Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 273


__ADS_3

Mika sudah di jemput oleh Fai untuk bekerja di rumah sakit. Usai Mika dan Fai berpamitan,aku kembali ke kamar kami.


Mas Aziz masih sibuk dengan pekerjaannya, begitu pula dengan ku.


"Mau ku buatkan teh hangat mas?", tanyaku.


"Nggak dek. Nanti saja pas kamu buka puasa."


"Eh, kamu kan nggak puasa sayang. Lagi pula, kamu harus rutin minum obatnya biar cepet pulih!"


"Sebenarnya mas kuat puasa kok dek!"


"Tapi obatnya kan harus kamu habiskan mas! Nanti kalau memang mas udah benar-benar sehat, baru puasa. Aku temenin deh bayar utang puasanya!"


Mas Aziz tersenyum tipis.


"Makasih sayang....!", ucap mas Aziz.


"Cama-cama...!", candaku.


"Kaya Diaz aja sih!"


"Kan bunda nya Diaz yah....!"


"Heum! Iya, istrinya Aziz juga kok!"


"Hehehehe iya suamiku yang paling ganteng!", aku meletakkan kepala ku di bahunya. Lalu mas Aziz mengusap nya pelan.


Aku terpejam beberapa saat. Ada rasa nyaman saat aku menyentuh kulit tubuh mas Aziz.


"Kamu tidur sayang?"


"Merem aja. Nyaman di sini mas!" kataku tanpa membuka mata.


"Pindah sini, di pangkuan mas!", katanya.


aku mendongak.


"Nggak ah, nanti kamu capek mas. Gini aja nggak apa-apa!"


"Mas yang pengen meluk kamu!"


"Jangan ah.... kalau mas bilang mau meluk, nanti kebablasan. lagi puasa mas!"


"Dih, istri mas ini kok ngeres amat?! Cuma di pangkuan aja, mas juga sadar kok ini lagi puasa. Masih siang juga. Mas cuma pengen deketan aja sama kamu dek!"


"Iya iya....?!", aku pun sekarang duduk di pangkuan mas Aziz. Lalu menyandarkan kepala ku.


"Makasih sayang, selalu bersama ku meski aku dengan keadaan seperti ini."


"Jangan bahas begituan lagi mas!", kataku sambil merem.


Cup....


Mas Aziz mengecup kening ku.


"Tidurlah dek, kamu pasti capek!"


"Heum!", aku hanya menyahut seperti itu.


Aku terlelap dalam pangkuan suamiku. Entah sampai berapa lamanya. Yang aku tahu, aku bangun mas Aziz sedang mengusap pipiku.


"Ya Allah mas", aku langsung bangkit dari pangkuan nya.


"Kenapa dek?"


"Kamu pasti pegel mangku aku dari tadi gara-gara aku ketiduran!"


"Nggak apa sayang! kan emang lutut mas ngga berasa. Gimana mau pegel?" tanya nya menyeringai.


"Tapi pahamu kan nggak!", aku memijat pahanya.


"Ssst ...jangan di lanjutkan dek! Nanti malah ad yang bangun!"

__ADS_1


Plak....ku pukul pahanya yang hanya memakai celana pendek selutut.


"Kok di pukul!"


"Lagian gitu aja masa bangun", kataku manyun.


"Yang pegang kan pawang nya. Ya jelas jinak dek!"


"Isssh....puasa juga bahasnya mesum begitu!"


"Yang mesum kan kamu dek, mas kan nggak!"


"Tau ah!", aku pindah ke kursi kerja nya mas Aziz.


"Kerjaan dari Julian?"


"Iya! Banyak banget nih!"


"Iya...gimana, harusnya mas yang bantu kamu waktu itu malah sekarang...."


"Udah lah mas, ngga apa-apa toh ini bisa di kerjain di rumah."


"Maaf ya sayang....!"


"Iya mas. Udah nggak usah di pikirin!"


Mas Aziz fokus dengan pekerjaannya, aku pun sama fokus dengan beberapa berkas di mejaku.


Di kios....


"Diandra lagi istirahat teh?", tanya Hayu pada Neneng.


"Nggak tahu, di kamar sih mbak. Tadi Mr.Julian kayanya bawa kerjaan buat mbak Dian."


"Owh, Julian ke sini?"


"Iya, tadi sebelum mas Fai dan mba Mika berangkat."


Diaz sedang bermain-main dengan beberapa kardus bekas asesoris dagangan kios. Saat ini Aziz tak perlu belanja ke Roxy. Ada sales yang mengantar dagangan ke kios. Dan Hayu sudah menanganinya dengan baik. Itu yang membuat Aziz tak enak hati pada Damar.


"Walaikumsalam! Papa udah mau berangkat?", tanya Hayu.


"Iya sebentar lagi!"


"Walaikumsalam, dokter damar!", jawab teh neneng.


"Hai Diaz ganteng! Papa damar datang!"


(Banyak banget ya bapaknya Diaz? Ayah Aziz, papa Fai, papa Damar, untung aja ke Dadan manggilnya Om. Bukan Papa juga!)


Diaz menengoknya sebentar lalu fokus ke mainannya lagi.


"Sayang, kita mandi yuk!" kata Neng menggendong Diaz.


Sepeninggal Neng, Hayu dan Damar hanya berdua di kios.


"Kapan kita jemput Faiz Mi?", tanya Damar.


"Tadi umi udah telpon ,tapi Faiz masih betah di rumah daddy Pa!"


"Yah...papa juga kangen sama Faiz lho Mi!"


"Ya lusa kita ke sana deh Pa, jangan bilang mau jemput. Tapi kalau udah di sana, kita bujuk aja!"


"Iya sih Mi. Aziz lagi apa ya? Pengen nemuin dia deh!"


"Nggak tahu Pa."


''Papa masuk dulu ya, mau liat Aziz dulu!'


"Iya Pa!"


Damar pun masuk ke rumah induk dari dapur seperti biasanya.

__ADS_1


"Eh, Mas Damar? Kapan datang?", tanyaku kaget.


"Tadi Di. maaf ya, lewat dapur! Hehehe!".


''Biasa kali mas."


" Aziz mana?"


"Ada di kamar, tuh... pintu nya ke buka. Masuk aja nggak apa-apa."


"Nggak ah, nggak enak masa main masuk ke kamar orang."


"Ya kan aku udah bolehin mas Damar."


"Maaf Di, kamu panggil Aziz ke sini aja deh ya...?!", kata Damar memohon.


"Ya udah, bentar ya?"


Damar pun menunggu ku untuk memanggang mas Aziz.


"Mas, ada mas Damar mau ketemu kamu!"


"Hah? Iya!", aku pun mendorong kursi rodanya menuju mas Damar.


Setelah mereka sama-sama saling bertegur sapa, aku kembali ke dapur untuk melanjutkan masak buat buka puasa. Diaz dan teh neng masih main di teras belakang.


"Kapan kamu kontrol Ziz?"


"Pas lebaran Dam. Tadi mika udah telpon sama Revan, eh....Revan nya saklek banget. Minta dian yang nelpon dia. Padahal kan sama aja, cuma mau minta jadwal ulang aja bisa apa nggak! Aku jadi nggak enak sama Mika."


"Revan bikin ulah lagi?"


"Ya nggak juga sih, dia cuma minta Dian yang telpon ke dia. Toh yang istri ku kan Dian, bukan Mika. Gitu sih alasannya."


"Halah! Paling modus tuh Revan."


"Dam, gue paranoid nggak sih kalau....kalau ternyata Revan nggak mau ngobatin gue? cuma mau ketemu Dian aja gitu?! Alasannya dia aja gue kontrol ke dia biar Revan bisa nemuin istri gue?"


Damar mengernyitkan keningnya.


"Bingung gue Lo ngomong apa Ziz!"


"Ishhh... maksud gue, apa Revan beneran mau bantu gue apa ada maksud terselubung gitu Dam."


"Jangan su'udzon lah Ziz. Udah, sama Revan aja dulu. Ntar Dian suruh telpon Revan. Aku sama Mika usahain cari dokter yang terbaik buat nanganin Lo kok biar Lo bisa sehat lagi kaya dulu!"


"Heum. Iya sih. Makasih Dam!"


"Ya."


"Em...gue juga mau minta maaf Dam!"


"Buat?"


"Mbak Hayu, dia masih kerja di sini. Padahal duit Lo juga banyak. Tapi gara-gara gue....!"


"Udah tenang aja sih. Gue nggak apa-apa. Asal bini gue seneng. Toh di sini dia nyantai. Bisa sambil tadarusan kalo lagi sepi. Dia malah dengan senang hati bantuin kalian. Yang Stevi cari kan nggak cuma uang, tapi kekeluargaan yang udah kalian kasih ke dia selama ini. Jadi jangan sungkan ya! Gue sama sekali ngga keberatan."


"Tapi masa iya istri seorang dokter kerja di kios kecil?"


"Memang kenapa? Dari pada dia di rumah ngga ngapa-ngapain kan? Faiz aja betah sama mantan mu itu!"


"Heum?"


"Iya, Faiz betah banget tinggal sama Daddy dan Lili. Nggak mau gue ajak balik!"


"Ah... syukurlah, minimal Lo bisa bulan madu sementara kan!"


"Iya sih hehe Btw, gue mau jalan ke rumah sakit. Ada piket nih. Nitip bini gue buka puasa di sini ya? Kemaren dia libur puasa nya!"


"Iya Bro, hati-hati!"


"Yoi. Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Walaikumsalam!"


Damar pun berpamitan dengan ku. Aku tetap melanjutkan aktivitas memasak ku.


__ADS_2