
Tidak terasa Diaz kini sudah mendekati usia dua bulan. Pipinya kian menggemaskan untuk bisa ditowel. Aku pun sudah membawanya ke dokter untuk imunisasi. Bagaimana pun imunisasi dasar lengkap itu wajib.
Aku baru sempat mandi usai bada dhuhur tadi. Diaz agak rewel, tidak mau di ajak sama ayahnya apalagi tantenya. Akhirnya Diaz lun tertidur usai menyedot Asiku sepuasnya. Dia sudah kenyang dan merasa nyaman.
Aku sudah mulai melaksanakan kewajiban untuk solat lima waktu. Tanpa sepengetahuan mas Aziz tentunya. Kalau dia tahu aku sudah solat, beuh...di jamin dia bakal minta hak-nya.
Usai mengucapkan salam lalu melantunkan doa, aku melipat mukena ku. Betapa terkejutnya aku, ternyata mas Aziz sudah duduk di ranjang kami. Aku jadi tersenyum kaku.
Usai membereskan mukenaku , mas Aziz memanggilku. Menepuk kasur di sebelah ia duduk.
"Sini!", titah nya datar.
Aku pun mendekati suamiku.
"Iya mas."
"Sejak kapan sudah solat?"
"Em...baru kok. Baru aja."
"Boong!"
"Mas..."
"Kamu sengaja ya?"
"Bukan gitu mas."
"Terus?"
"Aku...aku...."
"Aku apa Hem?", Aziz meraih pinggang ku.
Lalu ******* bibirku tanpa ampun. Ah, inilah yang aku takutkan. Setelah tahu aku sudah mandi wajib, dia pasti tidak akan tinggal diam. Pasti akan melahap ku habis-habisan.
Baru saja Aziz melepaskan pagutannya, Diaz sudah menangis.
Sontak, kami mengehentikan aktivitas ini. Aku segera mengambil Diaz dari box bayi nya.
Mas Aziz tampak menjambak rambut nya sendiri.
"Diaz, kamu mengacaukan kesenangan ayah di waktu yang tidak tepat sih nak!", ucap Aziz frustasi.
"Mas, jangan begitu ah...lain kali ya."
Aku berusaha menenangkan nya.
"Tapi sayang, kamu tahu mas udah...."
"Iya mas, tahu....aku tahu..."
"Mendingan sekarang kamu mandi, solat dhuhur. Ayok sana!"
"Mandi, ngapain mandi. Ngapa-ngapain aja belum."
"Ya udah, solat gih!"
"Iya...iya...!"
Aku melihat punggung suami ku memasuki kamar mandi. Ada rasa kasian dan pengen ketawa sebenarnya.
Tapi kalau kutunjukan padanya malah yang ada makin ribet urusannya.
"Mas balik ke ke depan ya.""
"Makan aja dulu mas."
"Nggak napsu. Pengen nya makan kamu, malah nggak jadi."
"Kamu mah gitu mas...."
Aziz pun meninggalkan kamar kami.
*****
"Mas....", panggil Imah.
__ADS_1
"Hem...!"
"Besok kalau Imah lamaran, ibuk boleh Dateng?"
"Buat apa nyuruh dia dateng mah?"
"Oh, jadi nggak boleh ya?"
"Emang aku udah jawab nggak boleh?"
"Terus?"
"Aku kan nanya, ngapain nyuruh dia dateng?"
"Emm...gimana juga, ibuk kan ibunya Imah mas."
"Kamu yakin kalau dia berhak di kasih kesempatan lagi?"
"Ya, Imah tahu. Kesalahan ibuk sama mas Aziz udah fatal. Tapi....."
"Mas cuma nggak mau ambil resiko Mah. Itu aja."
"Jadi, intinya...dia nggak boleh ke sini?"
"Tanyakan saja padanya, apa dia masih punya muka untuk di bawa kemari?"
"Masih lah mas, mukanya masih itu-itu aja kok!"
"Imah.....!"
"Iya mas!"
"Maksud ku, apa Bu Tati nggak malu gitu ketemu sama aku lagi sama mama?"
"Iya sih."
"Udah lah mah, mas lagi nggak mau ngurusin ibu tiri kamu itu."
"Iya mas iya ..."
Imah menyodorkan sebuah buku pada aziz. Di waktu yang bersamaan, Farhan datang.
"Om Aziz, kak Imah!", sapa Farhan.
"Hai, sayang?", sapa Imah balik. Yang membuat Imah terkejut itu, Farhan datang dengan ustadz Ahmad bukan a Dadan.
"Kok Farhan sama pak ustadz, ayah kemana?"
"Warung lagi ramai kak. Makanya pak ustadz anterin Farhan ke sini. Farhan kangen sama dek Diaz kak!"
"Owh....!", Imah memalingkan wajahnya padaku.
Maksud Imah apaan sih.
"Om...dek Diaz mana om? Farhan pengen ketemu."
Akhirnya aku mendekati nya.
"Dek Diaz di rumah sama Tante Di."
"Mah, anterin Diaz masuk. Cuma Diaz lho ya."
Titah mas Aziz seperti perintah dari atasan tertinggi.
"Kamu nggak usah khawatir Aziz, aku tidak akan diam-diam menemui Diandra."
Imah dan Farhan pun meninggalkan kios menuju rumah.
"Maksud kamu apa ya Fai?"
"Jujur, aku masih mencintai Diandra!"
"Hei , pak ustadz. Hati-hati dengan ucapan mu ya. Kamu itu sudah menyandang predikat ustadz, apa pantas mengatakan hal itu. Mencintai istri orang lain?"
"Aku juga manusia biasa Ziz. tidak seperti ustadz yang hebat di luar sana. Bukan aku yang ingin di panggil ustadz."
"Kamu mau merusak citra ustadz Fai?", hardik Aziz.
__ADS_1
"Kalau perlu, aku tidak ingin ada yang memanggil ku ustadz Aziz!", bentak Fai tak kalah keras.
"Mau apa ?"
"Aku hanya ingin memastikan, Diandra bahagia hidup dengan mu. Kalau saja, aku sampai mendengar dia merasa tersakiti olehmu. Aku orang pertama yang akan membawanya pergi darimu!"
"Sadarlah kau bicara dengan siapa?"
"Iya. Aku sadar aku bicara dengan mantan sahabat ku yang sudah memperistri kekasih ku!"
"Kamu....!", Aziz menggenggam erat tangannya.
"Mas Aziz!", panggil ku. Benar dugaan ku, pasti akan begini. Untung saja Diaz mau di titipkan pada imah. Mas Aziz sudah dalam posisi emosi sebelumnya karena hasratnya tak tersalurkan, ditambah lagi kedatangan mas Fai.
"Mas, jangan marah-marah begini ah."
Aku mengusap lengan kekarnya.
"Dia yang mulai duluan dek!"
Tuduh mas Aziz pada mas Fai.
Mas menatapku dengan tatapan yang masih sama, tatapan penuh...ah... sudahlah... aku tak ingin mengingat masa-masa menyedihkan itu.
"Diandra, apa kamu bahagia hidup dengan pria yang tidak setia ini?", ucapan mas Fai begitu menohok bagiku.
"Maksud kamu apa hah?", mas Aziz mulai kembali emosi.
"Aku tanya sama Dian, bukan kamu!"
"Tentu saja aku bahagia hidup dengan mas Aziz mas, apa urusanmu?",tanyaku masih dengan nada datar.
"Jangan bohong kamu Diandra!"
"Mas Fai, lebih baik pulang ya. Saya nggak mau ada keributan di sini."
"Katakan Diandra, apa kamu bahagia hidup dengan laki-laki yang sudah mengkhianati kamu?"
"Fai!", hardik Aziz.
"Tenang mas!", kembali kuusap lengan suamiku.
"Mas Fai, itu urusan pribadi kami. Mas Fai tidak berhak untuk ikut campur atau mengetahui semua tentang rumah tanggaku."
"Aku tidak rela melihat kamu sakit hati di khianati oleh laki-laki seperti dia!"
"Mas Fai, aku sudah terbiasa sakit hati kok mas. Terlebih saat kamu meninggalkan ku tanpa kepastian, mas Aziz yang selalu ada bersama ku! Jadi ,jangan jadi pahlawan kesiangan mas."
Wajah Fai bersemu merah.
"Pulang lah mas, biar nanti Farhan kami yang urus. Dan satu lagi, jangan merusak citra ustadz hanya karena kelakuan kamu!"
Aziz dan Fai sama-sama diam saat ini. Tak berapa lama, Fai pun meninggalkan kios.
Aku mengajak Mas Aziz duduk.
"Mas...jangan di ladeni kenapa sih?", aku mengusap pipinya.
"Dia tahu dari mana ya dek soal ...."
"Nggak tahu mas, yang jelas aku nggak pernah ketemu dia apalagi cerita ke dia. Sama saja aku menjatuhkan Marwah suamiku!"
Mas Aziz meraihku dalam pelukannya.
"Makasih ya dek! Kamu selalu berhasil menenangkan mas."
"Iya....!"
"Eits...tapi soal tadi...belum selesai lho!"
"Soal apa?"
"Jatah!"
"Iya, nanti malam. Kalau Diaz nggak bangun-bangun terus." Aku berdiri meninggalkan nya.
"Tuh kan....", Aziz mulai merajuk. Aku terkekeh geli melihat perubahan ekspresi wajahnya.
__ADS_1