
Suasana butik sedikit menegang. Untung saja masih jam delapan, jadi belum ada pelanggan yang datang ke sini.
"Kalian?! Tidak usah menonton drama ini, lakukan pekerjaan seperti biasanya!", titah aziz pada karyawan-karyawanya.
Sedang si ob masih duduk terpekur di sofanya. Sonia mulai gelisah. Apa bener bos nya ketangkep basah? Bodoh banget sih! Sonia, mengumpat dalam hati.
"Bro....ada tamu jauh nih! Kakak ipar kesayangan kita!", kata Fai sambil merangkul Rasyid. Aziz pura-pura terkejut.
"Masyaallah....ada mas Rasyid? Apa kabar mas?", Aziz mengulurkan tangannya.
Rasyid pun melakukan hal sama. Hanya saja ia memasang wajah masam.
"Kok nggak bilang-bilang mas mau ke Jakarta, tahu gitu kan kami menyambut nya!", kata Aziz tenang. Rasyid tak mengucapkan kalimat apa pun.
Mas Aziz beralih padaku. Tentu saja aku jadi salting. Dia mendekat padaku.
"Sayang, kamu ngapain di sini?", mas Aziz meraih pinggang ku.
"Aku...aku emang pengen ke sini."
Aziz tahu Dian akan ke sini di temani Dadan , Imah yang memberi tahunya tadi.
"Mau main detektif-detektifan sama Dadan?", kini mas Aziz melirik adik ipar nya itu. Dadan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nanti kita selesaikan di kamar!", bisik mas Aziz di telingaku. Mampus kan Lo Di!!!!
Mas Aziz berjalan ke arah Rasyid lagi.
"Mbak Sonia, nggak kenal sama bos tampan ini?", tanya Aziz pada Sonia.
"Siapa? enggak lah!", kata Sonia ketus.
"Kalo kamu?", Aziz mencolek lengan si ob. Dia hanya menunduk.
"Jawab!", bentak Aziz. Tapi Fai justru malah menepuk bahu sahabatnya.
"Lo ga usah bentak-bentak, ada bini lo. Lo mau Dian kumat lagi gara-gara suara Lo kaya gledek!", bisik Fai.
Mas Aziz melirikku. Aku hanya mencoba meredam perasaan ku. Iya, aku memang harus melawan trauma ku.
Aku memilih duduk. Fai mendekati ku.
"Kamu nggak apa-apa kan di?", tanya Fai.
Bisa-bisanya sih tuh ustadz Kw ngambil kesempatan! Batin Aziz.
"Nggak. emang aku kenapa?", aku tanya balik.
Fai pun kembali mendekati si ob.
__ADS_1
"Apa mas Rasyid kali yang kenal sama kamu ya?", tanya Fai pada Rasyid.
"Berhenti memutar-mutar omong kosong kalian!", teriak Rasyid.
Aziz yang tersulut emosi mencengkeram kerah baju kakak iparnya. Tapi Dadan dan Fai berhasil melerainya.
"Sabar atuh mas!", Dadan meraih bahu Aziz.
Aku memilih diam dan duduk di sofa. Sudah hampir setengah sembilan. Apa aku masih punya cukup waktu untuk ke kantor? Sedangkan masalah di depan ku saja belum tau titik terang nya.
"Maksud mas Rasyid apa melibatkan Sonia untuk menggoda ku? Mas mau merusak hubungan ku dengan istri ku? Tujuan mu apa mas?!", Aziz mulai tak bisa menahan Emosi nya.
"Iya. Aku hanya ingin membuat kamu dan Dian pisah. Aku memang yang membayar Sonia dan ob itu. Kenapa? Nggak terima?!"
"Heh! Udah salah , nyolot lagi!", kini Fai yang ikut-ikutan kesal pada Rasyid.
"Memang apa yang sudah kami lakukan ke kamu mas? Aku dan Dian bahkan tidak pernah mengusik kehidupan kalian. Kamu dan mbak Imas!"
"Iya. Tapi harusnya kamu tidak serakah Ziz! Kamu mengelola tiga butik mama. Dan kakak mu hanya satu butik di Surabaya. Kamu laki-laki harusnya bisa berjuang sendiri, jangan hanya mengandalkan warisan orang tuamu!"
"Owh...jadi...karena ini? Karena kamu iri mas? Kamu mau apa? Kamu pengen butik mama di kelola sama kamu semua? Atau Mbak Imas? Iya?"
"Mama memang pilih kasih! Dia lebih menyayangi anak lelakinya dari pada anak perempuan nya!"
"Jangan memfitnah mama seperti itu!", hardik Aziz.
"Kalau kamu emang mau mengurus butik mama, silahkan. Bilang ke mama. Kenapa harus membuat fitnah, membuat kegaduhan di rumah tanggaku mas!?"
"Karena aku tahu, kamu laki-laki yang gampang di goda perempuan."
Aziz mengepalkan tangannya hendak melayangkan tinjunya ke wajah Rasyid. Tapi Fai menghentikan nya.
"Sabar bro, jangan pakai kekerasan!"
"Dan Lo sonia, Lo perempuan. Bisa-bisanya Lo kerja sama buat mencoba merusak rumah tanggaku. Dimana nurani Lo sebagai sesama perempuan?"
"Awalnya karena duit, tapi....liat pria setampan kamu...aku tidak di bayar juga tak masalah. Asal aku bisa bersamamu." Sonia mengerlingkan matanya.
Na*is! Batin Aziz.
"Mas Rasyid, apa yang kamu harapkan dari merusak rumah tangga ku dengan Dian? kalau memang kamu pengen mengelola butik mama, kenapa tidak bicarakan baik-baik. Kenapa malah memfitnah ku?!"
"Bagaimana aku mau bicara baik-baik, mama selalu mengunggulkan mu."
"Kalau saja aku tidak ingat mbak Imas sedang hamil, aku bisa saja melaporkan mu dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan!", kata Aziz menuding jari telunjuk nya di depan Rasyid.
"Aku hanya ingin kepuasan saat melihat kamu dan Dian pisah. Itu saja!"
Bughhh....
__ADS_1
Kali ini Fai tak bisa melarang Aziz melayangkan tinjunya di wajah sang kakak ipar.
"Mas Rasyid tahu? Salah satu butik ini milik mendiang almarhum Tante Ismaya, mamanya imah. Dan yang ini, yang kamu injak saat ini adalah milikku. Atas namaku. Dan sisa nya, yang di Bogor...itu milik mama pribadi! Di Surabaya, itu milik istrimu ,mbak ku! Apa masih dirasa kurang adil mas?"
"Ciiih....dasar Maruk kamu Ziz. Kamu pikir aki tak tahu, kalau Dian sekarang menjadi CEO di DWP grup? Apa kamu masih kurang di gaji oleh istrimu hah??"
"Mas Rasyid!", kali ini Aziz benar-benar marah. Kakak iparnya itu sungguh membuat nya kehabisan kesabaran.
Mau tak mau aku mendekati suamiku.
"Mas...cukup."
Aku memeluk lengan nya.
Aziz menatap ku dengan wajah yang masih emosi.
"Mas Rasyid! Kenapa ada pemikiran sepicik itu di kepala mu sih mas? Sebenarnya apa salahnya kami pada mu?!"
"Suami mu itu hanya ingin mensejajarkan dirinya dengan mu Dian. Dia itu merasa sepada dengan mu dengan mengurus ketiga butik besar ini. Dia jadi terlihat tidak terlalu miskin kalau disandingkan dengan mu!", kata Rasyid.
Aziz mengepalkan tangannya, bersiap untuk memukul rasyid. Tapi, aku menggenggam tangan suamiku.
"Berapa sih yang di dapatkan dari jualan receh di depan rumah kalian hah?!", ejek Rasyid.
"Memangnya, kenapa kalau penghasilan kami receh mas?" aku kembalikan pertanyaan ke kakak ipar sengklek itu.
Rasyid hanya tersenyum mengejek.
"Jadi, sekarang maumu apa mas?", tanyaku pada Rasyid .
"Oh ...kamu mau tahu apa mauku?"
"Tentu saja!", jawabku singkat. Mas Aziz membiarkan ku melakukan aksiku.
"Serahkan dengan sukarela kepungurusan semua butik mama. Dan...aku anggap itu selesai!"
Aku tertawa mengejek.
"Mas Rasyid, kamu pikir semudah itu mengurus ketiga butik mama?"
"Kau mengejek ku Di?!", tanya Rasyid geram.
[Rasyyiiid.....]
Terdengar suara melengking di dalam panggilan ponselku.
********
Kelewat gegabah kamu Rasyid, pinter dikit kenapa!
__ADS_1