
Ehemm....
Aziz berdehem saat memasuki ruang makan saat aku dan mama berpelukan.
"Dalam rangka apa nih peluk-peluk?", Aziz menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi makan.
"Mau tau aja apa mau tau banget?", tanyaku.
"Au ah lap!", Aziz kembali berdiri menuju kamar kami.
"Kamu mau ke mana mas?"
"Mandi lah. Daripada disini, dikacangin!"
"Ciye...ngambek...cemburu nih pengen dipeluk mama?"
"Enggak. Lebih cemburu lagi liat istri yang abis ketemu mantan!"
Brakkk....
Aziz tiba-tiba menutup pintu kamar kami. Untung saja Diaz sedang menyusu. Jadi, diaz tak perlu kaget mendengar bantingan pintu ayahnya.
"Hemm... ngambeknya melebihi bocah!", gumam mama.
"Kenapa jadi dia yang marah ya ma?"
"Ya udah, bujuk aja sana bocah manja itu. Biar Diaz sama mama. Nggak apa-apa mama pulang malem juga."
"Tapi ma...."
"Udah sana. Diaz juga anteng kok di gendong omahnya."
Akhirnya aku pun menghampiri Mas Aziz yang sedang merajuk. Ah...berasa punya dua bayi. Dimana-mana yang syndrome babyblouse itu emak-emak, lha ini malah bapak nya.
"Mas....!", panggil ku pelan sambil mengunci pintu kamar ku. Mas Aziz sedang duduk dibelakang meja kerjanya dulu.
Tangan mas Aziz sibuk menekan kalkulator yang ada di depannya.
"Kamu kenapa?", tanyaku pelan ,lalu duduk di sebelahnya.
"Nggak kenapa-kenapa!"
"Kok kaya orang marah sih?"
__ADS_1
"Kelihatannya?", Aziz mengangkat sebelah alisnya.
"Hem...masa gara-gara pelukan sama mama, kamu marah?"
"Hah? Nggak banget!"
"Terus kenapa mas? Kamu jangan ngambekan gitu kenapa? Aku jadi merasa punya dua bayi tau nggak?"
"Emang aku minta dimandiin sama kamu? Minta disuapi?"
"Kok nyambung nya ke sana-sini sih mas?"
"Tau ah...."
Sebenarnya Aziz nggak marah sama sekali. Tapi dia hanya ingin mengerjai Diandra.
"Mas...? Kamu cemburu sama Mas Fa'i?"
"Masih kamu tanyakan?", Aziz memutar badannya menghadap ke arahku.
"Mas, kamu kan tahu. Aku sudah melupakan dia. Bukan salah aku kan kalau tiba-tiba kita bertemu lagi sama dia?"
"Benarkah? Kirain kamu seneng ketemu dia lagi. Secara... sekarang dia udah jadi ustadz. Lebih shaleh...lebih pinter ilmu agamanya...le..."
"Cukup mas! Jangan suka memperkeruh keadaan kenapa? Toh tadi kita tidak ada masalah apa-apa sebelum kita ketemu dia?"
"Ya kamu lah mas. Udah deh, nggak usah kaya anak kecil!"
"Siapa yang kaya anak kecil?"
"Ya kamu lah mas, siapa lagi!", aku mulai tersulut emosi.
"Oh...terserah kamu lah dek!", aziz kembali sibuk dengan kalkulator nya.
Dia ini kenapa sih? Masa iya masih cemburu sama Fai? Aku yang jelas-jelas sudah melihat adegan menjijikkannya dengan Lili saja sudah berangsur memaafkannya, meski sampai kapanpun tidak akan mungkin kulupakan seumur hidup ku.
"Kamu cemburu buta mas? Kamu sendiri tahu, kalau kita baru bertemu Fai lagi setelah bertahun-tahun kita menikah. Kenapa baru kamu permasalahkan sekarang? Aku saja yang sudah tahu seperti apa antara kamu dan Lili, bisa memaafkan mu?!"
Aziz kini berbalik badan memandang Dian.
Aduh, kenapa Dian jadi bahas tentang Lili lagi sih? Ujung-ujungnya malah aku lagi yang kena, batin Aziz. Aku harus apa ya? Meneruskan sandiwaraku atau sok cool? Mungkin, lebih baik diam ditempat lah. Coba kita hitung bersama, Dian pasti akan membujuk ku. Satu....dua...tiga...
"Mas...udah dong, Cintaku sepenuhnya cuma buat kamu mas. Masa iya sih kamu masih meragukan aku? Yang benar saja.....!"
__ADS_1
"Kamu sudah cinta sama aku, tapi kenapa kamu selalu mengungkit kesalahan-kesalahan ku?"
"Ya...ya... kalau kamu nggak bikin kesel mah, aku juga nggak akan bahas. Kamu yang suka mancing emosi ku!"
"Sudah lah, kamu keluar aja. Temani Diaz!"
"Mas...kamu itu cemburunya kaya anak ABG aja sih?", aku menghampirinya sambil kuletakkan kedua tanganku di bahunya. Aziz masih fokus dengan kalkulator nya.
"Mas, kamu mah ih....!", aku pun meninggalkan nya. Tapi baru selangkah dari belakang kursinya, mas Aziz menarik tanganku. Sekarang aku duduk di pangkuan nya.
"Aw...!", pekikku.
"Jangan pergi sayang, ayo bujuk lagi....!", Aziz merajuk seperti anak kecil.
"Sakit ini mas , bekas jahitan nya masih sakit!", keluhku saat aku duduk di pangkuan nya.
"Iya maaf...''
"Jadi, kamu sebenarnya kenapa? Marah? Cemburu?"
"Nggak, biasa aja. Cuma pengen isengin kamu aja!"
"Iih...nggak lucu tau nggak!". Aku berusaha bangkit dari pangkuan Aziz.
"Udah ah, aku mau keluar. Kasian mama jagain Diaz dari tadi."
"Hey... tunggu sayang! Sebentar...aja!"
"Apaan sih mas?"
"Kalau yang onoh masih puasa, yang inih boleh dong?", Aziz menowel bibirku.
"Iya...tapi jangan lama-lama lho ya. Cuma ini!"
"Heem...!"
Kini kami berdua saling berpagutan. Tidak lebih dari itu, karena masa nifas ku belum selesai untuk beberapa hari ke depan.
Aku mendorong tubuh mas Aziz pelan.
"Masih mau lagi dek!"
"Udah ah."
__ADS_1
Akupun bangkit dari pangkuan nya. Meninggalkan Mas Aziz yang sejak tadi berpura- pura marah padaku.
Mau minta jatah c*um aja pake drama cemburu segala. Dasar modus!