Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 208


__ADS_3

Aku masih sibuk dengan beberapa berkas yah ada di mejaku. Julian pun tampak sibuk membantu ku. Sesekali kami berdiskusi dan saling adu pendapat. Mungkin aku memang kelewat cerewet, Julian sampai harus beberapa kali mengambil nafas dalam-dalam hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan -pertanyaanku.


Sudah hampir jam sebelas, aku berniat mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan klien di hotel Aston. Tapi saat ku lihat Julian duduk terpejam, niatku jadi kuurungkan.


Ponselku bergetar, panggilan sayang dari mas Aziz ku.


[Assalamualaikum mas?]


[Walaikumsalam!Lagi apa dek?]


[Hem?! Gayanya nanya lagi apa, nggak keliatan dari cctv di hp mu?]


Tanyaku mencibir.


[Hahahah.... iya...iya...]


[Kamu berduaan di ruangan sama Julian doang?]


[Seperti yang mas lihat kan?]


[Heem! Kok asisten mu molor sih? Pasti kecapekan tuh ngadepin kecerewetan mu ya dek?]


[Hahaha...emang aku cerewet yah mas?]


[Nggak cerewet banget sih? Cuma cerewet bin bawel!]


[Tapi kamu suka kan? Milih mana? Aku cerewet apa diemin kamu mas?]


[Milih dengerin kamu mende*ah]


Mas Aziz tergelak di ujung sana.


[Iiihhh....males ah! Nggak ada bahasan lain apa?]


[Mas kangen....?!]


[Aku lebih kangen mas ...]


[Oh ya???]


[Huum]


[Sabar ya sayang ya....]


[Iya lah mas ....oh iya, mbak Imas gimana keadaan nya? Mama mana?]


[Alhamdulillah, mbak Imas udah sadar dari komanya.]


[Alhamdulillah, ya Allah.]


[Iya dek. Dan sekarang....Rasyid juga sudah mas beri pelajaran.]


[Mas alih profesi jadi guru?] candaku.


[Mulai deh ...mulai.....]


[Hahahahah iya...iya... mas]


[Dia nggak akan berani macam-macam lagi, butik tetap milik kita. Dan...kalau dia masih bikin ulah, dealer nya benar-benar akan kita ambil alih!]


[Masyaallah....]


[Dan ternyata dek, selama ini Rasyid mengambil barang nya dari perusahaan Fai dek. Makanya, Fai gampang banget ngambil alihnya.]


[Oh ya? Syukurlah kalau gitu mas. Setidaknya, kamu punya sahabat yang bisa di andalkan dalam segala hal heheheheh]


[Iya, dan sahabat ku itu mantanmu!]


[Ishhh....mulai deh?!!]


[Heheheh just kidding Beib...]


[Hem!]


[Dek, mama manggil. Ntar lagi ya?]

__ADS_1


[Ah... iya mas. Aku juga mau jalan, ada meeting di hotel Aston. Mau bangunin Julian dulu]


[Dasar asisten bule Jawir. Bukannya dia yang ingetin bos nya malah bos nya yang bangunin dia]


[Kan beda mas. Lain dari yang lain. Hahahah]


[Hahaha iya. Ya wis ya. Mas mau ke ruangan mbak Imas dulu. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Kami mengakhiri percakapan kami.


Dengan pelan, aku menepuk bahu Julian.


"Mas....mas...Jul!", panggil ku. Dan Julian pun tersentak.


"Ah...maaf Bu! Saya ketiduran!", kata Julian gelagapan. Nih bule lucu juga kalau bangun tidur gini hahaha


"Nggak apa-apa mas Jul. Sekarang kamu cuci muka dulu deh. Bentar lagi ke hotel Aston kan?", tanyaku pada Julian.


"Iya Bu. Sekali lagi maaf. Saya permisi!", kata Julian dengan perasaan malu.


Julian pun meninggalkan ruangan ku.


Iiih.... kenapa harus ketiduran sih? Bikin malu aja deh! Dimana harga diri mu Julian? Masa tidur di jam kerja, di depan bos pula! Julian kesal dengan yang baru saja terjadi.


Cepat-cepat ia mencuci wajah nya ke toilet. Bercermin sebentar, lalu mengelapnya dengan tisu. Setelah di rasa lebih baik, ia pun kembali ke ruang bos nya .


"Sudah siap mas Jul?"


"Sudah Bu, mari....!", Julian merentangkan tangan kanannya untuk mempersilahkan aku keluar terlebih dulu.


"Mas Jul, pake mobil siapa kita?", tanyaku.


"Pakai mobil saya saja Bu!"


"Heheh kamu malu ya kalau pake mobil saya?", ledekku.


"Hem? Malu? Kenapa harus malu ya Bu?",tanya Julian gagap.


"Bu Dian bisa saja!", kata Julian.


Kami pun keluar dari lift bersama-sama. Tak lupa, Julian menggedong ransel laptop ku.


Kami berdua sesekali saling menyapa karyawan gedung ini.


"Sebentar Bu, saya ambil mobil dulu!", pinta Julian setelah kami sampai di lobi.


Beberapa menit kemudian, Julian turun dan membuka kan pintu belakang untuk ku.


"Makasih mas Jul!", kataku. Julian hanya mengangguk dan menyungging kan senyuman nya.


Kami pun menuju hotel Aston untuk meeting dengan klien dari Singapura.


*****


[Bos .Target bergerak menuju hotel Aston]


[Ikuti! Dan ingat, dan ingat jangan sampai gagal! jika tidak, ingat lah nyawamu taruhannya!]


[Siap bos!]


******


"Mas Jul, memang nya siapa klien dari Singapura itu?"


"Pak Oliver Benedict"


"Oliver Benedict? Kaya nggak asing ya?", tanyaku.


Julian tersenyum.


"Mungkin, karena nama belakang kami sama Bu?" ,tanya Julian.


"Hahaha iya .. mungkin begitu ya mas Jul."

__ADS_1


Mobil pun sudah memasuki parkiran hotel.


Dengan sigap, Julian membantu ku menuju resto dimana kami akan meeting di hotel Aston ini.


Di sana, aku melihat seseorang yang seperti nya aku kenal.


"Kak Ben?", tanyaku.


Si empunya nama pun menoleh, dan di saat bersamaan dia pun terkejut.


"Rara?", tanya nya.


"Kak Ben? Di sini? Karen mana kak?", tanya ku beruntun. Iya, dia suami karen.


"Lian, jadi...bos kamu ini Rara?", tanya pria itu.


"Tunggu! Jadi, Oliver Benedict itu kamu kak? Kamu kenal Julian juga?"


"Iya. Julian ini adikku Ra!"


"Benarkah? pantas saja nama kalian sama. Aku ga nyangka, kita bakal bekerja sama kak Ben!?"


"Iya. Aku juga sama Ra! Kamu...kamu CEO DWP dan...adikku aspri kamu?"


Kami berdua tertawa bersama, tapi tidak dengan Julian.


"Hei! Kenapa diam saja?", tanya Oliver.


"Suruh ngapain?" tanya Julian.


"Hahah...Lian, bos kamu ini sahabat kakak iparmu. Dari kuliah Rara dan karen bersahabat Lian!!??", kata Oliver menjelaskan.


"Benarkah?", tanya Julian.


"Hahah iya mas jul. Dunia sempit banget ya? Lama banget nggak ketemu, sekali nya ketemu kita malah kerja sama urusan bisnis!", kataku.


"Iya Ra. Kakak nggak nyangka bener!", kata Oliver.


"Hem... ngomong-ngomong Karen mana kak?"


"Ada kok, dia ikut juga di hotel ini! "


"Beneran????!", tanyaku antusias.


"Bener lah. Tapi .. alangkah baiknya, kita bahas kerjasama sama ini. Baru deh kalian bernostalgia." kata Oliver.


"Iya, kasian mas Jul dari tadi bengong. Kasian dia hahahaha?"


"Hemm...!", Julian tertawa kecil.


"Puas-puasin aja situ ketawa lah!", ucap Julian. ketus.


Oliver menatap adiknya itu.


"Heh? Sejak kapan kamu aneh begini?", tanya Oliver.


"Aneh apa? ", tanyaku.


"Dia kan makhluk dingin Ra. Ngeselin minta ampun!"


"Masa sih? Mas Jul biasa aja ko kalo ngobrol. Ya mas?", tanyaku pada Julian.


"Wait....what you calling him????"


"Mas Jul!", jawabku singkat.


"Hahahaha.... you are so crazy!", kata Oliver.


"Enak aja. aku masih waras kak!"


"Muka indo kaya kita kamu panggil mas?", tanya Oliver setelah mengehentikan tawanya.


"Udah, nggak usah bahas yang lain. Fokus aja sama kerjaan. Jadwal anda padat Bu Dian!", seru Julian.


"Ciye....ngambek....!", ledek ku.

__ADS_1


Julian tampak tenang sambil menggelengkan kepala. Meeting yang kupikir akan berjalan formal, ternyata sesantai ini.


__ADS_2