu...!" sapa Julian.


"Pagi Jul!", jawab mas Fai. Sedang aku hanya mengangguk kecil.


"Ini pakaian ganti nya pak!', Julian menyodorkan tas itu pada bosnya.


"Terimakasih Jul!"


"Sama-sama pak!"


"Kamu lihat Diaz tadi? Baik-baik saja kan?", tanyaku. Tentu saja aku penasaran dan cemas dengan keadaan anakku. Apalagi dia masih membutuhkan Asiku.


"Baik Pak. Saya juga sudah menempatkan orang-orang saya di sana."


"Orang-orang apa?",tanyaku lirih.


"Pengawal untuk melindungi keluarga anda Bu."


"Tapi ... untuk apa mas Jul?"


"Maaf sebelumnya Bu. Lebih baik anda fokus dengan kesembuhan anda terlebih dahulu."


"Katakan saja Jul, tidak apa-apa", kata Aziz.


"Hasil dari lab sudah keluar pak. Benar , ada yang sengaja ingin mencelakakan Bu Dian."


"Astagfirullah!", kata ku dan mas Aziz bersamaan.


"Siapa Jul?", tanya Aziz.


"Saya belum menemukan orangnya pak. Sepertinya dia orang yang terbiasa memantau kegiatan keseharian keluarga anda berdua pak, Bu!"


Aku dan mas Aziz saling berpandangan.


"Siapa orang yang mau mencelakai kamu ya dek? Motif nya apa?", tanya Aziz.


"Apa selama ini kalian memiliki musuh?", tanya Julian.


Aziz melipat kedua tangannya di dada.


"Ya...kamu tahu lah. seperti yang sudah kamu lihat. Paling aku berantem sama Fai. Itu aja! Nggak mungkin juga kan Fai pelakunya?", tanya Aziz.


Julian menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Iya, kalian berdua memang bertengkar. Tapi setelah itu, kalian kembali seperti prangko. Batin Julian.


"Baiklah Bu, pak. Jika sudah tidak ada tugas dari anda, saya bisa kembali ke kantor?", tanya Julian dengan sedikit ragu.


"Iya. Kembali lah ke kantor. Maafkan saya ya mas Jul. Kamu jadi sangat repot gara-gara saya."


"Su....", belum selesai Julian berkata, aku sudah mendahului nya.


"Sudah kewajiban saya....! Begitu kan yang mau kamu bilang mas?", kataku sambil tersenyum tipis.


Julian hanya tersenyum.


"Ya udah mas Jul. Bos mu yang bawel sudah kembali. Jadi...anggap aja kecemasan kita semalam tak pernah ada", canda mas Aziz.


Julian hanya menampilkan senyum nya saja.


"Baiklah pak Aziz, Bu Dian. Saya permisi."


"Silahkan. Sekali lagi terimakasih ya!", kata Aziz.


"Sama-sama pak Aziz."


Julian pun meninggalkan ruangan ku.


[Halo! Berikan rekaman cctv dari awal Bu Dian memimpin DWP. Saya mau, kalian menyiapkan nya di meja saya. Satu jam lagi saya sampai kantor!]


Anak buahnya yang berada di kantor, bergerak cepat menyiapkan apa yang di butuhkan tangan kanan pemilik DWP.

__ADS_1


Sementara itu....


"Pagi Dian....!", sapa Mika.


"Hei...pagi juga Mika!", kataku sambil membenarkan posisi dudukku.


Saat ini hanya ada jarum infus di tangan kiri ku. Jadi aku sudah leluasa melakukan gerakan-gerakan ringan.


"Mas Aziz mana?", tanya Mika.


"Baru saja keluar, itu pun di kawal oleh anak buah Mas Jul. Heheheh seperti di novel-novel yang sering kita baca ya Mika?"


Kamu begitu ringan menyungginggkan senyummu Di. Meskipun tubuhmu merasakan sakit yang tidak bisa di gambarkan orang lain. Mika berbicara dalam hati nya.


"Bisa aja kamu di. Tapi kenyataannya kamu kan emang orang kaya, CEO DWP gitu lho


Perusahaan besar yang menaungi banyak perusahaan. Termasuk perusahaan papa ku. Wajarlah kalau kamu punya pengawal."


"Andai aku bisa memilih Ka, aku memilih seperti dulu saja. Sebagai ibu rumah tangga yang hanya berkutat di dapur sumur kasur!", kataku sendu.


"Jangan bicara begitu Di. Hidup mu sudah begitu sempurna! Jangan mengeluh! Banyak orang yang menyayangi mu....!", kata Mika lirih.


"Hem. Kami mau bilang suamimu juga menyayangi ku?", tanyaku menatap matanya.


Mika tak menjawab pertanyaan ku.


"Apa kalian bertengkar?", tanyaku lagi. Tapi mika tak menjawab.


"Pertengkaran di dalam rumah tangga itu biasa terjadi Mika. Apalagi kalian baru saling mengenal, lalu menikah. Yang kenal bertahun-tahun saja belum tentu saling mengerti dan memahami. Apalagi kalian yang masih penjajakan versi halal."


Aku menghela nafas.


"Aku tahu. Kamu pasti cemburu padaku?", tanyaku lagi. Kali ini Mika menatap ku.


"Jika kamu cemburu, itu hal yang bagus. Itu artinya kamu sudah mencintai mas Fai. Dan...aku tenang, dia bersama mu Mika. Kamu perempuan tangguh dan menyenangkan. "


"Dian...aku....?!", Mika menggantung kalimat nya .


"Kalian baikan ya? Jangan pernah bertengkar apalagi gara-gara aku. Aku pernah mengalami masa-masa tersulit ku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan sahabat ku, saudara ku.... merasakan seperti apa yang pernah aku rasakan."


"Kamu sudah berjanji padaku, kamu akan berjuang untuk mendapatkan cinta suami mu. Aku akan mendukung mu Mika. Tapi....maaf....mulai sekarang, aku akan menjaga jarak dengan suamimu. Itu yang terbaik untuk kita."


Bahkan ucapan mereka pun sama, batin mika lagi.


"Dian...aku...."


"Ssst.... tenang lah, kita masih bersahabat dan bersaudara bukan? Seperti yang papa Umar bilang, papa mika...papa Diandra juga?" aku mencoba tersenyum menghibur Mika.


Mika menghambur ke pelukan ku. Dia menangis sekaligus tersenyum. Entahlah...aku tak bisa membaca ekspresi nya.


"Jangan menangis dokter. Nanti jelek lho!", Mika menghapus air matanya.


"Aku masih cantik lah...!", canda Mika.


Lalu kami tertawa bersama.


"Sekarang, telpon suamimu. Katakan, kalau kamu meminta maaf padanya. Jangan pernah gengsi untuk meminta maaf. Karena rumah tangga adalah kerja sama, bukan kerja bakti apa lagi kerja kontrak!"


"Dian....ih...kamu ngeselin deh. Sakit sama enggak kok sama aja!", kata Mika.


"Sama lah. Masa mentang-mentang sakit, aku berubah ganteng gitu???"


Kami kembali tertawa bersama-sama.


Tersenyum lah Mika. Jangan sia-sia kan air matamu hanya karena perbuatanku yang tidak sengaja. Karena aku, tidak bisa mengendalikan perasaan suami mu pada ku Mika.


*****


Maaf lagi ya, kalau kurang seru bahkan ngga seru sama sekali. mamak bener-bener lagi ga fokus. πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Terimakasih sudah berkenan mampir ke episode ini. β˜ΊοΈπŸ€—

__ADS_1


__ADS_2