Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 202


__ADS_3

Di ruang rapat....


Rapat antara Dian dan Umar sudah selesai beberapa menit yang lalu. Hingga akhirnya, Umar ingin mengatakan sesuatu pada Diandra.


"Julian, Thomas...bisa tinggalkan kami berdua?", tanya papa Umar. Aku yang tadi sudah bersiap berdiri, akhirnya duduk kembali.


Julian menatap ku, dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban iya.


Setelah kedua asisten kami keluar, aku dan om Umar duduk berhadapan.


"Ada yang ingin om sampai kan ke Dian di luar pekerjaan om?" tanya ku .


Om Umar membenarkan posisi duduknya agar merasa lebih nyaman.


"Dian ...di luar pekerjaan, bisakah kamu memanggil om dengan sebutan Papa saja? Seperti halnya Mikayla?"


Aku tersenyum mendengar ucapan om Umar barusan. Lalu ku anggukan kepala ku.


"Iya om, em...papa!"


"Iya. Papa mau kamu juga manggil papa ke saya. Seperti kamu memanggil Abah dan umi nya Rifai!", papa Umar menyanggah kepalanya dengan kedua tangannya.


"Maksud....papa apa ya?"


Aku mulai menebak -nebak dalam hatiku.


Ku dengar helaan nafas papa terasa begitu berat.


"Kamu bisa jujur ke papa?"


"Jujur? Jujur apa ya pa?", aku semakin tak mengerti.


"Bagaimana perasaan mu dengan Rifai?", tanya papa Umar.


Ya Allah.... kenapa papa Umar bertanya seperti itu? Batinku.


"Maaf Pa, kenapa papa bertanya seperti itu?"


"Jujurlah sama Papa. Papa janji, tidak akan mengatakan pada siapa pun. Papa hanya berharap tebakan papa salah."


"Tebakan apa pa?"


"Kamu masih ada hati dengan menantu papa, benar kan?"


Deg!


Jantungku seolah berpacu lebih cepat kali ini.


"Kenapa papa menebak seperti itu?"


"Karena papa pernah berada di posisi seperti mu!"


Maksud papa apa???


"Nggak pa, Dian hanya....hanya berteman saja dengan mas Fai pa. Cerita kami hanya masa lalu!", jawabku.


"Masa lalu yang tidak akan bisa kalian lupakan. Kisah kalian tidak ada kejelasan bukan?"


"Semua sudah jelas pa, kami sudah memiliki pasangan masing-masing."


"Jujurlah sama papa nak!", kata papa Umar sendu.


"Dian harus jujur seperti apa?", tanyaku bingung.


"Kalian masih saling mencintai, masih saling menjaga satu sama lain. Masih saling peduli."


"Karena mas Fai adalah sahabat mas Aziz, sekaligus suami Mika sahabat Dian. Tolong percaya sama Dian Pa. Kami tidak ada hubungan apapun selain berteman."


Papa menghela nafasnya sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Tapi papa tau, seperti apa cara kalian melihat satu sama lain."


Ya Allah, kenapa papa Umar bisa sebegitu nya memperhatikan kami? Apa iya, aku masih terlihat mencintai suami mika? Aku pikir, aki sudah bersikap sewajarnya.

__ADS_1


"Pa....!"


"Dian...papa hanya tidak ingin anak-anak Papa mengalami apa yang papa rasakan. Sakit Dian, sakit!", kata Papa Umar tertunduk.


"Pa...maaf....!", kataku.


"Perasaan memang tidak bisa di paksakan Di. Papa tahu itu!"


"Jadi, papa mau Dian menjauhi Mas Fa'i demi menjaga perasaan Mika? Itu artinya, Dian juga harus menjauhi Mika?" tanyaku.


Dan Papa Umar diam, tanpa merespon.


"Pa...bagi Dian, perasaan pada mas Fai sudah selesai. Tidak ada cerita lagi di antara kami. Bahkan, mas Fai dan Mika sudah saling membuka hati kok Pa."


"Tapi...yang Papa lihat, Fai masih sangat mencintai mu!"


"Pa, tolong papa percaya sama mereka. Apa pun itu?! Mereka akan saling melengkapi satu sama lain."


Papa Umar merubah posisi duduknya.


"Dian tahu, papa juga sangat mencemaskan perasaan Mika. Dian pun sama. Tapi, Dian tahu kalau mas Fai tidak akan mengecewakan Mika Pa. Cukup Dian saja yang pernah merasa kecewa padanya, tidak dengan Mika."


"Apa hubungan kalim begitu dalam saat itu Di?", tanya papa menatap manik mataku.


Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Mas Fai, dia berada di posisi penting saat Dian terpuruk dulu Pa. Dia mendampingi Dian ke psikiater, membantu Dian melewati masa-masa sulit sampai....sampai Dian sembuh dari trauma itu. Tapi....mas Fai juga yang sudah menghancurkan harapan dan kepercayaan Dian Pa. Dan sejak itu, Dian menutup pintu hati Dian untuk mas Fai."


Ya, papa pernah mendengar betapa sulit nya kamu melewati masa remaja mu dulu Di. Batin papa.


"Maaf kan papa."


"Papa tidak perlu minta maaf, Dian tahu. Papa memiliki anak perempuan satu-satunya yang sangat papa sayangi. Tentu papa ingin melihat anak papa bahagia kan?"


"Kamu juga anak Papa kan?", tanya papa umar.


Pertanyaan itu membuat hatiku merasa hangat. Aku memiliki papa?


Mata papa Umar mulai berembun.


"Iya pa!", jawabku.


Papa Umar mengusap puncak kepalaku.


"Mulai sekarang, jangan sungkan sama Papa. Iya?", kata papa umar.


Aku pun mengangguk.


"Iya pa, papa Mika juga papa nya Dian!,"


Papa Umar terkekeh.


"Ya udah, papa pulang ya."


Papa Umar menepuk bahuku pelan.


"Iya pa, hati-hati!".


Papa Umar pun meninggalkan ruang rapat. Sekarang, aku sendiri di ruangan ini.


Apa yang harus ku lakukan? Menjauhi mas Fai? Seperti kata papa Umar. Bersikap biasa saja , seperti kata mas Aziz?


.


.


.


.


Sementara di ruang Aziz.....


"Weitssss...pak bos, sibuk!", sapa Fai .

__ADS_1


"Hem! Sini Lo!", titah Aziz.


"Ada yang serius?", tanya Fai.


"Rasyid."


"Kenapa lagi tuh orang?"


"Mama Farah bilang, Rasyid mau menceraikan mbak Imas. Padahal mbak Imas saat ini sedang koma."


"Ya Allah, kok bisa????", pekik Fai.


"Iya. Rasyid akan membatalkan perceraian kalau...aku mau menyerahkan butik kami untuk nya."


"Gila!! Dia bener-bener udah gila!", kata Fai.


"Makanya, gue minta tolong sama Lo. Lo kan biasanya banyak ide."


"Ide apaan? Gini aja bro!"


Fai merubah posisi duduknya.


"Kalau Lo nyerahin tuh butik buat dia, emang ada jaminan apa dia soal rumah tangga kakak Lo? Rumah tangga nya bakal baik-baik aja? Mbak Imas bakal bahagia kaya sebelum nya?", tanya Fai beruntun.


Kenapa pertanyaan Fai sama kaya yang Dian bilang tadi ya? Batin Fai.


"Makanya, gue bingung!", kaya Aziz mengusap pelipisnya.


"Hem...gini aja, Lo tanya aja sama mama Farah


atau ke Rasyid langsung. Nego aja, Rasyid butuh berapa duit sebenernya? Jadi, dia nggak usah minta butik Lo?!"


"Emang dia mau?"


"Lo belom coba kan?"


"Tapi ..Lo tahu sendiri kan, dia kemaren ngapain? Demi ngejatuhin gue?"


"Iya sih!", kata Fai bingung.


Mereka sama-sama terdiam.


"Eh, Rasyid punya usaha apa?"


"Dealer motor. Tapi nggak segede Lo?!", jawab Aziz masih sambil mengusap kepala nya.


Tiba-tiba Fai memiliki ide.


"Gimana kalau kita tukar aja!", kata Fai.


"Tukar apa?"


"Gue punya kenalan di Surabaya yang ngurusin usaha kaya gue. Gue bikin Rasyid menyerahkan dealer itu, atas nama Lo. Dan Lo, serahin butik Lo!"


"Mana bisa begitu! Butik itu kan warisan bokap gue!"


"Dan dealer itu, juga modal dari mama Farah kan????"


Aziz mengernyitkan dahinya.


"Apa nggak terlalu jahat?," tanya Aziz.


"Ya...main yang halus lah. Gimana?", tanya Fai.


"Ya udah, gue ikut Lo aja!"


Keduanya pun tampak lega.


*****


Mengambil alih usaha nggak semudah mengambil makanan di meja makan kan????


Selamat mencoba Aziz dan Fai!!!

__ADS_1


__ADS_2