Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Dua matan


__ADS_3

"Kami kan bisa beli sendiri mas, kenapa harus mengambil makanan ku!", bentakku. Tapi, sedikit pelan. Karena Diaz sedikit ngantuk dalam dekapanku.


"Ada apa sih dek? teriak-teriak begitu? Ntar Diaz keganggu lho!", mas Aziz tiba-tiba muncul dari pintu belakang.


"Ini mas.....!"


Slap!


Mas Fai menyendok kan karedok itu kemulutku dan menahan daguku agar aku bungkam dan mengunyah makananku.


"Heh! Dodol. Ngapain Lo nyuapin bini gue hah! Pegang-pegang dagu lagi", teriak Aziz. Tadi aja ngomel aku teriak-teriak. Sendirinya lebih kenceng.


"Habisnya, istri mu bawel. Timbang karedok aja di masalahin. Aku kan laper!", kata Fai tanpa rasa bersalah.


"Ya nggak kudu nyuapin juga!"


"Kalo nggak disuapin, Dian ga bakal mau diem. Kaya nggak tahu aja. Kalo udah nyobain tuh makanan, dian kan nggak usah penasaran!"


"Tapi itu sendok bekas kamu mas!", kata geregetan.


"Ya elah Di, timbang sendok...aku udah vaksin dua kali. Udah swabtest juga. Aku sakit juga gara-gara kecelakaan. Bukan gara-gara virus, apa lagi Corona!", Fai masih santai mengunyah karedokku.


"Ada ya... makhluk kaya kamu mas!"


"Di, ini kan cuma sendok. Kamu lupa? Dulu aja, kita sering kok tukeran dari sumbernya langsung! Nih....!", Fai menunjuk bibirnya sendiri.


Astagfirullah....ya Allah, dimana ilmu yang dia dapatkan di pondok? Kenapa nggak di amalkan? Dia nggak bisa apa menjaga perasaan orang lain????


"Lo emang ngeselin ya Fai. Lama-lama Lo tuh ngeselin nya akut banget sumpah!", Aziz berkacak pinggang.


"Hahahah udah sih, maap...maap....! Kan aku udah ganti pake kue gemblong Di? Anggap aja tukeran."


"Tukeran apanya, ini juga gara-gara balikin tuperware kan?"


"Iya sih!"


Hayu hanya melirik sambil melihat tingkah ketiga orang di samping nya. Sesekali, Hayu menatap Fai. Dia ingin bicara dengannya, tapi....


"Assalamualaikum....calon suami, mantannya calon suami, dan suaminya mantan nya calon suami?", tiba-tiba Mika datang dengan ocehan yang membingungkan dan membuat akal sehat kami sedikit berpikir lebih.


"Walaikumsalam....calon istrinya mantanku!!!!" aku baru 'ngeh' dengan sapaannya tadi. Mas Aziz dan mas Fai saling berpandangan lalu menatap aku dan Mika bersamaan.

__ADS_1


Plok!


Aku dan mika bertos!( Apa namanya? Ya pokoknya tos lah!)


"Baru pulang Bu dokter?", tanyaku. Mas Fai mengehentikan aktivitas makannya. Sedangkan mas Aziz meraih Diaz dari pangkuan ku.


"Iya Di."


Apa katanya? Di? Dia mau mencoba bersikap akrab padaku?


"Kan kita seumuran, kata mas Fai sih? Jadi, jangan panggil mbak ya?"


"Oh ya? Wah.... senengnya!", aku bertepuk tangan.


Mereka???? Batin Fai dan Aziz yang lagi-lagi saling berpandangan.


"Dek, mending kalian ngobrol di dalam aja deh. Diaz juga bobok. Ini, buat gantiin karedok mu yang di embat sama Fai. Mas ganti gado-gado!"


"Ada tiga bungkus mas?"


"Iya, buat kita berdua. Sisanya...tadinya buat mbak Hayu!", kata Aziz.


"Maaf mas, saya sudah makan barusan!", sahut hayu.


"Ya udah, kita makan sama-sama ya Mika!"


"Ayo lah....!"


Aku dan mika duluan ke dalam rumah lewat pintu belakang. Diaz ku ambil lagi untuk ku letakkan di boxnya.


"Fai? Apa yang Lo pikirin sama kaya yang gue pikirin nggak?"tanya Aziz.


"Seperti nya begitu!", kata Fai.


"Kita lihat saja, coba...apa yang bakal mereka obrolin. Mantan Lo alias bini gue, dan calon tunangan Lo. Hah! Gue hampir nggak percaya mereka bisa jadi akrab dalam hitungan hari. Eh, tidak masih dalam hitungan tiga kali dua puluh empat jam terakhir!", kata Aziz.


"Pasti gadis agresif itu bakal tanya macam-macam sama Dian!"


"Gadis agresif?", tanya Aziz.


"Iya, mika nantangin gue. Kita akan secepatnya menikah, karena mika mau pacaran yang halal, setelah kami menikah!"

__ADS_1


"Subhanallah?! Benar begitu? Luar biasa sekali!"


"Tapi ada yang Lo nggak tahu...!",Fai menggantung kalimatnya.


"Apa yang belom gue tahu?"


"Mika itu menyerah mengejar Damar. Lima tahun berusaha mengambil perhatian Damar, di lirik aja nggak. Senasib lah sama gue, berusaha ngejar Dian Mulu, tapi nggak bisa-bisa karena dia udah mentok sama Lo!"


"Sialan Lo. Ujung-ujungnya nyebut bini gue juga!"


"Hahah...iya ya... sorry....!"


"Udah ah, gue mau makan dulu. Lo nyusul aja ntar!"


"Iya!"


Aziz pun masuk ke dalam rumah. Fai sudah menyelesaikan makannya. Lalu masuk ke dalam kios, mengambil minuman di lemari pendingin.


Beberapa saat, matanya melirik Hayu yang tengah melayani pelanggan.


Usai meminum makanannya, Fai bermaksud menyusul yang lain.


"Mas Fai....!", panggil Hayu.


"Ya?", tanya Fai. Dia sendiri heran, untuk pertama kalinya perempuan bermata teduh itu memanggil namanya.


"Saya mau ngucapin terimakasih mas."


"Untuk?"


"Sudah berkenan memberikan gaji mas Fai buat kami."


"Oh, iya mbak. Nggak apa-apa. Sudah kewajiban mbak. Disekolah, tidak ada kebijakan seperti itu mbak."


"Iya mas. Terima kasih sekali lagi."


"Sama-sama. Saya....masuk dulu ya, nyusul yang lain."


"Iya mas. Silahkan!"


Mata itu.... kenapa wajahnya begitu menyejukkan saat di pandang? Batin Fai.

__ADS_1


Astagfirullah....!


__ADS_2