Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 227


__ADS_3

Damar baru saja memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe. Malam ini, dia berencana bertemu dengan om stevan, papa nya stevi.


Entah apa yang akan mereka obrolkan nanti. Yang jelas, damar seperti sedang bersiap uji nyali. Bukan hantu atau memedi yang kan dia hadapi. Melainkan orang tua dari perempuan yang sangat ia cintai.


Langkah nya perlahan menuju kafe. Matanya berkeliling memastikan bahwa calon mertuanya.... oopsss....percaya diri sekali, maksudnya om stevan belum sampai ke kafe ini.


Damar mencari tempat duduk yang agak sepi dan jarang di lewati pengunjung. Sesekali ia memandangi ponselnya, tapi saat ia akan menghubungi om stevan untuk mengatakan dia sudah sampai....ada rasa tak enak. Jadi, sebaiknya memang ia harus menunggu.


Seorang waiters menghampiri Damar.


"Selamat malam Pak, mau pesan apa?"tanya waiters itu ramah.


"Saya menunggu seseorang, bisakah saya pesan nanti saja jika beliau sudah datang?"


"Baiklah pak. Nanti panggil kami saja!".


Damar menganggukkan kepalanya. Waiters itu pun meninggalkan Damar.


Ada sekitar sepuluh menit, orang yang di tunggu pun datang.


"dokter Damar , maaf saya terlambat. Sudah lama menunggu ya?"


"Eh .. om, tidak apa-apa om. Saya juga belum lama kok. Silahkan duduk Om!"


Stevan pun menarik kursi di depan Damar.


"Om mau pesan apa, biara damar pesan kan?"


"Coffe late boleh deh! "


Damar melambaikan tangannya memanggil waiters. Waiters itu pun datang ke meja damar.


"Silahkan pak, pesan apa?"


"Saya mau coffe late dua ya?"


"Ada lagi pak?", tanya si waiters pada damar.


"Om ada pesan makanan apa gitu om?"


"Tidak, saya kopi saja cukup", sahut Stevan.


"Mbak, itu aja tadi!"


"Siap pak. Mohon ditunggu sebentar ya pak!"


Waiters itu pun meninggalkan meja damar. Stevan mulai membuka obrolan.


"Kamu belum ke rumah Aziz lagi Dokter damar?", tanya Stevan.


"Damar saja om, jangan dokter."


Stevan menyungginggkan senyumnya.


"Hem... baiklah, Damar!", kata Stevan sambil manggut-manggut.


"Maaf om, sebenarnya...ada hal penting apa yang akan om sampai kan ke saya?", perasaan was-was sudah merasuk ke dalam dada Damar.

__ADS_1


"Santai saja lah Dam! Nggak usah panik gitu. Kita cuma mau ngobrol, bukan mau adu jotos! Maafin om ya, dulu pernah kasar ke kamu!", kata Stevan. Ia ingat betul kesalahan nya saat ia memukul Damar di rumah sakit saat mengetahui jika damar pernah meminta putrinya menggugurkan kandungan nya.


"Iya om, maaf!", kata Damar berusaha rileks.


"Kamu belum ke rumah Aziz lagi?"


"Belum om, kan Aziz nya juga masih di rumah sakit. Jadi untuk apa saya ke sana kan?"


Stevan menahan sedikit tawanya. Nggak mau lah terlihat tak berwibawa di depan calon masa depan anak nya.


"Yakin?", tanya Stevan meledek. Damar terlihat semakin gugup.


"Ya... nggak juga sih om. Beberapa hari yang lalu , damar ke sana."


"Ada Aziz atau Dian nya?", tanya Stevan.


"Permisi pak, silahkan pesanannya....!", waiters meletakkan minuman kami di meja. Obrolan kami berhenti sementara.


"terimakasih?", kata Damar. Sepeninggal waiters itu pergi, mereka melanjutkan obrolan.


"Maaf om, tadi om tanya apa ya?"


Stevan tersenyum kecil. Dia sudah tidak tahan basa basi dengan Damar.


"Kamu bilang, kamu nikah siri dengan putri saya? kapan?", tanya Stevan.


Mata Damar membulat. Dari mana om Stevan tau omongan itu?


"Maaf om....siapa yang bilang sama om kaya gitu?"


"Kok bisa Ustaz Zaki ketemu anda om?"


"Dia ke kios. Saya di sana, dan dia tanya begitu. Kapan memangnya kalian nikah siri?"


"Om menemui stevi? Ya Allah.... berati....om juga tahu tentang....."


"Hem... tentang ide konyol kamu demi membodohi Ustaz Zaki?"


Wajah Damar memerah menahan malu. Dia tak menyangka jika ide 'gila' nya itu bakal sampai ke telinga om Stevan. Ini memalukan Damar! Batinnya.


"Maaf om, saya hanya ingin Ustaz itu menjauhi Stevi. Itu saja om. Saya nggak rela kalau si Zaki itu mau jadiin istri ke dua. Padahal hayu udah nolak lamarannya. Tapi tetep aja masih penasaran!", kata Damar sewot.


Mendengar ocehan Damar, Stevan yang terbiasa kaku kini justru tak dapat menahan tawanya. Damar yang merasa tak ada yang lucu jadi bingung sendiri.


"Maaf...maaf...om kelepasan. Habisnya kamu itu lucu dam!"


"Kenapa ya om?"


Stevan meminum kopinya sebentar, lalu meletakkan nya lagi.


"Kamu bicara begitu, memang nya kamu lebih baik dari Zaki?", ledek Stevan.


Kali ini, wajah Damar benar-benar memerah. Pertanyaan begitu menohok baginya kali ini.


"Maaf om, bukan maksud saya...."


"Ngga apa-apa Dam. Om pikir kamu itu orang yang serius, sebelas dua belas lah sama om. Kita terlihat dingin, tapi bukan berarti kita tak punya sisi humoris ya?"

__ADS_1


Damar mengangguk dengan wajah songong nya.


"Kamu biasa menghadapi tantangan tiap akan memeriksa pasien mu yang parah kan?"


Damar mengiyakan dengan anggukan. Meskipun dia tak paham apa yang akan om stevan katakan.


"Iya om."


"Bagaimana kalau om memberikan tantangan untuk mu Damar?"


"Hah? Tantangan apa ya?"


"Menaklukkan putri om. Jangan cuma berkoar-koar sudah nikah siri. Tapi kenyataannya? Jangan kan nikah siri, dekat pun tidak!", kata Stevan memancing Damar.


Mata Damar membulat seketika. Baginya, calon mertua nya ini lebih horor di bandingkan dengan hantu-hantu yang sering ia tonton di Chanel yucub Jurnal Risa atau chanel istrinya pesulap Damian?πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


(ada yang suka nonton nggak???)


"Om...maksud damar bukan...."


"Apa ? Kamu takut di tolak? Takut gagal?", ledek Om stevan.


"Bukan gitu om, tapi...om tahu sendiri. Stevi belum bisa membuka hatinya buat damar."


"Makanya berjuang dong!"


Damar menunduk. Tapi sebenarnya, selama beberapa Minggu ini hubungan damar dan Stevi terlihat lebih baik d banding awal-awal pertemuan mereka.


"Bagiamana? Sanggup mengikuti tantangan om? Jika kamu bisa, restu om akan kamu dapatkan Dam!"


Damar mendongak menatap wajah om stevan dengan wajah berbinar.


"Benarkah om?"


"Heum. Om harap, kamu berhasil Dam. Kamu yang sudah mengawali sakit hati putri om setidaknya kamu juga yang harus bertanggung jawab mengobati sakit nya!", Stevan menepuk bahu Damar.


Om Stevan benar, dia harus berusaha mendapatkan maaf dari Stevi. Barulah dia berusaha meluluhkan hati nya.


"Jangan pernah menyerah! Om sudah merasakan seperti apa susah mendapatkan maaf. Dari putri om, dari Diandra. Jadi, bersabar lah. Kesalahan om pada mereka yang sangat besar saja mereka maafkan kok."


"Insyaallah Om!", kata Damar.


"Oh iya, orang tua mu ?" tanya Stevan. Dia kan harus tahu, seluk beluk keluarga calon besannya.


"Papa saya dosen di Universitas Pelita. Dan mama saya bekerja di salah satu bumn Om."


"Owh ... kapan-kapan ajak mereka berkenalan dengan om ya?!"


Damar mengangguk.


"Insyaallah Om!", wajah damar sumringah.


******


Udah dapet lampu ijo lho Dam.....! Semangat!


Iya, semangat mencuri hati Stevi ☺️

__ADS_1


__ADS_2