Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 262


__ADS_3

Mas Aziz masih terisak bahkan nyaris tak bersuara. Kami semua paham dengan kesedihannya. Orang-orang yang ia sayangi pergi begitu saja. Bahkan di saat terakhir mereka, mas Aziz tak sempat bertemu dan mengantar ke tempat peristirahatan terakhirnya.


"Mas ...yang sabar, aku dan Diaz selalu bersama mu mas!", kuusap air mata di pipinya.


Mas Aziz berniat bangkit dari tidur nya, tapi keadaan kakinya membuat ia semakin emosi.


"Kenapa kaki ku nggak bisa di gerakin! Arggggg!!!!", teriaknya.


"Mas....!", ku raih punggung nya. Tapi ia segera menepis nya .


"Dokter....dokter!", teriak Aziz.


"Ziz! jangan berteriak seperti itu!", pinta damar menenangkan sahabat nya.


"Kaki gue? Kaki gue kenapa Dam?", tanya Aziz. Aku hanya mampu menangis melihat nya seperti itu.


"Kaki Lo cedera Ziz, tapi tenang aja. Kita pasti bakal ngobatin nya. Kita usahakan semuanya. Kalo perlu berobat ke luar negeri Ziz!", Damar merengkuh sahabat nya yang sedang kalut itu.


"Arggggg! Gue ngga berguna Dam!!!Gue nggak bisa apa-apa!", Aziz meremas rambut nya.


"Cukup mas, jangan begini. Kamu pasti sembuh mas!", aku meraih tangan nya.


"Pergi! Pergi kalian semua! Pergi!!!!", teriak Aziz.


Aku menangis tersedu-sedu di depannya. Tapi sepertinya dia tak menghiraukan siapa pun, termasuk aku. Mas Aziz sibuk dengan emosinya sendiri. Mungkin, benar mas Aziz butuh waktu sendiri.


Hayu memelukku lalu membawa ku keluar. Begitu pula dengan yang lainnya.


Setelah kami semua di luar, dokter Revan menghampiri.


"Ada apa dokter Damar?", tanya Revan.


"Aziz seperti nya shock dengan keadaan kakinya dok, di tambah lagi....dia baru mengetahui jika ibu dan kakaknya serta ipar dan keponakan nya meninggal dunia di hari yang sama di saat ia kecelakaan", kata Damar menjelaskan.


Revan terdiam.


"Kalau begitu, saya permisi masuk!", Revan pun masuk ke dalam ruangan Aziz.


Dilihatnya pria yang tampan itu sangat kacau. Dengan perlahan, Revan menghampirinya.


"Pak Aziz!", kata Revan. Aziz pun mendongak menatap dokter nya itu.


"Dok, kaki saya kenapa bisa begini? Apa saya lumpuh dok?", tanya Aziz pelan.


Meskipun di sudut hati Revan ada rasa senang, karena cedera Aziz ia memiliki kesempatan untuk mendekati Dian. Apa yang dian harapkan dari pria lumpuh seperti ini? Bukannya dia jauh lebih baik dari pasiennya ini? Tapi....jiwa kemanusiaan dan juga profesi yang ia sandang, mengatakan jika alangkah kejam nya jika ia memanfaatkan hal itu. Betapa tidak tahu malunya Revan jika merebut Dian dari pria yang sedang lemah ini! Ah, cinta! Apa ini yang di namakan cinta? Bertahun-tahun ia mencari keberadaan Diandra, sekalinya bertemu jutsru sudah memiliki tambatan hati. Perasaan rindu yang bertahun-tahun terobati beberapa waktu lalu, kini harus di hadapan dengan keadaan bahwa ia benar-benar sudah kalah????


Revan menarik kursi nya dekat dengan brankar Aziz. Aziz mengerjapkan matanya sesaat.


"Kaki anda cedera bagian dalam. Ada saraf yang rusak, yang membuat anda seperti sekarang ini. Tapi ...anda masih bisa berusaha untuk berobat ke luar negeri mungkin!", kata Revan melipat tangannya di dada. Sebenarnya jam dinas Revan sudah selesai, tapi dia sengaja ingin menemui Aziz.


"Apakah bisa sembuh dok? Butuh waktu berapa lama agar cepat pulih?", tanya Aziz.

__ADS_1


"Tergantung usaha pengobatannya!", jawab Revan.


"Apa itu artinya....jika saya gagal ...maka selama nya saya seperti ini?", tanya Aziz penuh selidik. Dia jauh lebih tenang di bandingkan tadi.


"Saya bukan Tuhan, yang berhak mengiyakan atau berkata tidak. Semua terserah yang kuasa!", jawab Revan diplomatis.


Anda benar dok, batin Aziz.


Revan menyanggah dagunya dengan kedua tangannya dan menghadap Aziz.


"Kali ini, saya ingin berbicara sebagai Revan. Secara pribadi. Bukan dokter Revan yang menangani anda!", kata Revan. Aziz tak paham dengan ucapan Revan.


"Maksud anda apa Dok?", tanya Aziz.


"Saya mencintai Diandra sejak dulu. Sayangnya saya baru bertemu dengan nya , dengan keadaan seperti sekarang. Sudah bersuamikan anda."


Deg! Tiba-tiba ada perasaan tidak enak di hati Aziz.


"Maaf, saya belum pernah bertemu dengan anda sebelumnya Dok. Dan ...bagaimana bisa anda mencintai istri saya?"


"Entah Dian pernah menceritakan tentang saya atau tidak kepada anda! Saya Revan! Kekasih Diandra saat masih kuliah, sebelum Diandra bersama Rifai!"


"Apa?", Aziz terkejut.


"Bukannya...Revan itu meninggal saat kecelakaan? Bagaimana mungkin anda Revan yang sama?"


"Saya memang Revan yang sama, yang pernah berada di masa lalu Diandra. Dan...saya masih sangat mencintai nya ,sampai sekarang!"


"Maaf, dok! Anda tidak pantas berbicara seperti itu pada saya. Diandra istri saya!"


Aziz semakin kacau, tapi dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan rivalnya ini , yang sepertinya justru ambisius tak seperti Fai.


"Bangunlah! Kalau tak ingin melihat aku merebut dian darimu! Apa kamu masih pantas mendampingi diandra dengan keadaan mu yang seperti ini?", bisik Revan.


Kalimat itu seperti.... seperti yang ku dengar saat aku bermimpi waktu itu, batin Aziz.


"Tidak akan ku biarkan siapa pun merebut Dian dariku. Diandra istri ku!"


"Kita lihat saja pak Aziz yang tampan! Sejauh apa usahamu untuk bisa kembali normal! Jika tidak, maka bersiaplah Diandra menjadi milik Revandra Syailendra!", kata Revan. Dia pun bangkit dari duduknya. Lalu hendak keluar dari ruangan Aziz. Tapi dia berbalik arah, dan kembali mendekati Aziz.


"Besok, saya kembali. Tapi ... sebagai dokter Revan, bukan Revandra!", setelah mengucapkan itu, Revan pun keluar dari ruangan Aziz. Setelah berada di luar, dia hanya tersenyum tipis.


"Pasien hanya shock, tapi saya rasa beliau bahkan melewati semua nya dengan baik! Saya permisi semuanya! Mari!", pamit Revan. Kami semua hanya mengangguk.


Sedangkan di luar.... obrolan pun berlanjut.


"Kalian kalau mau ke kantor polisi sekarang nggak apa-apa. Aku udah ada yang nemenin kok!", kataku.


"Ya udah, kami bertiga jalan dulu ya!", kata Damar.


"Sayang, mbak Hayu. Titip Dian dan Diaz ya!", pinta Fai kepada istrinya dan juga istri sahabatnya.

__ADS_1


"Iya mas!", sahut mika dan hayu kompak.


Julian, damar dan Fai pun meninggalkan rumah sakit. Tapi, Julian sudah meletakan orang-orang nya untuk menjaga bosnya .


"Di, kamu yang sabar. Mas Aziz pasti sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa nya!", mika merengkuh bahuku.


"Dia seperti bukan Mas Aziz, Ka! Mas Aziz nggak pernah begitu!"


"Kamu pahami situasi dan keadaan nya Di. Insyaallah, setelah ini semua akan baik-baik saja. Kasian Diaz , dia juga butuh perhatian mu!", seru Hayu.


"Aku merasa aku lah penyebab meninggalnya mama dan mbak Imas, serta kejadian yang menimpa mas Aziz!"


"Jangan bicara seperti itu Di!", Mika menguap bahuku.


"Tapi, ini pasti karena aku. Andai aku tak melibatkan mereka, mereka pasti masih hidup!"


"Istighfar Dian, istighfar!", pinta hayu.


"Ini semua salah ku! Aku penyebab mereka meninggal! Aku pembawa sial! Aku yang pantas di salah kan!", aku menjauh dari mika dan Hayu. Kalimat itu berulang-ulang keluar dari mulutku.


"Astagfirullah Dian!", hayu menangis. Dia teringat kejadian di rumah Abah saat Dian depresi.


"Dian! Dengarkan aku, kamu bukan penyebab nya! Percaya padaku!", kata Mika sambil menggoncang bahuku.


"Mika, telpon mas Fai. Hanya dia yang tau bagiamana menenangkan Dian yang sedang kembali depresi begini!", kata Hayu lirih.


"Apa? depresi?", tanya Mika.


"Maaf Mika, ku mohon untuk kali ini. Biarkan mas Fai yang menangani Dian."


Mika meraih ponselnya lalu menghubungi Fai. Dan sepertinya mereka bertiga belum keluar dari area rumah sakit.


[Assalamualaikum sayang, kenapa?]


[Walaikumsalam. Mas....kembali ke sini. Diandra....Dian...]


[Diandra kenapa sayang?]


Fai mulai panik, begitu pula dengan damar dan Julian.


[Depresi Dian....]


Kalimat Mika menggantung!


[Oke. Tolong kamu usahaku menenangkan Dian, kami kembali ke sana!]


Mereka bertiga pun kembali ke ruangan Aziz.


*****


Fai mau jadi pahlawan lagi buat Dian? Lalu apa kabar perasaan istrinya nanti?

__ADS_1


Heum...mamak siap di anu lah...habis ini. Pro kontra soal Dian dan Fai!


✌️✌️✌️✌️✌️


__ADS_2