Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 254


__ADS_3

"Kapan kasih tahu ke mas Aziz dan mbak Di neng?", tanya Dadan usai mereka memastikan bahwa Imah benar-benar sudah hamil.


"Besok sore aja A? sekalian kota bukber di rumah? Imah kangen juga sama Diaz A!"


"Ya udah atuh, AA mah ngikut wae. Eh ...tapi...kita bawain aja takjil sama makanan buat di sana ya? Kan kamu tahu sendiri neng, mbak Di masih kerepotan sama kondisinya."


"Iya A. Besok kita bawa ke rumah deh!", sahut Imah riang.


"Dan, Imah? Gimana? Beneran positif kan?", tanya Mika tiba-tiba.


"Mbak Mika....!", Imah menghambur ke pelukan sahabat nya itu.


"Selamat ya Neng. Di jaga tuh kandungnya! Jangan capek-capek apalagi stres, pengaruh lho sama dedek bayi di dalam perut nya."


"Insyaallah mbak. Imah pasti jaga kandungan Imah sebaik mungkin!", sahut Imah Mantap.


"Doakan mbak juga Ya Mah, semoga ketularan kamu!", kata Mika.


"Aamiin....", tiba-tiba Fai datang dan mengamini doa Mika.


"Mas Fai ...!", panggil Mika dan Imah bersamaan.


"Hai dan, selamat ya bro! Tokcer Lo! So...tiket bulan madunya nggak jadi dong? Imah udah hamil!", kata Fai.


"Ett dah ...bulan madu mah tetep atuh bro! Mubadzir hadiah dari kakak ipar!", sahut Dadan.


Keempatnya tertawa. Tiba-tiba Damar ikut nimbrung.


"Seru banget nggak ngajak-ngajak! Lupa sama gue?", damar bergabung bersama mereka.


Mika yang menyadari kehadiran Damar berusaha bersikap biasa saja seolah tadi tak terjadi apa-apa di kantin.


"Weiiii....pengantin baru!", Fai dan Dadan menyalami Damar lalu menepuk bahunya.


"Makasih bro....!", sahut Damar dengan sumringah. Kebahagian Damar terlihat jelas saat Mika melirik di sudut matanya. Tapi, lirikan itu di tangkap oleh Imah. Imah sadar, seperti apa perasaan sahabat nya itu.


"Selamat ya dokter Damar!", kata Imah turut menyalami.


"Makasih neng Imah!", Damar menyambut uluran tangan Imah.


"Gimana bisa Lo mendadak nikah sama Hayu bro?", tanya Fai.


"Bisa lah. Meski masih nikah siri, tapi insyaallah kami akan segera meresmikan nya. Yang penting kan di sahkan dulu bro .....!", kata Damar.


"Ya. Itu lebih baik, dari pada zinah!", kata Dadan.


"Lo nyindir gue Dan?", Damar memicingkan sebelah matanya.


"Saha anu nyindir teh!", kata Dadan mencebikkan bibirnya.


"Udah sih, yang penting sekarang kalian udah sah jadi suami istri."


Fai menengahi. Biasanya dia yang membutuhkan nya .


"Em.... ngomongin bulan madu tadi, gimana kalau kita ke Bali rame-rame?", tanya Damar .


"Bulan madu kok rame-rame? Mana romantis sih!", sahut Fai.


"Ya kali kita mau tidur sekamar berenam! Enggak lah ustad kawe!", kata Damar menyentil kening Fai.


"Heh! Dokter gendeng! Ini kepala di fitrahin tiap tahun lho?! Main sentil aja!", kata Fai.


"Itu kan dialog Imah mas....!", rengek Imah.


"Podo wae!", sahut Fai ketus.


"Eh .. tapi tiket bulan madu nya cuma dua, kamu gimana bro?", tanya Dadan.


"Kang soto! Apa segitu miskinnya gue sampe nggak bisa beli tiket bulan madu?", sarkas Damar.


"Hahaha iya lupa! Gue yang paling missquueen di sini!", kata Dadan.


"Gue nggak bahas Lo Dadan!", kata Damar.


"Jadi gimana? Mau berangkat bulan madu bareng? Bulan puasa begini?", tanya Fai.


"Aku sama Imah sih Yes!", kata Dadan mengikuti gaya juri idol-idol-an.


"Gue sama Stevi juga nggak masalah!", kata damar.


"Kamu gimana sayang? Dari tadi diem Bae? Puasa baru di mulai besok lho!", kata Fai.


"Aku ijin dulu sama....", kalimat Mika terputus karena di dahului Damar.


"Gue yang ijinin bini Lo Fa!", kata Damar.


"Tuh kan sayang, damar yang minta ijin. Ikut ya????", bujuk Fai.


Mika terlihat menghela nafasnya. Mau tak mau ia menyetujui permintaan suaminya.


"Tapi....bulan madu di bulan puasa? Baru denger deh!",kata Mika.


"Lah ,emang kenapa?", tanya Fai.


"Mau sahur keramas terus gitu?", kata Mika lugu. Sontak tiga pria tampan itu tertawa mendengar pertanyaan Mika. Imah dan Mika yang bingung hanya menatap suami-suami mereka. Apa yang salah sama pertanyaan Mika.


"Keramas ya keramas aja lah sayang?!", kata Fai meraih pinggang istrinya.


"Kamu sudah selesai datang bulan kan?", bisik Fai tepat di telinga Mika. Mika menelan ludahnya. Hanya anggukan kecil sebagai jawaban dari pertanyaan Fai. Fai pun mengulas senyum.

__ADS_1


"Oh iya, gimana kalau besok sebelum berangkat ke Bali, kita bukber di rumah mas Aziz? ", tanya Imah.


"Boleh juga tuh ide Imah. Pasti seru!", sahut Damar.


"Tapi apa nggak ngerepotin, kalian tahu sendiri kondisi Dian sekarang gimana? Masa mau di repotkan sama kehadiran kita?", tanya Fai yang melirik istrinya. Dan istrinya pun sepemikiran dengan nya.


"Imah yang bawa makanan nya. Jadi, besok mbak Di nggak kerepotan lah! Sekalian Imah kan mau kasih kabar gembira, mereka bakal punya keponakan baru!", sahut Imah.


"Kamu hamil Mah? Selamat ya !", kata Damar.


Farhan berlari menghambur ke pelukan kedua orang tua nya. Dia baru selesai main di tempat khusus permainan anak di rumah sakit itu.


Akhirnya mereka semua meninggalkan rumah sakit. Dengan kesepakatan bahwa besok sore akan meluncur ke Bali bersama. Farhan memilih dirumah saja, dia akan di temani dua orang karyawan Dadan. Sedang Faiz, memilih ikut bersama Tante sekaligus Oma mudanya, Lili!.


.


.


Pagi hari ....


Mas Aziz sudah bersiap dengan setelan kemeja nya. Aku memasang dasi untuk nya. Tubuh nya yang tinggi membuat ku harus sedikit berjinjit di hadapan nya .


Tangan ku masih berkutat di bawah dagunya, sedang tangan mas Aziz membingkai wajahku. Tiba-tiba dia mau mencium ku.


"Pssttt...mas....! Puasa!", kataku sambil menutup bibirnya dengan jariku.


"Mas lupa sayang!", kata Aziz. lalu dia memilih mencium puncak kepala ku. Lalu dia memelukku erat.


"Diaz sama teh neng kemana?", tanya Mas Aziz.


"Ada, paling di depan sama mas Agus dan mas Tino!", jawabku.


Mas Aziz menyeret ku duduk di sofa kamarku. Lalu mendudukan ku di atas pangkuan nya .


"I love you Diandra Saputri!", bisik Aziz.


"I love you too mas kuh!", kataku pelan.


"Nggak inget puasa, udah mas makan kamu dek!", kata Aziz besungut-sungut.


"Puasamu makruh lho mas ngomong kaya gitu ...!", kataku.


"Nggak lah, emang aku ngapain? Kan nggak ciuman!", kata Aziz membela diri.


Aku menarik nafas jengah. Bagaimana tidak,mas Aziz pasti punya banyak alasan untuk membenarkan ucapan dirinya.


"Sekarep mu mas.....!", kata Ku sambil kutakupkan kedua tanganku di pipinya.


"Emang semalam kurang puas ya servis dari ku?", tanya ku agak vulgar.


"Lumayan lah, dari pada tidak sama sekali!", jawab Aziz jahil. Ku cubit perut nya yang kini mulai kembali rata meskipun tak seperti roti sobek kaya jaman dulu. Mungkin faktor U dan tak sempat olahraga.


"Oh ya? Ulang tahun? Hahahah aku udah tua mas, nggak jaman mikirin ulang tahun."


"Heum! Mas bahkan empat tahun lebih tua dari mu, masih kamu kasih hadiah sepeda motor!"


"Hehehhe....ya....ya....!"


"Jadi, apa hadiah yang kamu inginkan dek!", Aziz menatap ku serius. Wajahnya tampan sekali ya Allah.....batinku.


"Aku nggak minta hadiah yang ini itu mas. Cukup kamu dan Diaz selalu bersamaku. Allah memberikan kesehatan dan keselamatan buat kalian berdua. Allah melimpahkan rahmatnya buat keluarga kita. Kita selalu bersama-sama. Dan.... tetaplah mencintaiku, setia padaku. Percaya sama aku, betapa aku sangat mencintaimu masku....suamiku! Berjanji lah, kamu akan selalu bersama kami. Kita berkumpul dan bahagia bersama!", kutakupkan lagi kedua tanganku.


Mas Aziz tampak tersenyum tipis.


"Insyaallah sayang....!", jawabannya lalu memeluk ku erat.


"Kamu janji mas, kita akan selalu bersama?", tanyaku lagi. Dan mas Aziz pun mengangguk. Entah obrolan macam apa ini di hari pertama puasa kami.


Kami kembali berpelukan, entah untuk yang keberapa kalinya.


"Ya udah, berangkat! udah siang!", kataku bangkit dari pangkuan nya.


Kami berdua berjalan menuju teras. Mas Aziz pun berangkat ke kantor selesai berpamitan dengan Diaz.


*****


Mobil Aziz sudah memasuki jalan protokol. Tapi dia merasa ada yang mengikuti nya sejak ia keluar dari kompleks perumahan nya tadi. Aziz hanya positif thinking. Karena setelah mobilnya masuk area DWP, mobil yang ia anggap mengikutinya tak turut berbelok ke dwp tapi lurus melewati DWP begitu saja.


Aziz di sambut hangat oleh karyawan nya. Selain tampan, Aziz juga terkenal ramah. Maka, pegawai DWP pun tak membedakan antara Diandra atau Aziz yang memimpin DWP ini.


Aziz menuju lift khusus petinggi DWP. Tak berapa lama, ia sudah sampai di lantainya. Sebelum nya, ia ingin ke ruang Julian terlebih dulu. Tanpa mengetuk pintu, dia mendorong pintu ruangan Julian. Aziz terperanjat dengan apa yang di lihatnya di depan matanya itu.


"Julian?", Aziz menatap Aspri istrinya dengan nanar.


"Pak Aziz? Maaf pak, saya tidak tahu kedatangan anda!", kata Julian berdiri dari kursinya.


"Saya yang harusnya minta maaf! Tidak mengetuk pintu lebih dulu."


"Tidak apa-apa pak Aziz, silahkan pak! Ad yang bisa saya bantu, sampai anda mengunjungi ruangan saya?", tanya Julian gugup.


"Tadi itu, senpi kan? Dapat dari mana kamu? Bagaimana bisa kamu punya begituan?", cerocos Aziz.


"Em....hanya untuk berjaga-jaga saja pak, di kalangan bisnis seperti sudah biasa pak. Tapi saya memilikinya secara legal kok pak, sudah dapat ijin dari pihak berwenang", jawab Julian.


"Benarkah? Tapi ...itu bahaya Jull"


"Bahaya jika disalah gunakan Pak Aziz."


Melihat Julian menyimpan senpi di balik jas nya, Aziz mengurungkan niatnya untuk bercerita tentang kecurigaannya yang diikuti orang asing. Aziz hanya tidak ingi Aspri istrinya sampai menggunakan alat itu.

__ADS_1


"Apa ada sesuatu pak?", tanya Julian yang melihat bos nya melamun.


"Heh? Nggak Jul."


"Oh iya pak, gimana dengan persiapan acara ulang tahun Bu Dian? Saya akan merekomendasi beberapa toko kue dan catering...."


"Nggak usah Jul. Dian tak menginginkannya."


Julian mengernyitkan keningnya. Apa bu bosnya itu benar-benar sesederhana itu...?????


"Lalu?"


Aziz menghela nafasnya. Seperti ada beban berat yang sedang ia tanggung.


"Jul, sepertinya aku nggak rela kalau kamu keluar dari DWP !", kata Aziz lesu. Julian tersenyum tipis.


"Saya tidak akan keluar dalam waktu dekat ini pak."


'' Iya sih. Jadi, kapan kamu ke Singapura?"


"Nanti malam pak. Biar besok pagi kami bisa kembali bekerja!"


"Hehehe kamu mau bertemu orang tuamu untuk merencanakan pernikahan, bukan mau meeting dengan klien Jul!", sindir aziz.


"Ya...kami memang hanya akan malam, setelah itu baru kami membicarakan tentang pernikahan kami."


Aziz pun manggut-manggut.


"Hari ana ada pertemuan di PT Xxxx pak, setelah itu kita ada survey ke proyek di pinggir kota", kata Julian memberikan jadwal hari ini.


"Heum! Baiklah. Em...kamu belum dapat sekretaris untuk Dian?"


"Sudah ada kandidat nya pak, seperti yang saya bilang kemarin. Biar Bu Dian yang menentukan nya sendiri."


"Baiklah, kalau gitu aku balik ke ruangan ku dulu", pamit Aziz.


"Silahkan pak!" sahut Julian.


Pertemuan demi pertemuan pun selesai menjelang sore . Aziz sampai kerumah dengan kondisi rumah yang cukup ramai. Usai memarkirkan mobilnya, ia masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, lewat lorong samping. Kios terlihat tutup, tapi Dian bilang tadi siang buka kios. Bukan hanya karena uang, tapi karena kasian dengan pelanggan setia mereka.


"Assalamualaikum!", Aziz memberi salam.


"walaikumsalam!" jawab istri dan para sahabatnya.


"Mas...!", aku menghampiri mas Aziz lalu meraih punggung tangannya untuk ku cium. Tak lupa ia mencium puncak kepalaku.


"Rame bener? Buka kafe di sini dek?", sindir Aziz.


"Mas ....!", aku menowel pinggang suamiku.


"Pak bos baru pulang?", sindir damar.


"Kaya yang Lo liat!", sarkas Aziz. Setelah itu Aziz menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Kaum hawa sedang menyiapkan makan untuk berbuka puasa. Imah, mika dan hayu sepakat untuk membawa makanan berbuka jadi tak terlalu merepotkan Dian.


Di dalam kamar....


"Kamu mengundang mereka dek?", tanya Mas Aziz.


"Nggak mas. Itu inisiatif mereka sendiri. Malah mereka yang bawain makanan, katanya takut aku repot!", kataku sambil membuka dasinya. Tadi pagi aku yang memasangnya, sekarang aku pula yang melepaskan nya.


"Diaz mana?", tanya Aziz.


"Di teras belakang, ada kang Ujang. Farhan dan Faiz juga di sana."


"Heum...ya udah, mas mandi dulu!", lagi-lagi mas Aziz mengecup kepalaku.


Tak sampai lima belas menit kami berkumpul di depan televisi. Tak berapa lama, azan magrib berkumandang. Kami pun berbuka puasa bersama. Meski aku tak ikut puasa, aku tetap ikut bergabung dengan mereka. Terdengar ocehan Imah dan Diaz yang saling bersahutan. Tak lupa, kabar gembira tentang kehamilan imah pun turut memeriahkan bukber mereka.


Setelah jeda beberapa saat, mereka mendirikan solat. Kang Ujang dan teh neng memilih pulang usai buka tadi.


Mas Fai memimpin solat magrib. Selanjutnya, solat tarawih. Usai tarawih, kami melanjutkan makan malam kami. Aku berkumpul dengan kaum hawa. Sedangkan Damar dan Dadan tampak antusias saat mereka menyampaikan akan berbulan madu bersama.


Fai keluar dari ruangan untuk merokok, diikuti oleh Aziz. Fai memandangi sahabat nya itu.


"Fa, andai aku sedang tak bisa menjaga istriku. Bisa kan aku menitipkan nya padamu? Em...untuk sementara waktu!", kata Aziz tanpa menoleh ke lawan bicara nya.


"Lo ngomong apa sih? Emang Lo mau ke mana? Keluar kota? Gue bukan ga mau, gue cuma lagi memperbaiki hubungan gue sama Mika!", sahut Fai sambil menyesap rokok nya.


Aziz tersenyum tipis. Munafik Lo , Fai!


"Semoga aja kali ini Lo serius, ngga nyakitin Mika lagi. Tapi....gue harap kali ini Mika pasti ngerti!", Aziz menepuk bahu Fai.


"Lo ngomong apa sih Ziz!?", Fai terheran-heran. Sedang Aziz sudah masuk lagi kedalam rumah. Usai menghabiskan rokoknya, Fai mengikuti Aziz.


Perasaan Fai tiba-tiba jadi tak enak. Dia menghampiri Aziz dan yang lainnya. Gerak gerik Aziz tak luput dari perhatian Fai. Menyadari sedang di perhatikan, Aziz menghampiri Fai.


"Nggak usah khawatirin gue!", tepuk Aziz di bahu sahabatnya. Alhasil, Fai hanya membeku.


******


Episode kali 2200 kata Lo gaes. 🤭🤭🤭🤭. semoga gak ngebosenin ya. Dan kalian-kalian masih bersedia baca kelanjutannya 🤗.


Tenang aja, mas Aziz ganteng pasti baik-baik saja kok ✌️.


Nggak bosen-bosen mamak ucapin makasih buat kalian yang masih mantengin tulisan receh mamak.


Dan setiap hari mamak juga ucapin selamat berpuasa semuanya 🤗. Semoga kita senantiasa di beri kesehatan biar tetap bisa menjalankan puasa Ramadhan kali ini ☺️☺️☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2